Sejarah manusia diwarnai dengan kekuasaan yang datang silih berganti. Pemimpin datang dengan janji besar, meninggalkan jejak kemegahan, tetapi sering pula turun dengan cara yang pahit. Ada yang jatuh di tangan rakyat yang mereka abaikan, ada yang dikhianati oleh lingkaran terdekatnya, dan ada pula yang runtuh karena kombinasi keduanya.
Yang menarik, pola itu selalu berulang. Ketika jurang antara penguasa dan rakyat melebar, suara kegelisahan diabaikan, pesta kuasa semakin keras terdengar, pada akhirnya kesabaran rakyat akan habis. Saat itulah sebuah rezim yang kelihatan kokoh bisa tiba-tiba runtuh.
Dari masa ke masa, ada banyak kisah tentang ambruknya kekuasaan, dengan latar sejarahnya masing-masing. Berikut sejumlah catatannya:
Dari Julius Caesar ke Louis XVI
Mari mundur ke Roma, sekitar 40 tahun Sebelum Masehi (SM). Julius Caesar, jenderal brilian yang menjadi simbol ambisi dengan slogan “Veni, vidi, vici” (saya datang, saya lihat, saya menang), membangun citra sebagai penyelamat Roma. Akan tetapi kekuasaannya semakin otoriter. Dia mengambil alih wewenang senat dan menyatakan diri sebagai diktator seumur hidup (dictator perpetuo). Langkah ini menimbulkan ketakutan besar di kalangan senator. Mereka merasa republik Roma terancam. Puncaknya terjadi pada 15 Maret 44 SM, yang dikenal sebagai Ides of March. Hari di kalender Romawi yang terkenal karena peristiwa yang menandai pengkhianatan ini: Caesar tewas ditikam 23 kali oleh sekitar 60 orang senator Roma, salah satu di antaranya adalah Brutus, sahabatnya sendiri.
Di abad ke-18, Louis XVI memerintah Prancis dari Versailles yang megah, sementara rakyat kelaparan, harga roti melambung, dan jeritan mereka nyaris tak terdengar di balik dinding istana. Raja yang lemah dan lamban ini terputus dari realita, gagal merasakan penderitaan rakyatnya. Ketika revolusi Prancis meledak di tahun 1789, fondasi kekuasaannya yang rapuh runtuh dengan cepat. Pada 1793, pengadilan rakyat menghukumnya mati dengan guillotine.
Mussolini dan Hitler: Dari pujian ke kebencian
Benito Mussolini menyebut dirinya sebagai Il Duce (Sang Pemimpin). Dia mampu membangkitkan semangat massa lewat pidato berapi-api dan simbol-simbol kebesaran negara. Namun ambisinya untuk menaklukkan wilayah baru, ketergantungannya pada Hitler, dan fokus pada pamer kekuasaan, daripada kesejahteraan rakyat, telah membuka celah kehancurannya. Selama berkuasa, Mussolini memerintah dengan menebar ketakutan dan propaganda. Sehingga ketika kekalahan datang, kepercayaan rakyat runtuh dan partainya membelot. Pada 1943, dia dicopot dari jabatannya sebagai perdana menteri. Ketika pasukan Sekutu mendarat di Italia dan situasi militer berubah drastis, posisi Mussolini semakin lemah, hingga akhirnya ditangkap oleh partisan Italia, kelompok perlawanan rakyat yang menentang rezim fasisnya. Pada April 1945, Mussolini dieksekusi dan digantung terbalik di Milan.
Di Jerman, Adolf Hitler membangun kekuasaan totaliter melalui kultus pribadi, kontrol media, dan propaganda yang mengatur setiap aspek kehidupan. Rakyat Jerman awalnya terpesona oleh propaganda superioritas ras Arya dan kejayaannya. Ketika Perang Dunia II mulai menghantam Jerman dengan kekalahan di medan penting dan mundurnya pasukan, pengaruh Hitler melemah, kepercayaan lingkaran dekatnya runtuh, bahkan beberapa jenderal merencanakan pengkhianatan lewat Operasi Valkyrie. Walau gagal, upaya itu menandai rapuhnya loyalitas yang menopang kekuasaannya. Pada 1945, saat Berlin dikepung Sekutu, Hitler melakukan bunuh diri di sebuah bunker.
Asia Tenggara: Marcos dan people power
Ferdinand Marcos memerintah Filipina selama dua dekade dengan tangan besi. Ia juga mempertahankan kekuasaan lewat darurat militer sejak 1972. Di balik retorika pembangunan, ia dan istrinya, Imelda Marcos, hidup dalam gelimang kemewahan, sedangkan rakyatnya miskin dan menderita. Pada 1986, rakyat memenuhi jalan-jalan Manila dalam demonstrasi damai yang dikenal sebagai People Power Revolution. Keberanian kolektif itu membuat militer enggan menembaki rakyat. Marcos pun jatuh, lalu melarikan diri ke pengasingan.
Eropa Timur: Nicolae Ceaușescu
Sejak berkuasa pada 1965, Nicolae Ceaușescu membangun kekuasaan lewat kultus pribadi yang absurd. Potret dirinya dipasang di setiap sudut kota, dan pidato panjangnya wajib didengar. Di balik ambisi pembangunan, ia meluncurkan proyek “sistematization”. Melalui kebijakan modernisasi paksa ini, ia menghancurkan desa-desa, memindahkan penduduknya ke blok apartemen massal, dan membangun kota serta infrastruktur untuk menciptakan citra Rumania yang modern. Meski begitu, rakyat tetap kelaparan serta kehilangan tanah dan rumah mereka. Pada Desember 1989, saat tampil berpidato di balkon gedung Partai Komunis di Bucharest, ia dikejutkan oleh cemoohan rakyat yang turun ke jalan. Stasiun televisi nasional turut merekam momen itu. Demonstrasi meluas, tetapi tentara menolak menembaki rakyat. Akhirnya rezim yang tampak kokoh selama 24 tahun runtuh seketika. Ceaușescu dan istrinya ditangkap, diadili kilat, dan ditembak mati.
