Memasuki tahun 1980-an, ekspor Vietnam sebagian besar masih beras dan karet. Di masa itu, jika melihat Vietnam yang tergambar adalah jalanan yang penuh dengan orang bersepeda dan memakai caping.
Sementara, pada tahun-tahun itu, Indonesia sudah mulai menjadi eksportir migas dan manufaktur. Jalan-jalan Indonesia sudah mulai dipenuhi mobil impor dari AS, Eropa, dan Jepang.
Empat dekade kemudian, cerita berbalik. Vietnam berubah menjadi negara industri baru. Vinfast, mobil buatan Vietnam, mulai merajalela di jalanan di AS, Eropa, dan Asia. Di Indonesia, Vinfast tak hanya hadir di jalanan, tetapi akan membangun pabrik di Subang, Jawa Barat.
Tentu Vinfast hanyalah satu wajah sukses Vietnam. Secara ekonomi, Vietnam kini menjadi kekuatan ekonomi baru. Pertumbuhan ekonominya menakjubkan. Dalam satu dekade terakhir, kecuali di era pandemi (2020 dan 2021), pertumbuhan ekonomi Vietnam selalu di kisaran angka 6-8 persen. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Vietnam tercatat 7,02 persen.
Angka itu termasuk tertinggi di dunia dan ASEAN. Bahkan, jauh mengungguli Indonesia yang kerap dipuja-puji sebagai raksasa baru. Keajaiban yang lebih fundamental terjadi dalam pengentasan kemiskinan. Tingkat kemiskinan ekstrem, yang pernah merangkul lebih dari 50 persen populasi pada awal 1990-an, kini lenyap di bawah 3 persen.
Transformasi paling dramatis terlihat di peti kemas pelabuhan mereka. Dulu isinya beras, kopi, dan hasil bumi. Kini, yang dominan adalah barang elektronik canggih, mesin, bahkan mobil. Vietnam telah menjadi “rumah kedua” bagi raksasa seperti Samsung, yang memproduksi separuh dari ponsel pintarnya di sana. Inilah kisah tentang sebuah bangsa yang menulis ulang takdirnya.
Lembah kelam pasca-perang
Untuk memahami lompatan kuantum ini, kita perlu kembali ke titik nol: Vietnam pasca 1975. Setelah perang berakhir, negeri itu bersatu di bawah bendera sosialisme, namun terisolasi dan luluh lantak. Para pemimpin di Hanoi menerapkan resep ekonomi komando yang kaku. Lahan pertanian dikolektivisasi, industri dinasionalisasi, dan harga diatur oleh negara.
Hasilnya? Seperti resep usang yang gagal di mana-mana, kebijakan ini justru melahirkan bencana. Produktivitas anjlok. Negara yang dulunya lumbung padi Asia Tenggara terpaksa mengimpor beras. Inflasi meroket hingga tiga digit. Ekonomi megap-megap, dan rakyat hidup dalam antrean panjang demi jatah makanan yang tak menentu. Janji membangun negeri “10 kali lebih indah” terasa seperti ironi pahit.
Jurus maut bernama Đổi Mới
Di tengah kegelapan itulah, pada tahun 1986, para elite Partai Komunis di Hanoi melakukan sesuatu yang langka dalam sejarah politik. Mereka menelan ludah, menatap cermin, dan berani mengakui bahwa resep lama telah basi. Momen otokritik radikal ini melahirkan sebuah kebijakan legendaris bernama Đổi Mới atau “Pembaruan”.
Đổi Mới bukanlah sekadar paket reformasi ekonomi, melainkan sebuah revolusi mental. Vietnam secara pragmatis memutuskan untuk tidak membuang sistem politik satu partai dan cita-cita sosialismenya, tetapi mengawinkannya dengan motor kapitalisme. Mereka menyebutnya “ekonomi pasar berorientasi sosialis”. Apa pun namanya, esensinya adalah sebuah tikungan tajam: dari ekonomi yang dikendalikan negara menjadi ekonomi yang digerakkan oleh pasar.
