Geger Sponsor Pestapora 2025: Jangan Abaikan Isu Lingkungan

Gelaran Pestapora 2025 yang seharusnya menjadi perayaan musik tiga hari penuh, terguncang oleh keputusan para musisi yang mengejutkan. Tercatat, 21 musisi atau band memilih mengundurkan diri sebagai bentuk protes atas keterlibatan PT Freeport Indonesia sebagai salah satu sponsor festival.

Pada hari kedua, 6 September 2025, tercatat 12 artis yang batal tampil: Sukatani, Hindia, Feast, Leipzig, Durga, Xin Lie, Kelelawar Malam, Negatifa, Rebellion Rose, Rekah, Ornament, serta The Jeblogs.

Sementara pada hari ketiga, 7 September, giliran sembilan musisi yang memutuskan mundur: Pelteras, Kenya, Swellow, Navicula, Centra HC, Keep It Real, The Panturas, Petra Sihombing, Bilal Indrajaya bersama The Corleones.

Langkah ini mencerminkan solidaritas musisi terhadap isu lingkungan dan hak asasi manusia, nilai yang mereka anggap tidak sejalan dengan reputasi Freeport. Protes tidak sekadar tertulis, Rebellion Rose bahkan menolak tampil di panggung utama, memilih berorasi, menyapa penonton, dan mengembalikan honor mereka sebagai simbol penolakan keras.

Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Feast dan Hindia, yang menyatakan bahwa pengetahuan mereka tentang keterlibatan Freeport baru muncul di pengujung hari pertama. Mereka menyebut merasa “patah hati dan marah,” lalu memutuskan mundur sebagai respons atas ketidaksesuaian antara nilai festival dan sponsor.

Dari sisi penyelenggara, pengumuman pemutusan kerja sama dengan Freeport baru dilakukan pada hari kedua festival. Masalah ini menimbulkan kritik, karena seolah memperlihatkan sikap reaktif ketimbang proaktif. Keterlambatan komunikasi membuat banyak musisi merasa “dibohongi” dan penonton kehilangan kepastian. Keputusan penyelenggara ini datang setelah banyak musisi menyatakan mundur, sehingga dianggap sebagai langkah reaktif, menyusul tekanan publik dan artis, ketimbang berasal dari kesadaran kolektif awal. Dalam jangka panjang, reputasi festival bisa terguncang jika kepercayaan para artis tidak segera dipulihkan.

Akibatnya, reputasi Pestapora sebagai festival musik penuh semangat dan toleransi tergerus oleh kontroversi ini. Penonton tidak hanya kehilangan penampilan favorit mereka, tetapi juga merasakan ketegangan antara komersialisme dan integritas artistik. Sorotan kini mengarah pada pemilihan sponsor dan pentingnya transparansi serta komunikasi yang tepat antara penyelenggara dan para musisi demi menjaga kepercayaan publik.

Peristiwa ini sudah seharusnya menjadi pelajaran penting bagi industri festival musik di Indonesia. Sponsorship memang krusial untuk keberlangsungan acara, tetapi aspek etika dan reputasi sponsor tidak bisa diabaikan. Aksi mundur 21 musisi dari Pestapora 2025 menunjukkan bahwa publik dan seniman semakin kritis terhadap sumber pendanaan. Jika penyelenggara ingin menjaga integritas dan keberlanjutan, transparansi dan konsistensi dalam memilih mitra sponsor menjadi syarat mutlak.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kisah Nestapa di Jawa Barat: Potret Luka Kolektif Bangsa

Kisah Nestapa di Jawa Barat: Potret Luka Kolektif Bangsa

Meninggalnya R, bocah perempuan berusia empat tahun di Rumah Sakit Umum Daerah

Next
21 Tahun Pembunuhan Munir Tak Kunjung Terungkap

21 Tahun Pembunuhan Munir Tak Kunjung Terungkap

Genap 21 tahun Munir Said Thalib, aktivis hak asasi manusia (HAM), dibunuh dalam

You May Also Like
Total
0
Share