Che Guevara dan Impian Kedokteran Revolusioner

Pada Maret 1948, seorang anak muda kutu buku, pengagum puisi-puisi, dan penggemar permainan catur, memulai studi di Fakultas Kedokteran Universitas Buenos Aires, Argentina.

Anak muda itu bernama Ernesto Guevara de la Serna. Belakangan, ia dikenal dengan sapaan Che Guevara. Sejak usia dua tahun, Che didera penyakit asma kronis yang membuatnya terlambat menginjak sekolah dasar. Lantaran penyakit saluran pernapasan itu, ia menggebu-gebu ingin belajar kedokteran. Ia berpikir, jurusan itu mampu meluaskan wawasan soal penyakitnya.

Selain asma kronis, Che punya penyakit lain: rasa ingin tahu yang menggelembungkan ambisi berpetualang yang meluap-luap. Pada 1950, tahun ketiga di universitas, Che mengambil cuti setahun untuk bisa menjelajahi Argentina menggunakan sepeda biasa yang dipasangi mesin.

Setahun kemudian, bersama kawannya, Alberto Granado, Che memulai petualangan yang lebih panjang. Bermodalkan motor butut, Norton 500 cc, mereka menjelajahi Amerika Selatan sejauh 8.000 kilometer. Dari Argentina, Chile, Peru, Ekuador, Kolombia, Venezuela, Panamá, dan sempat singgah di Miami.

Che Guevara dan Alberto Granado sedang memperbaiki motor bututnya. Kredit: redaccionrosario.com

Petualangan itu membuka matanya. Sepanjang perjalanan ia menyaksikan kemiskinan, kelaparan, dan penyakit yang berebut menjangkiti kaum miskin. Sebuah kenyataan yang menampar idealisme seorang mahasiswa kedokteran.

“Saya melihat anak-anak yang tidak bisa diobati karena tidak punya uang. Sampai seorang ayah bisa menganggap kematian anaknya sebagai hal yang biasa saja,” kenangnya.

Di Chile, ia menyaksikan buruh tambang tembaga Chuquicamata yang dieksploitasi perusahaan asing. Di Peru, ia menyaksikan koloni penderita kusta yang terbuang secara sosial, dirundung stigma negatif, dan dicekik kemiskinan.

Sejak itu, ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran, tidak boleh menjadi menara gading. Tidak boleh menjadi kenikmatan pribadi yang hanya melayani yang berpunya. Sebaliknya, ilmu kedokteran harus bisa membantu rakyat, termasuk yang paling lemah.

Pada April 1953, Che berhasil menuntaskan gelar sarjana kedokteran. Begitu lulus, ia kembali berkelana, hingga terdampar di Negeri Pisang, Guatemala. Di negeri yang tak lebih luas dari Pulau Jawa itu, sekitar 550 ribu hektare tanahnya dikuasai perusahaan Amerika Serikat (AS), United Fruit Company, untuk bisnis pisang.

Pada awal 1951, Jacobo Árbenz, seorang tentara progresif, mulai berkuasa setelah memenangi pemilu secara demokratis. Begitu berkuasa, ia mendorong reforma agraria demi memberikan akses tanah ke petani gurem dan tak bertanah. Ternyata, agenda reforma agraria itu mengancam kepentingan United Fruit.

Akhir 1953, Che Guevara tiba di Guatemala. Ia bersukacita menyaksikan kebijakan progresif Arbenz yang mengangkat kehidupan rakyat jelata. Sang dokter yang baru lulus dari bangku kuliah ini pun bertekad membantu revolusi dengan menjadi dokter yang melayani kaum miskin. Ia mulai membangun mimpinya tentang dokter revolusioner.

Sayang, kudeta yang didalangi oleh CIA menggagalkan rencana itu. Pada 27 Juni 1954, Arbenz berhasil digulingkan dengan menggunakan tentara bayaran dan militer lokal. Meski sempat memanggul senjata bersama pemuda Guatemala untuk mempertahankan Arbenz, Che akhirnya memilih pergi ke Meksiko.

Di Negeri Sombrero itu, demi menyambung hidup, Che bekerja sebagai juru foto di Agencia Latina. Pada waktu yang beririsan, sejumlah anak muda revolusioner dari Kuba, termasuk dua bersaudara Fidel dan Raul Castro, baru saja tiba di Meksiko. Mereka sedang menepi sejenak usai keluar penjara akibat melakukan penyerbuan ke barak militer di Moncada.

