Kaum Ibu di Barisan Demokrasi

Di tengah demonstrasi memprotes tunjangan fantastis anggota DPR RI di kawasan kompleks parlemen, Jakarta, Kamis, 28 Agustus 2025, muncul sosok ibu berkerudung pink yang mencuri perhatian publik. Berbalut blus hitam motif bunga-bunga dan bercelana panjang abu-abu, ibu bertubuh mungil itu berdiri di garis depan, berhadapan langsung dengan jajaran aparat kepolisian yang menghalau massa.

Di tengah kepulan gas air mata, ia tak mau mundur. Membawa bendera Merah Putih yang diikat pada sebilah bambu, sang ibu meluapkan emosinya sembari terus melangkah mendekati pasukan yang dilengkapi tameng dan helm. Ibu berkerudung pink itu berusaha memukul mundur pasukan polisi dengan bendera yang dibawanya.

Foto dan video singkat peristiwa tersebut viral dalam waktu singkat. Ibu berkerudung pink itu menjadi simbol keberanian baru di tengah gelombang demonstrasi. Ia bukan aktivis, bukan pula orator. Ia seorang ibu rumah tangga yang merasa tak bisa lagi berdiam diri. Adegan itu menampar kesadaran banyak orang. Di aksi jalanan, sosok ibu yang sering dipandang sebagai pendamping atau penyuplai logistik, di momen itu, mampu menjadi penopang keberanian. Simbol keteguhan yang sederhana tapi mendalam.

Keberanian itu lahir dari satu sumber purba: kasih seorang ibu yang menolak melihat anak-anak terampas hak dan masa depannya.

Seorang ibu berusaha menghadang barikade aparat kepolisian yang merangsek maju. Kredit: Adrian Mulya/Project Multatuli

Gerakan kasih kaum ibu

Sejarah Indonesia mencatat gerakan kaum ibu di dalam barisan demokrasi. Pada 1998, saat krisis menghantam perut rakyat, lahir Suara Ibu Peduli. Mereka hadir dengan gerakan sederhana: menuntut turunnya harga susu bubuk untuk bayi di Bundaran HI. Pesannya jelas, krisis bukan sekadar angka, tapi soal keberlangsungan hidup anak-anak.

Waktu berlalu, 25 tahun kemudian, semangat itu kembali terulang. Maret 2025, di trotoar pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta, sekelompok ibu dari Suara Ibu Indonesia menggelar aksi damai, mengecam revisi UU TNI, sekaligus mengutuk kekerasan aparat terhadap mahasiswa. Aksi menjalar ke Malioboro, Yogyakarta, di mana ibu-ibu duduk bersila bersama mahasiswa, membawa spanduk dan termos teh panas.

Pertengahan Agustus 2025, di Pati, Jawa Tengah, puluhan ribuan warga menuntut pemakzulan bupati. Di tengah aksi itu, kaum ibu ikut terlibat menyiapkan logistik: nasi bungkus, minuman, kudapan, hingga buah-buahan kepada peserta aksi.

Indonesia Gelap: Ibu-ibu di tengah gelombang aksi

Februari 2025, ketika demonstrasi bertajuk “Indonesia Gelap” mengguncang Jakarta, dan ribuan mahasiswa memenuhi kawasan Patung Kuda, seorang perempuan paruh baya berdiri di atas mobil komando.

“Aku ibu kandungmu. Jangan gentar, maju tak gentar,” teriak Raden Roro Neno, dari Aliansi Emak-emak Indonesia. Tangannya menggenggam pengeras suara, menyalurkan energi kepada ribuan anak muda di hadapannya.

Tak jauh dari sana, beberapa ibu membagikan makanan. “Mereka ini anak-anak kita juga,” kata seorang ibu sambil menyodorkan bungkusan nasi. “Kalau bukan kita yang jaga mereka, siapa lagi,” lanjutnya.

