Selasa, 3 Maret 2026, di tengah pertemuan dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz di Gedung Putih, Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump meluapkan amarahnya kepada wartawan. Sasarannya bukan Rusia, bukan Tiongkok, melainkan Spanyol.
“Spanyol sangat buruk,” kata Trump. “Kita akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kita tidak ingin berhubungan dengan Spanyol sama sekali,” lanjutnya.
Kemarahan Trump dipicu oleh satu keputusan: Madrid menolak mengizinkan pangkalan militer AS di wilayahnya digunakan untuk mendukung serangan AS-Israel terhadap Iran.
Dalam waktu 24 jam setelah omelan Trump itu, Perdana Menteri Pedro Sánchez muncul di televisi nasional dengan pesan sederhana namun menggema: “No to war”—tidak untuk perang. Sánchez tidak berhenti di situ. Dalam pidato yang disiarkan secara nasional pada 4 Maret 2026, ia menyebut serangan AS-Israel terhadap Iran sebagai tindakan yang “tidak dapat dibenarkan” dan “berbahaya”. Ia menggambarkan konflik itu sebagai permainan “rolet Rusia dengan nasib jutaan orang”. Spanyol, tegasnya, “Tidak akan menjadi bagian dari sesuatu yang buruk bagi dunia dan bertentangan dengan nilai serta kepentingan kami, semata-mata karena takut pada ancaman pembalasan dari seseorang.” Seseorang yang dimaksud jelas: Donald Trump.
Konfrontasi yang sudah diramalkan
Keputusan Spanyol melarang dua pangkalan militer AS di selatan negara itu, Rota dan Morón di Andalusia, digunakan untuk operasi menyerang Iran, bukanlah kejutan bagi mereka yang mengikuti kebijakan luar negeri Madrid. Ketegangan antara Sánchez dan Trump sudah menumpuk selama berbulan-bulan.
Sebelum krisis Iran, Trump sudah marah karena Spanyol menolak meningkatkan anggaran pertahanan NATO dari 2 persen menjadi 5 persen PDB, target yang didesakkan Trump kepada seluruh anggota aliansi. Pada Oktober 2025, Trump bahkan sempat menyarankan agar Spanyol dikeluarkan dari NATO. Sánchez bergeming.
Merespons ancaman perdagangan Trump, Sánchez tenang secara kalkulatif. Spanyol memang anggota NATO dan mitra dagang AS, tetapi hanya sekitar 5 persen total perdagangan Spanyol dilakukan dengan AS. Sebagai ekonomi terbesar keempat zona euro, Spanyol juga dilindungi oleh aturan Uni Eropa: setiap anggota yang dijadikan sasaran diskriminasi dagang sepihak berhak mendapatkan pembelaan kolektif dari Brussels. Ancaman Trump, dalam analisis dingin, lebih keras bunyinya daripada dampak nyatanya.
Jejak pro-Palestina yang konsisten dan berani
Konfrontasi atas Iran hanyalah babak terbaru dari pola yang sudah terbangun jauh sebelumnya. Sánchez, menurut New Statesman, adalah “pemimpin Eropa paling senior yang menggunakan kata ‘genosida’ untuk menggambarkan perang Israel di Gaza.” Bagi pemimpin Eropa yang umumnya berhati-hati dengan diksi, ini adalah pilihan kata yang luar biasa berani secara diplomatik.

