Di tanah Jawa, ketika malam turun perlahan dan angin membawa bau tanah basah dari sawah yang baru dipanen, suara lesung pernah menjadi penanda kehidupan. Denting kayu yang saling beradu, ritmis dan bersahaja, adalah musik pertama yang melahirkan sebuah kesenian: ketoprak. Dari rahim kaum tani—bukan dari istana, bukan dari ruang-ruang elite—lahir sebuah drama rakyat yang kelak menjadi corong perlawanan terhadap feodalisme dan kolonialisme.
Awal abad ke-20 adalah masa ketika Hindia Belanda mulai retak oleh gelombang nasionalisme. Di tengah perubahan itu, sekitar tahun 1922, ketoprak mulai mengambil bentuknya. Konon, seorang bangsawan Mangkunegaran, RM Tumenggung Reksodiningrat, menyaksikan para petani menumbuk padi sambil bernyanyi. Ia terpikat oleh harmoni spontan itu, lalu membawanya ke istana. Dari sinilah ketoprak pertama kali dipentaskan sebagai hiburan bangsawan—sebuah ironi, mengingat ia lahir dari tangan-tangan kasar yang sehari-hari bergulat dengan tanah.
Namun rakyat tidak pernah membiarkan kesenian ini menjadi milik kaum feodal. Ketoprak kembali direbut, dipulangkan ke pangkuan massa. Dari desa ke desa, dari pasar malam ke alun-alun, ketoprak tumbuh menjadi ruang di mana rakyat bisa melihat dirinya sendiri: kisah panji, legenda kepahlawanan, dan cerita-cerita tentang wong cilik yang melawan ketidakadilan. Pada dekade 1960-an, ketoprak mencapai masa keemasannya, menyebar ke berbagai kota dan menjadi denyut budaya rakyat Jawa.
Juru bicara yang tak pernah diam
Ketoprak bukan sekadar tontonan. Ia adalah suara. Ia adalah juru bicara yang lahir dari rahim rakyat dan kembali berbicara untuk rakyat. Dalam setiap lakon, dalam setiap dialog yang disampaikan dengan bahasa yang lugas dan jenaka, ketoprak memotret realitas sosial: kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, dan harapan.
Tetapi sejarah mencatat bahwa ketoprak pernah “diculik”. Ketika ia dibawa ke istana, ia dipaksa menjadi alat penyebar ide-ide feodal: takhayul, klenik, dan kepasifan. Kisah pembangunan Candi Prambanan, misalnya, dipelintir menjadi cerita tentang setan-setan yang membangun candi dalam semalam—sebuah narasi yang menghapus peran rakyat sebagai pembangun sejarah.
Baru setelah ketoprak kembali ke tangan rakyat, ia menemukan kembali suaranya. Pada masa perjuangan anti-kolonial, ketoprak menjadi medium penyebaran ide perlawanan. Lakon-lakon yang dipentaskan bukan lagi sekadar hiburan, tetapi pesan politik yang dibungkus dalam cerita rakyat.
Pada 1933, sebuah kelompok ketoprak dari Solo datang ke Yogyakarta untuk pentas selama 60 hari. Namun pertunjukan itu segera dihentikan oleh pemerintah kolonial. Alasannya dibuat-buat: ketoprak dianggap memicu kriminalitas dan pelacuran. Padahal yang ditakutkan pemerintah kolonial adalah satu hal—ketoprak menyebarkan keberanian.
Organisasi, revolusi, dan gelombang kebudayaan
Tahun 1937 menjadi tonggak penting ketika para seniman ketoprak membentuk Badan Kontak Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia (Bakoksi). Dalam mukadimahnya, Bakoksi menegaskan bahwa seniman ketoprak telah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan berkomitmen menyelesaikan revolusi Agustus 1945. Ketoprak bukan lagi sekadar seni; ia adalah bagian dari gerakan.
Memasuki pertengahan 1950-an, ketoprak semakin populer. Ia merambah desa-desa, menyeberang ke luar Jawa, dan menjadi kesenian rakyat yang benar-benar hidup. Pada Kongres I Ketoprak di Yogyakarta tahun 1957, Bakoksi menaungi 275 organisasi. Tujuh tahun kemudian, jumlah itu melonjak menjadi 371. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah bukti bahwa ketoprak telah menjadi denyut kebudayaan rakyat.
Pada masa itu, Bakoksi banyak dipengaruhi oleh Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang mengusung semboyan “Seni untuk Rakyat”. Pengaruh ini membuat ketoprak semakin berpijak pada tanah kelahirannya: rakyat. Lekra mendorong ketoprak untuk menggusur sisa-sisa feodalisme, menghapus takhayul, dan menempatkan rakyat sebagai subjek sejarah.
Cerita-cerita feodal direvisi. Lakon “Rara Mendut” dirombak menjadi kisah anti-feodalisme. Kisah Candi Prambanan diilmiahkan: bukan setan yang membangun candi, tetapi tenaga rakyat. Ketoprak menjadi alat pendidikan politik, alat pembebasan, alat revolusi.
Kemunduran dan ingatan yang tersisa
Namun sejarah tidak selalu berpihak pada rakyat. Setelah 1965, ketika revolusi dikalahkan, banyak aktivis Bakoksi ditangkap. Organisasi ketoprak dibubarkan, kelompok-kelompok seni dibungkam, dan ruang-ruang kebudayaan rakyat dipersempit oleh rezim Orde Baru. Ketoprak yang dulu lantang dipaksa menjadi hiburan yang jinak.
Pentas ketoprak makin jarang. Kursi penonton tak lagi penuh. Di tengah penindasan yang mengganas, ketoprak meredup—seolah kehilangan panggungnya, kehilangan keberaniannya.
Namun ingatan tidak pernah mati. Di desa-desa, di panggung-panggung kecil, di kelompok-kelompok yang bertahan dengan segala keterbatasan, ketoprak masih hidup. Ia mungkin tidak lagi sepolitis dulu, tetapi denyutnya tetap ada. Ia menunggu saat ketika rakyat kembali membutuhkan suara yang lahir dari mereka sendiri.
Ketoprak adalah cermin. Ketoprak adalah suara. Dan, dalam sejarah panjang perlawanan rakyat Indonesia, ketoprak pernah berdiri sebagai corong yang lantang—mengabarkan bahwa rakyat tidak pernah benar-benar diam.











Ketoprak tobong