Di Sofia, Ibu Kota Bulgaria yang cantik, udara Desember menggantung seperti kabut tipis yang menahan napas sebuah bangsa. Jalan-jalan di sekitar Gedung Majelis Nasional dipenuhi suara sepatu, poster karton, dan ritme drum plastik yang dipukul anak-anak muda.
Mereka datang dari sekolah, dari kantor rintisan (start-up), dari rumah-rumah kecil di pinggiran kota. Mereka datang dengan satu pesan yang menggema di seluruh Bulgaria: “You angered the wrong generation.” Pesan itu, yang lahir dari meme TikTok dan poster buatan tangan, akhirnya mengguncang sebuah pemerintahan. Dalam paduan suara protes yang nyaris tak tertandingi, ribuan protes juga berlangsung di lebih dari 25 kota besar, dari Plovdiv hingga Varna, bahkan di luar negeri di kota-kota seperti Brussels dan New York.
Pada 11 Desember 2025, Perdana Menteri Rosen Zhelyazkov berdiri di depan kamera dan mengucapkan kalimat yang jarang terdengar dari seorang pemimpin Balkan: “Kami mendengar suara warga yang memprotes pemerintah.” Ia lalu mengumumkan pengunduran dirinya, hanya beberapa jam sebelum kabinetnya menghadapi mosi tidak percaya keenam sejak Januari. Pemerintahan yang rapuh itu runtuh bukan karena satu skandal tunggal, melainkan karena gelombang frustrasi yang telah lama mengendap—dan akhirnya meledak melalui tangan dan suara generasi termuda Bulgaria.
Akar kemarahan: Krisis tak kunjung berhenti
Protes besar-besaran dimulai pada 1 Desember. Pemicunya tampak sederhana: rancangan anggaran yang menaikkan pajak, menaikkan iuran jaminan sosial, dan memperbesar belanja negara hingga 45 persen dari PDB. Namun bagi gen Z Bulgaria, anggaran hanyalah percikan pada tumpukan kayu kering yang telah lama menunggu api.

“Anggaran itu alasan untuk turun ke jalan, tapi akar masalahnya adalah kami tidak melihat masa depan di negara ini,” kata Martin Atanassov, siswa SMA berusia 18 tahun yang menjadi salah satu wajah muda gerakan ini. Ia berbicara tentang ketidakpastian pekerjaan, sulitnya membangun usaha, dan mimpi membangun keluarga yang terasa semakin jauh.
Bulgaria, negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil sejak masuk Uni Eropa, tetap berada di peringkat kedua terbawah Indeks Persepsi Korupsi Transparency International 2024—hanya sedikit lebih baik dari Hungaria.
Generasi Z adalah generasi pertama di Bulgaria yang tidak memiliki ingatan pribadi tentang rezim komunis (1944–1989) maupun krisis hiperinflasi akhir 1990-an.
Medsos dan influencer
Protes besar dimulai bukan dari manifesto panjang, melainkan dari dua video pendek yang viral. Video pertama memperlihatkan anggota parlemen meloloskan undang-undang terkait aset perusahaan minyak Rusia, Lukoil, dalam waktu 26 detik, tanpa debat, tanpa oposisi, seolah-olah negara adalah perusahaan keluarga.
Video kedua menunjukkan pemungutan suara anggaran yang dilakukan diam-diam saat jam makan siang, untuk menghindari massa yang sudah berkumpul di luar gedung.
Dalam hitungan jam, kedua video itu menyebar di TikTok, Instagram, dan Telegram. Jumlah pengguna TikTok Bulgaria yang berinteraksi dengan konten protes melonjak menjadi 488.000—70 kali lipat dari biasanya.
Influencer gaya hidup, seperti Mimi Shishkova dan Andrea Banda Banda, yang biasanya berbicara soal gaya hidup, tiba-tiba menjadi pemandu politik generasi muda.
Di antara iklan fesyen dan ponsel, para kreator konten berbagi pandangan tentang korupsi, anggaran, dan demokrasi. Tiba-tiba politik menjadi sesuatu yang bisa dipahami, dibagikan, dan ditertawakan bersama. Meme, slogan jenaka, dan lagu sindiran menjadikan politik menyatu dengan budaya pop.
“Idealnya memang membaca analisis panjang jauh lebih baik, tapi meme adalah cara super cepat untuk menyampaikan pesan,” kata Andrea Banda Banda, seorang influencer. “Ini pertama kalinya begitu banyak influencer terlibat membicarakan protes.”

“Pada intinya, tuntutan politik generasi Z adalah mengakhiri korupsi,” kata Mimi Shishkova, penerbit sekaligus influencer yang menjadi figur penting bagi anak muda melalui konten penjelasan politiknya di media sosial.
Seminggu yang mengubah arah negara
Ketika protes meluas ke berbagai kota, tekanan politik meningkat. Pemerintahan Zhelyazkov, yang sejak awal tahun telah menghadapi enam mosi tidak percaya, akhirnya menyerah. “Kekuasaan berasal dari suara rakyat,” katanya dalam pidato pengunduran diri.
Presiden Rumen Radev kini harus mengundang partai-partai parlemen untuk membentuk pemerintahan baru. Namun kecil kemungkinan mereka berhasil. Jika gagal, Bulgaria akan kembali dipimpin kabinet sementara—sebuah pola yang telah terjadi tujuh kali sejak protes anti-korupsi 2020.
Di balik krisis politik ini, Bulgaria juga bersiap mengadopsi euro pada 1 Januari 2026. Separuh populasi masih skeptis, sebagian karena ketakutan inflasi, sebagian karena disinformasi yang disebarkan Rusia. Namun bagi para pemuda yang turun ke jalan, isu euro hanyalah latar belakang. Fokus mereka tetap sama: transparansi, akuntabilitas, dan masa depan yang layak.
Menurut Daniel Smilov, ilmuwan politik Universitas Sofia, ketegangan sebenarnya telah lama menumpuk, dan isu anggaran hanyalah percikan api yang jatuh ranting-ranting yang sudah mengering.
Pemerintah mencoba mengecilkan arti protes dengan melabelinya sebagai gerakan anti-euro dan antek asing. Namun, gerakan protes itu menolak narasi tersebut.
Protes ini bukan hanya tentang menggulingkan satu pemerintahan. Ia adalah momen politik yang menandai kebangkitan generasi baru. Generasi yang tidak lagi mau menerima korupsi sebagai takdir. Generasi yang memadukan meme dengan tuntutan kebijakan. Generasi yang percaya bahwa negara bisa—dan harus—berubah.