Sejak awal serangan Israel di Gaza pada Oktober 2023, Sánchez mengambil sikap yang tidak populer di antara para mitranya di Barat. Spanyol menjadi negara Eropa pertama yang menghentikan penjualan senjata ke Israel. Madrid melarang kapal-kapal pengangkut senjata untuk Israel bersandar di pelabuhan Spanyol, dan melarang penggunaan wilayah udara Spanyol untuk mengangkut bahan bakar atau senjata bagi militer Israel. Negeri Matador juga secara terbuka menolak bergabung dalam “Gaza Board of Peace” versi Trump. Rencana itu, kata Sánchez, mengabaikan PBB dan sama sekali tidak melibatkan pihak Palestina.
Puncaknya, pada 28 Mei 2024, Spanyol secara resmi mengakui negara Palestina dengan perbatasan berdasarkan garis 1967, bersama-sama dengan Irlandia dan Norwegia. Ini adalah langkah yang sudah lama dijanjikan Sánchez kepada publik Eropa dan global. Erdogan, Presiden Turki, bahkan memanggil Sánchez dengan julukan “Sanchez yang Berani”, menyebutnya sebagai “pahlawan sejati Barat.” Sikap inilah yang menempatkan Sánchez bukan hanya sebagai suara kiri dalam panggung Eropa, melainkan sebagai referensi moral dalam percakapan global tentang Timur Tengah.
Dari ekonom jadi pemimpin kiri
Pedro Sánchez Pérez-Castejón lahir pada kalender langka yang hanya muncul setiap empat tahun sekali: 29 Februari 1972 di Madrid. Ia tumbuh di Distrik Tetuán, belajar di SMA Ramiro de Maeztu, dan sempat bermain basket di tim junior CB Estudiantes, klub basket bergengsi Madrid.
Mimpi menjadi atlet profesional akhirnya ia lepas demi studi Ilmu Ekonomi di Universidad Complutense, Madrid, lulus 1995. Ia kemudian meraih Master Ekonomi Eropa dari Vrije Universiteit Brussel, bekerja di New York, dan kemudian menyelesaikan Doktor Ekonomi di Universitas Camilo José Cela, Madrid, tempat ia juga mengajar sebagai dosen. Ia adalah Perdana Menteri Spanyol pertama yang fasih berbahasa Inggris.
Sánchez bergabung dengan Partai Sosialis Spanyol (PSOE) pada 1993 saat masih mahasiswa. Kariernya berjalan lambat: anggota Dewan Kota Madrid (2004), lalu anggota parlemen (2009). Terobosan datang pada 2014 ketika ia memenangkan pemilihan pemimpin PSOE dalam proses open primary pertama dalam sejarah partai. Saat itu ia adalah orang yang hampir tidak dikenal.

Perjalanannya tidak mulus. Dua kekalahan pemilu berturut-turut pada 2015 dan 2016 membuatnya digulingkan oleh para tetua partai. Ia mengundurkan diri. Namun ia bangkit lagi: berkampanye keliling Spanyol dengan Peugeot 2005-nya sendiri, merebut kembali kepemimpinan PSOE pada 2017, dan setahun kemudian pada Juni 2018 menggulingkan PM Mariano Rajoy melalui mosi tidak percaya setelah Rajoy terseret skandal korupsi besar-besaran.
Sejak 2018, Sánchez telah memimpin Spanyol melalui tiga periode pemerintahan koalisi, pertama dengan Podemos, kemudian dengan Sumar, dalam mengelola negara dengan ekonomi yang kini menjadi salah satu yang paling dinamis di Eropa. Sejak 2022, ia juga menjabat sebagai Presiden Sosialis Internasional, organisasi yang menaungi partai-partai Sosial Demokrat dari seluruh dunia. Posisi ini memperkuat profilnya sebagai figur ideologis global, bukan sekadar administrator domestik.
Spanyol di jalan sejarah yang benar
Ada dimensi sejarah yang dalam dari posisi Sánchez vis-à-vis Trump dan Asia Barat. Spanyol masih menyimpan luka kolektif dari keputusan PM konservatif José María Aznar yang mendukung invasi Irak 2003, keputusan yang kemudian dihancurkan oleh opini publik dan menjadi faktor utama kekalahan partai Aznar dalam pemilu 2004 setelah bom kereta Madrid.
Pengganti Aznar, PM Sosialis José Luis Rodríguez Zapatero, menarik pasukan Spanyol dari Irak sebagai keputusan pertamanya di jabatan, dan itu disambut sebagai “momen kebanggaan patriotik anti-imperialis” oleh mayoritas warga Spanyol.

Sánchez sadar betul akan warisan itu. Dalam pidato-pidatonya soal Iran, ia tidak kebetulan menggunakan frasa “No a la guerra”—slogan yang sama dengan yang digaungkan jutaan warga Spanyol dalam demonstrasi besar menolak Perang Irak pada 2003. Ini adalah gestur historis yang disengaja: mengingatkan publik Spanyol bahwa ada preseden moral untuk menolak agresi militer yang dipimpin Washington, dan bahwa menolak itu bukan penghianatan terhadap aliansi, melainkan kesetiaan kepada nilai yang lebih tinggi.
Sebanyak 53 persen warga Spanyol, menurut survei Eurobazuka Februari 2026, menolak kebijakan luar negeri Trump, salah satu angka tertinggi di Eropa. Sánchez tidak sedang berjudi politik; tapi sedang berbicara kepada konstituen yang sudah lama menunggu pemimpin yang tidak takut bersuara. Hasilnya adalah sebuah paradoks yang menakjubkan: seorang perdana menteri yang berani melawan negara adidaya terkuat di dunia justru tampak semakin kokoh di dalam negeri.










