Cerita Lidah Menjulur Albert Einstein

Bayangkan seorang genius fisika, pencetus teori relativitas yang mengubah pemahaman kita tentang ruang dan waktu, tiba-tiba menjulurkan lidah seperti anak kecil nakal. Itulah potret ikonik Albert Einstein yang telah menjadi simbol keceriaan abadi. Foto hitam-putih itu bukan sekadar gambar lucu. Ia juga menyimpan cerita tentang kepribadian pemberontak, pandangan politik tajam, dan momen spontan yang tak terlupakan.

Diambil pada 14 Maret 1951, saat ulang tahunnya ke-72, foto ini telah direproduksi jutaan kali—dari poster hingga kaos oblong—membuat Einstein tak hanya dikenal sebagai ilmuwan, tapi juga ikon budaya pop.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat lidah itu menjulur? Mari kita telusuri konteksnya, dari latar belakang hidup Einstein hingga makna mendalam di balik gestur sederhana itu.

Albert Einstein lahir pada 14 Maret 1879 di Ulm, Jerman, dalam keluarga Yahudi sekuler. Sejak muda, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa, meski sering dianggap “lambat” oleh guru-gurunya karena sifat pemberontaknya terhadap otoritas.

Pada 1905, tahun ajaibnya, Einstein menerbitkan empat makalah revolusioner, termasuk teori relativitas khusus yang melahirkan rumus ikonik E=mc². Penghargaan Nobel Fisika 1921 diberikan padanya atas penjelasan efek fotolistrik, bukan relativitas, tapi itu cukup untuk mengukuhkannya sebagai bintang sains. Namun, kehidupan Einstein tak lepas dari gejolak politik.

Pada 1933, saat Nazi naik ke kekuasaan, Einstein yang anti-fasisme memilih eksil ke Amerika Serikat (AS). Ia meninggalkan Jerman karena ancaman anti-Semit, dan bukunya dibakar dalam aksi Nazi. Di AS, ia bergabung dengan Institute for Advanced Study di Princeton, New Jersey, di mana ia menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada 1955.

Perang adalah penyakit kekanak-kanakan umat manusia, seperti campak.

Albert Einstein, fisikawan peraih Nobel Fisika 1921.

Einstein bukan hanya ilmuwan; tapi juga aktivis perdamaian seumur hidup. Pandangannya terhadap perang sangat tegas: “Perang adalah penyakit kekanak-kanakan umat manusia, seperti campak,” katanya. Sebagai pacifist, ia menolak nasionalisme dan militarisme, mendukung federalisme global dan hukum dunia untuk mencegah konflik. Ia pernah menandatangani manifesto anti-perang selama Perang Dunia I, meski itu membuatnya dikucilkan rekan-rekannya di Jerman.

Saat Hitler berkuasa, Einstein meninggalkan pacifisme absolutnya; ia mendukung perlawanan terhadap fasisme, bahkan menulis surat ke Presiden Roosevelt pada 1939 yang memicu Proyek Manhattan—meski kemudian menyesali bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Ia juga aktif dalam hak sipil, mendukung W.E.B. Du Bois melawan rasisme di AS, dan menentang McCarthyisme selama Perang Dingin. Kritikannya terhadap kapitalisme membuatnya mendukung sosialisme, dengan keyakinan bahwa sistem itu bisa memperbaiki ketidakadilan masyarakat.

Kembali ke momen lidah menjulur. Pada 14 Maret 1951, Einstein merayakan ulang tahunnya di Princeton Club. Acara sederhana itu dihadiri rekan-rekan dari Institute for Advanced Study, termasuk Direktur Frank Aydelotte dan istrinya, Marie. Malam itu penuh tawa dan diskusi intelektual, tapi di luar gedung segerombolan paparazzi menunggu.

Einstein, yang sudah berusia 72 tahun, terkenal benci publisitas. “Saya bukan orang yang suka gosip atau kehidupan pribadi diumbar,” katanya suatu kali. Ia sering mengeluh tentang “hiruk-pikuk” media yang mengganggu ketenangannya. Untuk menghindari mereka, Einstein, Frank, dan Marie bergegas ke limusin yang telah menunggu.Tapi, para fotografer tak menyerah. Salah satunya, Arthur Sasse dari United Press International (UPI), berteriak: “Hei Profesor, senyum dulu untuk foto ulang tahun!” Einstein, yang sudah lelah tersenyum sepanjang malam, jengkel. Alih-alih berpose formal, ia spontan menjulurkan lidahnya ke arah kamera—gestur singkat yang langsung diabadikan Sasse.

Foto asli menunjukkan Einstein diapit Frank dan Marie, dengan rambut khas acak-acakan, mata melotot, dan lidah menjulur. Rekan Sasse ragu mempublikasikannya, khawatir dianggap tidak sopan terhadap ilmuwan sekaliber Einstein. Tapi, foto itu akhirnya dirilis dan menjadi sensasi. Yang menarik, popularitas foto ini justru datang dari Einstein sendiri. Ia begitu menyukainya hingga memesan sembilan salinan dari UPI. Einstein menggunting bagian Frank dan Marie, meninggalkan dirinya sendirian dalam bingkai, dan mengirimkannya sebagai kartu ucapan ke rekan-rekan dan teman-temannya.

Lidah yang terjulur mencerminkan pandangan politik saya.

Surat Albert Einstein kepada Johanna Fantova

Kepada Howard K. Smith, seorang jurnalis, ia menulis: “Gestur ini akan Anda sukai, karena ditujukan kepada seluruh umat manusia. Seorang warga sipil bisa melakukan apa yang tak berani dilakukan diplomat.” Lebih dalam lagi, kepada Johanna Fantova, sahabat dekat dan kurator manuskrip Princeton, Einstein menjelaskan: “Lidah yang terjulur mencerminkan pandangan politik saya.”

Gestur itu bukan sekadar lelucon; ia adalah pernyataan anti-otoritas, simbol pemberontakan terhadap norma kaku masyarakat dan politik yang menindas. Foto ini mengungkap sisi manusiawi Einstein: jenaka, anti-konvensi, dan penuh semangat. Dalam era Perang Dingin, di mana ketakutan nuklir menyelimuti dunia, gestur itu seperti pengingat bahwa bahkan genius pun bisa mengejek absurditas kehidupan.

Hari ini, foto itu telah terjual hingga USD 125.000 di lelang, dan menjadi inspirasi seni pop, seperti karya Andy Warhol. Ia mengingatkan kita bahwa di balik rumus-rumus rumit, Einstein adalah manusia yang mencintai perdamaian, kebebasan, dan sedikit kenakalan.

Momen lidah menjulur itu bukan akhir dari cerita Einstein, ia adalah jendela ke jiwa seorang visioner yang tak pernah berhenti menantang dunia. Seperti teori relativitasnya, foto ini membuktikan bahwa segala sesuatu relatif—bahkan senyuman seorang jenius bisa berubah menjadi lidah menjulur yang abadi.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Perbatasan RI-Malaysia di Era Prabowo: Antara Etalase Kedaulatan dan Jurang Ketidakpastian

Perbatasan RI-Malaysia di Era Prabowo: Antara Etalase Kedaulatan dan Jurang Ketidakpastian

Di bawah bayang-bayang harapan akan sebuah “etalase negara” yang

Next
Jalan Sudewo Menuju Terungku KPK

Jalan Sudewo Menuju Terungku KPK

Berbalut rompi tahanan oranye bernomor 102 dengan tangan terborgol, langkah

You May Also Like
Total
0
Share