Gerakan One Piece: Diciptakan Kaum Miskin, Dibajak Kaum Kaya dan CIA di Meksiko

Di tengah hiruk pikuk gerakan protes generasi Z di berbagai negara yang belum mereda, ada pemandangan aneh yang muncul dari sebuah aksi unjuk rasa sayap kanan di Meksiko.

Saat sekitar seribu orang berbaris di pusat Kota Puebla, yang meneriakkan “ganyang komunisme!” dan menuntut “tidak ada lagi negara narkoba,” mereka mengibarkan bendera bajak laut dari anime populer, One Piece.

Awalnya, bendera bajak laut topi jerami (simbol dalam One Piece) dikenal sebagai lambang perlawanan akar rumput terhadap kaum elite, korupsi, dan ketidaksetaraan. Namun, di Meksiko, gerakan ini terasa janggal. Meskipun digembar-gemborkan sebagai protes gen Z, faktanya sebagian besar peserta adalah orang tua (gen X) dan wajah-wajah lama yang loyal pada partai sayap kanan Meksiko, PRI (Partai Institusional Revolusioner) dan PAN (Partai Aksi Nasional).

Aksi ini adalah upaya menjiplak gerakan people power di negara-negara lain seperti Nepal, Filipina, dan bahkan Indonesia. Bedanya, protes di Meksiko ini dibuat dari atas ke bawah (top-down), didanai oleh oligarki yang tersingkir, dan CIA/AS. Ia tidak tumbuh dari keresahan rakyat di warung kopi atau di jalanan, melainkan direkayasa dengan modal besar menggunakan kampanye AI (kecerdasan buatan), bot, dan influencer berbayar. Ini adalah fenomena baru di mana uang mencoba membajak gerakan sosial sesungguhnya.

Demonstran yang menyebut dirinya “Gen Z” di Meksiko. Kredit: Tamara Pearson

Dari akun bot sampai influencer Whitexican

Mengapa kita harus resah? Karena 51 persen konten di internet Meksiko kini disinyalir dibuat oleh AI. Dengan literasi digital yang minim, sangat mudah bagi awam untuk terperangkap dalam kampanye fabrikasi politik semacam ini.

Akun Instagram yang menyerukan protes 15 November, seperti akun IG/ somosgeneracionzmx, ini mengaku sebagai gen Z yang “anti-partai.” Namun, ada banyak keanehan. Akun tersebut sama sekali tidak berinteraksi dengan serikat pekerja, organisasi komunitas, atau media alternatif yang sudah lama berjuang. Mereka hanya mengikuti akun “replika bot” dirinya sendiri.

Postingan awalnya, yang baru dibuat sebulan sebelum protes, langsung meledak dengan ratusan like dan komentar. Ini adalah tanda adanya boosting berbayar yang masif atau operasi bot yang terstruktur.

Hampir semua konten, termasuk video, dihasilkan oleh AI. Gerakan aktivis asli Meksiko, seperti gerakan perempuan atau masyarakat adat, selalu berani menunjukkan wajah mereka di depan kamera sebagai bukti bahwa komunitas nyata sedang berorganisasi. Akun “generasi Z Meksiko” ini tidak memiliki keberanian itu karena memang tidak ada pertemuan atau konsensus nyata. Mereka bahkan harus mengedit foto pawai hari Sabtu secara digital agar kerumunan massanya terlihat lebih besar.

Karena tidak punya aktivis sejati, mereka pun menggunakan influencer. Kita melihat selebgram fashion yang terbuka menawarkan promosi berbayar hingga influencer mendadak politis yang baru seminggu-dua minggu lalu mengomel tentang “komunis” yang ingin mendelegitimasi gerakannya.

Pesan yang disampaikan pun sangat kabur. Mereka hanya bicara soal “dialog,” “toleransi,” dan “gerakan yang mewakili kita”—kata-kata kosong yang merupakan ciri khas politisi atau CEO, bukan aktivis yang punya analisis mendalam dan tuntutan konkret.

Dukungan pun datang dari media sayap kanan besar, TV Azteca, dan pemiliknya, Ricardo Salinas Pliego, seorang miliarder yang pernah tersandung kasus penghindaran pajak. Media yang biasanya membungkam gerakan rakyat miskin ini justru menjadi promotor utama protes 15 November.

