Tanganku terhenti menyentuh gelas piccolo. Dari panggung kecil di sebuah sudut ruangan, perempuan muda tiba-tiba menyentak labirin batinku. Memetik gitar akustik, jemarinya menari pelan, merangkai nada-nada sederhana. Lalu suaranya masuk, bening, menyatu dengan alunan gitar:
”On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye
High above him, there’s a swallow
Winging swiftly through the sky…”
Aku tercekat. Ia menyanyikan lagu Donna Donna.
Kenangan pun melesat. Lagu ini pernah begitu akrab di masa remaja. Di bangku SMP, aku memainkan Donna Donna dalam sebuah ensemble musik. Waktu itu, aku hanya mengenalnya sebagai lagu folk berirama ringan, enak didengar, seperti sayap burung yang melayang di musim semi. Ada rasa yang menghangatkan hati setiap kali memainkannya.
Namun, seiring waktu, aku menyadari, keindahan nada Donna Donna menyembunyikan kepedihan yang begitu dalam. Lagu ini bukan sekadar melodi manis, melainkan ratapan kelam dalam sejarah.
Dari Holocaust ke film Gie
Sejarah itu bermula di awal 1940-an. Sholom Secunda, seorang komponis kelahiran Ukraina, dan Aaron Zeitlin, penyair Yiddish, menciptakan lagu ini dengan judul Dana Dana. Mereka menulisnya di tengah bayang-bayang holocaust, ketika orang-orang Yahudi digiring ke kamp konsentrasi Nazi.
Liriknya sederhana tetapi sarat simbol: seekor anak sapi diikat, digiring ke rumah jagal, tak berdaya. Di atasnya, seekor burung walet melayang bebas, menolak tunduk pada arah angin. Kontras itu menjadi alegori. Manusia yang pasrah dan tak bisa melawan, berhadapan dengan kebebasan yang mustahil diraih.
Dua dekade kemudian, Joan Baez membawakan Donna Donna dalam bahasa Inggris. Di tangannya, lagu itu bertransformasi menjadi nyanyian protes, sebuah seruan kebebasan yang bergema di tengah gelombang perlawanan 1960-an. Dari demonstrasi hak-hak sipil, penolakan atas perang Vietnam, hingga suara generasi muda yang menuntut dunia yang lebih adil. Bersama Bob Dylan dan para musisi folk lain, suara Joan Baez menjadikan Donna Donna bagian dari ingatan kolektif sebuah zaman.
Di Indonesia, Donna Donna menemukan denyut baru lewat film Gie (2005). Dalam salah satu adegan yang membekas, Sita Nursanti menyanyikan lagu ini dengan syahdu. Bait demi baitnya terasa sejalan dengan jiwa Soe Hok Gie—pemuda idealis yang menolak diam ketika banyak orang memilih tunduk. Sama seperti burung walet dalam lagu, Gie lebih memilih terbang bebas, meski penuh risiko.
Menariknya, meski film itu dibuat 2005, latar ceritanya berada di pertengahan 1960-an, masa pergolakan politik, demonstrasi mahasiswa, dan pencarian arah bangsa. Sebuah periode yang bergelora, tak jauh berbeda ketika Joan Baez mempopulerkan Donna Donna di Amerika Serikat, di tengah gelombang perlawanan sosial dan politik. Seakan lagu itu memang ditakdirkan hadir di setiap zaman ketika suara kebebasan tengah diuji.
Bagi penonton film Gie, Donna Donna pun beralih makna. Dari tragedi holocaust di Eropa, melintasi samudra menemukan suara baru di Amerika, lalu tiba sebagai simbol keresahan intelektual muda di Indonesia.
Begitulah perjalanan sebuah lagu. Ia menyeberangi benua, bahasa, dan zaman, meninggalkan jejak dalam ingatan kolektif umat manusia.
Musik sebagai ingatan kolektif
Musik adalah jembatan ingatan. Ia menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh, lalu berpindah dari satu generasi ke generasi lain.
