26 Tahun LMND: Rumah ini Mungkin Retak, Tapi Jangan Runtuh

Tak semua rumah dibangun dari batu dan semen. Ada rumah yang lahir dari ide, mimpi, keyakinan, dan cita-cita yang terus tumbuh. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) , bagi saya, adalah rumah itu. Ia mungkin sedang retak, mungkin tak dalam bentuk terbaiknya. Tapi justru karena itulah ia tak boleh runtuh. Tempat pertama saya belajar menyebut rakyat dengan penuh hormat, dan meneriaki penguasa dengan keberanian.

Sebagaimana rumah, ia juga menjadi ruang belajar pertama—tentang berpikir dan berpihak, tentang sejarah dan perlawanan, tentang kesetiaan yang tidak diam. Di sinilah saya, bersama banyak yang lain, mulai merangkai mimpi tentang Indonesia yang adil dan setara.

Di tengah ruang-ruang diskusi yang lebih akrab dengan malam yang tak tidur dan gagasan yang tak pernah usai di diskusikan, saya menemukan arah. bahwa berpikir harus berpihak, dan berpihak harus berani. Di situlah saya merasa dilatih—bukan untuk menjadi siapa-siapa, tapi agar saya tetap setia pada yang saya yakini benar.

Di antara riuhnya zaman dan sunyinya kampus dari percakapan ideologis—yang lebih sering berputar pada angka-angka dan indeks prestasi—LMND hadir sebagai oase. Tempat bagi musafir muda yang haus akan akal budi, pengetahuan, dan keadilan untuk menepi dan mengisi ulang keyakinan.

Aksi LMND di Yogyakarta, 2008.

Kalau diingat kembali, banyak malam larut yang dihabiskan dalam diskusi, dengan rasa perut lapar, asam lambung naik akibat gelas-gelas kopi juga kantuk yang menyesak. Tapi akal dan semangat harus tetap menyala dan di beri ruang, Rumah ini mengajarkan bahwa berpikir adalah ibadah, dan berorganisasi adalah cara merawat kesetiaan pada cita-cita yang di jaga secara kolektif.

Kadang saya bertanya pada diri sendiri: apakah rumah ini akan terus bertahan? Apakah keyakinan yang dirawat sejak awal bisa tetap tegak saat terpaan realitas datang berulang?

Ternyata, kesetiaan pada cita-cita tidak selalu menjamin segalanya berjalan mulus. Selayaknya rumah ada kalanya pondasi diuji. solidaritas penghuni rumah diguncang, dan arah pandang para penghuninya menjadi kabur. Tapi justru di situ, keberpihakan penghuni rumah diuji—bukan pada situasi yang nyaman, tapi saat kita tetap memilih tinggal, bukan untuk membenarkan segalanya, melainkan untuk memperbaiki yang mulai retak.

Aksi nasional LMND.

Tentu saja, rumah ini tak steril dari kontradiksi. Seperti sejarah gerakan kiri di mana pun, perbedaan tafsir dan arah politik kadang menjadi jurang. Puncaknya terjadi di tahun 2022—momen yang getir sekaligus tak terlupakan. Sebab, saya bagian dari perdebatan-perdebatan panas itu. Bagian dari sejarah yang menyaksikan rumah ini nyaris runtuh di terpa badai.

Walaupun hal tersebut bukanlah pertama kalinya untuk rumah ini di terpa badai perpecahan. Rasa sedih tetap tak terelakkan. Namun yang membuatnya berbeda, dan lebih menyakitkan, adalah ketika saya bukan hanya saksi, tapi juga bagian dari dalamnya. Bukan sebagai pemenang, bukan sebagai korban—hanya seseorang yang meyakini bahwa dalam politik, sikap adalah pondasi. Dan tak selalu ada ruang kompromi untuk hal-hal yang prinsipil.

Aksi LMND menuntut nasionalisasi perusahaan asing untuk pendidikan gratis, 2006.

Rumah ini pernah berdiri di tengah gemuruh era reformasi, saat angin perubahan berhembus kencang dan semangat membongkar kekuasaan lama menyala di kampus-kampus dan jalanan. LMND lahir dari denyut zaman itu—bukan sebagai penonton, tapi sebagai bagian dari barisan yang percaya bahwa demokrasi sejati lahir dari keberanian untuk melawan. Dari situ, rumah ini menanamkan cita-cita: tentang kedaulatan rakyat, keadilan sosial, dan demokrasi yang tak sebatas kotak suara.

Ia telah melahirkan kader-kader yang setia pada cita-cita kerakyatan, yang tak silau jabatan, dan tak lelah berdiri di barisan yang kerap dipinggirkan sejarah.

Namun saya tak ingin tinggal dalam amarah, atau terjebak di lorong nostalgia. Rumah ini tak bisa terus-menerus disandarkan pada kejayaan masa lalu atau luka yang belum sembuh. Sebab tugas para penghuninya belum selesai.

Indonesia yang kita impikan secara bersama-sama belum benar-benar lahir. Jurang ketimpangan kian dalam, suara rakyat kian kehilangan gema, dan politik semakin jauh dari nalar serta keberpihakan. Dalam situasi seperti ini, rumah ini tak boleh hancur. Ia harus tetap berdiri—karena ia bukan milik satu generasi, tapi janji yang diwariskan dan belum ditepati.

Mungkin di usia ke-26 ini, rumah ini tidak berada dalam bentuk terbaiknya. Ia pernah retak, pernah menyempit. Tapi justru karena itulah ia harus tetap ada—sebagai tempat yang teduh dan sejuk untuk menetap, namun tetap panas dan ganas dalam pertarungan ide dan gagasan. Karena zaman tak pernah berhenti bergerak, dan rumah ini tak boleh sekadar menjadi tempat tinggal—ia harus tetap menjadi tempat berpikir, merancang, dan melawan.

LMND harus tetap menjadi tempat bagi mereka yang gelisah tapi tak kehilangan harapan, bagi mereka yang marah tapi tetap berpikir. Sebuah rumah tempat akal sehat dan keberanian tumbuh, tempat kesetiaan dan perlawanan hidup berdampingan. Karena perubahan tak cukup dengan gagasan besar—ia butuh ruang yang merawatnya hari demi hari.

Dan kini, di usia yang ke-26, LMND bukan hanya telah menjadi sejarah, tapi juga tanggung jawab. Ia telah mengajarkan banyak hal: tentang berpikir yang tak diam, tentang berpihak yang tak ragu. Rumah ini mungkin sedang retak. Tapi ia tak boleh runtuh.
Karena ia tak dibangun dari mimpi semalam, melainkan dari keyakinan panjang yang belum selesai ditebus.

Karena rumah ini tempat lahirnya keberanian yang tak pernah usai.

Dirgahayu LMND ke-26 tahun!
Bersetialah pada cita-cita di awal!

Total
0
Shares
Comments 2
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Sukarno dan Hantu Pasal Penghasutan

Sukarno dan Hantu Pasal Penghasutan

Di republik ini, ada sebuah hantu yang menolak mati

Next
Kebijakan Upah Murah dan Industrialisasi: Perbandingan Indonesia-Vietnam

Kebijakan Upah Murah dan Industrialisasi: Perbandingan Indonesia-Vietnam

Perdebatan mengenai upah buruh dan regulasi industrialisasi di Asia Tenggara

You May Also Like
Total
0
Share