Mencari Jejak Tan Malaka di Rawajati

Pagi terasa dingin di pengujung November 2025. Sisa hujan semalam masih meninggalkan genangan dan basah di jalanan di sekitar Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan. Udara merayap menusuk pori-pori kulit, meski jam di ponsel saya sudah menunjukkan pukul 06.20 WIB. Pagi itu, Jakarta mulai menggeliat; deru mesin KRL dan klakson kendaraan di jalan raya menciptakan simfoni bising.

Namun, langkah kaki saya hari itu tidak sedang memburu kereta. Saya datang ke Rawajati, dengan semangat yang membara, untuk menelusuri kembali jejak Ibrahim Datuk Tan Malaka, sang revolusioner yang menjahit pertama sekali gagasan Republik Indonesia. Di daerah Rawajati itu, delapan dekade silam, sang begawan revolusi Indonesia itu berjuang di bawah tanah, sekaligus menuliskan mahakarya yang terkenal: Madilog.

Satu dekade lalu, saat pertama kali saya menyelami Madilog, Tan menuliskan sebuah catatan kaki yang terus mengusik ingatan saya:

”Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Di sini saya berdiam dari 15 Juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 Juli 1942 sampai dengan 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari.”

Bermodalkan Google Maps, saya mencari Gang Tan Malaka. Dari Stasiun Kalibata, saya menyusuri Jalan Rawajati Timur arah Pasar Minggu. Setelah beberapa ratus meter, saya berbelok ke Gang Kober. Berjalan tak sampai 100 meter, saya berbelok ke kanan menuju Gang Tan Malaka. Dan tak lama, saya bertemu plang bertuliskan ”Gg Tan Malaka II”.

Plang Gang Tan Malaka II yang terletak di gang dari arah Gang Kober, Rawajati, Pancoran.

Gang itu sangat sempit, hanya bisa dilalui motor. Pagi itu sunyi. Hanya seorang tukang ketoprak yang melintas dengan bunyi piring beradu, karena gerobaknya harus melompati gundukan yang melintang. Usai melempar senyum, saya menyusuri Gg Tan Malaka II. Di ujung, saya bertemu Jalan Rawajati II.

Setelah itu, saya berusaha mencari Gg Tan Malaka I. Langkah kaki saya berlanjut membelah keriuhan pasar kaget Rawajati, yang khas dengan denyut kehidupan rakyat jelata, dan akhirnya menemukan plang bertuliskan ”Gg Tan Malaka I”.

Rawajati sudah bersalin rupa. Daerah itu kini menjadi kawasan pemukiman yang padat. Pabrik sepatu, yang dulu dijadikan Tan sebagai patokan, kini sudah tidak ada. Manajemen pabrik sepatu merek Bata itu sudah menjual pabriknya pada 2009, lalu pindah ke Purwakarta. Lokasi pabrik itu kini berganti menjadi apartemen megah Kalibata City.

Saat menyusuri Gg Tan Malaka I, saya merasakan jejak samar. Kepada seorang warga yang sedang mengecek sepeda motornya, saya memantik tanya tentang di mana persisnya sang revolusioner asal tanah Suliki, Sumatera Barat, itu pernah menapakkan kaki.

“Oiya, dia (Tan Malaka) memang pernah tinggal di sini. Dulu, karena dekat dengan pabrik sepatu, kawasan ini punya banyak tempat kos,” ujar Supriyanto, nama warga itu yang umurnya saya taksir sekitar 45 tahun.

Gang Tan Malaka I, dari jalan Rawajati II yang juga menjadi lokasi pasar Kaget Rawajati.

Menurutnya, nama Gang Tan Malaka itu sudah ada sejak 1950-an. Namun, di masa Orde Baru, namanya Gang Malaka. Sejak itu, jejak Tan Malaka pun samar di Rawajati. Tak banyak yang tahu kalau Gang Malaka itu berasal dari nama tokoh kiri Tan Malaka.

“Baru pada 2010, setelah kunjungan peneliti Belanda, nama gang itu kembali menjadi Tan Malaka,” ujarnya. Nama peneliti itu adalah Harry Poeze, yang meneliti Tan Malaka selama lebih dari lima dekade.

Supriyanto pun mengajak saya untuk melihat rumah yang diklaim sebagai tempat ngontrak Tan Malaka di Rawajati. Rumah itu kini ditinggali oleh keluarga Ibu Sianturi selama hampir tiga dekade. Sayang, saat saya berkunjung, pintu rumah itu masih tertutup rapat.

