Arena Balap dan Politik Progresif Lewis Hamilton

Lewis Hamilton bukan sekadar nama di papan klasemen Formula 1. Ia adalah simbol ketekunan, keberanian untuk bermimpi, dan keyakinan bahwa kemenangan di lintasan tak pernah cukup jika dunia di luar sana masih dipenuhi ketidakadilan.

Perjalanan hidup Hamilton sangat menarik. Terlahir dari keluarga biasa di Stevenage, Inggris ia bisa menembus olahraga paling elite di dunia: Formula 1. Dia pembalap kulit hitam pertama dalam ajang balapan paling bergengsi di dunia.

Prestasinya pun mentereng. Di Formula 1, dia sudah meraih juara tujuh kali (2008, 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, 2020), menyamai rekor Michael Schumacher. Namun, di balik prestasi mentereng itu, Lewis punya sikap politik yang jelas: memihak kemanusiaan.

Ia banyak berbicara mengenai rasisme, hak asasi manusia, keadilan iklim, dan bersolidaritas untuk Palestina.

Lahir sebagai petarung

Lahir 7 Januari 1985 di Stevenage, Inggris, Lewis Carl Davidson Hamilton tumbuh di keluarga campuran. Ayahnya, Anthony Hamilton, berketurunan Grenada. Sedangkan ibunya, Carmen Larbalestier, merupakan warga Inggris.

Masa kecil Lewis Hamilton adalah kisah klasik tentang perjuangan kelas pekerja melawan tembok besar diskriminasi dan keterbatasan finansial. Orang tuanya bercerai ketika Lewis baru berusia 2 tahun. Ia kemudian dirawat di sebuah rumah susun bersubsidi (council estate) oleh sang ayah, Anthony Hamilton.

Pada usia 6 tahun, Anthony membelikan gokart pertama untuk putranya. Dunia balap gokart adalah olahraga yang sangat mahal dan didominasi oleh keluarga kaya. Ayah Lewis tidak punya uang melimpah. Demi mendanai karier balap gokart Lewis kecil, Anthony Hamilton harus bekerja hingga empat pekerjaan sekaligus dalam satu waktu, mulai dari kontraktor IT, mencuci piring, hingga memasang papan reklame.

Lewis Hamilton kecil. Kredit: Pinterest/ailasque

Di saat anak-anak keluarga kaya datang ke sirkuit gokart dengan peralatan baru yang berkilau dan mekanik profesional, Lewis dan ayahnya datang menggunakan mobil van tua. Gokart pertama Lewis dibeli dari suku cadang bekas yang dirakit sendiri oleh ayahnya.

Sebagai satu-satunya anak kulit hitam di sirkuit gokart Inggris pada era 1990-an, Lewis sering menerima hinaan rasis, pandangan meremehkan, dan perlakuan tidak adil dari orang tua pembalap lain. Alih-alih membalas dengan amarah atau menyerah, sang ayah selalu memberi nasihat yang menjadi prinsip hidup Lewis: “Speak on the track” (Bicaralah di atas lintasan).

Pada 1995, di usia yang baru 10 tahun, Lewis menghadiri acara penghargaan dengan mengenakan setelan jas pinjaman. Ia berjalan langsung menemui Ron Dennis, bos tim besar Formula 1 McLaren saat itu. Lewis meminta tanda tangan dan berkata, “Halo, saya Lewis Hamilton. Saya memenangkan kejuaraan gokart Inggris, dan suatu hari nanti saya ingin membalap dengan mobil Anda.”

Harapan itu terpenuhi. Lewat program junior McLaren ia menaklukkan Formula Renault, Formula 3, lalu GP2 pada 2006. Debut F1 2007 menjadikannya pembalap kulit hitam pertama. Musim rookie yang hampir sempurna, lalu gelar juara dunia 2008 sebagai pembalap termuda saat itu. Setelah masa sulit di McLaren, ia pindah ke Mercedes 2013 dan membuka era dominasi: juara 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, dan 2020. Tujuh gelar menyamai Schumacher, ditambah rekor kemenangan, pole, dan podium yang terus bertambah.

Sikap politik Hamilton

Pengalaman masa kecil menjadi akar politik progresif Lewis. Ia tidak pernah pura-pura netral. Ia menolak gagasan “shut up and drive”. Bagi dia, memiliki platform berarti memiliki tanggung jawab. Perjuangan antirasisme menjadi prinsipnya.

Tahun 2020, ketika seorang pria kulit hitam tak bersalah bernama George Floyd dibunuh di Amerika Serikat, Lewis bersuara sangat lantang. Pada Juli 2020, di garis start sebelum balapan pembuka musim Grand Prix Austria 2020 di Sirkuit Red Bull Ring, Lewis Hamilton melakukan aksi berlutut (take a knee) sebagai protes atas rasisme. Ia memakai kaus hitam bertuliskan “Black Lives Matter” di bagian depan dan “End Racism” di bagian belakang.

Ia mendesak tim Mercedes untuk mengganti warna mobil perak tradisional mereka (Silver Arrows) menjadi hitam penuh. ”Ini untuk mendidik diri sendiri, sebuah merek, atau sebuah perusahaan untuk membuat perubahan nyata yang bermakna dalam hal memastikan kesetaraan dan inklusivitas,” kata Lewis.