Arab Spring: Mubarak dan Gaddafi
Tahun 2011 menjadi titik balik bagi dunia Arab dan Mesir, hingga menjadi salah satu episentrum. Hosni Mubarak, yang berkuasa lebih dari tiga dekade dengan gaya militeristik, mempertahankan stabilitas dan keamanan yang harus dibayar mahal oleh rakyatnya: kebebasan sipil dibatasi, korupsi merajalela, dan ketidakadilan menjadi bagian sehari-hari. Gelombang Arab Spring membuat jutaan rakyat turun ke jalan, terutama di Tahrir Square, menuntut perubahan dan keadilan. Ketika militer, penopang utama kekuasaannya memilih mengikuti kehendak rakyat, kuasa Mubarak runtuh. Dia dipaksa mundur, dan digantikan oleh pemerintahan transisi yang berasal dari militer.
Di Libya, Muammar Gaddafi memimpin sejak 1969 dengan gaya eksentrik dan flamboyan. Ia tampil dengan tenda beduin dan pakaian mewah, sambil menindas lawan politik dan menumpuk kekayaan dari minyak, sementara rakyat tetap hidup miskin. Pada 2011, gelombang protes rakyat mengguncang negara, dan banyak tentaranya mulai membelot. Gaddafi menolak menyerah, namun akhirnya ditangkap dan dibunuh oleh pemberontak di Sirte. Tubuhnya diletakkan begitu saja di jalanan.

Indonesia: 1965–1966, 1998, hingga hari ini
Dari cerita penguasa dunia, mari menoleh ke Tanah Air. Indonesia juga punya catatan tentang bagaimana kekuasaan bisa runtuh ketika ambisi, loyalitas palsu, dan krisis bertemu.
Sukarno, presiden pertama Indonesia, memimpin dengan karisma dan retorika yang membangkitkan semangat nasionalisme. Namun negara menghadapi inflasi tinggi, kemiskinan meluas, dan ketidakstabilan politik yang terus membayang. Puncaknya terjadi pada 1965–1966, saat peristiwa G30S memicu tekanan militer yang merenggut kekuasaannya. Sukarno tidak digulingkan langsung oleh rakyat, melainkan oleh lingkaran dalam: militer, partai politik, dan sebagian kelompok masyarakat yang sebelumnya mendukungnya. Peristiwa ini menjadi transisi menuju kekuasaan Orde Baru.
Tiga dekade kemudian, presiden kedua RI, Soeharto juga menghadapi rentetan tekanan yang tak bisa dihindarinya. Orde Baru yang tampak kokoh ternyata rapuh di tengah krisis moneter: harga-harga melonjak, pengangguran merebak, dan ketidakpuasan rakyat makin meluap. Mahasiswa memenuhi jalanan, gedung DPR diduduki, dan politikus yang dulu setia mulai meninggalkannya. Gaya kekuasaan yang koruptif, nepotistik, dan represif tak mampu menahan gelombang perlawanan rakyat. Bahkan lingkaran dalam, yang menjadi penopang utama, mulai berpaling dan meninggalkan Soeharto. Pada Mei 1998, tekanan rakyat berpadu dengan retaknya dukungan internal, memaksanya mengundurkan diri. Kisah itu menandai berakhirnya era yang selama tiga dekade tampak tak tergoyahkan.
Hari ini, kita menyaksikan tanda-tanda yang mirip. Pejabat diguyur dengan anggaran, sementara rakyat berjuang dengan harga beras dan kebutuhan pokok yang kian menyesakkan. Wakil rakyat yang mendapat beragam fasilitas, terlihat menari-nari, jauh dari suara konstituennya. Anak muda kehilangan harapan, sedangkan pidato resmi pemerintah terdengar mengawang, jauh dari kenyataan.
Kita memang masih samar mendengar teriakan revolusi di jalanan. Kita juga belum menyaksikan lingkaran kekuasaan pecah karena amarah rakyat. Tetapi sejarah telah memberi kita bayangan bahwa kondisi seperti ini adalah panggung yang berulang. Kekuasaan yang mengabaikan penderitaan rakyat jarang bertahan lama.

Pertanyaan yang menggantung
Sejarah tak pernah benar-benar berulang persis, tetapi ia berima. Dari Roma, Prancis, Italia, Filipina, Rumania, Mesir, Libya, hingga Indonesia, kita melihat pola: rakyat bisa bersabar, tetapi tidak selamanya. Lingkaran kekuasaan bisa tampak setia, tetapi bisa berbalik arah dalam semalam.
Kekuasaan yang paling kokoh sekalipun akhirnya runtuh ketika kehilangan legitimasi. Dan legitimasi itu bukan dibangun di istana, melainkan di dapur rakyat, di pasar, di jalanan tempat orang mencari nafkah.
Hari ini, Indonesia ada di persimpangan. Pertanyaannya sederhana, namun berat: sampai kapan suara rakyat akan diabaikan? Dan, bersiaplah, ketika suara mereka akhirnya meledak, penguasa harus menanggung konsekuensinya.