Menurut Supriyanto, rumah itu sudah berganti-ganti pemilik. Ibu Sianturi merupakan pemilik keempat. Selain itu, rumah itu sudah beberapa kali mengalami pemugaran, sehingga sudah kehilangan bentuk aslinya. Konon, sang pemilik tak tahu jika rumah yang ditempatinya punya nilai historis yang besar.


Sejak 1922, Tan Malaka mengalami pembuangan politik. Sejak itu, dalam rentang waktu 20 tahun, Tan mengembara dari Amsterdam dan Rotterdam (Belanda), lalu ke Berlin (Jerman), lanjut ke Moskow (Rusia), kemudian ke Kanton dan Amoy (Tiongkok), Manila (Filipina), Singapura, Bangkok (Thailand), dan Penang (Malaysia.

Pada 1942, langkahnya kembali ke Tanah Air. Pertama kali, ia tiba di Sumatera, lalu menuju Jakarta. Di Jakarta, Tan kemudian menyewa sebuah gubuk di Rawajati. Biaya sewanya 2 gulden. Ia memakai nama samaran Ilyas Husein.

“Tiada jauh dari pabrik sepatu Kalibata, saya menyewa salah satu bilik dalam jejeran bilik yang disewakan kepada kaum pekerja dalam pabrik tersebut. Panjangnya bilik itu tidak lebih daripada 5 meter dan lebarnya lebih kurang 3 meter. Dindingnya pelupuh dan atapnya sebagian genteng dan sebagian jalinan daun rumbia,” tulis Tan dalam buku otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara Jilid II.

Di rumah itu, selain menghindar dari intaian militer Jepang dan antek-anteknya, Tan mencurahkan pemikirannya menjadi sebuah buku yang kelak menjadi masterpiece-nya: Madilog―singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika.

Buku itu berhasil ia selesaikan selama kurang lebih delapan bulan, terhitung dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943. Setiap hari, dari jam 06.00 pagi hingga pukul 12.00 siang, ia berjibaku dengan pemikirannya. Untuk menambah referensi, ia kerap menyambangi Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen—sekarang Museum Nasional.

Pabrik sepatu Bata di Kalibata pada 1970. Pabrik inilah yang menjadi titik patokan Tan Malaka untuk titik koordinat tempat tinggalnya di Rawajati. Kredit: Thomasbata.org

Menariknya, agar kehadirannya tak mudah terendus, Tan memilih jalan kaki. Ia berangkat ke musuem sejak pagi buta dan tiba di lokasi kira-kira jam 09.00 pagi. Sepanjang perjalanan, ia menyaksikan dari dekat kehidupan rakyat jelata. ”Sorenya kembali jalan kaki menuju sarang saya di Kalibata,” tulis Tan dalam autobiografinya, Dari Penjara ke Penjara Jilid II.

Namun, lama-kelamaan aktivitas Tan di Rawajati itu terendus. Asisten Wedana Pasar Minggu dan polisi pernah datang dua kali dan menggeledah gubuknya. Beruntung, mereka tak menemukan apa-apa. Rupanya, sebelum penggeledahan, Tan sudah menyembunyikan kertas-kertasnya di kandang ayam.

Lantaran aktivitasnya sudah terendus, ditambah biaya hidup yang semakin menipis, Tan hijrah ke Banten untuk mencari tempat tinggal baru sekaligus pekerjaan. “Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang Arang, Bayah. Di sinilah saya mendapat pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha biasa,” tulisnya.

Jejak Tan Malaka di Rawajati tidak hanya menyisakan cerita, tetapi juga sebuah karya masterpiece Madilog. Sebuah karya yang berusaha memandu bangsa ini dalam berpikir, dengan menyingkirkan cara berpikir mistis, dan memperkenalkan cara berpikir yang maju: materialisme, dialektika, dan logika. Bagi Tan, Madilog ibarat tongkat Nabi Musa untuk membelah lautan logika mistika yang masih menjangkiti bangsa Indonesia.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kapitalisme Media, Bisakah Crowdfunding Menyelamatkan Jurnalisme Publik?

Kapitalisme Media, Bisakah Crowdfunding Menyelamatkan Jurnalisme Publik?

Di sebuah sudut ruang redaksi yang kini lebih sering sunyi, denting papan ketik

Next
Bunda Maria, Keberanian Moral, dan Krisis Etika Bangsa

Bunda Maria, Keberanian Moral, dan Krisis Etika Bangsa

Natal mengingatkan kita pada satu fakta yang sering diabaikan dalam wacana

You May Also Like
Total
0
Share