Bagi jutaan orang, Jakarta adalah panggung asa. Kota ini menjanjikan karier, peluang, dan denyut kehidupan yang tak pernah padam. Namun, di balik gemerlap kehidupan kota, ada sebuah ironi pahit: Jakarta semakin tidak ramah bagi warganya sendiri untuk sekadar memiliki tempat bernaung yang layak. Mimpi punya rumah di kota ini kini terasa seperti kemewahan, bukan hak.
Pada 2024, berdasarkan laporan dalam laman Housing dan Real Estate Information System (HREIS), defisit atau kekurangan pasokan rumah (backlog) masih mencapai 1.195.627. Sementara rumah tangga dengan rumah tidak layak huni sebanyak 1.757.106. Jutaan kepala keluarga, banyak di antaranya adalah para pekerja muda yang menjadi motor penggerak ekonomi kota ini, terpaksa tinggal di hunian sewa yang sempit, atau terlempar jauh ke pinggiran, mengorbankan waktu berjam-jam di jalan setiap hari.
Populasi Jakarta dan sekitarnya terus membengkak, sementara tanah tak pernah bertambah. Dengan jumlah penduduk 11 juta orang dan terus bertambah, kepadatan (density) Jakarta sudah mencapai 16.704 jiwa per kilometer persegi. Sudah sepadat itu, 70 persen tanah di Jakarta ditempati oleh bangunan rendah (tiga lantai ke bawah).
Konsep ideal sebuah “rumah tapak” dengan halaman kecil adalah sebuah cita-cita dari era yang telah usai. Terus membangun ke samping hanya akan menciptakan kemacetan dan ketimpangan yang kian parah.
Solusi rumah flat
Jakarta harus menjawab tantangan pertumbuhan populasi yang membutuhkan hunia layak versus ketersediaan lahan yang makin terbatas. Jakarta tak punya pilihan lain selain mulai berpikir cerdas: tumbuh ke atas.
Namun, persoalan itu tak bisa dijawab hanya dengan hunian vertikal puluhan lantai yang berorientasi bisnis dan malah menciptakan sekat sosial di antara penghuninya. Konsep rumah susun, seperti di Pasar Rumput Manggarai, mungkin relevan. Namun, jika visinya hunian layak, maka rumah flat adalah solusi terbaik.

Berdasarkan Peraturan Gubernur Nomor 31 Tahun 2022 Tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) DKI Jakarta, rumah flat adalah hunian tapak dengan lantai maksimal empat yang dihuni oleh multikeluarga. Berbeda dengan apartemen atau rumah susun dalam bayangan kita yang sempit dan pengap, rumah flat adalah sebuah filosofi hunian modern: efisiensi lahan, kedekatan dengan pusat aktivitas, dan penguatan komunalitas.
Dengan menempati sebidang tanah yang sama, sebuah bangunan flat 4-5 lantai bisa menampung 10-20 keluarga, menggantikan hanya 1-2 rumah tapak. Artinya, lebih banyak orang bisa tinggal lebih dekat dengan tempat kerja, sekolah, dan fasilitas publik. Waktu yang tadinya habis di jalan bisa dialihkan untuk keluarga.
Lebih dari itu, ruang-ruang bersama yang dirancang dengan baik—seperti taman di atap, ruang serbaguna, atau dapur komunal—bisa menumbuhkan kembali semangat bertetangga yang luntur di tengah individualisme kota besar.
Percikan harapan dari Menteng
Di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, gagasan rumah flat ini diwujudkan sejumlah anak muda yang dibantu oleh Rujak Center for Urban Studies, sebuah lembaga yang fokus pada isu-isu perkotaan.
Idenya berasal dari Marco Kusumawijaya, seorang aktivis, arsitek, peneliti, dan perencana kota. Dia juga salah satu pendiri sekaligus Direktur Rujak. Tanah bangunan rumah flat itu seluas 280 meter persegi milik Marco.
Nah, dengan memanfaatkan lahan 280 m2 itu, mereka berhasil membangun hunian 4 lantai campuran (mixed-use building) untuk 7 rumah tangga (15 orang), satu kantor (kantor RUJAK), satu toko buku dan kedai kopi, serta satu ruang sewa.
Menariknya, dengan konsep co-housing dan cooperative housing, mereka berhasil memiliki unit/hunian dengan harga di bawah Rp 1 miliar di kawasan termahal di Indonesia itu.
Di Menteng, kawasan elite sejak zaman kolonial Belanda itu, harga rumah bisa mencapai belasan hingga ratusan miliar. Hanya kalangan superkaya atau high net worth individual (HNWI) dengan kekayaan bersih lebih dari USD 1 juta (Rp 16,2 miliar) yang bisa punya rumah di Menteng.
Namun, anak-anak muda dengan model koperasi dan konsep rumah flat bisa meruntuhkan kenyataan itu. Itu tanpa campur tangan dari pemerintah. Mereka membuktikan bahwa dengan “gotong royong” gaya baru, anak muda pun bisa menciptakan hunian idaman di jantung kota.
Cermin dari tetangga di Asia
Apa yang dilakukan secara kolektif di Menteng sebenarnya telah dilakukan dalam skala raksasa oleh negara-negara tetangga. Singapura adalah contoh terbaik. Melalui Housing & Development Board (HDB), lebih dari 80 persen warganya tinggal di hunian vertikal yang terjangkau, bersih, dan terintegrasi dengan transportasi publik (MRT) serta fasilitas sosial. Ini adalah buah dari visi negara yang berani dan berjangka panjang.
Di Tokyo, kecerdasan spasial menjadi kunci. Mereka adalah master dalam merancang flat-flat mungil yang sangat efisien, membuktikan bahwa kualitas hidup tidak diukur dari meter persegi, melainkan dari desain yang cerdas dan aksesibilitas.
Bayangkan jika konsep ini diadopsi pemerintah. Ada banyak rumah tangga yang bisa ditampung, tetapi dengan pemakaian lahan yang lebih sedikit. Harganya bisa lebih murah, sehingga bisa dijangkau oleh menengah ke bawah.
Ini lebih relevan ketimbang rumah subsidi seluas 14 meter persegi yang sempat viral beberapa saat lalu. Tidak efisien dan tidak manusiawi.
Mengubah mindset
Kisah dari Menteng, Singapura, dan Tokyo memberikan satu pelajaran penting. Masalah hunian di Jakarta pada akhirnya bukanlah soal teknis atau kekurangan lahan, melainkan soal mindset. Kita masih terperangkap dalam angan-angan usang tentang rumah tapak, sebuah simbol status dari masa lalu yang tak lagi relevan dengan tantangan zaman.
Rumah flat menawarkan sebuah kontrak sosial baru bagi warga kota. Sebuah pilihan untuk menukar halaman pribadi yang sempit dengan taman bersama yang lebih luas. Menukar isolasi di dalam pagar tinggi dengan komunitas yang lebih hangat. Dan yang terpenting, menukar waktu dua jam di tengah kemacetan dengan waktu berkualitas bersama orang-orang terkasih.
Jakarta tak butuh lebih banyak beton. Ia butuh lebih banyak ide. Dan mungkin, solusi untuk mimpi punya rumah itu bukanlah dengan terus berlari ke samping, melainkan dengan mulai mendaki ke atas—bersama-sama.










