Kantata Takwa: Ketika Puisi dan Musik Melebur dalam Nada Perlawanan

Tahun 1970-an, ketika gerakan mahasiswa mulai dijinakkan, suara-suara kritis dibungkam, dan pers kehilangan kemerdekaan, puisi pun muncul sebagai penyambung lidah rakyat.

Dan, tokohnya adalah Willibrordus Surendra Broto, lebih tenar dengan nama W.S Rendra, dan dijuluki “Si Burung Merak”. Ia mewakili suara paling kritis dan lantang pada masanya.

Sajak Burung Kondor, yang kemudian diracik menjadi naskah drama Mastodon dan Burung Kondor, langsung memecah kesunyian pada awal 1970-an. Karena suaranya yang nyaring dan kritiknya menusuk tajam, pementasan drama ini mulai dilarang.

Namun, Rendra tak berhenti. Ia terus mengkritik kekuasaan Orde Baru (Orba) lewat puisi. Kebijakan pembangunan Orba yang top-down, serta seringkali menggilas hak-hak rakyat kecil tanpa dialog, tak luput dari kritik Rendra. Sajak yang mengangkat jerit-pedih kaum papa, yang tanahnya digusur, diupah murah, dibungkam, menjadi pengangguran, dikumpulkan dalam kumpulan sajak Potret Pembangunan dalam Puisi, yang baru terbit pada 1993.

Gara-gara puisinya, Rendra sering berurusan dengan aparat. Puncaknya, pada April 1978, saat membacakan puisi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rendra dilempari enam bungkus bom amonia. Akibatnya, dua orang pingsan di depan panggung.

Pasca kejadian itu, Rendra diringkus dan dijebloskan ke penjara selama lima bulan, tanpa proses pengadilan. Tak pernah tahu salah karena apa, dan tak ada putusan pengadilan yang menyatakannya bersalah, Rendra dipaksa meringkuk dalam penjara.

WS Rendra digiring tentara setelah membuat Tirakatan (Doa agar Indonesia terbebas dari korupsi) di Jalan Thamrin. Kredit: ARSIP KOMPAS

Lahirnya lagu “Willy”

Iwan Fals, musisi muda yang mulai naik daun karena lagu-lagunya yang kritis, terinspirasi oleh W.S Rendra.

Tahun 1981, ketika W.S Rendra agak meredup, Iwan tampil ke gelanggang. Namanya melejit setelah meluncurkan album pertama, Sarjana Muda (1981). Album ini berisi banyak kritik sosial mulai Sarjana Muda, Oemar Bakri, hingga Amblance Zig-zag.

Tahun 1986, lewat album Ethiopia, ia menyelipkan lagu “Willy”, sebuah panggilan kepada W.S Rendra untuk kembali ke gelanggang perlawanan.

“Si anjing liar dari Jogjakarta
Apa kabarmu?
Kurindu gonggongmu
Yang keras hantam cadas”

Iwan Fals sendiri sudah berkali-kali mengalami pembungkaman oleh rezim Orba. Pada 1984, usai konser di GOR Pekanbaru, Riau, ia berurusan dengan polisi dan Kodim setempat. Penyebabnya, dia menyanyikan lagu Demokrasi Nasi dan Mbak Tini di acara tersebut. Lagu Demokrasi Nasi menggugat hukum yang tak bisa menghukum anak pejabat, sementara lagu Mbak Tini dianggap menyindir Ibu Negara kala itu, Tien Soeharto.

Iwan Fals. Kredit: Pinterest/galerifotojadul

Tak hanya berurusan dengan aparat, konser-konsernya juga banyak dibatalkan. Salah satunya, rencana konser 100 kota pada 1989. Di Palembang, konsernya dibatalkan atas perintah Mabes Polri, meskipun sebelumnya sudah mengantongi izin dari kepolisian setempat. Padahal, panggung megah sudah berdiri.

Dalam tekanan itu, Iwan Fals beberapa kali berkunjung ke Bengkel Teater W.S Rendra di Depok. Di sana, ia bertemu banyak seniman dan musisi lain, seperti Sawung Jabo, Naniel Yakin, Nanoe, Innisisri, Jockie Suryoprayogo, Totok Tewel, dan Setiawan Djodi.

Pertemuan inilah yang melahirkan grup Swami. Terbentuk pada 1989, Swami melahirkan dua album: Swami I dan II. Pada Swami I, ada dua lagu kritik yang menjadi hits sepanjang masa, Bento dan Bongkar. Sedangkan pada Swami II, lagu yang sangat booming adalah Nyanyian Jiwa.

Lahirnya Kantata Takwa

Dari pergaulan itu juga, lahir sebuah supergrup bernama Kantata Takwa. Selain Iwan Fals dan pentolan Swami, supergrup ini juga melibatkan sang Buruk Merak, W.S Rendra. Inilah supergrup terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Kantata Takwa adalah sebuah proyek besar yang meleburkan musik, puisi, dan teater dalam satu nada perlawanan. Album debutnya, yang dirilis bertepatan dengan Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 1990 (sayang, saat itu peringatan Hari Buruh di negeri ini masih dilarang), langsung menggetarkan Indonesia.