Che Guevara di Guatemala, 1954. Kredit: Medium/Darío Alejandro Escobar

Suatu hari pada 1955, Che bertemu Nico Lopez, seorang pelarian politik Kuba yang sudah dikenalnya sejak di Guatemala. Lopez inilah yang berinisiatif mempertemukan Che dengan dua bersaudara, Fidel dan Raul Castro.

Pertemuan itu terjadi pada pertengahan Juni 1955. Setelah delapan jam berdiskusi tanpa putus, dengan Fidel Castro yang bersemangat menjelaskan situasi nasional dan internasional, revolusi Kuba, dan imperialisme AS, Che sepakat bergabung dengan gerakan anak-anak muda itu. Nama gerakannya, Gerakan 26 Juli.

Pada 24 November 1956, petualangan pun dimulai. Bersama 80 pejuang lainnya, Che dan Fidel menumpangi kapal kecil bernama Granma untuk memasuki Kuba. Setelah tujuh hari diguncang ombak di tengah laut, mereka tiba di Playa Las Coloradas, Kuba.

Sial, kedatangan mereka terendus aparat Fulgencio Batista, yang langsung mengirimkan infanteri dan pesawat tempur untuk menyergap. Dari 80-an pejuang, hanya 21 orang yang berhasil selamat, termasuk Che, Fidel, dan Raul.

Setelah dua tahun lebih bergerilya, Che dan kawan-kawan meraih kemenangan gemilang tepat di malam tahun baru 1959. Selain keunggulan taktik politik, mereka juga memiliki kecanggihan taktik militer. Sekelompok anak muda kelas menengah, yang mengangkat senjata karena kemarahan atas kediktatoran dan ketidakadilan, bisa mengalahkan rezim yang didukung oleh militer bersenjata modern dan AS.

Menariknya, begitu revolusi menang, Che langsung berusaha membumikan idenya tentang dokter revolusioner. Pada Agustus 1960, di hadapan milisi dan pekerja medis, Che berpidato menyampaikan pidato “On Revolutionary Medicine” (El Médico Revolucionario).

Inti gagasannya dua. Pertama, Che menekankan pendekatan pencegahan sebelum pengobatan. Mungkin istilah sekarang yang mendekati adalah kedokteran preventif. “Prinsip perjuangan melawan penyakit harus didasarkan pada penciptaan tubuh yang kuat,” katanya.

Kedua, merevolusi ilmu kedokteran sehingga mudah diakses oleh semua orang, termasuk anak-anak buruh dan petani. Ilmu kedokteran bukan lagi privilege kaum elite dan seringkali hanya melayani kaum berpunya.

“Beberapa bulan lalu di Havana, sekelompok dokter yang baru lulus tidak mau pergi ke daerah pedesaan dan menuntut imbalan dulu sebelum setuju,” kata Che.

Bagi Che, ilmu kedokteran harus direvolusionerkan, sehingga pintu-pintu Fakultas Kedokteran terbuka selebar-lebarnya kepada siapa saja, termasuk untuk anak-anak buruh, petani, dan kelompok paling marginal.

Che Guevara mengunjungi Madrid, 1959. Kredit: Pinterest

Che punya mimpi besar: “Anak-anak petani-petani itu akan berlari segera, dengan antusiasme tanpa ragu sedikit pun, untuk membantu saudara-saudara mereka. Mereka akan meminta pekerjaan paling sulit dan paling bertanggung jawab, untuk menunjukkan bahwa tahun-tahun belajar yang mereka terima tidak sia-sia.”

Tak sampai setahun pasca pidato Che itu, Kuba menasionalisasi semua lembaga pendidikan swasta, termasuk sekolah kesehatan dan perguruan tinggi.

Setelah menasionalisasi pendidikan swasta, meski secara ekonomi masih compang-camping, Kuba mulai menggratiskan pendidikan di semua jenjang pendidikan, termasuk perguruan tinggi. Sejak revolusi 1959, rasio anggaran pendidikan Kuba terhadap PDB-nya selalu di atas 6 persen. Bahkan, dalam satu dekade, dari 2010 hingga 2018, rasionya rata-rata 12 persen.

