Sukarno Melawan Budaya Barat dengan Lenso

Jauh sebelum Joseph Nye memperkenalkan budaya sebagai salah satu senjata soft-power yang efektif, Sukarno sudah menyadarinya sejak akhir 1950-an.

Bagi Sukarno, imperialisme tak hanya berwajah ekonomi dan politik, tetapi juga budaya. Yang terakhir ini, daya rusaknya memang tak kasat mata, tetapi justru paling berbahaya. Imperialisme budaya merusak mentalitas dan jiwa manusia, menjebak sebuah bangsa dalam cara berpikir ”Hollandsch denken” (sempit, formalistik, dan receh), defaitis (pesimis dan pasrah), individualis, egosentris, dan liberal.

”Dan engkau, hai pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi, engkau yang tentunya anti-imperialisme ekonomi dan menentang imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik, kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imperialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansa-dansian á la cha-cha-cha, musik-musikan á la ngak-ngik-ngèk gila-gilaan, dan lain-lain sebagainya lagi? Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran, yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan?” kata Sukarno dalam pidato 17 Agustus 1959.

Pada 1960-an, gelombang musik Barat, terutama pop-rock, rock and roll, dan blues, merambah masyarakat Indonesia. Beriringan dengan perkembangan radio, tape recorder, pick-up, penetrasi musik Barat bahkan menjangkau desa-desa.

The Beatles, band legendaris dari Kota Liverpool, Inggris, sangat digandrungi anak-anak muda Indonesia masa itu. Dara Puspita, grup band yang terdiri dari Susi Nander, Titiek Hamzah, Titiek AR, dan Lies AR, meniru aksi panggung The Beatles yang menggerakkan pinggul dan lutut. Lilis Soerjani dan Koes Bersaudara tidak ketinggalan. Bahkan Koes Bersaudara meniru gaya dan dandanan The Beatles: berambut poni, memakai jeans ketat, dan sepatu berhak tinggi dan berujung lancip.

Sukarno meradang. Ia menamakan fenomena itu sebagai musik ngak-ngik-ngok. Menurutnya, musik ngak-ngik-ngok merupakan penetrasi budaya imperialis. Karena itu, tidak hanya harus dibendung, tetapi wajib diganyang.

”Musik ngak-ngik-ngok harus dihapuskan. Pemuda-pemudalah yang bertanggungjawab terhadap hapusnya pengaruh kebudayaan Barat yang berlebih-lebihan itu,” kata Sukarno dalam pidato Hari Sumpah Pemuda pada 1961.

Koes Bersaudara, yang dianggap meniru The Beatles, pernah ditahan pada 1965 karena tuduhan musik Ngak-Ngik-Ngok. Kredit foto: Impessa.id

Sejak 1960-an, RRI dilarang memperdengarkan lagu-lagu ngak-ngik-ngok. Kemudian, melalui Penpres Nomor 11/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversif, musik ngak-ngik-ngok dianggap budaya asing yang bernuansa subversif.

Bukan cuma musiknya dilarang, gayanya pun diharamkan. Pada 28 Juli 1964, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyerukan pembinaan kepribadian nasional dengan menghindari cara berpakaian, potongan rambut, maupun panggilan nama yang kebarat-baratan.

Razia pun dilakukan. Ratusan piringan hitam, tape recorder, maupun kaset, yang berisi lagu-lagu The Beatles, Rolling Stones, dan The Shadow, disita. Di Bandung, kepolisian mengeluarkan imbauan agar tukang cukur, pengusaha salon kecantikan, pemilik toko, dan pembuat sepatu tidak melayani permintaan terhadap potongan rambut dan sepatu ala The Beatles.

Namun, dalam hiruk-pikuk pelarangan itu, banyak orang yang mempertanyakan alternatifnya. Salah satu yang bersuara adalah Ki Hadjar Dewantara.