Mencampuraduk ideologi: Che disamakan Trump

Salah satu kejanggalan terbesar adalah upaya mencampuradukkan ideologi. Seorang influencer di akun gen Z ini membuat unggahan yang menyamakan Che Guevara (tokoh revolusioner anti-imperialis Kuba) dengan Donald Trump. Ada juga postingan foto aktivis mengibarkan bendera One Piece, tetapi makai kaus bergambar lambang Nazi. What the fuck!

Di mata kita, membandingkan seorang pejuang anti-kolonialisme dengan seorang politisi populis sayap kanan terlihat absurd. Namun, jangan salah, ini adalah taktik umum sayap kanan global untuk mendilusi dampak pahlawan kiri dan membuat ideologi tampak kabur.

Itu tidak jauh dengan kebodohan oposisi kanan di Venezuela yang mengadopsi topeng Guy Fawkes untuk meresonansi aksi protes sebagai pemberontakan terhadap kediktatoran dan kemapanan.

Isu geopolitik dan aroma CIA

Kekuatan di balik aksi digital ini bukan hanya elite Meksiko, tetapi juga memiliki jejak sayap kanan internasional.

Jejak digital menunjukkan bahwa akun-akun yang menyerukan protes ini pernah membagikan tweet yang mendukung pemimpin sayap kanan di Venezuela. Ini mencerminkan pola operasi yang sama yang terjadi di Kuba, Venezuela, dan Ekuador. Di sana, strategi bot dan AI digunakan untuk menciptakan narasi ketidakpuasan yang samar dengan tujuan akhir menciptakan tagar #SOS.

Tagar #SOS ini sangat politis. Tujuannya adalah untuk menggambarkan keadaan negara begitu putus asa sehingga intervensi Amerika Serikat dianggap perlu.

Di Meksiko, kita melihat influencer di X (Twitter) terang-terangan menyerukan, “Saatnya bagi Presiden Trump untuk memerintahkan serangan udara besar-besaran terhadap semua target teroris narkoba di seluruh Meksiko! Make Mexico Great Again!”

Claudia Sheinbaum, seorang ilmuwan dan aktivis kiri yang memenangkan pemilu Meksiko pada Juni 2024, adalah seorang yang berdiri tegak menentang politik dikte Trump dan AS terhadap Meksiko. Pada awal 2025 lalu, ia berani menentang kebijakan tarif Trump dan politik anti-imigrannya.

Selain itu, meskipun punya darah Yahudi, ia membuat Meksiko bersolidaritas pada Palestina. Pertama kalinya dalam sejarah, ada aksi solidaritas Palestina berskala besar terjadi di Meksiko. Pada awal September lalu, lebih dari 180 ribu warga Meksiko berkumpul di alun-alun utama kota Mexico City, Zócalo, untuk menghadiri konser musik sekaligus bersolidaritas untuk Palestina.

Di bawah pemerintahannya, Meksiko menjadi salah satu negara Amerika Latin, selain Chile, yang menyerukan agar Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menyelidiki dugaan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel. Meksiko juga turut mendukung proposal Afrika Selatan yang membawa Israel ke Mahkamah Internasional (ICJ) atas tuduhan genosida.

Sheinbaum juga melanjutkan banyak kebijakan sosial dan progresif era presiden sebelumnya, Andrés Manuel López Obrador (AMLO), seperti kedaulatan energi, perluasan program sosial untuk kaum marginal, pemberantasan kemiskinan, perluasan inklusi layanan pendidikan dan kesehatan berkualitas, dan jaminan pensiunan universal.

Yang menonjol dari kebijakan progresif Sheinbaum adalah penekanannya pada isu kesetaraan gender dan respons terhadap perubahan iklim. Ia cukup sukses mendorong kesetaraan gender dan memerangi femicide yang sangat umum di Amerika Latin. Dalam isu perubahan iklim, ia gencar mempromosikan energi terbarukan.

Pada Mei lalu, tingkat kepuasan publik (approval rating) terhadap pemerintahan Sheinbaum mencapai 83 persen (salah satu yang tertinggi dalam sejarah). Namun, sejak September lalu, angkanya sedikit menurun seiring menguatnya isu kriminalitas dna perdagangan narkoba. Isu ini juga yang coba ditunggai AS dan sayap kanan untuk meniupkan sentimen ketidakpuasan

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Cara Kerala Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

Cara Kerala Keluar dari Kemiskinan Ekstrem

India, negeri berpenduduk sekitar 1,45 miliar penduduk dunia dan terluas ke-7

Next
Jejak Hatta di Brussel

Jejak Hatta di Brussel

Musim dingin membekap Brussel, Belgia awal 1927

You May Also Like
Total
0
Share