Selain itu, seiring dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kesehatan, Kuba membangun banyak sekolah kedokteran dan perawat. Memang agak tertatih-tatih karena anggarannya terbatas. Tahun 1962, sekolah kedokteran baru dibuka di Provinsi Santiago dan Santa Clara. Di tahun 1969, Kuba sudah punya 20-an sekolah perawat yang berdiri di berbagai provinsi.

Pada 1970, satu dekade pasca revolusi, rasio dokter Kuba mulai meningkat: 8,2 dokter per 10.000 penduduk. Dan sekarang, setelah lebih dari setengah abad revolusi, rasio dokter Kuba merupakan yang tertinggi di dunia: 85.05 per 10.000 penduduk.

Bandingkan dengan AS, negara paling kaya di dunia, rasio dokternya hanya 3,04 per 10.000 penduduk. Sementara Indonesia, negara yang kaya sumber daya alam, rasio dokternya hanya 0,7 per 10.000 penduduk.

Dengan sistem kesehatan yang membaik, Kuba mulai berkontribusi pada sistem kesehatan dunia. Pada 1999, Kuba mendirikan Sekolah Kedokteran Amerika Latin atau Escuela Latinoamericana de Medicina (ELAM). Dengan 19.550 mahasiswa dari lebih dari 110 negara, ELAM juga menerapkan pendidikan gratis. Banyak mahasiswa dari keluarga miskin di AS belajar di ELAM.

Seiring dengan meningkatnya tenaga kesehatan, Kuba juga mulai mempraktikkan kesehatan preventif. Pada 1984, Kuba memperkenalkan konsep Medicina General Integral (MGI), yang menghadirkan layanan kesehatan berbasis komunitas. Program ini fokus pada penciptaan lingkungan sehat dan menjauhkan rakyat dari penyakit.

Ujung tombak dari program ini adalah dokter keluarga (Programa del Médico y la Enfermera de la Familia). Konsepnya sederhana: dokter tinggal langsung di tengah-tengah rakyat. Biasanya, mereka tinggal di sebuah rumah, yang selain tempat tinggal juga punya peralatan layanan kesehatan dasar. Setiap dokter keluarga melayani 100 keluarga.

Che Guevara di Candi Borobudur, 1959.

Kemudian, setiap komunitas, semacam RT atau RW di Indonesia, ada yang disebut “consultorio”. Setiap consultorio terdiri dari dokter dan beberapa staf, yang langsung melayani penduduk di sekitarnya. Setiap consultorio melayani sekitar 1.000-1.500 pasien.

Selain itu, untuk mengefektifkan daya jangkaunya, consultorio didukung oleh policlínicos, yang memastikan layanan kesehatan 24 jam. Policlínicos melibatkan tenaga kesehatan, spesialis dan masyarakat setempat yang terlatih.

Jangan anggap policlínicos hanya poliklinik biasa. Sejak tahun 2002, policlínicos memberi 22 jenis layanan seperti rehabilitasi, X-ray, USG, optometri, endoskopi, trombolitik, laboratorium klinis, imunisasi, perawatan ibu dan anak, keluarga berencana, diabetes, hingga perawatan lansia.

Memang, ada kritik soal infrastruktur kesehatan Kuba, misalnya soal bangunan, bed, dan gaji kesehatan yang rendah. Tanpa bermaksud menormalisasi kekurangan itu, tetapi embargo ekonomi sangat berdampak buruk pada Kuba. Sejak 1962, negara ini mengalami embargo total oleh AS. Embargo menyulitkan Kuba mengimpor peralatan medis dari AS maupun Eropa. Selain itu, embargo merusak ekonomi Kuba. Akibat embargo itu, Kuba diperkirakan menderita kerugian sebesar USD 1,4 triliun atau Rp 24,805 kuadriliun.

Menariknya, dalam situasi serba sulit, sistem kesehatan Kuba tetap berhasil mendorong inovasi. Pusat Imunologi Molekuler Kuba mengembangkan CIMAvax-EGF, vaksin terapeutik pertama di dunia untuk kanker paru-paru. Berbeda dari vaksin pencegah penyakit pada umumnya, vaksin ini bekerja pada pasien yang sudah terdiagnosis. Ia membantu sistem imun tubuh mengenali dan menyerang sel tumor, memperlambat pertumbuhan kanker dan memperpanjang harapan hidup pasien stadium lanjut hingga berbulan-bulan, bahkan lebih lama.

