Di tengah kebisingan musik Inggris yang seringkali memilih aman dan netral, muncul dua perempuan dari Brighton yang menolak berkompromi.
Lambrini Girls, dengan duo punk Phoebe Lunny (vokal/gitar) dan Selin “Lilly” Macieira-Boşgelmez (bass), membawa energi chaos, humor kasar, dan kemarahan politik yang tajam. Mereka bukan sekadar band yang terdengar politis. Mereka menjadikan politik sebagai tulang punggung keberadaannya.
Dibentuk pada 2019 di Brighton, nama band ini diambil dari minuman perry murah yang digambarkan sebagai “toilet wine for sluts”. Sejak awal, mereka menolak citra punk yang maskulin dan heroik. Musik mereka berisik, cepat, dan penuh tawa sinis. Campuran garage punk, noise, dan semangat riot grrrl.
Namun di balik party energy itu, ada kemarahan yang terarah pada patriarki, rasisme, transphobia, dan negara yang mereka sebut sedang bergerak ke arah fasisme.

Politik Lambrini Girls tidak abu-abu. Mereka secara terbuka menyebut diri sebagai antifasis, antirasis, feminis interseksional, dan pro-trans. Lagu “God’s Country” (2024) menjadi manifesto paling jelas. Di dalamnya, mereka menyerang ekstrem kanan, nasionalisme kosong, dan politisi dari Rishi Sunak hingga Keir Starmer. “Great Britain? Are you sure?” tanya mereka dengan nada mengejek.
Phoebe pernah berkata blak-blakan, “Saya merasa malu berasal dari Inggris. Kita sangat rasis, sangat xenofobik. Pemerintah kita fasis. Saya tidak mengerti kenapa orang bangga menjadi bagian dari itu.”
Lilly, yang berlatar belakang Portugis-Turki, menambahkan bahwa patriotisme berbahaya karena menutup mata pada kenyataan kompleks.
Mereka tidak berhenti di lirik. Ketika festival-festival besar disponsori pihak yang mendukung agresi Israel, Lambrini Girls memilih mundur. Mereka turun ke jalan dalam aksi antirasisme, berbicara di counter-protest melawan kelompok far-right, dan terus-menerus membela hak-hak transgender.
Ketika diserang oleh tokoh anti-trans seperti Graham Linehan, mereka tidak mundur. Phoebe bahkan menyatakan siap “bertarung secara fisik dengan TERF mana pun”. Bagi mereka, jika hak trans diserang, maka hak semua orang yang terpinggirkan juga terancam.
Debut album mereka, Who Let the Dogs Out (Januari 2025), merangkum seluruh kemarahan itu dalam 30 menit penuh ledakan. Lagu-lagu seperti “Lads Lads Lads”, “Big Dick Energy”, “Company Culture”, dan “Cuntology 101” menyerang budaya lad, misogini di industri musik, kekerasan seksual di panggung, dan hipokrisi kapitalisme. Mereka menolak “pernyataan netral” yang aman. Sebaliknya, mereka menunjuk langsung pada sistem yang menindas: negara, industri, dan budaya patriarkal yang saling memperkuat.
Yang membuat Lambrini Girls berbeda adalah konsistensinya. “Kalau kamu membangun platform dari politik, kamu harus menaruh uang di tempat mulutmu berbicara,” kata mereka.
Politik bukan dekorasi untuk terlihat keren. Politik adalah tanggung jawab. Di panggung, Phoebe sering berteriak, “Who hates our government?!” dan mendapat jawaban gemuruh ribuan orang. Mosh pit mereka dibuat inklusif, terutama untuk penonton muda dan queer. Mereka menciptakan ruang di mana kemarahan bisa dirayakan tanpa meniru kekerasan yang mereka lawan.
Dalam konteks Inggris hari ini, ketika ekstrem kanan semakin pasang, xenofobia dinormalisasi, dan hak-hak marginal terus digerus, kehadiran Lambrini Girls menjadi sangat relevan. Mereka menolak nostalgia punk yang steril. Punk bagi mereka adalah alat untuk mengganggu kenyamanan elite, kemapanan kapitalisme, memaksa orang mempertanyakan diri sendiri, dan menolak diam di tengah kebangkitan otoritarianisme.
Lima tahun sejak mereka mulai merekam single pertama, Lambrini Girls telah membuktikan bahwa musik keras masih bisa menjadi senjata. Mereka tidak menawarkan solusi mudah atau harapan palsu. Yang mereka tawarkan adalah kejujuran yang menyakitkan, bahwa negara yang mereka tinggali sedang dalam bahaya, dan diam berarti ikut serta. Di era di mana banyak band memilih bermain aman, duo dari Brighton ini memilih berteriak lebih keras.
Mereka mungkin berisik, kasar, dan sering membuat orang tidak nyaman. Tapi justru di situlah kekuatan mereka. Di tengah dunia yang semakin gelap oleh kebencian dan otoritarianisme, Lambrini Girls mengingatkan kita bahwa punk yang sejati tidak pernah netral. Punk sejati selalu memihak pada mereka yang ditindas.