”… Kita harus kasih something instead, gantinya. Kita tidak bisa melarang kita punya pemuda dan pemudi kita jangan menari. Tidak bisa melarang kita punya pemuda-pemudi jangan menyanyi. Sebab menari dan menyanyi itu adalah memang kodrat dan karakter daripada pemuda-pemudi. Malahan aku berkat, meskipun aku tua pun aku suka menyanyi dan menari. Tetapi marilah kita, dalam melarang tari-tarian yang gila-gilaan, nyanyi-nyanyian yang gila-gilaan itu, kita kasih gantinya. Dan dari mana penggantinya? Carilah dari pangkuan Ibu Pertiwi. Carilah dari kepribadian bangsa Indonesia sendiri,” kata Bapak Pendidikan Nasional itu, seperti dikutip Iman Toto K. Rahardjo dalam Bung Karno, Gerakan Massa dan Mahasiswa, 2001.

Presiden Soekarno menutup kuping saat mendengar musik Ngak-Ngik-Ngok. Kredit foto: Seventh News Service via National Geographic Indonesia

Pada 1958, Sukarno melakukan kunjungan ke Maluku. Di kepulauan rempah itu, Sukarno disambut dengan tarian lenso. Sukarno terpikat dengan tarian yang muncul sejak abad ke-16 itu. Mudah, meriah, bernuansa ceria, dan massal.

Secara harfiah, lenso diambil dari bahasa Portugis yang berarti sapu tangan. Umumnya, sapu tangan yang digunakan berwarna merah dan putih, yang identik dengan bendera Indonesia. Bagi masyarakat Maluku, tari lenso merupakan ungkapan gembira dan selamat datang.

Pada 1959, setelah menyampaikan pidato ”Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang melahirkan Manipol-Usdek, Sukarno mulai memperkenalkan tari lenso kepada khalayak luas. Meskipun ada pengaruh Portugis dalam kelahirannya, tari lenso dianggap sesuai dengan kepribadian nasional.

Tari lenso mulai mengisi pertunjukan di Istana. Kadang ditampilkan pada acara resmi kenegaraan, seperti menerima tamu kenegaraan. Tak hanya di dalam negeri, Sukarno membawa tari lenso ke luar negeri. Misalnya, saat mengunjungi Filipina pada Januari 1964, Sukarno menari lenso bersama Presiden Filipina, Diosdado Macapagal.

Agar bisa menari lenso di mana saja, Sukarno bahkan membentuk grup musik pengiring yang beranggotakan orang-orang Detasemen Kawal Pribadi (DKP), semacam Paspampres saat ini.

Usaha Sukarno untuk menjadikan lenso sebagai contoh kesenian berkepribadian nasional sekaligus alat revolusi mendapat dukungan banyak seniman dan gerakan politik. Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang berisikan pekerja seni-budaya kiri, berada di garis depan mendukung politik kebudayaan Sukarno.

Jauh sebelum Sukarno mendeklarasikan perang terhadap musik barat lewat Pidato Manipol 1959, Lekra sudah menyuarakan perlunya tari dan musik berbasis kepribadian nasional lewat kongres pertamanya pada Januari 1959. Dalam resolusi kongres, Lekra menyerukan perlunya menghidupkan musik dan tari-tari daerah.

Sukarno menari lenso diingirik oleh grup musim pengiring dari Detasemen Kawal Pribadi (DKP). Kredit: ARSIP GUNTUR SOEKARNO/KOMPAS

Partai Komunis Indonesia (PKI) juga tak tinggal diam. Sejak kongres ke-VI, partai yang dipimpin oleh DN Aidit ini sudah menaruh perhatian pada opensif imperialisme budaya, terutama dari AS.

”Dalam riset tentang keadaan kaum tani dan gerakan tani di seluruh Jawa yang saya lakukan pada bulan-bulan Februari, Maret, April, dan Mei tahun ini, terbukti bahwa agresi kebudayaan imperialis, terutama imperialis AS, juga telah menyusup ke desa-desa dengan dukungan kaum komprador, kapitalis birokrat, dan tuan tanah melalui makin tersebarnya radio, pick-up, radio transistor dan majalah-majalah berbahasa Indonesia yang menjajakan kebejatan moral, atau pun melewati band-band gaya ngak-ngik-ngok,” kata Aidit.

Karena itu, dalam satu tarikan napas yang sama, PKI mendukung Sukarno dalam menghalau agresi imperialisme budaya AS sebagai salah satu tugas revolusi Indonesia.

