Tugas kesenian bukan sekadar menghidangkan hiburan. Ia juga denyut nadi kebebasan, obor yang kerap menyala di tengah gelap-gulita penindasan.
Di Jawa Timur, obor itu bernama ludruk, kesenian yang lahir dari rahim rakyat, tumbuh bersama jeritan buruh dan petani, dan mekar dalam derap revolusi. Ludruk bukan sekadar panggung lawakan; ia adalah panggung perlawanan.
Sejarah kelahiran ludruk
Tentang asal-usul ludruk ini, ada beberapa versi penjelasan. Ada yang bilang ludruk lahir di Jombang. Namun, ada pula yang bilang ludruk dilahirkan di Surabaya. Yang jelas, ludruk lahir di Jawa Timur.
Ada versi yang menyebutkan, ludruk sudah muncul tahun 1890. Penggagasnya bernama Gangsar, seorang tokoh dari desa Pandan, Jombang. Gangsar pertama kali mencetuskan kesenian ini dalam bentuk ngamen dan jogetan.
Versi lain menyebutkan, ludruk dipelopori oleh orang bernama Santik, petani dari Desa Ceweng, Kecamatan Goda, Kabupaten Jombang, pada 1907. Waktu itu, Santik bersama dua kawannya, Pono dan Amir, mengamen dari desa ke desa.
Ludruk dan revolusi
Dalam riuh revolusi Indonesia, ludruk menjadi senjata yang tak bisa dipandang remeh. Dari kampung ke kampung, ia menyemai kesadaran rakyat. Tahun 1920-an, tokoh-tokoh pergerakan mulai melirik ludruk sebagai sarana penyadaran dan pengorganisasian massa rakyat. Sebut saja Dr Sutomo dan Sukarno.
Pada tahun 1933, Cak Durasim mendirikan Ludruk Organizatie (LO). Kelompok ini aktif menentang fasisme Jepang. Anggotanya sekitar 60-an orang. Setiap pertunjukan mereka diawali dengan kidung jula-juli: bekupon omahe doro, melok Nipon soyo sengsoro (bekupon rumah burung dara, ikut Jepang makin sengsara). Cak Durasim ditangkap dan disiksa oleh Jepang.
Contoh lainnya, Bintang Merah. Kelompok ini berdiri semasa berkobarnya revolusi Agustus 1945. Pimpinannya adalah Matekram. Ia gugur saat mempertahankan Bojonegoro dari serbuan Belanda. Bintang Merah membangkitkan perlawanan rakyat melalui pementasan di kampung-kampung, pabrik-pabrik, pegunungan, dan lain-lain.
Tak lama kemudian, Bintang Merah berganti nama menjadi “Suluh Massa”. Filosofinya: hiburan adalah obor untuk mendekatkan massa dengan revolusi. Dalam membangkitkan semangat revolusioner rakyat, kelompok Suluh Massa mengangkat cerita-cerita rakyat: Pak Sakerah, Sawunggaling, Bontotan Surabaya, dan lain-lain.
Di tahun 1950-an, ludruk makin berkembang pesat. Lahir kelompok-kelompok ludruk seperti Irama Massa (Banyuwangi), Madju Trisno, Sinar Baru, Suluh Massa (Bojonegoro), dan Marhaen (Surabaya). Ini kelompok ludruk yang berdiri di barisan revolusi.
Pihak tentara juga membina kelompok ludruk. Namanya Tresna Enggal. Visinya adalah mengimbangi pengaruh kiri dalam kesenian ludruk. Pada kenyataannya, Tresna Enggal kalah jauh dari ludruk di barisan kiri. Marhaen, misalnya, diketahui tampil 16 kali di Istana Negara. Juga pernah tampil beberapa kali di TVRI.
Peristiwa G30S mengubah segalanya. Kelompok ludruk kiri dikejar-kejar dan anggotanya ditangkapi. Banyak di antara mereka dibunuh. Juga, saat itu, muncul stigma: ludruk adalah komunis! Setelah itu, barulah tentara mengorganisir ulang kelompok-kelompok ludruk non-kiri untuk kepentingan mereka.
Lelucon satire tapi melawan
Ludruk adalah kesenian rakyat. Bahasa yang dipergunakan ludruk adalah bahasa rakyat jelata: egaliter, tegas, lugas, dan sederhana. Umumnya pemain ludruk mengenakan kostum merah dan putih. Ini dianggap perlambang sikap anti-kolonial.
Kekuatan ludruk juga terletak pada interaksi langsung dengan penonton. Bahasa yang humoris, sesuai dengan bahasa keseharian rakyat, makin mendekatkan kesenian ini pada selera berkesenian rakyat.
Selain itu, improvisasi aktor secara spontan membuat suasana panggung menjadi hidup, mengalir, dan dinamis. Inilah coraknya kebebasan rakyat. Namun, apa yang lebih penting dari ludruk adalah budaya perlawanannya.
Bisri Effendy, seorang peneliti LIPI, menyebut ludruk sebagai perlawanan itu sendiri. Katanya, ludruk muncul karena protes orang Jawa Timur terhadap ketoprak Mataram yang cerita-ceritanya menjunjung hubungan vertikal. Ludruk ingin sebaliknya: cerita-cerita rakyat.
Ludruk adalah drama satiris. Bagi Njoto, salah seorang pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI), satire-satire ludruk merupakan tembakan-tembakan yang bisa menyusur kepincangan masyarakat.
Pementasan ludruk banyak berisi dagelan-dagelan yang berisi kritik sosial. Tanpa berputar-putar, dagelan itu berupa “tembakan langsung” kepada objek: tuan tanah, kapitalis, imperialis, kolonialis, dan penindas rakyat lainnya. Kisah-kisah yang diangkat ludruk menyentuh langsung kehidupan rakyat.
Kisah Pak Sakerah, misalnya. Pak Sakerah adalah seorang mandor pabrik gula. Ia tak rela kaum buruh diperas dan disiksa semena-mena. Karena itu, Pak Sakerah melawan. Ia ditangkap dan dipenjara. Sekeluarnya dari penjara, ia menuntut gajinya selama di penjara. Tetapi si tuan kapitalis menolak dengan kasar. Sakerah lantas membunuh pengusaha Belanda itu. Ia diganjar hukuman 20 tahun penjara. Tak sampai 20 tahun dipenjara, ia kabur dan menyusun perlawanan. Ia membunuh kepala desa dan carik yang menjadi kaki-tangan Belanda. Hingga akhirnya Pak Sakerah ditangkap secara licik.
Cerita lainnya, Sarip Tambak Yoso, berkisah tentang bocah kampung sakti mandraguna yang melawan penjajah Belanda. Kata Sindhunata, tak ada ludruk tanpa kisah semacam Sarip Tambak Yoso. Artinya: “Tak ada ludruk tanpa protes orang kecil.”
Sayangnya, ludruk kini makin tersingkir. Kesenian rakyat ini justru tersisih ketika teknologi memudahkan untuk memproduksi, mementaskan dan menyebarkan produk kesenian ke khalayak ramai. Selama penindasan masih ada, ludruk seharusnya tetap hidup. Ia adalah pengingat bahwa kesenian bukan sekadar hiburan, melainkan sarana pembebasan.










