Banjir dan Longsor Terjang Sumatera: Krisis Ekologi dan Minimnya Mitigasi

Hujan deras tak henti sejak 24 November mengguncang Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. BPBD Sumatera Utara mencatat 13 kabupaten/kota terdampak, dari Langkat hingga Deli Serdang, dengan total 48 orang meninggal dan 88 orang hilang. Titik terparah adalah Sibolga, Tapanuli Tengah, Tananuli Selatan, dan Tapanuli Utara.

Di Aceh, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) pada Kamis (27/11), banjir dan longsor menyebabkan 30 korban jiwa dan puluhan orang masih hilang. Daerah utama yang terdampak adalah Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, dan Aceh Tenggara.

Di Sumatera Barat, korban sudah mencapai 21 orang dan puluhan orang masih hilang. Daerah paling terdampak adalah Padang, Agam, Tanah Datar, Pesisir Selatan, Pasaman, Bukittinggi.

Banjir dan longsor juga menggulung rumah, menerjang jembatan dan akses jalan, menghancurkan infrastruktur, dan menghilangkan tidak sedikit unit usaha yang menjadi sumber penghidupan warga.

Bencana siklon tropis

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa bibit siklon tropis 95B yang terbentuk sejak 21 November di perairan timur Aceh, Selat Malaka, serta siklon tropis KOTO di Laut Sulu, menjadi pemicu utama meningkatnya intensitas hujan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani menerangkan, meski Indonesia berada di dekat ekuator yang biasanya kurang mendukung siklon tropis, namun dalam lima tahun terakhir fenomena siklon semakin sering terbentuk di sekitar wilayah Nusantara.

Sementara Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menyebut, “Deretan banjir bandang dan longsor dipicu curah hujan ekstrem akibat pengaruh siklon tropis Senyar yang meningkatkan hujan lebat di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, dan sekitarnya”.

Hujan ekstrem tidak hanya dipicu siklon. Pada saat bersamaan, wilayah barat Indonesia tengah berada dalam fase Indian Ocean Dipole (IOD) negatif, yang membuat uap air dari Samudra Hindia tertarik lebih banyak ke atmosfer Indonesia. Kombinasi ini menyebabkan intensitas hujan meningkat di luar pola musim normal.

Topografi juga memperparah kondisi. Pegunungan curam dan tanah labil di Tapanuli, Aceh, dan Sumatera Barat membuat wilayah tersebut cepat jenuh air. Ketika hujan turun terus-menerus, lereng yang rapuh tak lagi mampu menahan beban. Longsor pun terjadi secara serentak di banyak titik, mengubur jalan nasional dan memutus hubungan antarkota.

Bencana ekologis

Namun, faktor hujan ekstrem bukan satu-satunya penyebab mengapa bencana banjir dan longsor begitu destruktif, sehingga menelan banyak korban jiwa dan menerjang banyak tempat.

Fenomena paling mencolok adalah banjir lumpur bercampur tumpukan kayu gelondongan. Di Batangtoru, Tapanuli Selatan, kayu-kayu besar tanpa kulit hanyut bersama arus, diduga sisa penebangan di hulu sungai. Video viral dari Sibolga-Tapteng memperlihatkan sungai berubah menjadi jalur pengangkutan kayu raksasa.

Untuk diketahui, tingkat deforestasi berlangsung sangat masif di wilayah Sumatera Utara. Dari 2002 sampai 2024, Sumatera Utara kehilangan 390 kha hutan primer basah, menyumbang 25 persen dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Sumatera Utara berkurang 19 persen dalam periode waktu ini.

Peneliti Limnologi BRIN, Fakhrudin, menyebut pembangunan dan penebangan hutan yang masif turut memperparah efek hujan ekstrem dan angin kencang. Menurutnya, penggundulan hutan membuat erosi tanah meningkat.

Tanah yang terbawa air kemudian akan meningkatkan sedimentrasi, membuat sungai menjadi keruh dan dangkal. Akibatnya, saat hujan deras turun, sungai tak lagi mampu menampung air sehingga potensi banjir meningkat.

“Itu sudah mengubah sifat-sifat permukaan tanah. Dulu [sungai] ada legok, sekarang jadi lurus,” kata Fakhrudin, dikutip BBC Indonesia, 28 November 2025.

Kelalaian pemerintah: Peringatan tak dihiraukan

BMKG sudah mengeluarkan peringatan dini tentang potensi hujan ekstrem sejak pertengahan November. Namun, tidak ada langkah mitigasi berarti: menghidupkan sistem peringatan dini, evakuasi warga di bantaran sungai, penyiapan jalur evakuasi, penyiapan posko-posko darurat, dan penyiapan tempat pengungsian yang aman.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution sendiri mengakui, “Informasi mengenai potensi cuaca ekstrem sudah disampaikan jauh-jauh hari melalui BMKG. Tolong kepala daerah lebih aware”. Pernyataan itu justru menyingkap kelalaian: peringatan ada, tetapi tindakan tak kunjung terlihat nyata.

Di media sosial, seorang warga menyebut sebagai ”bencana kepemimpinan”. Menurutnya, ketika BMKG sudah mengeluarkan peringatan berulang-kali, para pejabat tidak menyiapkan langkah mitigasi.

”Banjir yang sudah terprediksi itu bukan bencana alam, itu tragedi kepemimpinan. Ini akibat pemerintah yang tidak pernah membaca data. Ini pemerintah yang tak punya kompetensi,” kata pengguna media sosial, Engran Silalahi.

Cermin krisis ekologis

Banjir dan longsor di Sumatera bukan sekadar bencana alam. Ia adalah cermin dari krisis ekologis dan kelalaian birokrasi. Siklon tropis memang membawa hujan, tetapi hutan yang digunduli dan pemerintah yang lalai menjadikannya tragedi.

Di tepi sungai yang kini penuh lumpur dan kayu gelondongan, seorang ibu mencari anaknya yang hilang. Ia berbisik, “Air ini membawa bukan hanya rumahku, tapi juga hutan yang dulu melindungi kami.”

Tragedi Sumatera adalah peringatan: tanpa hutan, tanpa mitigasi, hujan bisa berubah menjadi ratapan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
QRIS dan Perlunya Dukungan terhadap Inovasi Anak Bangsa

QRIS dan Perlunya Dukungan terhadap Inovasi Anak Bangsa

Di panggung internasional, sorotan kamera menangkap senyum Presiden RI ke-7 Joko

Next
Elite Papua dan Sikapnya pada Transmigrasi

Elite Papua dan Sikapnya pada Transmigrasi

Program transmigrasi, sebuah kebijakan berusia seabad yang dirancang untuk

You May Also Like
Total
0
Share