Dampaknya seperti membuka bendungan yang lama tersumbat. Hak milik pribadi diakui, petani diberi kebebasan menanam apa yang mereka inginkan, dan perusahaan swasta diizinkan tumbuh. Pintu bagi investasi asing dibuka selebar-lebarnya. Energi kewirausahaan rakyat yang lama terpendam akhirnya meledak.
Dapur strategi industrialisasi Vietnam
Kesuksesan Vietnam bukan kebetulan. Di balik Đổi Mới, ada strategi industrialisasi yang dieksekusi dengan disiplin dan visi jangka panjang. Setidaknya ada tiga pilar utama:
Pertama, menjadi “pabrik dunia” generasi baru. Vietnam secara cerdas memposisikan diri sebagai alternatif di tengah naiknya biaya produksi di Tiongkok. Mereka tidak hanya menawarkan tenaga kerja murah, tetapi juga stabilitas politik, kebijakan yang pro-bisnis, dan serangkaian perjanjian perdagangan bebas dengan mitra-mitra strategis seperti Uni Eropa (EVFTA) dan kawasan Pasifik (CPTPP). Mereka menggelar karpet merah bagi investasi asing (FDI), dan raksasa seperti Samsung, Foxconn, Intel, hingga Lego datang berbondong-bondong.
Vietnam benar-benar piawai memanfaatkan strategi “China Plus One”. Ini adalah strategi bisnis ekonomi global bagi investor untuk mengurangi ketergantungan penuh pada pasar dan rantai pasokan di Tiongkok, dengan memperluas ke negara lain sambil tetap mempertahankan kehadiran di negara Asia tersebut.
Kedua, mendaki tangga nilai tambah. Vietnam tidak puas hanya menjadi bengkel perakitan. Ada strategi sadar untuk terus mendaki tangga nilai tambah (value chain). Mereka memulai dari garmen dan sepatu (padat karya), lalu beralih ke perakitan elektronik (lebih kompleks), dan kini secara ambisius mendorong industri berteknologi tinggi seperti semikonduktor dan otomotif listrik. Lahirnya VinFast, yang didukung konglomerat domestik Vingroup, adalah manifestasi dari ambisi ini—sebuah upaya menciptakan jenama nasional yang bisa bersaing di panggung global.
Ketiga, menjadi negara sutradara, bukan aktor utama. Berbeda dengan pendekatan laissez-faire murni, negara di Vietnam tidak sepenuhnya angkat tangan. Pemerintah bertindak sebagai sutradara yang cerdas. Mereka fokus membangun infrastruktur krusial (pelabuhan, jalan tol, jaringan listrik), berinvestasi besar-besaran pada pendidikan dasar dan vokasi untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja terampil, dan secara aktif menegosiasikan akses pasar global. Negara menciptakan ekosistem, lalu membiarkan swasta dan investor asing menjadi aktor utamanya.
Prospek dan cermin bagi kita
Kini, Vietnam berdiri di persimpangan jalan yang penting. Tantangan ke depan tidaklah ringan. Jebakan negara berpenghasilan menengah (middle-income trap) adalah ancaman nyata. Mampukah mereka beralih dari negara perakit menjadi negara inovator? Bisakah VinFast menjadi Hyundai berikutnya, atau hanya akan menjadi proyek mercusuar yang mahal?
Perspektif yang kritis dan progresif juga harus menanyakan kualitas dari pertumbuhan itu sendiri. Isu ketimpangan antara kota dan desa, dampak lingkungan dari industrialisasi yang pesat, serta jaminan hak-hak pekerja dalam sistem politik yang tertutup adalah pekerjaan rumah yang harus dijawab.
Meski begitu, kisah Vietnam adalah sebuah pelajaran berharga tentang pragmatisme, visi, dan keberanian untuk berubah. Perjalanan mereka dari ladang pembantaian di kala perang menjadi lantai pabrik canggih adalah bukti bahwa takdir sebuah bangsa bukanlah sesuatu yang statis.
Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, Vietnam bukanlah model untuk ditiru mentah-mentah. Namun, semangatnya patut menjadi cermin. Semangat untuk fokus pada eksekusi, membangun fondasi yang kokoh, dan yang terpenting, keberanian untuk mengakui ketika sebuah jalan tak lagi berfungsi maka harus berani banting setir.