Hari ini, ketika mendengar perempuan muda menyanyikan Donna Donna di sebuah panggung kecil, pikiranku justru melayang ke Gaza. Gambarannya begitu jelas: orang-orang yang digiring melewati jalan petaka tanpa daya. Wajah-wajah murung yang dipaksa meninggalkan rumah, langkah kaki berat menuju tempat pengungsian, juga tubuh-tubuh yang terbujur kaku di jalanan.
Lagu yang lahir dari holocaust kini terasa seperti nyanyian bagi Palestina. Ironis yang tak terhindarkan. Musik menjahit luka-luka kemanusiaan lintas generasi dan benua.
Setiap orang yang mendengarnya mungkin membawa tafsir sendiri, tetapi benang merahnya sama: derita manusia tidak mengenal batas agama, bangsa, atau era. Donna Donna membuktikan bahwa penderitaan adalah bahasa universal, dan musik bisa menjadi alat pengingat agar kita tak lupa.
Nada yang menyembuhkan, lirik yang menggugat
Keindahan Donna Donna kerap menipu telinga. Nadanya ringan, menenangkan, seolah membawa ketenangan. Tetapi begitu menyimak liriknya, kita menemukan jeritan tersembunyi.
Calves are easily bound and slaughtered, never knowing the reason why…
Bait itu terdengar seperti teriakan lirih. Sama seperti berita dari Gaza. Di layar berita, kita melihat angka statistik, ribuan orang tewas, puluhan ribu luka-luka, ratusan ribu rumah hancur. Angka-angka itu dingin, datar, seolah hanya catatan data.
Namun, di baliknya, ada jeritan yang jarang terdengar: seorang anak mencari ibunya di reruntuhan, seorang ayah menggendong tubuh kecil yang tak lagi bernapas, seorang perempuan yang kehilangan seluruh keluarganya dalam semalam.
Donna Donna memaksa kita untuk mendengar jeritan itu. Lagu ini menunjukkan bahwa musik tidak selalu menenangkan. Ia bisa menggugat, bisa menjadi suara bagi mereka yang dibungkam.
Ada ironi pahit yang sulit diabaikan. Lagu yang lahir dari penderitaan orang Yahudi di tengah holocaust kini justru terasa paling relevan bagi rakyat Palestina yang ditindas oleh Israel. Sejarah seperti mengulang dirinya sendiri, dengan korban yang berganti wajah.
Dari sini, muncul pertanyaan menohok. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang begitu paham luka penindasan, bisa menutup mata pada penderitaan yang kini mereka timbulkan?
Sejarah memang tak pernah benar-benar berlalu. Ia hanya berganti panggung dan wajah korban. Dari holocaust hingga Gaza, satu lagu folk sederhana mampu menjadi nyanyian perlawanan dan duka manusia.
Donna Donna memang tidak memberi jawaban, tapi membuat kita resah. Ia seperti penyeru agar tidak tinggal diam.
Musik sebagai cermin kemanusiaan
Mungkin inilah kekuatan musik: ia menyembuhkan sekaligus menyayat. Ia menyatukan manusia dalam keindahan, sekaligus mengingatkan bahwa keindahan tak boleh membuat kita lupa pada penderitaan yang nyata.
Ketika mendengar Donna Donna hari ini, aku merasa sedang bercermin. Pada titik tertentu, kita semua bisa menjadi anak sapi yang pasrah, digiring oleh keadaan, tak mampu melawan. Tetapi kita juga punya kemungkinan untuk menjadi burung, menolak tunduk, melawan arah angin, mencari jalan kebebasan.
Musik, akhirnya, adalah ajakan untuk memilih. Apakah kita hanya akan mendengarkan melodi dan larut dalam keindahan semu, atau berani menghadapi liriknya, mendengar jeritan yang tersembunyi, lalu bergerak?
Donna Donna adalah ingatan, gugatan, sekaligus doa. Dan mungkin, dengan mendengarnya, kita diingatkan untuk tak pernah berhenti menjadi burung yang terbang menentang angin.










