Patung Liberty, yang berdiri megah di Pelabuhan New York, Amerika Serikat (AS), telah menjadi simbol kebebasan dan demokrasi dunia selama lebih dari satu abad.
Namun, di balik desain ikoniknya yang kita kenal sekarang, tersimpan sebuah kisah yang jarang diceritakan: andil penting seorang perempuan petani Mesir yang menjadi inspirasi awal sang pematung.
Cerita itu bermula dari perjalanan Frédéric Auguste Bartholdi, pematung Prancis yang lahir pada 1834. Pada 1856, Bartholdi mengunjungi Mesir untuk mempelajari monumen-monumen kuno. Ia terpesona oleh patung-patung raksasa di Abu Simbel yang menjulang tinggi dan penuh kemegahan. Pengalaman itu membangkitkan ambisinya untuk menciptakan karya kolosal yang bisa menyaingi keajaiban dunia kuno, termasuk Colossus of Rhodes atau patung raksasa Dewa Helios yang berdiri di mulut pelabuhan dan berfungsi sebagai mercusuar.
Pada akhir dekade 1860-an, kesempatan itu datang. Terusan Suez yang baru selesai dibangun membutuhkan simbol kemajuan di pintu masuknya, tepatnya di Port Said. Bartholdi mengajukan proposal kepada Khedive (Wali atau Gubernur) Mesir saat itu, Ismail Pasha. Usulnya sangat megah, sebuah patung raksasa berjudul Egypt Carrying the Light to Asia (Mesir Membawa Cahaya ke Asia).
Patung itu dirancang setinggi sekitar 26 meter (86 kaki), ditambah pedestal setinggi 15 meter. Sosok utamanya adalah seorang perempuan petani Mesir (fellah) berjubah tradisional, sedang memegang obor tinggi-tinggi. Obor itu bukan sekadar hiasan. Patung ini direncanakan berfungsi sebagai mercusuar, yang memancarkan cahaya untuk memandu kapal-kapal yang melintasi terusan. Cahaya juga akan memancar dari kepalanya, menciptakan efek dramatis di malam hari.

Perempuan dalam rancangan itu bukan tokoh fiksi semata. Bartholdi mengambil inspirasi langsung dari perempuan petani Mesir yang ia lihat selama perjalanannya. Sosoknya merepresentasikan Mesir yang membawa “cahaya” kemajuan dan peradaban ke Asia. Desain ini menggabungkan elemen Mesir kuno dengan gaya neoklasik yang sedang populer di Eropa saat itu. Bartholdi bahkan membuat sketsa cat air dan model kecil untuk meyakinkan pihak Mesir.
Sayangnya, proposal itu ditolak. Mesir sedang dilanda kesulitan keuangan berat akibat biaya pembangunan Terusan Suez yang membengkak. Khedive Ismail Pasha dan Ferdinand de Lesseps, insinyur Terusan, menganggap proyek patung terlalu mahal. Pada 1869, alih-alih patung raksasa, akhirnya dibangunlah mercusuar Port Said yang lebih sederhana karya François Coignet. Proyek impian Bartholdi gagal di Mesir.
Namun, benih ide itu tidak mati. Sekitar tahun 1865, Bartholdi telah berdiskusi dengan Édouard René de Laboulaye, sejarawan dan abolisionis Prancis. Laboulaye mengusulkan sebuah monumen persahabatan antara Prancis dan Amerika Serikat untuk memperingati 100 tahun kemerdekaan AS (1876) serta merayakan kemenangan Union dalam Perang Saudara Amerika yang mengakhiri perbudakan.
Bartholdi melihat peluang untuk mendaur ulang desainnya yang sudah ada. Ia mulai memodifikasi rancangan semula antara 1870–1871. Jubah petani Mesir diganti dengan jubah klasik ala Dewi Romawi Libertas. Penutup kepala atau kerudung digantikan mahkota dengan tujuh sinar yang melambangkan tujuh benua dan tujuh lautan. Di tangan kirinya ditambahkan tablet bertuliskan “JULY IV MDCCLXXVI” (4 Juli 1776), sementara rantai yang putus di kakinya melambangkan kebebasan dari perbudakan. Nama proyek berubah menjadi Liberty Enlightening the World (Kebebasan Menerangi Dunia).

Pose dasar, tangan kanan mengangkat obor tinggi dan tangan kiri memegang tablet, tetap mempertahankan esensi dari desain Mesir. Pembangunan patung dimulai serius pada 1875 di bengkel Gaget, Gauthier & Co. di Paris. Bartholdi menyelesaikan kepala dan lengan pembawa obor lebih dulu untuk dipamerkan di Pameran Centennial Philadelphia 1876 guna menggalang dana. Kerangka besi internal dirancang oleh insinyur Gustave Eiffel, yang kelak membangun Menara Eiffel. Kulit luar terbuat dari lembaran tembaga tipis yang dibentuk dengan teknik repoussé. Patung dirakit sebagian di Paris hingga pinggang, lalu dibongkar dan dikirim ke New York dalam 350 peti besar pada 1885.
Pendanaan patung ditanggung rakyat Prancis melalui donasi publik, sementara pedestal di Pulau Bedloe’s (sekarang Liberty Island) dibiayai Amerika Serikat. Prosesnya sempat tertunda karena krisis ekonomi, hingga penerbit Joseph Pulitzer menggalang dana melalui kampanye surat kabarnya.
Pada 28 Oktober 1886, Patung Liberty diresmikan secara megah oleh Presiden Grover Cleveland di hadapan ribuan orang. Bartholdi sendiri yang menurunkan bendera penutup wajah patung.
Meskipun wajah Patung Liberty yang kita lihat hari ini sering dikaitkan dengan ibu Bartholdi sendiri, namun ide dasar, proporsi tubuh, dan konsep “perempuan pembawa cahaya” berakar dari proyek Mesir yang gagal.
Perempuan petani Mesir anonim itu, yang wajah dan sosoknya menjadi referensi visual pertama, memberikan kontribusi tak langsung tapi krusial. Tanpa pengalaman Bartholdi di Mesir dan rancangan yang ditolak itu, bentuk Patung Liberty mungkin akan sangat berbeda.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa banyak karya besar lahir dari kegagalan dan penyusunan ulang sebuah ide. Di balik cahaya obor yang menyala di New York, ada bayang-bayang seorang perempuan sederhana dari tepi Terusan Suez yang turut “menerangi” perjalanan sejarah dunia.










