Gerakan yang Sibuk Bertahan, Lupa Membayangkan Masa Depan

Banyak organisasi masyarakat sipil hari ini bekerja dalam mode bertahan hidup. Agenda ditentukan oleh tenggat proyek, energi dihabiskan untuk menjaga operasional, dan keberhasilan diukur dari laporan yang lolos, bukan dari perubahan yang benar-benar terasa. Dalam situasi seperti ini, membayangkan masa depan terasa seperti kemewahan.

Visi jangka panjang diabaikan demi keberlanjutan jangka pendek, sementara pertanyaan tentang ke mana gerakan ini hendak melangkah perlahan menghilang dari percakapan. Yang tersisa adalah rutinitas advokasi yang rapi secara administratif, tetapi semakin miskin imajinasi politik.

Banyak organisasi masyarakat sipil hari ini bekerja dalam survival mode. Dalam istilah teori organisasi, kondisi ini mendekati apa yang disebut James March sebagai exploitation trap di mana organisasi terlalu sibuk mengoptimalkan apa yang ada (program, jaringan, pendanaan) hingga kehilangan kapasitas exploration, yakni membayangkan arah baru (Exploration and Exploitation in Organizational Learning, 1991). Dalam konteks CSO, bertahan hidup menjadi tujuan, bukan sarana menuju perubahan sosial jangka panjang.

Di Indonesia, survival mode ini tampak jelas dalam praktik sehari-hari. Banyak organisasi advokasi demokrasi, HAM, atau lingkungan hidup hidup dari siklus proyek tahunan. Agenda kerja mengikuti kalender donor, bukan kalender politik warga. Ketika isu tertentu, misalnya reformasi hukum atau transparansi anggaran tidak lagi menjadi prioritas pendanaan, ia perlahan menghilang dari meja advokasi meski problemnya belum selesai. Ini sejalan dengan kritik resource mobilization theory (McCarthy & Zald) yang menunjukkan bahwa ketergantungan pada sumber daya eksternal membentuk apa yang diperjuangkan gerakan, bukan hanya bagaimana caranya.

Survival mode berdampak langsung pada kaderisasi. Dalam teori gerakan sosial klasik, Sidney Tarrow menekankan pentingnya cycles of contention yakni siklus perlawanan yang mentransmisikan memori kolektif, strategi, dan identitas gerakan. Dalam banyak CSO Indonesia, kaderisasi terputus karena organisasi lebih membutuhkan project officer daripada kader ideologis. Anak-anak muda cepat mahir menulis proposal, menyusun logframe, dan mengelola kegiatan, tetapi jarang diajak memahami sejarah gerakan 1998, perdebatan tentang negara kesejahteraan, atau makna politik keberpihakan anggaran. Regenerasi terjadi secara administratif, bukan politis.

Krisis visi ini menciptakan kelelahan lintas generasi. Aktivis senior memikul beban institusional seperti hubungan donor, legitimasi publik, dan stabilitas organisasi. Sementara generasi muda masuk dengan kontrak pendek dan horizon karier yang sempit. Robert Michels pernah memperingatkan tentang iron law of oligarchy bahwa organisasi cenderung mempertahankan struktur demi kelangsungan dirinya sendiri. Dalam konteks CSO Indonesia, hukum besi ini muncul bukan sebagai oligarki kekuasaan semata, tetapi sebagai konservatisme visi. Lebih aman mempertahankan organisasi apa adanya daripada mempertanyakan arah politiknya.

Contoh paling konkret terlihat pada respons masyarakat sipil terhadap berbagai undang-undang strategis dalam satu dekade terakhir. Gelombang besar penolakan sering kali tidak diikuti konsolidasi jangka panjang. Setelah momentum publik mereda, banyak organisasi kembali ke rutinitas proyek, sementara kerja membangun basis warga, pendidikan politik berkelanjutan, atau aliansi lintas isu tidak cukup dirawat. Gerakan hadir kuat saat krisis, tetapi cepat melemah ketika memasuki fase panjang yang membutuhkan kesabaran strategis.

Memulihkan visi tidak bisa dilakukan dengan romantisme gerakan atau nostalgia masa lalu. Teori prefigurative politics mengingatkan bahwa cara kita berorganisasi hari ini mencerminkan masa depan yang kita bayangkan. Artinya, memulihkan visi menuntut keberanian untuk mengubah praktik internal dengan menyediakan ruang refleksi lintas generasi, mengakui kerja perawatan sebagai bagian dari keberlanjutan organisasi, dan menempatkan kaderisasi sebagai investasi politik, bukan beban biaya.

Seruan untuk keluar dari survival mode bukan ajakan untuk menolak realitas pendanaan atau menutup mata pada keterbatasan. Ia adalah undangan untuk kembali membayangkan masa depan secara sadar dan kolektif. Gerakan masyarakat sipil tidak akan kehilangan relevansinya karena kekurangan aktivitas, tetapi karena kehilangan arah. Bertahan memang perlu, tetapi tanpa visi jangka panjang, bertahan hanya akan menjadi cara paling rapi untuk menunda kelelahan dan bukan membangun perubahan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Agresi Militer AS ke Venezuela: Ambisi Minyak, Geopolitik, dan Doktrin Monroe

Agresi Militer AS ke Venezuela: Ambisi Minyak, Geopolitik, dan Doktrin Monroe

Tahun 2026 baru memasuki hari ke-3, ketika orang masih sibuk membuat berbagai

Next
Indonesia dalam Rantai Pasok Global: Peluang Pembangunan atau Perangkap Eksploitasi?

Indonesia dalam Rantai Pasok Global: Peluang Pembangunan atau Perangkap Eksploitasi?

“Semua negara akan mendapatkan keuntungan dari peningkatan perdagangan dan

You May Also Like
Total
0
Share