”PKI mendukung dan melaksanakan dengan sungguh-sungguh seruan Bung Karno dalam Manipol agar imperialisme kebudayaan diganyang dan agar kebudayaan nasional dilindungi dan dikembangkan. PKI mendukung dan melaksanakan dengan tak kenal lelah seruan Bung Karno agar melawan musik ngak-ngik-ngok, tarian rock ‘n roll, twist, rambut sasak dan gondrol (Beatles) yang berkali-kali beliau kemukakan dalam berbagai rapat belakangan ini,” seru Aidit.

PKI sendiri kemudian menginisiasi Konfernas Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) pada 27 Agustus-2 September 1964. Selain memperkuat gagasan-gagasan kiri soal seni-budaya, seperti ”seni untuk rakyat”, ”realisme sosialis”, ”meluas dan meninggi”, ”politik adalah panglima”, dan ”metode turun ke bawah”, KSSR juga mendukung tari lenso untuk dimassalkan dan dimajukan.

Pada 1960, upaya menjadikan lenso sebagai alternatif terhadap musik ngak-ngik-ngok semakin serius. Saat itu mulai muncul istilah ”tarian lenso gaya baru”, yang sudah dikembangkan dan dipadukan dengan musik modern.

Sukarno mengajak sejumlah seniman ternama, seperti Jack Lemmers (kelak berganti nama menjadi Jack Lesmana), Idris Sardi dan Bing Slamet, untuk mengembangkan irama lenso. Dari kolaborasi ini lahirlah Orkes Irama.

Melalui kerja keras selama empat bulan, pada April 1965, hanya sekitar lima bulan sebelum peristiwa G30S, Orkes Irama berhasil menghasilkan album bertajuk ”Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso”. Berisikan delapan lagu pilihan, seperti Bersuka Ria (Sukarno), Euis (Trihanto), Bengawan Solo (Gesang), Gendjer-Gendjer (M. Arief), Soleram, Burung Kakak Tua, Gelang Sipaku Gelang, dan Malam Bainai (Karim Nun).

Sampul belakang album ‘Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso’ yang mengutip pernyataan Bung Karno, ‘Saja merestui, setudju diedarkan’.

Yang menarik adalah lagu Bersuka Ria. Lagu itu ditulis dan ciptakan oleh Sukarno sendiri. Lagu ini bernuasa riang dan optimis. Liriknya bergaya pantun gembira. Beatnya sesuai keinginan Sukarno, tetapi dikerjakan oleh Jack Lesmana. Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh Rita Zahara, Bing Slamet, Titiek Puspa, dan Nien Lesmana.

Meskipun bernuansa ceria, lagu Bersuka Ria diselipi pesan politik yang kuat: Tukang sayur nama si Salim/ Menjualnya ke Jalan Lembang/ Indonesia antinekolim/ Para seniman turut berjuang.

Sayang sekali, ketika musik lenso baru saja booming, peristiwa G30S/1965 menghentikannya. Pasca peristiwa itu, Sukarno lengser dari kekuasaan. Lanskap politik berubah drastis. Indonesia tidak lagi anti-nekolim. Di bawah Orde Baru, Indonesia justru merapat kembali ke pangkuan Barat.

Tari dan senandung lenso pun surut. Lagu Gendjer-Gendjer, ditempatkan pada peringkat ke-105 dalam daftar “150 Lagu Indonesia Terbaik” versi majalah Rolling Stone Indonesia yang diterbitkan pada edisi #56, Desember 2009, dinyatakan sebagai lagu komunis dan terlarang. Perjuangan melawan musik ngak-ngik-ngok pun terhenti.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
10 Lagu Reggae Indonesia Pelantang Kritik Sosial

10 Lagu Reggae Indonesia Pelantang Kritik Sosial

Bob Marley, sang pelopor yang mendapat julukan King of Reggae, konsisten

Next
Aliansi Perempuan Desak Prabowo Turunkan Harga dan Hentikan Program MBG

Aliansi Perempuan Desak Prabowo Turunkan Harga dan Hentikan Program MBG

Menurut Aliansi Perempuan Indonesia, krisis yang saat ini dirasakan masyarakat

You May Also Like
Total
0
Share