Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, kembali bikin geger. Bukan karena strategi politik brilian atau komunikasi publik yang mencerahkan, melainkan karena komentarnya yang bikin jidat orang-orang berkerut.
Menanggapi aksi teror berupa pengiriman potongan kepala babi ke jurnalis Tempo, yang oleh banyak pihak dianggap sebuah ancaman serius terhadap kebebasan pers, dia dengan santai bilang: “dimasak saja.”
Serius? Ini bukan sekadar lawakan receh yang meleset, namun cerminan dari bagaimana kekuasaan menyepelekan kebebasan pers. Padahal, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan adalah mulut presiden. Jika ancaman terhadap jurnalis bisa dikomentari dengan guyonan ala warung kopi, lalu bagaimana dengan ancaman terhadap demokrasi?
Memunggungi Tan Malaka
Yang bikin situasi ini makin ironis adalah latar belakang Hasan Nasbi sendiri. Sebelum menjadi pejabat, ia pernah mengaku meneliti Tan Malaka selama puluhan tahun. Bahkan, ia menerbitkan buku berjudul Filosofi Negara Nenurut Tan Malaka pada 2004. Ia juga salah satu penulis buku Mewarisi Gagasan Tan Malaka (2006).
Konon, ia juga pernah menjadi sekretaris Harry A. Poeze, peneliti dan sejarawan asal Belanda yang menghabiskan hampir sebagian besar hidupnya untuk meneliti Tan Malaka. Ia juga salah satu pendiri Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Tan Malaka. Dengan berderet-deret pengalaman berinteraksi dengan pemikiran Tan Malaka itu, Hasan Nasbi harusnya bisa disebut Tan Malakais.

Sebagai peneliti Tan Malaka, ia mestinya akrab dengan pemikiran tokoh bernama lengkap Ibrahim Datuk Sutan Malaka itu. Ia tentu pernah membaca Madilog, salah satu mahakarya Tan Malaka, yang mengajarkan cara berpikir ilmiah, dialektis, dan revolusioner.
Ia harusnya sudah mengunyah-ngunyah “Naar de Republiek Indonesia”-nya Tan Malaka. Risalah itu mencita-citakan sebuah negara merdeka berbentuk republik yang memuliakan kaum proletar dan rakyat jelata lainnya.
“Dalam suasana Republik Indonesia merdeka, tenaga-tenaga intelek dan sosial akan berkembang lebih cepat dan lebih baik,” tulis Bapak Republik Indonesia itu.
Apakah karena Tempo menjadi media paling kritis terhadap kekuasaan, tempat Hasan Nasbi menggantungkan nasib dan periuk nasinya, maka ia menjadi alergi terhadap kritik? Sehingga pembungkaman bagi media kritis, yang mengancam kekuasaan tuannya, ia anggap wajar.
Padahal, ketika diperiksa jejak hidupnya, Hasan Nasbi ini pernah jadi jurnalis juga, loh. Ia pernah menjadi wartawan Kompas pada 2005-2006. Dengan pengalaman itu, ia seharusnya sadar bahwa kemerdekaan adalah jiwanya pers. Tanpa kemerdekaan, pers tak punya makna apa-apa.
Soal ini, harusnya Hasan Nasbi hafal dengan kata-kata Tan Malaka ini: “Kalau sistem itu tak bisa diperiksa kebenarannya dan tak bisa dikritik, maka matilah Ilmu Pasti itu.”
Dari pemikir jadi jubir kekuasaan
Ada satu pertanyaan besar: bagaimana seseorang yang mengaku mengkaji Tan Malaka bisa begitu menjauh dari saripati pemikiran dari tokoh besar yang ia teliti?
Di Prancis ada istilah “kiri Caviar”, di Inggris istilahnya “sosialis sampanye”, dan di Indonesia ada juga istilah “sosialis salon”. Istilah itu merujuk pada yang mengaku sosialis, tetapi gaya hidup dan tindakan politiknya justru bertolak-belakang.
Semua itu menjelaskan bahwa orang yang bersentuhan dan terpukau dengan ide-ide kiri belum tentu akan menjadi kiri dalam perbuatan dan gaya hidup. Boleh jadi, ketertarikan pada ide-ide kiri tak lebih dari kegenitan intelektual.
Tapi, kalau orang marxis, ia tak akan kaget dengan fenomena Hasan Nasbi ini. Dalam perspektif marxis, kesadaran seseorang banyak ditentukan oleh keadaan material, hubungan sosial, dan posisi kelasnya. “Bukan kesadaran manusia yang menentukan keberadaan mereka, tetapi keberadaan sosial mereka yang menentukan kesadaran mereka,” tulis Marx.
Tan Malaka sendiri pernah bilang begitu. Revolusi bukanlah suatu pendapatan otak yang luar biasa, bukan hasil persediaan yang jempolan dan bukan lahir atas perintah seorang manusia yang luar biasa. Revolusi timbul dengan sendirinya sebagai hasil dari berbagai keadaan.”
Boleh jadi, Hasan Nasbi hanya belajar Tan Malaka dalam ruang-ruang sempit akademis, yang terkurung tembok-tembok dan terpisah dengan realitas dan denyut nadi penderitaan rakyat. Ia jenis intelektual yang disindir oleh WS Rendra: “Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.”
Melihat jejak politiknya, Hasan Nasbi memang bukan pengikut setia Tan Malaka. Kalau ia tercerahkan oleh pemikiran Tan Malaka, ia harusnya ikut dengan gerakan rakyat atau gerakan politik yang berkarakter progresif dan revolusioner.
Sebaliknya, ia hanya menjadi pendukung tokoh politik. Ia pernah jadi relawan pendukung Jokowi-Ahok pada 2012. Ia pernah menjadi salah satu donatur Teman Ahok. Pada pilpres 2014 dan 2019, ia menjadi pendukung Jokowi. Dan pada 2024, ia menjadi pendukung Prabowo-Gibran. Apa yang bisa kita baca dari sini: pragmatisme politik.
Ini bukan sekadar ironi, tetapi juga penghianatan intelektual. Dengan komentar-komentarnya yang mencibir jurnalisme kritis, sebelumnya ia mengejek pengkritik RUU TNI, maka kita bisa menyimpulkan: ia telah mengerdilkan pemikiran Tan Malaka.
Hasan Nasbi harusnya ingat kata-kata Tan Malaka ini: “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi.”










