Berpaham radikal di usia muda, itu biasa. Namun tetap teguh memegang keyakinan itu hingga usia senja adalah luar biasa. Dari sedikit orang yang mampu melakukannya, ada satu nama terus hidup dalam ingatan: Nawal El Saadawi.
Lima tahun telah berlalu sejak Nawal El Saadawi berpulang pada 21 Maret 2021 di Kairo, dalam usia 89 tahun. Namun suaranya tidak pernah redup. Sepanjang hidupnya ia mengabdikan diri untuk perjuangan kesetaraan, demokrasi, dan keadilan sosial.
Dia adalah seorang dokter, psikiater, penulis lebih dari 50 buku, dan aktivis yang digelari “Simone de Beauvoir dunia Arab”. Ia sendiri pernah berkata kepada jurnalis The Guardian, Homa Khaleeli, “Saya makin radikal seiring dengan bertambahnya usia. Saya perhatikan, penulis-penulis lain ketika tua menjadi lebih lunak. Bagi saya justru sebaliknya. Usia membuat saya semakin marah.”
Nawal lahir pada 27 Oktober 1931 di Desa Kafr Tahla, di delta Sungai Nil, utara Kairo. Ia anak kedua dari sembilan bersaudara. Ibunya, Zaynab, berasal dari keluarga kaya keturunan Ottoman. Ayahnya, Al-Sayed El Saadawi, pejabat Kementerian Pendidikan yang pernah terlibat perjuangan melawan pendudukan Inggris.
Di tengah masyarakat yang sangat konservatif dan mayoritas muslim, Nawal tumbuh tanpa kerudung dengan kepala tegak. Ia mengalami sunat perempuan (FGM) pada usia enam tahun, sebuah pengalaman yang kelak menjadi api dalam tulisannya. Pada usia 10 tahun, keluarga berusaha menjodohkannya. “Saat itu aku memberontak, dan ibuku memihakku,” kenangnya.

Ia mencintai musik dan tarian, namun ayahnya tak mampu membeli piano. Buku menjadi pelariannya. Prestasi cemerlang membawanya meraih beasiswa kedokteran di Universitas Kairo. Tahun 1955 ia lulus sebagai dokter. Pada tahun yang sama ia menikah dengan sesama mahasiswa, Ahmed Helmi. Mereka dikaruniai anak perempuan, Mona. Pernikahan itu berakhir dua tahun kemudian. “Sebelum menikah dia berjanji menjauhi narkoba, tapi tidak. Dia mencoba membunuhku, jadi kutinggalkan,” ujarnya.
Pernikahan kedua dengan seorang pengacara berakhir cepat karena sikap patriarkis sang suami. Pada 1964 ia menikah dengan Sherif Hatata, dokter, penulis, dan mantan tahanan politik. Mereka memiliki anak laki-laki, Atef, dan bersama selama 46 tahun sebelum bercerai pada 2010.
Sebagai dokter desa di kampung halamannya, Nawal menyaksikan langsung penderitaan perempuan: kekerasan, kemiskinan, dan ritual yang melukai tubuh. Prestasi mengangkatnya menjadi Direktur Pendidikan Kesehatan Masyarakat. Namun pada 1969 ia menerbitkan Al-Mar’ah wa al-Jins (Women and Sex). Buku itu membongkar mitos keperawanan, selaput dara, dan praktik sunat perempuan. Gempar. Ia dipecat. Majalah kesehatan yang dipimpinnya ditutup.
Lalu datang novel yang mengubah segalanya: Imra’ah ‘inda Nuqtat al-Sifr (Woman at Point Zero, 1975). Kisah Firdaus, perempuan miskin yang dianiaya, dipaksa menikah, menjadi pekerja seks, lalu dihukum mati, menjadi salah satu novel Afrika paling penting abad ke-20. Disusul The Hidden Face of Eve (1977), yang di Indonesia dikenal sebagai Perempuan dalam Budaya Patriarki. Karya-karyanya diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.
Tekanan makin hebat. September 1981, rezim Anwar Sadat memenjarakannya bersama ribuan intelektual. Di Penjara Qanatir, tanpa kertas dan pena, ia menulis di gulungan kertas toilet dengan pensil alis. Dari situ lahir Memoirs from the Women’s Prison.

