Pada 14 September 1960, hanya 77 hari setelah Kongo merdeka, seorang kolonel berusia 29 tahun melancarkan kudeta. Namanya Joseph-Désiré Mobutu. Ia tidak bertindak sendirian. Di belakangnya berdiri dua kekuatan yang kelak akan ia cap sebagai musuh abadi: CIA Amerika Serikat dan pemerintah Belgia.
Dokumen CIA yang dideklasifikasi pada 1990-an mengungkap percakapan yang mencengangkan. Pada 18 Agustus 1960, Direktur CIA Allen Dulles mengirim telegram kepada kepala stasiun CIA di Leopoldville: Perdana Menteri Patrice Lumumba, bapak kemerdekaan Kongo, harus disingkirkan dan itu harus menjadi “tujuan mendesak.” Dulles bahkan secara eksplisit membuka kemungkinan pembunuhan.
Belgia berperan lebih kotor. Ketika Lumumba akhirnya ditangkap oleh pasukan Mobutu pada Desember 1960, ia diserahkan ke Provinsi Katanga yang memisahkan diri, yang dipimpin oleh Moise Tshombe, seorang Gubernur dan politisi yang didukung penuh oleh Belgia demi melindungi kepentingan pertambangan raksasa Union Minière du Haut-Katanga. Pada 17 Januari 1961, Patrice Lumumba dieksekusi. Dua perwira Belgia hadir langsung. Jasadnya kemudian dilarutkan dalam asam sulfat agar tidak meninggalkan jejak. Tahun 2002, pemerintah Belgia secara resmi meminta maaf dan mengakui keterlibatan negaranya dalam pembunuhan itu.
Mobutu, penerima manfaat utama dari operasi ini, mendapat hadiah yang setimpal. Selama 1960-an, CIA diperkirakan menggelontorkan jutaan dolar untuk memperkuat rezimnya. Ketika ia secara resmi merebut kekuasaan penuh melalui kudeta kedua pada 24 November 1965, Washington menyambut dengan antusias. Presiden Johnson mengirim pesan ucapan selamat. Surat kabar New York Times menyebut Mobutu sebagai “harapan terbaik untuk stabilitas di Kongo.” Stabilitas, dalam kosa kata Perang Dingin, artinya: antikomunis yang bisa dikendalikan.
Proyek Authenticité: Teater identitas Afrika
Pada Oktober 1971, Mobutu berdiri di depan Majelis Nasional dan mengumumkan sebuah transformasi besar. Republik Demokratik Kongo diganti namanya menjadi Zaire—sebuah nama yang ironisnya berasal dari kata Portugis yang merupakan korupsi dari kata Kikongo nzadi o nzere, “sungai yang menelan sungai.” Bahasa kolonial dijadikan nama negara yang diklaim telah “melepaskan diri” dari warisan kolonial. Kota-kota berganti nama. Leopoldville menjadi Kinshasa, Elizabethville menjadi Lubumbashi, Stanleyville menjadi Kisangani.
Mobutu sendiri berganti nama dengan megah: dari Joseph-Désiré Mobutu menjadi Mobutu Sese Seko Kuku Ngbendu Wa Za Banga. Nama itu dalam bahasa Ngbandi secara harfiah berarti kira-kira: “prajurit yang selalu menang, pergi dari penaklukan ke penaklukan, meninggalkan api di belakangnya.” Ia kemudian menyederhanakan publikasinya menjadi “Mobutu Sese Seko”―yang dalam versi populer diterjemahkan sebagai “ayam jantan yang tidak membiarkan betina mana pun lolos.” Nama ini bukan warisan budaya yang dipungut dari nenek moyang; namun konstruksi PR yang dikerjakan bersama tim penasihatnya.

Kebijakan Authenticité merambah ke setiap sudut kehidupan. Dasi dan jas Barat dilarang dikenakan oleh pejabat dan pegawai negeri; Mobutu menyebutnya sebagai “tali leher bekas penjajah.” Sebagai gantinya, ia memperkenalkan abacost, kependekan dari “à bas le costume” (turunkan jas). Nama-nama baptis Kristen, warisan misionaris Belgia, wajib diganti dengan nama Afrika. Para pastor Katolik diperintahkan melepaskan nama-nama santo mereka. Bahkan lagu kebangsaan baru Zaire secara eksplisit memuji Mobutu sebagai bapak bangsa.
“Kita harus mengambil kembali identitas kita yang dicuri oleh kolonial. Kita harus menjadi Afrika seutuhnya.”
—Mobutu Sese Seko, pidato 1971.
Pada 1973, Mobutu meluncurkan program Zairianisasi yang lebih radikal: semua perusahaan yang dimiliki warga asing, terutama milik komunitas Yunani, Portugal, dan Indi. Dinasionalisasi paksa. Sekitar 2.000 perusahaan berpindah tangan. Di atas kertas, ini adalah langkah revolusioner: dekolonisasi ekonomi. Mobutu berpose sebagai pewaris sejati perjuangan Lumumba, meski ia sendiri yang paling bertanggung jawab atas kematian Lumumba.
