Pemilu putaran kedua Chile, yang berlangsung pada 14 Desember lalu, mengubah bandul politik negeri berpenduduk 19,7 juta jiwa itu bergeser dari kiri ke kanan.
José Antonio Kast, seorang sayap kanan pengagum mantan diktator Augusto Pinochet, berhasil memenangi pemilu dengan 58,6 persen suara. Sementara kandidat dari sayap kiri, Jeannette Jara, tersungkur dengan perolehan suara 41,84 persen suara.
Hasil pemilu itu mengagetkan. Satu dekade lalu, Chile menjadi palagan protes kaum muda yang memprotes neoliberalisme dan warisan kediktatoran Pinochet. Gelombang protes itu yang menggeser politik Chile semakin ke kiri.
Pada 2021, Gabriel Boric, seorang mantan aktivis mahasiswa, berhasil memenangi pemilu. Ia terpilih sebagai presiden dan merupakan yang termuda dalam sejarah Chile. Tak hanya itu, pemerintahannya diisi dengan wajah-wajah muda, sebagian besar mantan aktivis mahasiswa, yang condong pada gagasan kiri.
Namun, hari ini seorang neofasis berhasil memanjat kekuasaan dan menang. Ini bukan hanya pergantian wajah di Istana La Moneda (Istana Kepresidenan di Chile), tetapi juga perubahan konfigurasi politik secara mendadak.
Bagaimana mungkin sebuah negara yang setengah dekade lampau bergemuruh mengutuki ketimpangan, menuding warisan kediktatoran Pinochet sebagai akar masalah, lalu berseru-seru akan perlunya keadilan sosial, tiba-tiba menjadi sangat kanan?

Pasang sayap kanan
José Antonio Kast adalah politisi kanan yang dikalahkan oleh Gabriel Boric pada pemilu 2021. Pasca kekalahan pemilu, Kast menjelma menjadi oposisi yang keras.
Penjegal pertama Gabriel Boric adalah konstitusi baru pada 2022, yang oleh rakyat Chile dianggap terlalu radikal, sehingga ditolak lewat referendum. Kegagalan ini membuat banyak agenda Boric, seperti reformasi kesehatan, pendidikan, dan pensiun, mengalami kemacetan total.
Di sisi lain, meskipun Boric berhasil menjaga makro-ekonomi, tapi ia gagal mengatasi persoalan kriminalitas dan inflasi. Dua isu ini ibarat air jatuh yang mengikis batu cadas hingga rapuh. Dua isu ini benar-benar dieksploitasi sayap kanan, dan terbukti efektif menggerus dukungan rakyat terhadap pemerintah.
Kast, seorang demagog yang menyerupai Trump, menuding Boric sangat lembek memerangi kriminalitas. Ia mengeksploitasi angka-angka kematian akibat kriminalitas untuk menunjukkan kegagalan pemerintah. Meskipun, dalam banyak kasus, angka-angka yang disuguhkan banyak yang bohong. Ia, misalnya, menyebut 1,2 juta orang dibunuh di Chile setiap tahunnya. Lucunya, ketika ia menyadari angka itu mengada-ada, ia segera meralat dan menyebut angka 1,2 miliar. Padahal, penduduk Chile hanya 19 juta orang. Faktanya, angka kematian terkait kriminalitas ada 1.207 kasus.
Namun, retorika itu, yang diulang-ulang dan diamplifikasi media arus utama di Chile, berhasil menciptakan ketakutan. Situasi ini diperkeruh oleh gelombang imigrasi dari Venezuela. Hampir 8 juta warga Venezuela meninggalkan negerinya sejak ekonomi memburuk di bawah pemerintahan Nicolas Maduro. Ratusan ribu di antaranya menyelinap masuk ke Chile. Kedatangan imigran ini dieksploitasi oleh sayap kanan dengan sebagai ancaman terhadap keamanan, naiknya kriminalitas, dan menghilangnya pekerjaan.
Tak hanya Kast yang memainkan isu ini. Franco Parisi, sayap kanan fasis lainnya yang memimpin partai Partido de la Gente (PDG), juga aktif menyulut api kemarahan massa dengan isu-isu kriminalitas dan imigran yang dibumbui hoaks.
Performa ekonomi
Selain isu kriminalitas dan imigran, sayap kanan juga memainkan isu ekonomi dengan mengobarkan narasi ”negara akan bangkrut”, ”negara akan bubar”, ”perampokan terang-terangan”, ”tumpukan utang”, hingga menuding pemerintah tak membangun apa-apa.
Namun, banyak tudingan tak berbasis data. Saat Boric memulai jabatannya, inflasi memang sempat melonjak 14,1 persen, sebagian karena warisan pemerintahan sebelumnya. Namun, sejak 2023 hingga mendekati akhir jabatannya, inflasi turun menjadi tinggal 4 persen. Utang negara memang meningkat, dari 36 persen dari PDB menjadi 43 persen, tetapi masih dalam batas aman.
