Reformasi yang kini berusia 27 tahun, menyisakan luka dalam bagi bangsa ini. Anak-anak muda terbaik negeri ini banyak menjadi korban. Menyingkirkan rasa takut, mereka bergerak menumbangkan rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto.
Ada yang gugur diterjang peluru aparat, ada pula yang hilang diculik tanpa diketahui lagi keberadaannya. Di antara 13 orang yang masih hilang, terdapat aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD): Wiji Thukul, Suyat, Herman Hendrawan dan Petrus Bima Anugerah. Satu aktivis lainnya, Leonardus Nugroho Iskandar alias Gilang, ditemukan tewas di Hutan Watu Ploso, Magetan.
Memperingati momen ketika PRD dideklarasikan 29 tahun lalu, artikel ini kami turunkan untuk menghormati jejak perjuangan mereka.
12 Februari 1998, di tengah malam buta, dengan menumpang dua mobil Kijang, beberapa orang mengaku dari Polres Sragen mendatangi rumahnya di Kampung Gemolong. Kepada Suyadi dan Suyatno, mereka menyatakan mencari Suyat…
Setelah itu, Suyat bagai lenyap ditelan bumi. Kala itu, bapaknya, Paimin yang tak habis mengerti atas penangkapan itu, kerap dihantui mimpi buruk. Keluarganya juga masih menyimpan ngeri. Mereka tak cukup paham aktivitas Suyat. Setahu mereka, putra bungsu yang lahir di Dusun Banjarsari, Gemolong, Sragen pada 1 Oktober 1975 itu, biasa-biasa saja.
Meski agak pemalu, Suyat cukup pintar bergaul. Terbukti ia memiliki banyak kawan. Suyat tak pernah punya musuh. Sebagai satu-satunya pemuda dari kampungnya yang meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi, ia cukup menonjol. Suyat mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Solo.
Wajar, jika orangtuanya amat bangga dan menambatkan harapan lebih padanya. Itu juga yang kerapkali melahirkan bimbang bagi Suyat pada awal-awal perkenalannya dengan gerakan rakyat. Namun, pada akhirnya, ia berhasil menemukan keyakinan itu. Panggilan kerja bersama rakyat lebih bertalu di dadanya. “Prestasi akademis memang penting. Gelar sarjana memang berharga. Tapi tanpa demokrasi, kami tidak butuh keduanya,” tutur seorang pemimpin mahasiswa Tiongkok yang sempat ditembus peluru dalam Tragedi Tiananmen. Kata-kata itu menjadi inspirasi baginya.
Ya, Suyat telah memilih terlibat. Awalnya, ia tertarik pada diskusi-diskusi di kampus. Berbeda dengan mahasiswa lainnya, ia antusias berdiskusi, terlibat aksi, dan lumayan rakus melahap buku. Makin intens menyambangi sekretariat Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Solo, kadang sampai dini hari ia mengasah materi-materi yang usai dibacanya.
Pada 1995, ia terpilih sebagai pengurus SMID Komisariat Unisri, lantas menjadi staf Departemen Organisasi SMID Solo. Saat itu semangatnya mencapai puncak kulminasi. Aksi di berbagai kota jarang dilewatkannya. Setidaknya, empat kali ia tertangkap: pertama pada aksi buruh Tandes, Surabaya; aksi buruh Sritex, Solo; aksi loncat pagar solidaritas untuk Timor Leste, Desember 1995 di Jakarta; dan terakhir pada aksi buruh Sindoll pada 1997 di Jakarta. Di aksi itu untuk terakhir kali pula suaranya terdengar menggelegar saat berorasi.
Kampusnya sempat diobrak-abrik intel ketika meletus peristiwa 27 Juli 1996. Kampungnya di pelosok Sragen pun tak luput dari intaian. Wajar, selain menonjol untuk ukuran kampus dan kampungnya, catatan penangkapannya tergolong cukup tinggi. Entah bagaimana Suyat mempertahanakan kesegaran mental dan politik dalam kengerian perburuan itu. Yang jelas, tak lebih dari setahun berikutnya ia sudah muncul di forum-forum diskusi warga PDI Pro Mega di Banjarsari, Solo. Ia aktif dalam pengorganisiran kelompok, membuat pendidikan politik, maupun muncul di garis depan aksi-aksi yang kemudian marak di Solo. Ia makin menguat laksana cadas.

