Jalan Tiongkok Mengguncang Tatanan Dunia

Pada 2009, buku “When China Rules the World: The End of the Western World and the Birth of a New Global Order” karya Martin Jacques, resmi diterbitkan. Versi bahasa Indonesia baru diterbitkan Kompas medio 2011. Saya mulai membaca awal 2012. Kesan pertama saya, dari judulnya yang ditulis dengan warna emas berlatar merah terasa bombastis. Tapi isinya memang bikin kita mikir keras soal masa depan dunia.

Setidaknya saya menghabiskan waktu setahun untuk membaca dan mencerna buku ini. Tapi percayalah, membaca buku ini worth it banget! Dengan bahasa ringan, kadang menjelimet tapi penuh wawasan, Jacques mengajak kita melihat bagaimana Tiongkok sedang mengguncang tatanan global, bukan cuma soal ekonomi, tapi juga budaya dan politik.

Berikut saya sarikan apa saja yang bikin buku ini terasa spesial.

Martin Jacques, jurnalis dan akademisi asal Inggris, menulis buku ini untuk membuka mata kita bahwa Tiongkok bukan cuma negara besar dengan ekonomi raksasa, tapi juga sebuah “negara peradaban” (civilization-state) yang punya cara sendiri dalam menjalani modernitas. Dan, menariknya, nenurut Jacques, Tiongkok enggak akan jadi “Barat kedua” meskipun ekonominya sudah menyaingi Amerika Serikat. Mereka punya sejarah panjang, budaya unik, dan pandangan dunia yang beda banget dari model Barat.

Kebangkitan ekonomi Tiongkok

Jacques bilang, Tiongkok bakal jadi nomor satu di dunia, mungkin sekitar tahun 2025 (nah, kita lihat saja sekarang seperti apa Tiongkok). Jacques dalam bukunya memakai data dan prediksi ekonomi untuk nunjukin betapa cepatnya pertumbuhan Tiongkok.

Beda sama Barat, modernitas Tiongkok enggak melulu soal demokrasi atau gaya hidup ala Hollywood. Mereka punya sistem sendiri, dari caranya berpemerintahan sampai hubungan antarnegara.

Jacques cerita soal sejarah Tiongkok yang dulu jadi pusat Asia dengan negara-negara tetangga “mengakui” kehebatannya. Ini kayak nostalgia yang mungkin bakal balik lagi seiring Tiongkok kuat. Jacques menjelaskan bahwa sistem tributari adalah cara Tiongkok mengatur hubungan dengan negara-negara tetangga selama ribuan tahun, terutama pada masa dinasti-dinasti besar seperti Han, Tang, dan Ming. Dalam sistem ini, Tiongkok diposisikan sebagai pusat peradaban (“Kerajaan Tengah”), dan negara-negara di sekitarnya, seperti Korea, Vietnam, atau Jepang, mengakui superioritas Tiongkok dengan cara memberikan upeti (tribut) berupa barang atau sumber daya. Sebagai gantinya, mereka mendapat perlindungan, akses perdagangan, atau pengakuan budaya dari Tiongkok.

Dalam poin lain, buku ini juga nyinggung hubungan Tiongkok-AS yang bakal jadi penentu apakah dunia abad 21 ini damai atau penuh drama. Plus, Jacques jujur soal isu ras dan budaya di Tiongkok, termasuk pengalaman pribadinya yang agak kelam.

Awalnya, buku ini terasa berat karena penuh data dan analisis sejarah. Tapi, semakin dibaca, semakin seru! Jacques enggak cuma ngomong soal angka-angka ekonomi, tapi juga cerita soal budaya, identitas, dan cara pandang Tiongkok yang bikin kita sadar: dunia enggak selamanya bakal dipimpin gaya Barat. Bahasanya cukup akademis, tapi Jacques pandai bikin analogi yang membuat kita enggak bingung. Meski begitu saya membaca buku ini dalam waktu-waktu luang.

Setelah setahun, saya baru ngeh betapa visionernya buku ini. Meskipun beberapa prediksinya, seperti Tiongkok langsung nomor satu di 2018, enggak sepenuhnya kejadian, tapi buku ini tetap relevan. Jacques ngajak kita mikir: apa jadinya dunia kalau Tiongkok yang pegang kendali? Apakah kita siap dengan aturan main yang beda?

Beberapa poin yang menurut saya bikin buku ini tetap keren dan layak dibaca. Ada perspektif baru, di mana Jacques enggak cuma nulis dari kacamata Barat. Dia coba masuk ke cara berpikir Tiongkok, yang bikin orang (Barat) melihat mereka bukan cuma sebagai “pesaing”, tapi sebagai peradaban dengan cerita sendiri.

Penyajian data-data yang dibumbui dengan cerita, di mana kombinasi antara fakta, angka, dan kisah pribadi Jacques (termasuk soal pengalaman rasisme di Hong Kong yang menimpa istrinya, Harinder Veriah yang keturunan India) bikin buku ini enggak kering. Sebagai seorang jurnalis dia sukses dalam hal ini.

Buku ini juga terasa provokatif jika dilihat dari pilihan judulnya, mungkin memang sengaja bikin orang penasaran, dan isinya enggak takut bikin kita mempertanyakan asumsi soal dunia kini dan masa datang. Jadi, kalau penasaran sama masa depan dunia, apalagi soal peran Tiongkok, buku ini wajib masuk daftar baca. Ini bukan cuma soal politik atau ekonomi, tapi juga soal bagaimana kita memahami dunia yang berubah cepat.

Jacques ngasih perspektif yang bikin kita mikir ulang soal apa itu “modern” dan siapa yang bakal nentuin aturan main di masa depan.

Memang sih sebelum baca buku ini kepala sempat terbebani dengan ketebalannya. Kadang juga, Jacques terasa terlalu optimistis soal Tiongkok dan agak meremehkan masalah dalam negeri mereka, seperti polusi atau ketimpangan sosial. Tapi saya pikir wajar saja sebagai orang barat yang melihat langsung bagaimana fakta-fakta di Asia yang berbeda dengan referensinya selana ini. Beberapa bagian juga terasa berulang, kayak dia terasa pengin banget yakinin pembaca bahwa Tiongkok pasti nomor satu.

Buat yang enggak suka analisis panjang, buku ini bisa terasa agak “berat” di beberapa bab. Saran saya baca buku ini di waktu senggang saja. Saya pastikan buku ini memberi pelajaran buat pembacanya. Dari baca buku kita dapat menjaga nalar.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Evolusi Karakter Perempuan dalam Film Indonesia

Evolusi Karakter Perempuan dalam Film Indonesia

Dalam lanskap perfilman Indonesia, perempuan telah lama hadir sebagai tokoh

Next
Urgensi Aksi Politik Pengesahan RUU PPRT

Urgensi Aksi Politik Pengesahan RUU PPRT

Di Batam, kota impiannya mengubah nasib, ia bekerja sebagai pekerja rumah tangga

You May Also Like
Total
0
Share