Di tengah asap knalpot, sirene, dan desakan aparat, kasih ibu menemukan bentuknya: sederhana, nyata, dan menolak diam.

Dari sawah ke jalanan: Diam namun teguh

Pada 2014, ibu-ibu petani Pati, Jawa Tengah, duduk bersila di jalan menolak pembangunan pabrik semen yang mengancam lahan pertanian mereka. Dengan kepala ditutupi jarik dan caping, mereka bersikeras menjaga sawah demi masa depan anak-cucu. Blokade jalan itu berhasil menghentikan proyek di Pati, namun perusahaan mengalihkan rencananya ke Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Perjuangan tak berhenti di situ. Pada November 2014, puluhan ibu Rembang mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menyuarakan penolakan mereka. Selama berbulan-bulan, mereka beraksi di lapangan, menyanyikan lagu-lagu Jawa, menghadapi panas-hujan, serta tetap teguh menjaga tanah dan lingkungan.

Dua tahun kemudian, aksi itu mencapai puncaknya ketika sembilan perempuan petani Kendeng mengecor kaki mereka sendiri di depan Istana Negara. Tubuh mereka dijadikan tameng moral, tanpa kekerasan, menjadi simbol bahwa kasih ibu bisa menjadi kekuatan perlawanan yang tegas, meski tak bersuara.

Jejak perlawanan diam kaum ibu tidak berhenti di situ. Maria Catarina Sumarsih atau Sumarsih, berdiri di depan Istana setiap Kamis sejak Januari 2007, menuntut keadilan atas kematian anaknya dalam Tragedi Semanggi I. Tanpa teriakan, ia berdiri membawa payung hitam. Aksinya diam tapi menggaungkan suara kencang.

Dari Pati, Kendeng, hingga Jalan Medan Merdeka, kaum ibu menunjukkan satu hal yang sama, bahwa perlawanan tidak selalu harus gaduh. Karena, kadang, diam yang teguh pun mampu mengguncang dalam menyuarakan demokrasi dan kebenaran.

Para perempuan yang tergabung dalam  Suara Ibu Peduli menggelar aksi pada 23 Februari 1998 untuk memprotes kenaikan harga kebutuhan pokok, termasuk susu. Kredit: Jurnal Perempuan

Perlawanan kaum ibu di berbagai belahan dunia

Dunia pernah menyaksikan bagaimana kasih yang biasanya dianggap domestik menjelma menjadi kekuatan politik.

Di Argentina, pada 1977, para ibu berkumpul di Plaza de Mayo, Buenos Aires. Mereka menolak berhenti mencari anak-anaknya yang hilang diculik rezim militer. Dengan kerudung putih sederhana, para ibu itu berkeliling alun-alun setiap Kamis. Mereka disebut Asociación Madres de Plaza de Mayo. Meski banyak diintimidasi, mereka tak gentar. Kaum ibu itu mungkin tak bisa menemukan anak-anaknya, tapi mereka telah mengubah sejarah Argentina.

Di Turki, Saturday Mothers duduk sabar hampir tiga dekade di jalanan Istanbul, membawa foto kerabat yang hilang. Di India, ibu-ibu Shaheen Bagh menyulap tenda dan teh panas menjadi simbol perlawanan damai terhadap diskriminasi.

Di Liberia, sekitar tahun 2003, Women of Liberia Mass Action for Peace (WLMAP) berkumpul dengan pakaian putih. Mereka duduk di pinggir jalan, berdoa, bernyanyi, bahkan melakukan mogok seks sebagai protes menuntut diakhirinya perang saudara yang brutal.

Sementara di Inggris, pada 1980-an, para ibu mendirikan kemah damai di Greenham Common. Mereka menentang pemasangan rudal nuklir Amerika Serikat di pangkalan militer Inggris. Bertahun-tahun mereka bertahan dengan tenda-tenda sederhana, menggendong bayi, memasak di perkemahan sambil menghadang truk militer.