Boric juga berhasil menurunkan defisit anggaran. Pada 2021, saat mulai menjabat, defisit APBN mencapai 7,7 persen akibat belanja jor-joran pemerintahan sebelumnya. Namun, pada 2022, Chile berhasil surplus antara 1,1 hingga 1,3 persen, pertama kali dalam satu dekade. Setelahnya, defisit Chile terjaga di angka 1,9-2 persen, salah satu yang terendah di Amerika Latin. Kebijakan ini yang membuat Chile aman dari hantaman krisis yang menerjang Amerika Latin.
Boric juga berhasil menetapkan kenaikan upah minimum menjadi 510 ribu peso (sekitar Rp 9,3 juta), merupakan kenaikan upah minimum tertinggi dalam 30 tahun di Chile. Selain itu, meskipun reformasi pajak diblok oleh parlemen yang dikuasai kanan, tetapi Boric berhasil menaikkan rasio penerimaan pajak hingga 20,6 persen dari PDB berkat pajak pertambangan dan kepatuhan pajak.
Namun, meski performa ekonomi membaik, dan menuai puja-puji dari IMF dan OECD, tetapi ekonomi stagnan. Hanya 0,2 persen pada 2023 alias nyaris tidak tumbuh. Meskipun agak membaik sejak 2024 dan 2025, tetapi angkanya masih rendah: hanya 2 persen. Daya beli rakyat lesu, beberapa sektor industri melambat.
Di sinilah masalahnya. Boric berhasil menjaga performa ekonomi yang kita ibaratkan rumah agar tetap kokoh, tapi kurang berhasil menghadirkan banyak hidangan di meja makan. Ini seperti mengulang kisah ”Chile’s Paradox”, istilah yang dipopulerkan oleh ekonom Sebastian Edwards beberapa tahun lalu, tentang kinerja ekonomi yang mengesankan, tercermin dalam angka-angka di atas kertas, tetapi orang banyak merasa kehidupannya tak membaik.
Bersatunya kanan
Dalam pemilu ini, Gabriel Boric memang tidak maju, karena konstitusi Chile membatasi masa jabatan presiden hanya satu periode. Agar bisa maju lagi sebagai Capres, harus ada jeda periode.
Akhirnya, koalisi partai kiri pendukung pemerintah, yang menamakan diri Unidad por Chile (UpCh), mengusung Jeannette Jara sebagai calon presiden. Jeannette, seorang aktivis Partai Komunis dan pernah menjabat Menteri Perburuhan di Kabinet Boric, mengusung agenda progresif seperti upah minimum sebesar 750 ribu peso (Rp 13 juta), mengontrol penggunaan senjata, perbaikan layanan publik, dan memaksimalkan relasi dengan Tiongkok.
Namun, mesin politik pendukung Jeanette sedang terpuruk. UpCh mengalami pukulan elektoral. Suara mereka merosot tajam, hanya mendapat 30,6 persen suara dan 34 kursi. Mereka kehilangan 13 kursi.
Pada pemilu putaran pertama, Jeanette Jara menang tipis dengan 26,58 persen, sementara Kats mendapat 23,92 persen persen. Franco Parisi, sayap kanan neo-fasis yang penuh kontroversi, dari kasus pelecehan seksual hingga penggelapan dana, muncul di urutan ke-3 dengan 19,71 persen. Johannes Kaiser, politisi kanan yang juga memainkan isu populisme, berada di urutan ke-4 dengan 13,94 persen, dan Evelyn Matthei mendapat 12,46 persen.
Jadi, Jeanette menang di tengah kepungan sayap kanan. Pada putaran kedua, ketika Kast berhasil menyatukan semua faksi-faksi sayap kanan, dari liberal hingga neo-fasis, maka Jeanette pun tertinggal jauh.
Dalam sejarah Chile, belum pernah komunis memenangkan pemilu. Pada 1999, Gladys Marín, komunis pertama dalam sejarah Chile yang maju sebagai calon presiden, kalah dan hanya menempati urutan ketiga dengan suara 3 persen. Salvador Allende, orang kiri yang terpilih sebagai presiden pada pemilu 1970, berasal dari Partai Sosialis.
Antonio Kast, yang sudah tiga kali maju sebagai calon presiden, berjanji akan menggunakan tangan besi untuk menegakkan ketertiban umum dan memerangi kriminalitas. Dia juga berjanji membangun parit dan tembok untuk membendung arus imigran di bagian utara Chile. Secara ekonomi, ia akan menurunkan tarif pajak, melakukan efisiensi besar-besaran, dan memangkas belanja sosial. Secara geopolitik, Kast juga akan menjauhkan Chile dari Tiongkok, lalu mendekatkannya dengan Trump di AS dan Javier Milei di Argentina.
Secara sosial, Kast sangat konservatif, dan dipercaya akan memutar balik kemajuan progresif Chile secara sosial, seperti hak-hak perempuan, hak untuk aborsi, dan penghormatan pada pluralisme. Ia juga akan menghidupkan nilai-nilai sosial dan politik era kediktatoran Pinochet.
Begitulah kisah Chile, negeri yang pernah mendudukkan anak-anak muda mantan aktivis gerakan mahasiswa di puncak kekuasaan, kini harus kembali menengok masa lalunya.










