Dari V for Vendetta, The Hunger Games, hingga One Piece: Tujuh Budaya Pop Jadi Senjata Protes

Di tengah riuh rendah aksi protes menuntut perubahan di berbagai belahan dunia, simbol-simbol perlawanan tak jarang lahir dari sumber yang tak terduga: budaya populer.

Komik dan film, yang sering menyelipkan kisah perlawanan, tiba-tiba berubah menjadi senjata protes. Agak unik, sesuatu yang awalnya hanya disuguhkan sebagai hiburan, tiba-tiba menjelma menjadi senjata yang menakutkan.

Di Indonesia, politik langsung gonjang-ganjing lantaran munculnya bendera bajak laut kelompok Topi Jerami, yang diadopsi dari manga ikonik One Piece. Di belahan dunia lain, dari Thailand, Hongkong, Amerika Serikat (AS), hingga Amerika Latin, fenomena serupa pernah terjadi.

Berikut beberapa budaya pop yang telah menjadi inspirasi atau simbol dalam aksi protes di berbagai negara.

V for Vendetta: Topeng Guy Fawkes jadi simbol perlawanan

Dalam novel grafis “V for Vendetta” karya Alan Moore dan David Lloyd, yang terbit pertama kali pada 1982, sang protagonis misterius bernama “V” mengenakan topeng yang menyerupai Guy Fawkes. Guy Fawkes adalah tokoh sejarah Inggris yang mencoba meledakkan gedung parlemen pada 5 November 1605. Dalam cerita, V mengadopsi persona Fawkes untuk melancarkan perang teatrikal melawan rezim fasis dan totaliter yang menguasai Inggris di masa depan.

Topeng itu makin terkenal pada 2006 setelah V for Vendetta muncul di layar lebar. Visual film yang kuat, terutama adegan di mana ribuan warga biasa turun ke jalan mengenakan topeng yang sama, menanamkan citra topeng Guy Fawkes sebagai simbol persatuan rakyat melawan penindasan.

Demonstran mengenakan Topeng Guy Fawkes dalam aksi menentang penghematan (Austerity), London, 2015. Kredit: flickr.com/photos/christiaantriebert

Akhirnya, topeng Guy Fawkes ini menjadi simbol protes. Ini dimulai dari aksi kelompok Hacktivist Anonymous pada 2008. Demi menyamarkan identitas saat turun dalam aksi protes, mereka memakai topeng Guy Fawkes. Saat aksi Occupy Wall Street yang mengguncang AS dan sejumlah kota di Eropa pada 2011, topeng ini juga muncul sebagai simbol anti-oligarki. Tak hanya itu, topeng ini juga hadir di tengah aksi protes Arab Spring yang menjalar di Mesir, Bahrain, dan Tunisia.

The Hunger Games dan salam tiga jari

Novel distopia karya Suzanne Collins yang kemudian diadaptasi menjadi serial film blockbuster, The Hunger Games, juga menyumbangkan simbol perlawanan yang kuat.

Salam tiga jari—telunjuk, tengah, dan manis yang diacungkan bersamaan—berasal dari film ini. Salam ini awalnya adalah tradisi dari Distrik 12, distrik asal sang protagonis, Katniss Everdeen. Momen ikonik pertama terjadi saat Katniss mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk menggantikan adiknya dalam Hunger Games. Seluruh penduduk Distrik 12 serentak memberikan salam tiga jari kepadanya dalam keheningan. Itu adalah momen perpisahan yang sunyi namun penuh hormat dan solidaritas.

Makna gestur ini berubah secara dramatis saat Katniss menggunakannya di dalam arena permainan. Setelah sekutunya yang masih kecil, Rue, terbunuh, Katniss memberikan salam tiga jari kepada kamera sebagai bentuk penghormatan terakhir. Distrik asal Rue, Distrik 11, membalasnya dengan salam yang sama, sebuah tindakan yang memicu pemberontakan kecil di sana. Sejak saat itu, salam tiga jari bukan lagi hanya simbol perpisahan. Ia bertransformasi menjadi simbol perlawanan terhadap Capitol yang tiran, solidaritas antardistrik yang tertindas, dan harapan akan perubahan.