Vaksin ini telah tersedia gratis bagi seluruh warga Kuba sejak 2011. Di AS, ia masih dalam tahap uji klinis. Sejumlah pasien AS yang kehabisan pilihan rela melanggar embargo demi terbang ke Havana dan mendapatkan pengobatan yang tidak diizinkan di negara mereka sendiri.

Pada 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan sesuatu yang luar biasa. Kuba disebut sebagai negara pertama di dunia yang berhasil mengeliminasi penularan HIV dan sifilis dari ibu ke bayi baru lahir. WHO menyebutnya sebagai salah satu pencapaian kesehatan masyarakat terbesar yang mungkin dicapai manusia.

Kuba juga sangat sukses dalam menekan angka kematian balita. Berdasarkan data WHO dan UNICEF, tingkat kematian anak di bawah lima tahun di Kuba berada di kisaran 4 hingga 5,5 per 1.000 kelahiran hidup, lebih baik dari AS yang mencatat angka sekitar 6,5.

Program imunisasi Kuba juga salah satu yang paling sukses di dunia. Program imunisasi nasionalnya kini melindungi anak-anak dari 13 penyakit sekaligus: polio, tifus, tetanus, difteri, batuk rejan, rubela, campak, gondok, tuberkulosis, hepatitis B, haemophilus influenza B, meningitis B, dan meningitis C. Vaksin meningitis B bahkan dikembangkan sendiri oleh ilmuwan Kuba ketika negara-negara lain belum memilikinya. Cakupan vaksinasi campak mencapai 100 persen pada 2022.

Sejak 1962, Kuba berhasil memerangi polio. WHO dan PAHO secara resmi menyertifikasi eliminasi polio di Kuba pada 1994, dan menjadikan Kuba salah satu negara pertama di dunia yang mencapai hal ini.

Enam penyakit menular lainnya, tetanus neonatal, difteri, campak, batuk rejan, dan rubela, telah dieradikasi dari Kuba. Di banyak negara berkembang, penyakit-penyakit ini masih merenggut ribuan nyawa anak setiap tahunnya. Indonesia sendiri masih menjadi negara dengan penderita campak terbesar kedua dunia.

Selain itu, karena tenaga kesehatan melimpah dan keberpihakan pada kemanusiaan, sejak 1960 Kuba aktif mengirim tenaga kesehatan untuk berbagai misi kesehatan di negara-negara yang terdampak bencana alam dan wabah penyakit.

Pada 2005, Fidel Castro membentuk Brigade Henry Reeve, nama tentara AS yang berjuang bagi kemerdekaan Kuba, untuk misi kemanusiaan internasional.

Pada 2017, Brigade Henry Reeve telah melayani lebih dari 3,5 juta orang dan menyelamatkan sekitar 80 ribu jiwa di 45 negara dan lima wilayah non-otonom. Secara keseluruhan, Kuba punya 55 ribu dokter, yang disebut pasukan berjas putih, yang melakukan kerja kemanusiaan di 66 negara.

Indonesia pernah mendapat manfaat dari brigade kesehatan Kuba. Pada 2004, saat gempa dan tsunami menyebabkan ratusan ribu jiwa di Aceh, Kuba merupakan salah satu negara terdepan yang langsung mengirim 25 tim dokter ke Aceh. Kemudian, pada 2006, ketika gempa berskala 6,3 menghantam Yogyakarta dan Jawa Tengah, Brigade Henry Reeve mengirim 76 dokter dan tenaga kesehatan dan mendirikan dua rumah sakit lapangan untuk merawat korban.

Begitulah, mimpi Che soal dokter revolusioner tak hanya mengubah derajat kesehatan Kuba menjadi salah satu yang terbaik di dunia, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan dunia.

Sayang, negeri ini dicekik embargo ekonomi selama enam dekade, hingga menghambat kemajuan ekonomi dan sosialnya. Bayangkan, jika tak ada embargo ekonomi, mungkin lompatan kemajuan Kuba akan seperti Tiongkok atau Vietnam.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Politik Sukarno di Asian Games 1962

Politik Sukarno di Asian Games 1962

Sukarno pantas merasa bangga

Next
81 Tahun NRI, Ketika Redistribusi Tak Menjadi Napas Republik

81 Tahun NRI, Ketika Redistribusi Tak Menjadi Napas Republik

NRI justru terdengar asing

You May Also Like
Total
0
Share