“Le Guide”: Kemewahan di tengah kemiskinan
Sementara rakyat Zaire diwajibkan mengenakan abacost dan menanggalkan nama-nama Barat mereka, sang presiden yang mereka sembah menjalani gaya hidup yang mustahil dibedakan dari bangsawan Eropa abad ke-18—hanya dengan anggaran yang jauh lebih besar.
Istana di Gbadolite, kampung halaman Mobutu di utara Zaire yang hanya bisa dijangkau lewat udara, menjadi simbol paling telanjang dari ironi ini. Ia membangun landasan pacu sepanjang 3,2 kilometer—cukup panjang untuk mendarat Concorde—di tengah hutan hujan tropis. Tiga istana megah berdiri di sana, dengan taman-taman yang dirancang arsitek Eropa, kolam renang marmer, dan sistem pendingin udara yang membutuhkan generator listrik tersendiri karena Gbadolite tidak punya jaringan listrik publik. Sebagian furnitur dan dekorasi diimpor langsung dari Prancis dan Italia.
Mobutu terbang dengan Concorde. Bukan sekali-dua kali, melainkan secara rutin—menyewa pesawat supersonik buatan Inggris-Prancis itu seharga sekitar 250.000 dolar per penerbangan untuk berbelanja di Paris dan Brussels. Ia menginap di hotel-hotel termahal Eropa, menghabiskan malam-malam di George V Paris dan Savoy London. Belanjaan fashion istrinya, Marie-Antoinette (ya, nama aslinya memang demikian), menjadi lelucon pahit di kalangan wartawan asing yang meliput Zaire.

Kekayaan pribadi Mobutu sulit dihitung secara pasti, namun berbagai perkiraan menempatkannya antara USD 4 hingga USD 15 miliar. Bank-bank Swiss, properti di Brussel, vila di Côte d’Ivoire dan Maroko, saham di berbagai perusahaan Eropa—semuanya terdaftar atas nama-nama samaran atau keluarga dekatnya. Angka USD 5 miliar sering disebut setara dengan seluruh utang luar negeri Zaire pada pertengahan 1980-an. Dengan kata lain, Mobutu secara harfiah telah mencuri sebanyak negara berutang kepada dunia.
Program Zairianisasi yang diklaim sebagai dekolonisasi ekonomi berakhir sebagai farsa brutal. Perusahaan-perusahaan yang dinasionalisasi diserahkan bukan kepada pengusaha kompeten, melainkan kepada para politisi, jenderal, dan anggota keluarga Mobutu yang tidak mengerti cara mengelola bisnis. Dalam dua tahun, sebagian besar perusahaan itu bangkrut. Produksi tembaga, komoditas ekspor utama Zaire, anjlok dari 460 ribu ton pada 1974 menjadi hanya 155 ribu ton pada 1994. Pada 1977, Mobutu terpaksa secara diam-diam mengundang kembali banyak pemilik asing yang ia usir, kali ini dengan konsesi yang lebih menguntungkan bagi mereka.
Retorika anti-asing sebagai senjata politik dalam negeri
Untuk memahami mengapa retorika anti-asing begitu berguna bagi Mobutu, kita perlu melihat konteks ekonomi Zaire secara jujur.
Negara ini duduk di atas salah satu cadangan mineral terkaya di planet Bumi: tembaga, kobalt (Zaire menguasai lebih dari 60 persen cadangan kobalt dunia), berlian, emas, mangan, uranium. Bandara Kamina pernah digunakan Amerika Serikat untuk mengirim pasokan ke Jonas Savimbi di Angola—dan Mobutu menerima bayaran untuk itu. Kongo/Zaire seharusnya kaya. Namun pada 1990, pendapatan per kapita riil Zaire justru lebih rendah daripada saat kemerdekaan pada 1960. Tiga dekade kemerdekaan di bawah Mobutu menghasilkan kemunduran ekonomi yang absolut.
Pertanyaannya, tentu saja, ke mana perginya semua kekayaan itu? Retorika Mobutu memberikan jawaban yang mudah dan memuaskan: ke tangan orang asing, perusahaan multinasional, imperialis. Narasi ini bukan sepenuhnya bohong, eksploitasi asing atas Afrika memang nyata secara historis. Tapi dalam konteks Zaire di bawah Mobutu, narasi itu berfungsi utamanya sebagai pengalih. Sebab jawaban yang lebih akurat adalah kekayaan itu masuk ke rekening Swiss atas nama Mobutu dan kroninya.