Penonton Konser Musik Kantata Takwa di Stadion Utama Senayan, Jakarta (23/6/1990). Kredit: KOMPAS/JULIAN SIHOMBING (JS)

Menariknya, dalam kaset album Kantata Takwa, ada tiket masuk untuk konser akbar yang akan digelar pada 23 Juni 1990 di Stadion Gelora Bung Karno (dulu, di masa Orba namanya Gelora Senayan).

Pada album pertama itu, ada satu lagu yang tak ubahnya manifesto politik kaum tertindas Indonesia: Kesaksian. Asal kalian tahu, lagu ini merupakan sajak W.S Rendra.

Coba dengar, resapi, dan renungkan lagi. Kata-katanya, dari bait pertama sampai terakhir, kuat sekali. Bukan hanya sebuah ungkapan keberpihakan terhadap kaum papa, tetapi juga seruan untuk bangkit dan melawan. Ingat, lagu itu lahir di masa ketika Orba masih sangat digdaya.

Konser akbar Kantata Takwa di Stadion GBK meledak. Ratusan ribu orang berdesakan hadir di konser itu, sekaligus hendak menjadi saksi atas bersatunya musik dan puisi dalam nada-nada perlawanan.

Massa yang membludak menerobos pagar-pagar pembatas. Di dalam dan luar stadion, penonton bentrok dengan aparat ABRI.

Dalam film “Kantata Takwa”, scene bentokan itu diperlihatkan. Rakyat yang antusias dengan lahirnya perlawanan tak peduli dengan gebukan rotan tentara dan kejaran anjing pelacak. Ini adalah latihan awal rakyat melawan Orba, yang nanti akan berpuncak atas penggulingan Soeharto pada Mei 1998.

Untuk menangkap misi besar perjuangan Kantata Takwa, saya sarankan Anda untuk nonton filmnya. Mulai digarap sejak 1991, disutradarai oleh Eros Djarot dan Gatot Prakosa, film ini butuh waktu 18 tahun untuk bisa tayang. Ya, film ini baru premiere pada 28 September 2008, setahun sebelum W.S Rendra meninggal. Represi dan krisis ekonomi membuat film ini lama mengendap dalam rol film.

Dalam film 72 menit itu, kita disuguhi perkawinan dahsyat antara musik, puisi, dan teater dalam melahirkan pesan perlawanan. Film dibuka dengan adegan seseorang dikejar aparat bermasker gas, bersepatu militer, mengenakan jas hujan dan menenteng senjata api. Lalu, adegan Rendra yang terbangun dan langsung membacakan sajak Kesaksian.

Di film ini, lagu Bento juga mengaung. Namun, di film ini, Bento digambarkan sebagai pengusaha kroni yang bebas bertindak tanpa rintangan hukum, termasuk merampas tanah rakyat. Ia pengusaha yang tak tersentuh hukum. Sesuatu yang umum di masa Orba.

Di bagian depan film ini, kita akan dibuat bergetar dengan suara Rendra saat membacakan Sajak Tahun Baru (1990). “Apa artinya tumpukan kekayaan/bila bau busuk kemiskinan menerobos jendela kamar tidurmu.” Begitu kata Rendra.

Film “Kantata Takwa” (2008) yang disutradarai oleh Eros Djarot dan Gatot Prakosa

Kutipan Rendra yang sering kalian hamburkan di media sosial—Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata, berasal dari puisi Paman Doblang dan dinyanyikan oleh Iwan Fals bersama Kantata Takwa. Puisi ini berkisah tentang hari-hari perih dan pedih ketika W.S Rendra dipenjara oleh Orba tanpa pengadilan.

Kantata Takwa adalah teater yang difilmkan. Pesan-pesannya disampaikan lewat aksi teatrikal, diselingi lagu-lagu Kantata Takwa. Film ini dibuka dengan “Kesaksian” dan ditutup pula dengan “Kesaksian”. Sangat luar biasa.

Begitulah, ketika Orba masih digdaya dan ketakutan masih menghantui negeri, puisi dan lagu-lagu dalam Kantata Takwa mampu menjelma menjadi bait-bait perlawanan.

Total
0
Shares
Comments 1
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kebijakan Upah Murah dan Industrialisasi: Perbandingan Indonesia-Vietnam

Kebijakan Upah Murah dan Industrialisasi: Perbandingan Indonesia-Vietnam

Perdebatan mengenai upah buruh dan regulasi industrialisasi di Asia Tenggara

Next
Gibran dan Kompleksitas Persoalan di Papua (1)

Gibran dan Kompleksitas Persoalan di Papua (1)

Sampai langit terbelah, yang kami butuhkan bukanlah senjata, bukan pemekaran,

You May Also Like
Total
0
Share