Jakarta Butuh Paradigma Baru Pengelolaan Sampah

Dua tahun lagi, Jakarta genap berusia 500 tahun. Menuju hari penting itu, Jakarta bertekad menjadi kota global dan berbudaya. Salah satu tantangan mewujudkan mimpi itu adalah pengelolaan sampah.

Merespons tantangan itu, Koalisi Warga untuk Jakarta Bersih dan Berbudaya menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Mengubah Paradigma Pengelolaan Sampah Menuju Jakarta Global dan Berbudaya” di kantor Agenda 45, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (12/8).

Acara ini dihadiri langsung Tenaga Ahli Gubernur DKI Jakarta Hendra Kusumah, Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan, Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Monang, dan perwakilan aktivis Bank Sampah, TPS3R, dan aktivis lingkungan.

Hendra Kusumah, yang mewakili Staf Khusus Gubernur DKI Yustinus Prastowo, menyampaikan bahwa persoalan sampah bukan hanya masalah teknis, tetapi juga cerminan budaya, kesadaran, dan perilaku masyarakat.

“FGD ini menjadi ruang penting untuk merumuskan rekomendasi yang realistis, aplikatif, dan berorientasi pada perubahan budaya pengelolaan sampah,” tuturnya.

Pada kesempatan sama, Kelik Ismunanto, penyelenggara sekaligus Koordinator Koalisi Warga untuk Jakarta Bersih dan Berbudaya menyampaikan urgensi untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah di Jakarta yang selama ini terlalu fokus ke hilir agar digeser ke hulu.

“Cara pandang kita soal sampah ini yang perlu diubah, bahwa sampah ini bisa dipilih dan diolah sehingga bisa bermanfaat,” jelasnya.

Hendra Kusumah, tenaga Ahli Gubernur DKI Jakarta, dalam FGD “Mengubah Paradigma Pengelolaan Sampah” di Jakarta, 12 Agustus 2025.

Sejumlah persoalan

Monang, yang mewakili DLH DKI Jakarta, memaparkan persoalan pengelolaan sampah di Jakarta.

“Dengan jumlah penduduk lebih dari 11 juta jiwa, ada 3,6 juta kepala keluarga, 2.741 RW, dan 30.894 RW, menghasilkan 8.600 ton sampah per hari. Untuk menangani itu, kami hanya punya 1.000-an pendamping,” jelas Monang.

Menurutnya, meskipun pengelolaan sampah Jakarta sudah menekankan pemilahan sampah di rumah tangga, tetapi partisipasi warga masih kurang. Di Jakarta, ada 3.356 unit bank sampah yang terdaftar dengan 140 nasabah.

Sementara itu, Direktur Utama Perusda Pasar Jaya Agus Himawan menyampaikan soal penanganan sampah di pasar-pasar di bawah naungan Perumda.

“Kita menaungi 150 pasar dengan produksi sampah 500 ton per hari. Dalam hitungan produksi sampah pasar itu, ada juga sampah dari warga sekitar,” katanya.

Monang, Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH DKI Jakarta dalam FGD “Mengubah Paradigma Pengelolaan Sampah” di Jakarta, 12 Agustus 2025.

Menurutnya, Perumda Pasar Jaya sedang memulai kebijakan baru pengelolaan sampah, yaitu mendirikan pusat pengelolaan sampah mandiri. Dengan konsep baru ini, masalah sampah di pasar akan diselesaikan di tempat.

“Kita sudah menyelesaikan pusat pengelolaan sampah mandiri di Pasar Induk Kramat Jati, yang memproduksi 200 ton sampah per hari atau hampir 50 persen sampah pasar di Jakarta,” jelasnya.

Dalam diskusi itu, Ketua KSM Sahabat Lingkungan, Hendro Wibowo, berbagi pengalaman soal pengelolaan sampah berbasis warga atau komunitas.

Menurutnya, pihaknya menyampaikan empat paradigma pengelolaan sampah, yaitu ekologi, ekonomi kreatif, edukasi, dan punishment and reward. Kata dia, mengedukasi warga agar punya kesadaran memilah dan mengelolah sampah memang butuh waktu lama.

“Fukukoka di Jepang itu butuh 90 tahun. Makanya, edukasi sampah itu harus disertai dukungan pemerintah dalam bentuk politik kebijakan dan anggaran,” jelasnya.

FGD ini menghasilkan sejumlah kesimpulan dan rekomendasi yang nantinya akan digodok agar menjadi roadmap pengelolaan sampah di Jakarta.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Panggung Perlawanan Rakyat Pati

Panggung Perlawanan Rakyat Pati

Kawasan Alun-alun Pati, Jawa Tengah, menjelma menjadi panggung terbuka

Next
Sumatera Selatan, Raksasa Tidur Di Bidang Pangan

Sumatera Selatan, Raksasa Tidur Di Bidang Pangan

Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan salah satu provinsi terbesar di Pulau

You May Also Like
Total
0
Share