Sistem yang dibangun Mobutu memiliki nama akademisnya sendiri: para ilmuwan politik menyebutnya sebagai “kleptokrasi” atau lebih spesifik, “rezim prebendal.” Setiap posisi dalam pemerintahan, militer, dan perusahaan negara diperlakukan sebagai sumber ekstraksi pribadi, bukan sebagai fungsi publik. Para pejabat dibayar rendah secara resmi—dan diharapkan menutup kekurangan itu dengan korupsi. Mobutu secara aktif mendorong ini, karena pejabat yang korup adalah pejabat yang setia: mereka tidak bisa membangkang tanpa mengekspos diri mereka sendiri.
Ketika ekonomi memburuk dan ketidakpuasan meningkat, mesin propaganda Mobutu berputar lebih kencang. Kesulitan rakyat dikaitkan dengan sabotase asing, sanksi imperialis, atau warisan buruk kolonialisme yang butuh waktu untuk diatasi. Demonstrasi dibubarkan dengan kekerasan; dan kekerasan itu dibenarkan atas nama perlindungan kedaulatan nasional dari “elemen-elemen yang didanai asing.” Aktivis pro-demokrasi dicap sebagai agen Barat. Wartawan asing yang kritis diusir. Pola ini menciptakan sebuah kerangka berpikir yang tidak bisa ditembusi dari dalam: setiap kritik terhadap Mobutu adalah bukti bahwa si pengkritik adalah alat asing.
Dimensi internasional dari kontradiksi ini bahkan lebih mencolok. Mobutu adalah penerima utama bantuan Barat di Afrika Subsahara selama era Perang Dingin. Antara 1965 dan 1997, Amerika Serikat menggelontorkan lebih dari USD 1,5 miliar bantuan militer dan ekonomi ke Zaire. IMF dan Bank Dunia memberikan pinjaman besar, meski mereka tahu uang itu akan dijarah. Belgia mempertahankan hubungan bisnis yang menguntungkan. Prancis, dalam kerangka Françafrique, mendukung Mobutu sebagai pilar stabilitas regional. Semua kekuatan Barat yang ia kutuk dalam pidato-pidatonya adalah pendukung finansial utama rezimnya. Bahkan ketika tekanan demokratisasi pasca-Perang Dingin memaksanya mengadakan konferensi nasional pada 1991, Mobutu berhasil menyabotase prosesnya dengan dukungan diam-diam dari Paris dan Brussels.

Topeng yang akhirnya lepas
Mobutu jatuh pada Mei 1997, ketika pasukan Laurent-Désiré Kabila, yang ironisnya didukung Rwanda dan Uganda, dua negara yang juga didukung Barat, menggulingkannya nyaris tanpa perlawanan. Tentara Zaire, yang selama 32 tahun menjadi alat penindasan domestik, tidak mau bertempur. Mobutu melarikan diri ke Maroko dan meninggal karena kanker prostat empat bulan kemudian, pada September 1997, dalam pengasingan. Istana-istana Gbadolite dijarah dan dibiarkan membusuk di tengah hutan, kini menjadi reruntuhan yang dikunjungi para pelancong berjiwa petualang sebagai “pompe funèbre de la kleptokratie,” pemakaman megah kleptokrasi.
Warisan Mobutu bukan sekadar catatan sejarah Afrika. Ia adalah studi kasus tentang bagaimana nasionalisme dapat dibajak menjadi instrumen penindasan. Setiap komponen retorikanya, kedaulatan, identitas, musuh asing, keaslian budaya, adalah alat yang sah dan bermakna ketika digunakan secara autentik. Lumumba, yang Mobutu bantu singkirkan, menggunakan elemen-elemen yang sama untuk visi yang sungguh-sungguh emansipatoris. Yang membedakan bukan retorikanya, melainkan siapa yang untung dan siapa yang membayar.
Kongo hari ini, yang kembali bernama Republik Demokratik Kongo sejak 1997, masih menanggung sebagian warisan Mobutu. Infrastruksi yang ia biarkan membusuk, institusi yang ia sengaja lemahkan agar tak ada yang bisa menantangnya, budaya korupsi yang ia normalisasi, dan konflik-konflik regional yang sebagian akarnya ada dalam destabilisasi yang ia sponsori di negara-negara tetangga. Kongo adalah salah satu negara terkaya secara sumber daya alam di dunia—dan salah satu yang termiskin dalam hal kesejahteraan rakyatnya. Jarak antara potensi dan kenyataan itu adalah monumen paling abadi bagi Mobutu Sese Seko.
Yang paling perlu diingat adalah retorika anti-asing yang paling berapi-api sekalipun tidak otomatis bermakna keberpihakan kepada rakyat. Mobutu adalah buktinya. Inilah pelajaran utama dari 32 tahun Zaire: baju kulit macan tutul tidak membuat seseorang menjadi pejuang rakyat.










