Musim dingin membekap Brussel, Belgia awal 1927. Ketika gerimis membasahi kota jalanan kota itu pada 10 Februari 1927, 157 orang dari 37 negara berkumpul di gedung Palais d’Egmont. Nama gedung itu diambil dari nama Pangeran Egmont, bangsawan yang memimpin Belgia/Belanda dalam mengusir penjajahan Spanyol pada 1568.
Dari ratusan orang itu, yang sebagian besar dari Asia dan Afrika, tampak wajah anak-anak muda dari Hindia Belanda. Salah satunya, Mohammad Hatta, anak muda berusia 24 tahun yang memimpin organisasi mahasiswa di perantauan, Perhimpoenan Indonesia (PI).
Hari itu, Brussel menjadi tuan rumah pertemuan Kongres Liga Melawan Imperialisme dan Penindasan Kolonial (League against Imperialism and for National Independence). Dari Hindia Belanda, ada dua organisasi yang mengutus delegasi: PI dan PKI/Sjarekat Ra’jat.
PI sendiri mengirim lima orang delegasi: Hatta, Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Gatot Tarumihardjo, dan Abdul Manaf. Sedangkan PKI hanya mengirimkan Semaoen, yang memang sedang menjalani pembuangan di Eropa.
Di kongres itu, peran tokoh Hindia Belanda cukup besar. Dua delegasi asal Hindia, Hatta dan Semaoen, duduk di kursi presidium. “Banyak delegasi negara lain tidak punya perwakilan di presidium,” kenang Bung Hatta dalam buku otobiografinya, Untuk Negeriku.
Sebagai presidium kongres, posisi Hatta sangat krusial. Ia duduk sejajar dengan nama-nama besar, seperti Nehru (India), Henri Barbusse (Prancis), dan Albert Einstein (yang menjadi pelindung komite tersebut).

Menariknya, di forum itu, Hatta dan kawan-kawan konsisten menggunakan nama ”Indonesia” untuk menggantikan penyebutan kolonial ”Hindia Belanda”. Selain itu, ia dan kawan-kawan berhasil mendorong kongres bersikap atas persoalan di Hindia Belanda.
Pertemuan itu menghasilkan keputusan penting bagi perjuangan anti-kolonialisme di Indonesia. Pertama, kongres setuju mendukung penuh perjuangan kemerdekaan Indonesia dan siap membantu perjuangan itu dengan segala tenaga. Kedua, kongres mendesak pemerintah Belanda segera memberi kemerdekaan penuh kepada Indonesia, menghapuskan pembuangan dan hukuman mati, serta memberi amnesti umum.
Selain dua keputusan tersebut, ada keputusan lain yang sangat penting bagi Indonesia, yaitu pembentukan sebuah komisi berisi sastrawan dunia, seperti Nansen, Bernhard Shaw, dan Barbusse. Komisi ini akan mengunjungi dua tempat, yaitu Jawa dan Sumatera, untuk memeriksa motif pemberontakan rakyat 1926/1927.
Namun, Belanda menolak permintaan itu. Meski begitu, Hatta tidak berkecil hati. Baginya, kendati permintaan itu ditolak, tetapi kampanye terkait situasi di Hindia.Belanda mulai terdengar di panggung internasional.
Di sela-sela pertemuan para aktivis lintas bangsa itu, Hatta bertemu dan berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan buruh dunia, seperti Georg Ledebour (Jerman), Edo Fimmen (Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh Transportasi Internasional), dan George Lansburry (pimpinan Partai Buruh Inggris).
Selesai kongres itu, Hatta dan kawan-kawan kembali ke Belanda. Semangat yang dibawa dari Brussel membakar aktivitas Hatta di Belanda. Terlalu terang, terlalu lantang, hingga penguasa kolonial tak bisa lagi menutup mata.

Pada September 1927, Hatta, bersama Nazir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat, diciduk dan diterungku. Tudingannya klise: organisasi terlarang, pemberontakan, penghasutan. Selama lima bulan di penjara, Hatta tidak meratap. Ia menulis.
