Di tengah gelombang perjuangan bersenjata rakyat Palestina melawan pendudukan Israel, nama Therese Halasa bersinar sebagai salah satu ikon perempuan Kristen yang memilih jalan perlawanan.
Kisah perjuangan Theresa tak hanya memperkaya sosok pejuang Palestina secara gender, tapi juga melintasi suku, agama, ras, bahkan kebangsaan. Yang menyatukan mereka adalah keberpihakan teguh pada kemanusiaan, yang tergetar marah jika melihat penindasan dan ketidakadilan.
Jejak perjalanan hidup
Lahir pada 1954 di Al-Rameh, sebuah desa di Upper Galilee dekat Akka (Acre), Therese tumbuh dalam keluarga Kristen Palestina. Ayahnya, Hani Halasa, berasal dari Yordania, sementara ibunya, Nadia Hanna, adalah perempuan Palestina. Kehidupan mereka di bawah hukum pendudukan Israel sejak 1948 membentuk kesadaran politiknya sejak dini.

Therese menempuh pendidikan keperawatan di Nazareth. Di sana, ia mulai aktif dalam kegiatan politik dengan bergabung ke Maki, Partai Komunis Israel. Pengalaman sebagai mahasiswa perawat membuka matanya terhadap ketidakadilan yang dialami rakyat Palestina sehari-hari: penggusuran, diskriminasi, dan penindasan.
Namun, ia merasa perlawanan politik damai saja tidak cukup. Semangat patriotisme yang ditanamkan sang ayah mendorongnya untuk mencari jalan yang lebih radikal.
Pada Januari 1971, di usia 16 tahun, Therese mengambil keputusan berani. Ia meninggalkan rumah tanpa memberitahu keluarga. Ia menyeberangi perbatasan dari wilayah pendudukan ke Lebanon, melewati daerah Kiryat Shmona dan Metula. Perjalanan penuh risiko itu membawanya ke kamp pelatihan Fatah di Marj Ayoun. Di sana, ia bergabung dengan gerakan perlawanan bersenjata dan menjalani pelatihan militer intensif selama beberapa bulan. Ia belajar menggunakan senjata api, senapan mesin, granat tangan, dan bahan peledak. Latihan ini mempersiapkannya untuk menjadi Fedayeen, nama pejuang gerilya yang siap berkorban demi pembebasan tanah air.

Perjuangan bersenjata
Kemampuannya yang menonjol membuatnya terpilih untuk operasi khusus yang direncanakan oleh Ali Hassan Salameh dari kelompok Black September, sayap operasi khusus Fatah.
Pada 8 Mei 1972, Therese, yang saat itu baru berusia 17 tahun, menjadi salah satu dari empat pejuang Palestina yang membajak pesawat Sabena Flight 571 milik maskapai Belgia. Pesawat yang berangkat dari Brussel via Wina menuju Bandara Lod (sekarang Ben Gurion) di Tel Aviv itu membawa ratusan penumpang.
Bersama Rima Tannous dan dua pejuang pria, Therese menguasai pesawat dan mendaratkannya di Lod. Tuntutan mereka tegas: Israel harus membebaskan 315 tahanan politik Palestina dan Arab yang ditahan di penjara-penjara Zionis. Selama pembajakan, tidak ada penumpang yang terluka atau dibunuh oleh para pejuang.
Operasi berlangsung kurang dari 24 jam. Pasukan khusus Israel dari unit Sayeret Matkal, yang dipimpin Ehud Barak dan melibatkan Benjamin Netanyahu yang masih muda, menyamar sebagai teknisi dan petugas Palang Merah Internasional. Mereka menyerbu pesawat. Baku tembak terjadi. Dua pejuang tewas, sementara Therese dan Rima Tannous ditangkap. Therese sendiri terluka.
Menurut narasi perlawanan Palestina, Therese sempat menembak bahu Netanyahu dalam pertempuran itu. Dalam beberapa foto pasca kejadian itu, Netanyahu yang saat itu masih berpangkat letnan memang mengalami luka di bahu kirinya.

Therese dibawa ke pengadilan militer Israel. Bersama Rima Tannous, ia diadili dan dijatuhi hukuman seumur hidup, bahkan ada laporan yang menyebut total 220 tahun penjara. Ia menjalani masa tahanan selama 11 tahun di penjara Israel hingga dibebaskan pada 1983. Di balik jeruji besi, Therese tidak menyerah. Ia terus mendidik diri sendiri, membaca, dan memperjuangkan hak-hak tahanan politik Palestina. Ia menjadi simbol ketahanan perempuan dalam gerakan perlawanan.
Tidak kenal menyerah
Pada 1983, Therese dibebaskan melalui pertukaran tahanan dan diasingkan ke Yordania. Di Amman, ia memulai babak baru kehidupannya sebagai perawat. Ia merawat pasien, termasuk mereka yang menyandang disabilitas. Meski hidup di pengasingan, semangat perjuangannya tak pernah padam. Ia aktif dalam aksi duduk, demonstrasi, dan berbagai kegiatan advokasi untuk Palestina. Ia sering memberikan wawancara dan pidato, menceritakan pengalamannya sebagai pejuang perempuan Kristen yang memilih jalan bersenjata demi tanah air.

Therese Halasa wafat pada 28 Maret 2020 di Amman, Yordania, pada usia 65 tahun setelah berjuang melawan kanker. Kepergiannya disambut duka oleh berbagai faksi Palestina, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan komunitas perlawanan internasional. Ia meninggalkan warisan sebagai salah satu perempuan Kristen Palestina yang berani bergabung dalam perjuangan bersenjata di era 1970-an. Ia adalah wajah sebuah generasi yang melihat perlawanan sebagai satu-satunya jalan menuju pembebasan.
Kisah Therese Halasa mengingatkan kita bahwa perjuangan Palestina bukan hanya milik satu agama atau kelompok. Sebagai perempuan Kristen yang tumbuh di bawah pendudukan, ia membuktikan bahwa iman dan patriotisme bisa berpadu dalam bentuk perlawanan. Dari desa kecil di Galilee hingga aksi berani di langit Tel Aviv, lalu penjara dan pengasingan, perjalanan hidupnya adalah rangkaian keteguhan hati. Ia adalah bukti bahwa perempuan Kristen Palestina punya andil penting dalam sejarah pembebasan tanah air mereka, Palestina.