Demonstran di Thailand dengan salam tiga jari saat menentang rezim militer. Kredit: South China Morning Post

Salam tiga jari kemudian diadopsi oleh gerakan kaum muda di Thailand pada 2014. Saat itu, Jenderal Prayut Chan-o-cha yang baru saja merebut kekuasaan, disambut perlawanan kaum muda. Salam itu awalnya dipakai dalam aksi-aksi kecil berbentuk flashmob.

Namun, seiring dengan perlawanan yang membesar, salam tiga jari menjadi simbol protes. Di Thailand, para aktivis memberikan makna baru pada gestur ini, yang sering kali diartikan sebagai representasi dari tiga tuntutan inti atau prinsip revolusi Prancis: kebebasan (liberte), kesetaraan (egalite), dan persaudaraan (fraternite).

Tahun 2021, terjadi kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sipil di Myanmar. Kaum muda, yang menentang kudeta itu, juga menggunakan salam tiga jari sebagai simbol protes.

The Handmaid’s Tale: Jubah merah dan topi Putih

Novel karya Margaret Atwood, The Handmaid’s Tale, dan adaptasi serial televisinya yang sukses, melahirkan simbol perlawanan yang sangat kuat bagi para pejuang hak-hak perempuan. Kisah tentang masyarakat teokratis Gilead yang menindas dan menjadikan perempuan sebagai properti negara ini menginspirasi penggunaan kostum para handmaid—jubah merah dan topi putih (wings)—dalam berbagai aksi protes.

Para aktivis di berbagai negara, terutama di AS dan Amerika Latin, mengenakan kostum ini saat berunjuk rasa menentang kebijakan yang dianggap mengancam hak-hak reproduksi dan otonomi tubuh perempuan.

Demonstran mengenakan jubah merah dan topi putih seperti dalam serial “Handmaid’s Tale” di Philadelphia, 2018. Kredit: Guardian

Misalnya, pada 2018, di Philadelphia, ratusan perempuan memakai jubah merah dan topi putih saat menyambut kedatangan Wakil Presiden AS, Mike Pence, untuk memprotes pembatasan hak aborsi.

Di Irlandia, gerakan perempuan juga menggunakan jubah merah dan topi putih untuk memperjuangkan pro-choice, yaitu hak kaum perempuan untuk menentukan tubuhnya sendiri.

Di Buenos Aires, Argentina, kelompok feminis juga memakai jubah dan topi putih saat berjalan ke gedung kongres demi menuntut dekriminalisasi aborsi.

La Casa de Papel (Money Heist): Topeng Dalí dan jumpsuit merah

Serial Netflix asal Spanyol, La Casa de Papel atau Money Heist, memberikan salah satu simbol perlawanan paling ikonik dalam beberapa tahun terakhir. Para perampok dipimpin sang Professor dalam serial ini mengenakan topeng Salvador Dalí dan jumpsuit merah untuk menyembunyikan identitas mereka saat merampok Royal Mint of Spain.

Topeng yang terinspirasi dari seniman surealis Salvador Dalí melambangkan penolakan terhadap tatanan dan sistem yang ada. Dipadukan dengan lagu perlawanan anti-fasis Italia, Bella Ciao, kostum ini menjadi simbol pemberontakan terhadap fasisme dan kapitalisme.

Pekerja Nissan di Barcelona mengenakan topeng Salvador Dali dan Jumpsuit merah dalam aksi mogok. Kredit: Vox

Lantaran itu, topeng Salvador Dali dan jumpsuit merah sering dipakai demonstran saat memprotes ketidakadilan, mulai dari Puerto Rico (2019), Lebanon (2019), gerakan Rompi Kuning (Gilets Jaunes) di Prancis, hingga demonstrasi kaum muda menentang neoliberalisme di Chile pada 2019-2020.