Hatta merangkai setiap kata menjadi senjata, sebuah pledoi yang bergemuruh dan menantang, diberi judul tegas: “Indonesie Vrij” (Indonesia Merdeka). Pledoi itu disiapkan untuk meledak di ruang sidang, membalikkan posisi tertuduh menjadi penuntut.
Namun, takdir berkata lain. Sehari sebelum pembacaan yang dinanti, Hatta divonis bebas. Gagal sudah kesempatan untuk membacakan manifesto politiknya di hadapan pengadilan kolonial. Bebas, tapi pledoi itu, seperti nyala api yang terperangkap di dalam kertas, tetap menjadi monumen keberanian intelektual: salah satu manifesto politik paling terang, paling berani, dan paling eksplisit menyebut Indonesia merdeka pada awal 1920-an.
Keluar dari penjara, Hatta kembali mendekati Liga. Namun, ia mencium aroma yang berbeda: dominasi komunis. Di bawah kendali dingin Stalin, Liga mulai bergeser, kental dengan nuansa komunis. Kaum sosial-demokrat, yang tadinya sekutu, kini dicap sebagai penghambat yang menahan buruh agar tidak menyeberang ke barisan merah.
“Golongan sosialis ini dihantamnya karena pendirian mereka dianggap menahan kaum buruh tetap bernaung di bawah partai sosial demokrasi dan tidak mau menyeberang ke partai komunis,” keluhnya.
Pada 20-27 Juli 1928, kongres ke-2 Liga Anti Imperialisme kembali digelar. Suasana semakin panas. Komunisme menyerang habis-habisan kelompok non-komunis, terutama James Maxton dari Independent Labour Party.
Di tengah medan perdebatan yang menajam, Hatta diminta memimpin sidang. Ia berdiri di podium, memimpin jalannya perdebatan. Untungnya, Sekretaris Jenderal Liga, Willy Muzemberg, berhasil mendinginkan suasana, mengakhiri pidato dengan seruan persatuan. Dalam momen yang langka itu, Hatta memimpin peserta sidang berdiri, menyanyikan lagu Internationale.
Setelah Frankfurt, retakan itu membesar. Tudingan Komintern meluncur deras: Liga telah digembosi oleh kaum reformis sosial dan reformis nasionalis—yang terakhir ini menunjuk langsung ke Nehru dan Hatta.
Di mata Komintern, perjuangan non-kekerasan kaum nasionalis di India sudah tidak memadai. Di Indonesia, kaum nasionalis dituding berupaya mensubordinasikan komunis. Alasan-alasan itu, yang dibalut kekuasaan ideologi, mengantar pada nasib yang tak terhindarkan: perpecahan.
Namun, posisi Stalin tidak sepenuhnya tepat. Di Tiongkok, pasca peristiwa Shanghai, kaum komunis di bawah Mao Zedong tetap melanjutkan Front Persatuan dengan Koumintang. Di India, gerakan nasionalis di bawah Partai Kongres tetap kekeuh melawan kolonialisme Inggris. Sedangkan Hatta makin berjarak dengan kaum komunis pasca dipecat dari Liga.
Pada 1930, dua tahun setelah pertemuan Frankfurt, Hatta menerima surat dari Liga: ia resmi dipecat. Pada saat bersamaan, Nehru juga mengalami nasib serupa. Namun, sejak itu keanggota Liga pun makin merosot. Dan, sejak tahun 1930-an, organisasi internasional yang lahir dari harapan besar di gerimis Brussel itu, akhirnya menghilang perlahan, menjadi catatan kaki sejarah di bawah dominasi satu ideologi.
Hatta, si pemuda dari Hindia Belanda, telah mengambil jarak. Ia memilih jalannya sendiri, jalan tegak lurus menuju satu tujuan: Indonesia merdeka. Tahun 1932, ia kembali ke Hindia, dan langsung terjun ke gelanggang untuk memimpin perlawanan yang tengah mengalami kekosongan setelah penangkapan Soekarno dan pembubaran PNI.