Dia juga membentuk The Hamilton Commission, yang bekerjasama dengan Royal Academy of Engineering. Komisi ini meneliti mengapa warga minoritas (terutama kulit hitam) kurang terwakili di industri motorsport. Laporan riset ini memaksa tim-tim F1 mereformasi sistem rekrutmen mereka.
Kemudian melalui yayasan amal, Mission 44, Hamilton mengucurkan dana jutaan pound guna mendukung pemuda dari komunitas marjinal. Fokusnya adalah reformasi pendidikan inklusif, pembukaan lapangan kerja STEM, dan pemberdayaan generasi muda. Yayasan ini telah menjangkau lebih dari 550 ribu anak muda.

Aksi solidaritas anti-rasisme yang dipimpin oleh Lewis Hamilton bersama para pembalap Formula 1 di grid sebelum dimulainya balapan pada musim F1 tahun 2020. Kredit: Moto Sport Magazine

Sikapnya menjangkau ke isu hak asasi manusia secara lebih luas. Sebagai Duta UNICEF sejak lama, ia menyoroti pendidikan anak dan kemiskinan. Ia pernah menyuarakan keprihatinan atas kasus hukuman mati dan pelanggaran hak di negara-negara tuan rumah F1. Ketika Hungaria dan Arab Saudi menjadi sorotan karena undang-undang yang mengekang komunitas LGBT, Hamilton tidak bungkam. Ia menggunakan wawancara dan media sosial untuk menegaskan bahwa olahraga tidak boleh menjadi kedok bagi penindasan.

Dia juga banyak bersuara untuk isu lingkungan dan perubahan iklim. Secara pribadi, ia pun beralih ke pola makan berbasis tumbuhan (vegetarian) dan menggunakannya untuk mengampanyekan dampak industri peternakan terhadap krisis iklim.
Ia menjual jet pribadinya, melarang penggunaan plastik sekali pakai di lingkungannya, dan memastikan seluruh perjalanan balap pribadinya diimbangi dengan investasi hijau (carbon offsetting).

Pada isu Palestina dan Gaza, suaranya semakin tegas seiring memburuknya situasi kemanusiaan di sana. Setelah serangan Oktober 2023, ia menyatakan hatinya hancur atas hilangnya nyawa orang tak berdosa di Israel maupun Palestina. Seiring waktu, fokusnya bergeser ke krisis di Gaza. Sejak awal eskalasi konflik, Lewis Hamilton terus menggunakan Instagram Stories-nya untuk menuntut gencatan senjata permanen. Ia menegaskan, “Kita tidak bisa lagi terus berdiam diri” (We can no longer stay silent).

Ia menyerukan gencatan senjata, akses bantuan kemanusiaan yang tidak terhalang, dan mengecam keheningan komunitas internasional.

Sikap politiknya semakin mengeras setelah komisi PBB dan badan hukum internasional mengkaji situasi di lapangan. Ia tidak ragu membagikan data mengenai jumlah populasi Gaza yang tewas atau terluka. Di hadapan jutaan pengikutnya, ia secara terbuka menyebut situasi kemanusiaan di Gaza sebagai genosida dan menegaskan bahwa umat manusia tidak boleh membiarkan tragedi ini terus berlanjut.

Ia mengunjungi fasilitas pengungsi di Yordania yang bekerjasama dengan organisasi seperti British Red Cross dan Palang Merah untuk mengemas bantuan menuju Gaza. Di sana, ia ikut mengemas kotak-kotak pasokan medis dan makanan yang ditujukan bagi warga sipil di Gaza. Pengalaman itu digambarkan mengubah perspektifnya.

Sepulang dari sana, ia memberikan kesaksian emosional mengenai betapa sulitnya bantuan kemanusiaan menembus blokade Israel dan menuntut pembukaan akses bantuan tanpa batas.

Di saat banyak atlet dan jenama besar memilih netral atau diam karena takut kehilangan sponsor, Lewis Hamilton justru mempertaruhkan reputasi dan status komersialnya demi menyuarakan keadilan bagi Palestina,

Lewis Hamilton menunjukkan model atlet modern yang progresif: sukses di lintasan balapan sambil menolak menjadi boneka sistem. Ia menghubungkan pengalaman rasisme pribadi dengan perjuangan kolektif, isu lingkungan dengan tanggung jawab individu, dan penderitaan di Gaza dengan kewajiban moral global.

Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa rekor kemenangan akan memudar, tetapi dampak pada kesadaran publik dan kesempatan bagi generasi berikutnya bisa bertahan lebih lama. Di tengah dunia yang penuh polarisasi, Lewis Hamilton memilih berdiri di sisi mereka yang paling rentan dan tertindas.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Petruk Dadi Ratu: Simbolisme Kekuasaan dalam Panggung Politik

Petruk Dadi Ratu: Simbolisme Kekuasaan dalam Panggung Politik

Pelajaran itu tetap relevan dalam demokrasi modern

Next
Politik Sukarno di Asian Games 1962

Politik Sukarno di Asian Games 1962

Sukarno pantas merasa bangga

You May Also Like
Total
0
Share