Di Indonesia, topeng Salvador Dali dan jumpsuit merah hadir saat demonstrasi kaum muda dan kelas pekerja menentang RUU Cipta Kerja atau Omnibus Law pada 2020.

Joker: Wajah perlawanan dari yang terpinggirkan

Film Joker (2019), yang disutradarai Todd Phillips, hadir di waktu yang tepat. Ketika dunia sedang diliputi keresahan dan kemarahan terhadap ketimpangan ekonomi dan korupsi, sementara segelintir elite mengendalikan segalanya.

Arthur Fleck, karakter utama film ini, seorang badut yang kesepian, adalah contoh mereka yang diabaikan dan diremehkan oleh sistem sosial yang semakin timpang. Aksi Arthur menembak mati tiga pebisnis muda Wall Street, yang merundungnya di kereta bawah tanah, telah memberi pesan tak langsung: perlawanan rakyat biasa terhadap kaum elite. Tak lama kemudian, muncul gerakan protes terhadap orang kaya di kota itu dengan menggunakan topeng badut.

Seorang aktivis perempuan memakai wajah “Joker” dalam aksi di Lebanon. Kredit: InsideOver

Kisah Joker (2019) beresonansi kuat dengan dunia nyata. Di Chile, anak muda yang memprotes ketimpangan dan neoliberalisme mulai menghadirkan wajah Joker di tengah aksi protes. Situasi serupa terjadi di Lebanon, Hongkong, dan Bolivia.

Pepe the Frog: Dipakai kaum kanan, lalu direbut kaum pro-demokrasi

Pepe the Frog pertama kali muncul pada tahun 2005 dalam komik daring berjudul Boy’s Club karya seniman Matt Furie. Dalam komik ini, Pepe adalah karakter katak yang santai dan apolitis. Salah satu panel paling terkenalnya menunjukkan Pepe sedang buang air kecil dengan celana melorot hingga mata kaki, dengan dialog ikonik: “feels good man” (terasa enak, bung). Pada awalnya, ia hanyalah karakter komik biasa yang dikenal di kalangan terbatas.

Pada pengujung 2000-an, karakter Pepe kemudian menyebar ke platform seperti Myspace dan 4chan. Wajahnya yang ekspresif membuatnya sangat mudah diadaptasi menjadi berbagai macam “reaction image”. Lahirlah berbagai varian Pepe: sad Pepe, smug Pepe (Pepe sombong), angry Pepe, dan lainnya. Pada titik ini, Pepe menjadi milik budaya internet secara umum.

Menjelang pemilihan presiden AS tahun 2016, kelompok alt-right (sebuah gerakan politik sayap kanan ekstrem di AS) secara sengaja “membajak” simbol Pepe. Mereka membanjiri internet dengan gambar-gambar Pepe yang dimodifikasi dengan simbol-simbol kebencian, seperti kumis Hitler, swastika, atau atribut Ku Klux Klan. Tujuannya adalah untuk mengasosiasikan karakter yang populer ini dengan ideologi nasionalis kulit putih, rasis dan anti-Semit.

Demonstran di Hongkong dengan meme Pepe the Frog. Kredit: Jakarta Post.

Upaya ini berhasil. Banyak media mulai menganggap Pepe sebagai simbol kebencian, dan pada 2016, organisasi Anti-Defamation League (ADL) secara resmi memasukkan Pepe ke dalam daftar simbol kebencian, meskipun dengan catatan penting: hanya jika digunakan dalam konteks rasis atau kebencian.

Di saat citra Pepe di Barat sedang terpuruk, sebuah kebangkitan tak terduga terjadi di belahan dunia lain. Selama protes besar pro-demokrasi di Hongkong pada 2019, Pepe the Frog diadopsi secara massal oleh para pengunjuk rasa muda. Dia menjadi simbol perjuangan demokrasi. Di jalanan Hongkong, Pepe muncul di mana-mana—di poster, stiker, selebaran, bahkan sebagai boneka yang dibawa saat unjuk rasa.