Militansinya makin mengental berbaur dalam atmosfer Jakarta ketika dipercaya menjadi pengurus pusat Komite Nasional Perjuangan Demokrasi (KNPD) pada Agustus 1997. Kali pertama anak muda humoris itu menempa pengalaman di ibu kota. Bukan sesuatu yang gampang baginya yang cenderung lugu. Bagian membekas di benaknya tatkala pertama di Jakarta adalah pengalaman nyaris digampar lantaran berteriak keras saat menyaksikan sekawanan copet merogoh saku penumpang bis. Ia berteriak, tapi justru nyaris celaka. Orang-orang menyebutnya tolol. Sungguh, ia cukup gelisah manakala mengingatnya.
Sejarah tidak berhenti, kata mendiang Y.B Mangunwijaya atau Romo Mangun. Seperti juga The End of History-nya Fukuyama. Segalanya terus bergerak kembali. Juga Suyat. Ia mengorganisir, tanpa lelah, tak putus-putus. Sayangnya, militansi semata, belumlah lengkap sebagai komponen kerja revolusioner. Menjelang Sidang Umum MPR, situasi politik naik begitu cepat. Rezim tampak kalap. Praktik-praktik bengis penangkapan ilegal mencuat kencang. Saat itulah para pimpinan Partai Rakyat Demokratik (PRD) sudah bersiaga. Memperediksi situasi ke depan yang tampaknya akan makin garang.
Anak muda berparas manis dan doyan mengotak-atik elektronik itu tak tangguh menggenggam disiplin. Gelisah akan pacar atau keluarga kerap mengganggunya. Dan, ia nekat kembali ke Solo, tepat ketika represi rezim sampai pada titik didih.
12 Februari 1998, seorang kawan di Solo tengah menyiapkan tempat evakuasi baginya. Namun, rezim bergerak 100 kali lebih cepat. Saudara kandungnya diseret untuk menunjukkan alamat kawan dekatnya. “Lima orang intel menerobos masuk, sementara pasukan lain berjaga di luar. Kami hanya bisa gemetar, kaki serasa tak menapak di tanah. Aku katakan Suyat tak di rumah. Mereka menahan Suyatno yang mirip Suyat, dipaksa naik Kijang dan dibawa ke suatu tempat untuk diinterogasi tentang keberadaan adiknya. Mereka mengancam akan membawa satu persatu keluarga,” kenang Paimin akan malam yang mengenaskan itu.
Keberadaan Suyat berakhir di situ. Tak satu pun kawan mendengar kabarnya, tak pula menangkap humor segarnya. Pun oleh kawan-kawan sesama korban penculikan yang disekap di Cijantung.
Sekali berarti sudah itu mati, teriak penyair bohemian Chairil Anwar. Selalu ada jejak yang ditinggalkan. Keberanian, keteguhan dan militansi masih tertancap di benak kawan-kawan yang mengingatnya.
Tak mudah dilupa. Belum selesai kita membuat perhitungan dengan rezim bengis tak berhati ini. Suyat atau mereka yang tidak kembali, barangkali telah mati. Tapi tak boleh kita terdiam, tanpa pernah bertanya siapa yang berhak menghentikan usia manusia? Kita yang harus membuat kesaksian!
Lilik Hastuti Setyowatiningsih, penulis dan aktivis perempuan
Artikel ini sebelumnya sudah terbit di koran Pembebasan Edisi 21/Tahun I/November 2000. Merdika.id mengunggah ulang di sini sebagai bahan edukasi dan tambahan informasi untuk generasi masa kini terkait perjuangan demokratisasi di Indonesia.









