Gempa politik sedang mengguncang kemapanan politik Inggris. Pemicunya adalah seorang anak muda berpikiran progresif, Zarah Sultana.
Pada 24 Juli lalu, bersama veteran kiri yang pernah menjadi pemimpin Partai Buruh (2015-2020), Sultana menginisiasi pendirian partai baru berhaluan kiri di Inggris. Untuk sementara, partai itu dinamai Your Party.
Antuasiasme publik menyambut partai baru itu sungguh luar biasa. Hanya dalam empat hari, setidaknya 500 ribu orang sudah mendaftar secara online di partai baru ini. Sebuah pertanda bahwa rakyat Inggris menghendaki kanal politik baru yang lebih progresif.
Lalu, siapa Zarah Sultana?
Lahir 31 Oktober 1993 di West Midlands, Inggris, Zultana merasakan betul pahit-getirnya kebijakan neoliberal yang dimulai sejak era Margaret Thatcher.
Dia lahir dari keluarga muslim keturunan Pakistan dan Kashmir. Kakeknya bermigrasi dari Kashmir ke West Midlands sejak 1960-an.
“Kakekku adalah salah satu dari pekerja yang menjadikan kawasan ini sebagai pusat industri motor yang berkembang pesat,” kenangnya.
Tumbuh sebagai remaja, dia menyaksikan Partai Tory dan Liberal Demokrat berkuasa. Dia merasakan langsung dampak privatisasi pendidikan, yang membuat biaya pendidikan membengkak dan membuat banyak siswa berutang.

Dia juga menyaksikan industri yang dulu menggerakkan ekonomi kotanya, yang menarik banyak orang dari berbagai belahan dunia datang mengadu nasib, mengalami kejatuhan dan gulung tikar (deindustrialisasi).
Sultana mulai tertarik politik saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia suka menyaksikan debat-debat politik di televisi. Dia juga tertarik dengan aktivisme dan gerakan sosial.
Saat kuliah di University of Birmingham, dia bergabung dengan Serikat Mahasiswa Nasional Inggris Raya alias National Union of Student (NUS), sebuah konfederasi organisasi mahasiswa dan pelajar terbesar di seluruh Inggris raya.
Tahun 2011, saat usianya baru 17 tahun, Sultana memilih bergabung dengan Partai Buruh. Namun, dia lebih banyak aktif di Pemuda Buruh (Young Labour), sayap pemuda Partai Buruh yang beranggotakan anak-anak muda usia 14-26 tahun.
Hingga, pada 2015, sebuah revolusi dari dalam mengubah kepemimpinan Partai Buruh. Jeremy Corby, yang mewakili sayap kiri militan di partai, berhasil terpilih sebagai ketua Partai Buruh.
“Saya tahu dia menjadi suara bagi kaum tertindas, di mana pun mereka berada,” kata Sultana, seperti ditulisnya di majalah berhaluan demokratik-sosialis, Tribune.
Sayang, di bawah Corby, nasib Partai Buruh tak begitu membaik. Kendati keanggotannya meningkat, tetapi mereka berkali-kali keok di pemilu. Kalah di referendum Brexit, kalah juga di pemilu 2017 dan 2019.
Di pemilu 2019, Partai Buruh tak hanya harus merelakan Boris Johnson, seorang kanan chauvinis, berhasil menduduki kursi perdana menteri. Mereka juga kehilangan suara dan kursi yang signifikan.
Beruntung, di tengah keterpurukan itu, ada bintang muda yang bersinar terang.
Seperti politisi milenial pada umumnya, Sultana juga sangat aktif di media sosial. Di X (dulu Twitter), pengikutnya mencapai 393,4 ribu orang. Di Instagram, pengikutnya mencapai 500,8 ribu orang, sedangkan di TikTok, dia punya 483,2 ribu pengikut.
Soal musik, Sultana tak ketinggalan. Dia penggemar berat K-Pop. Di Spotify, dia menaruh BTS di nomor urut #1 daftar “My Top Artist”, selain Taylor Swift, One Direction, Lewis Capaldi, dan Halsey.
Meski sudah jadi anggota parlemen, Sarah Sultana tak berjarak dengan gerakan rakyat. Seperti juga Alexandria Ocasio-Cortez (AOC) di Amerika Serikat, Sultana juga kerap ikut aksi protes.
Seperti baru-baru ini, ketika rakyat Inggris turun ke jalan menentang undang-undang baru yang akan menambah kewenangan polisi dalam membatasi aksi protes. Ia juga aktif dalam gerakan solidaritas untuk Palestina.

Sultana juga suka menulis. Tulisan-tulisannya tersebar di Tribune, Metro, Red Pepper, The Huffington Post, hingga Guardian.
Tahun 2019, dia terpilih sebagai anggota parlemen dari Partai Buruh mewakili daerah pemilihan Conventry South. Debut politiknya sebagai anggota parlemen langsung menggemparkan. Kaum konservatif dan liberal Inggris dibuat kaget. Pidato pertamanya langsung menohok jantung politik kanan di Inggris: thatcherisme.
“Saya ingin mengenang masa remajaku dan berkata dengan bangga, generasiku berhadap-hadapan dengan 40 tahun Thatcherisme dan kami berhasil mengakhirinya,” kata Sultana.
Di Partai Buruh, Sultana menjadi bagian dari grup sosialis, sering disebut Socialist Campaign Group. Dibentuk sejak 1982, Socialist Group menjadi wadah bagi faksi kiri anggota parlemen dari Partai Buruh.
Di parlemen, Sultana sangat vokal. Suaranya keras menantang konservatisme dan neoliberalisme. Terkadang, karena suara vokalnya yang mengganggu kemampanan, ia kerap mendapat pelecehan sebagai perempuan maupun minoritas muslim.
Pada 2022, dia satu dari 11 anggota parlemen dari Partai Buruh yang menandatangani pernyataan dari Koalisi Hentikan Perang untuk mengakhiri perang di Ukraina. Ia juga mempertanyakan legitimasi NATO untuk terlibat dalam perang itu.
Pada 2022 itu, dia kembali terpilih sebagai anggota parlemen dari daerah pemilihannya. Dua tahun kemudian, pada pemilu 2024, ia kembali terpilih untuk ketiga kalinya.
Pada Juli 2025, ia mengundurkan diri dari Partai Buruh, lalu bergabung dengan gerakan yang dipimpin Corbyn. Keduanya kemudian menjadi motor dari pendirian partai baru.
Kisah Zarah Sultana adalah sebuah refleksi. Ia adalah representasi dari generasi yang tidak lagi mau berkompromi dengan sistem yang mereka anggap telah gagal. Perjalanannya dari seorang remaja yang marah, menjadi aktivis, hingga kini menjadi pendobrak di panggung nasional, adalah bukti bahwa perubahan seringkali datang dari suara-suara yang paling berani dan tak terduga. Masa depan politik Inggris mungkin sedang ditulis ulang. Dan, Zarah Sultana memegang pena itu dengan mantap.