One Piece: Bendera bajak laut Topi Jerami

Di Indonesia, menjelang peringatan HUT Kemerdekaan ke-80 RI, di media sosial menggema seruan mengibarkan bendera bajak laut Topi Jerami anime dan manga ikonik, One Piece.

One Piece adalah sebuah seri manga (komik Jepang) yang ditulis dan diilustrasikan oleh Eiichiro Oda. Manga ini pertama kali terbit di majalah Weekly Shonen Jump pada Juli 1997 dan masih berlanjut hingga hari ini, menjadikannya salah satu manga terpanjang dan terlaris sepanjang masa. Ceritanya berpusat pada petualangan Monkey D. Luffy dan kru bajak lautnya, “Bajak Laut Topi Jerami,” dalam pencarian mereka menemukan harta karun legendaris bernama One Piece agar Luffy bisa menjadi Raja Bajak Laut.

Cerita utamanya berkisah pada petualangan anak laki-laki Monkey D Luffy yang memiliki kekuatan tubuh elastis seperti karet setelah secara tidak sengaja memakan buah iblis. Dia menginisiasi berdirinya Bajak Laut Topi Jerami.

Luffy berlayar dari kampung halamannya, Desa Foosha, melalui lautan yang berbahaya yang disebut Grand Line. Di sana, dia bertemu dengan banyak karakter yang berbeda dan unik.

Pada saat yang sama, dia mengumpulkan pasukan yang kuat, terdiri dari individu dengan keahlian dan semangat mereka sendiri. Lawan mereka adalah bajak laut jahat hingga pemerintah dunia (WG) yang korup. Ini bukan sekadar kerajaan jahat, melainkan sebuah sistem birokrasi global yang masif, dengan cabang militer (Angkatan Laut), badan intelijen (Cipher Pol), dan pemimpin bayangan (Gorosei) yang misterius. Mereka memanipulasi informasi dan sejarah (Abad Kekosongan).

Nah, di balik petualangan yang penuh komedi dan pertarungan seru itu, One Piece menyimpan narasi yang sangat dalam tentang perlawanan, kebebasan, dan ketidakadilan. Inilah yang beresonansi dengan semangat kaum muda yang juga bergulat dengan ketidakadilan di dunia nyata.

Di Indonesia, bendera bajak laut Topi Jerami bukan sekarang saja muncul sebagai aksi protes. Pada 20 Oktober 2023, bendera Topi Jerami sudah hadir di tengah-tengah aksi, bahkan berkibar di atas mobil komando, saat aksi mahasiswa memprotes kebijakan Presiden Joko Widodo.

Kemudian, saat aksi peringatan darurat pada Agustus 2024, di depan gedung DPR, bendera Topi Jerami juga berkibar. Aksi memperingati Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2024 juga diwarnai dengan kibaran bendera Topi Jerami.

Terbaru, saat sopir truk di berbagai daerah memprotes kebijakan Zero ODOL, bendera Topi Jerami ikut berkibar di truk-truk.

Kekuatan budaya populer dalam menginspirasi aksi protes terletak pada kemampuannya menyederhanakan ide-ide kompleks tentang keadilan, kebebasan, dan perlawanan ke dalam simbol-simbol yang mudah dikenali dan dipahami secara universal. Ia menawarkan bahasa visual yang melintasi batas-batas negara dan budaya, menyatukan individu-individu dalam sebuah perjuangan bersama untuk masa depan yang lebih baik.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Ozzy Osbourne: Mimbar bagi Mereka yang Tak Punya Tempat Bicara

Ozzy Osbourne: Mimbar bagi Mereka yang Tak Punya Tempat Bicara

Lewat lagu-lagu berat yang dinyanyikannya, Ozzy Osbourne menyelamatkan jutaan

Next
Garis Kemiskinan BPS Tak Memartabatkan Manusia

Garis Kemiskinan BPS Tak Memartabatkan Manusia

Badan Pusat Statistik (BPS) membawa kabar yang sepintas terdengar

You May Also Like
Total
0
Share