Sejarah global ini menunjukkan pola yang sama: kaum ibu menggunakan posisinya sebagai pemberi kehidupan untuk menentang mesin yang merenggut kehidupan.

Cuplikan pemberitaan koran tentang persidangan perempuan yang tergabung dalam Suara Ibu Peduli. Tampak dalam foto adalah Dr Karlina Supelli, astronom Indonesia dan salah satu penggagas Suara Ibu Peduli, saat membacakan pledoi di PN Jakpus, 4 Maret 1998.

Mengapa kaum ibu bergerak?

Jawabannya tidak tunggal. Pertama, tentu saja karena kedekatan emosional dengan kehidupan sehari-hari. Bagi ibu-ibu petani, sawah bukan hanya lahan, tapi sumber kehidupan bagi anak-cucunya. Sedangkan bagi Sumarsih, kehilangan anak adalah luka yang tak bisa diobati. Karena itu, ia memilih terlibat langsung memperjuangkan keadilan bersama para korban yang lain.

Kedua, karena mereka sering dianggap apolitis, gerakan ibu-ibu justru punya kekuatan moral yang sulit dibantah. Aparat mungkin bisa membubarkan mahasiswa dengan pentungan, tapi bagaimana dengan ibu-ibu yang duduk bersila, atau yang berdiri dengan payung hitam? Kekerasan terhadap mereka bisa mendatangkan gelombang simpati publik.

Ketiga, ibu-ibu juga membawa bahasa berbeda dalam perlawanan. Mereka tidak sekadar bicara hak, demokrasi dan politik, tapi kasih, rumah, anak, dan masa depan. Bahasa ini lebih universal, lebih gampang menembus relung hati. Seorang ibu yang berteriak, “Saya hanya ingin mempertahankan tanah buat anak-cucu saya,” lebih terdengar menggugah daripada seribu jargon politik para aktivis.

Selain itu, ibu-ibu punya jejaring sosial yang rapi. Dari arisan RT, majelis taklim, grup WhatsApp sekolah, hingga kelompok senam, semua bisa menjadi kanal mobilisasi. Solidaritas itu mengalir dalam bentuk nasi bungkus, air mineral, perban, bahkan doa bersama. Di situlah aksi ibu-ibu terlihat berbeda. Mereka tidak hanya berteriak, tapi juga merawat.

Kasih yang menjadi perlawanan

Kembali ke sosok ibu berkerudung pink di depan DPR. Kerudung itu mungkin hanya potongan kain, tapi ia mengikatkan simbol baru dalam sejarah panjang perlawanan kaum ibu di Indonesia.

Sama seperti kerudung putih ibu-ibu Plaza de Mayo, atau pakaian putih ibu-ibu Liberia, atau payung hitam di Aksi Kamisan.

Semua itu lahir dari satu benang merah kasih ibu. Getarannya bukan lagi kasih yang terdengar sunyi di dapur, melainkan kasih yang menolak ditindas, kasih yang berdiri di jalanan, juga kasih yang mampu menantang kesewenang-wenangan negara.

Mungkin benar kata seorang pengamat: ketika ibu-ibu bergerak, itu bukan lagi sekadar aksi politik. Itu adalah titik di mana kemanusiaan disuarakan.

Dan, suara itu, seperti terbukti di banyak tempat, nyaris mustahil untuk dibungkam.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Ironi di Balik Gaji dan Tunjangan DPR

Ironi di Balik Gaji dan Tunjangan DPR

Andri M Fonda (33), seorang guru honorer di SMP Negeri 22 Kerinci, Jambi, harus

Next
Jalan Marcos menjadi Diktator: Ciptakan Darurat Militer

Jalan Marcos menjadi Diktator: Ciptakan Darurat Militer

22 September 1972, malam hari, iring-iringan mobil Menteri Pertahanan Filipina,

You May Also Like
Total
0
Share