Kepada Frida Kahlo…

Aku menulis ini dari Indonesia, sebuah negeri merdeka, tetapi semakin sering terasa pincang. Negeri yang rakyatnya bekerja keras, tetapi tak jarang haknya dirampas. Negeri yang hutannya dirusak, airnya dikeringkan, dan suaranya dibungkam atas nama pembangunan.

Aku tahu engkau hidup dengan rasa sakit yang tak pernah pergi. Tubuhmu retak oleh kecelakaan, kakimu pernah dilumpuhkan penyakit, tetapi engkau tidak menyerah. Engkau melukis dengan jujur, menorehkan luka di tubuhmu menjadi warna-warna yang abadi. Dari dirimu, dunia belajar bahwa penderitaan bisa menjadi kekuatan, dan bahwa kejujuran tentang rasa sakit adalah bentuk keberanian.

Di sini, Frida, rakyat pun hidup dalam luka. Demokrasi yang dulu diperjuangkan dengan darah, kini perlahan dipreteli oleh mereka yang berkuasa. Suara rakyat dikerdilkan, kritik dibungkam, dan hukum seringkali tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Korupsi merajalela, sementara orang kecil terus menanggung beban.

Perempuan masih sering dianggap sebagai warga kelas dua. Mereka bekerja lebih keras, tetapi upahnya lebih rendah. Mereka terjebak dalam lingkaran kekerasan, diskriminasi, dan beban ganda yang tak diakui. Di desa-desa, akses pendidikan dan kesehatan masih jauh dari layak. Di kota-kota, anak-anak muda berjuang dengan kreativitas, tetapi terbentur dinding sempit kebijakan yang lebih berpihak pada segelintir elite.

Aku membayangkan, jika engkau melukis Indonesia hari ini, kanvasmu mungkin penuh darah merah yang tak kunjung kering, biru laut yang memudar oleh polusi, dan hijau hutan yang dipangkas demi tambang dan sawit. Tetapi aku tahu, engkau juga akan memberi ruang untuk bunga-bunga bugenvil, wajah-wajah perempuan tangguh, dan cahaya mata anak-anak yang masih berani bermimpi. Karena di balik semua kegelapan ini, masih ada cinta yang tumbuh, masih ada keberanian yang bertahan, masih ada harapan yang menolak padam.

Frida, engkau pernah berkata: “I never painted dreams. I painted my own reality.” Aku ingin belajar darimu dalam menghadapi kenyataan, betapa pun pahitnya, lalu menjadikannya kekuatan untuk melawan. Di negeri ini, kami tak butuh mimpi palsu dari janji politik yang kosong. Kami butuh keberanian untuk menatap kenyataan dan merajut jalan keluar bersama.

Tulisan ini bukan sekadar ungkapan kerinduan, Frida. Ini adalah doa agar rakyat di sini juga berani melukis realitasnya sendiri dengan jujur, dengan amarah, dengan cinta, dengan keyakinan bahwa luka tidak selamanya berarti menyerah. Seperti tubuhmu yang penuh bekas operasi tetapi tetap melahirkan karya abadi. Begitu pula bangsa ini: meski penuh luka, masih bisa melahirkan kehidupan dan keadilan jika berani jujur pada diri sendiri.

Seandainya engkau hadir di Indonesia hari ini, mungkin engkau akan berjalan bersama perempuan-perempuan yang menolak diam. Engkau akan duduk di antara para petani yang tanahnya dirampas, di antara buruh yang gajinya dipotong, di antara mahasiswa yang masih berani turun ke jalan. Engkau mungkin akan berkata: “Lukislah rasa sakitmu, jangan sembunyikan. Suaramu adalah kanvasmu.”

Frida yang kukasihi, biarlah goresan batinku ini menjadi pengingat bahwa seni, keberanian, dan kejujuran adalah senjata paling tajam melawan tirani. Kami belajar darimu, bahwa meski tubuh bisa rapuh, jiwa tidak boleh tunduk.

Salam dari Indonesia, negeri yang masih mencari warna terbaiknya di tengah luka.


Frida Kahlo (1907–1954) adalah pelukis asal Meksiko yang dikenal karena karya-karyanya yang lahir dari penderitaan pribadi, identitas perempuan, dan perlawanan politik. Ia hidup dengan tubuh yang rapuh tetapi memiliki jiwa yang kuat. Hingga kini, Frida Kahlo dipandang sebagai simbol feminisme, perlawanan terhadap ketidakadilan, serta keberanian untuk jujur pada realitas.

Menulis untuk Frida Kahlo, meski telah tiada, adalah cara untuk menghadirkan inspirasinya ke tengah konteks Indonesia hari ini—sebuah negeri yang juga penuh luka, tetapi masih menyimpan kemungkinan untuk bangkit.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Keadilan Ekologis Bukan Sekadar Jargon

Keadilan Ekologis Bukan Sekadar Jargon

Akhir-akhir ini, salah satu wadah gerakan lingkungan terbesar, Wahana Lingkungan

Next
Serikat Ojol Kutuk Keras Aparat Brimob Lindas Pengemudi hingga Tewas

Serikat Ojol Kutuk Keras Aparat Brimob Lindas Pengemudi hingga Tewas

Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) mengutuk keras tindakan represif

You May Also Like
Total
0
Share