Setelah Sadat dibunuh pada 6 Oktober 1981, Hosni Mubarak membebaskannya. Tahun 1982 ia mendirikan Arab Women’s Solidarity Association (AWSA), organisasi feminis independen pertama yang legal di Mesir, meski kemudian dibubarkan pemerintah.
Ancaman pembunuhan dari kelompok fundamentalis memaksanya ke pengasingan di Amerika Serikat pada 1993. Ia mengajar di Duke University dan kampus-kampus lain. Tahun 1996 ia kembali ke Mesir dan terus menentang Mubarak. Pada 2005 ia sempat mencalonkan diri sebagai presiden, sekadar menantang diktator, sebelum mundur karena pembatasan ketat.
Ketika gelombang ketidakpuasan terhadap rezim Mubarak memuncak pada awal 2011, Nawal menjadi salah satu figur penting dalam Revolusi Tahrir. Apartemennya di Kairo kerap dipenuhi anak-anak muda yang datang berdiskusi, membaca karya-karyanya, dan merancang aksi. Demonstrasi kecil yang semula menentang wacana warisan jabatan kepada putra Mubarak perlahan membengkak menjadi gerakan massal.
Nawal sendiri turun ke Lapangan Tahrir, berdiri di tengah ribuan demonstran yang menuntut kebebasan dan keadilan. “Tempat itu selalu dipenuhi anak-anak muda yang membaca karya saya. Demonstrasi kecil dimulai, perlahan-lahan ide revolusi disebarluaskan sampai kami pindah ke Lapangan Tahrir,” kenangnya.
Kehadirannya sebagai intelektual senior yang tak pernah kompromi memberi legitimasi moral bagi generasi baru pejuang, sekalipun ia tetap kritis terhadap arah revolusi setelah tumbangnya Mubarak.
Dalam kritiknya yang tajam terhadap kolonialisme, Nawal juga menolak mentah-mentah istilah “Timur Tengah” atau Middle East. “Saya benci kata Middle East. Tengah bagi siapa? Kita disebut demikian karena melihatnya London, karena dulu kita adalah koloni Inggris,” tegasnya di berbagai kesempatan.
Bagi Nawal, istilah itu adalah bahasa kolonial yang menempatkan Eropa sebagai pusat peta dunia, sementara Mesir dan kawasan sekitarnya hanya menjadi “tengah” atau “timur” dalam pandangan sang penjajah. Ia lebih memilih menyebut dirinya sebagai orang Afrika dari Mesir, atau bagian dari dunia Arab dan Afrika Utara. “Saya orang Afrika dari Mesir, bukan Timur Tengah,” katanya. Penolakannya ini mencerminkan semangat dekolonisasi pikiran yang melekat erat dengan feminismenya yang sosialis dan anti-imperialis.
Di Indonesia, karya Nawal menjadi bahan bakar semangat anak muda di bawah rezim Orde Baru. Matinya Sang Penguasa (God Dies by the Nile) terbit pada 1989 lewat Yayasan Obor dengan pengantar Abdurrahman Wahid. Perempuan di Titik Nol menyusul pada 2002 dan mengubah cara pandang banyak perempuan terhadap tradisi, pernikahan, dan tubuh. Buku-bukunya masih dibaca, dikutip, dan dibahas hingga hari ini.

Lima tahun setelah kepergiannya, dunia masih bergulat dengan patriarki, fundamentalisme, kapitalisme yang menindas, dan krisis iklim. Nawal pernah berkata bahwa di tengah kondisi mengerikan itu, rakyat akan mencari ide-ide kesetaraan dan keadilan. Ia benar. Gagasannya tentang feminisme sosialis, yang menolak memisahkan perjuangan perempuan dari kelas dan kolonialisme, semakin relevan.
Ia mengajarkan bahwa radikalisme menjadi aktivis dan radikal bukan soal usia, melainkan keberanian menolak berkompromi dengan kebohongan, termasuk kebohongan yang tersembunyi dalam bahasa.
Nawal El Saadawi telah pergi. Namun pena yang pernah dituliskannya di kertas toilet, suara yang pernah menggema di Tahrir, dan ide yang menolak tunduk, masih menemani kita. Nawal tidak hanya feminis terbesar abadnya. Ia adalah api yang terus menyala bagi siapa pun yang memilih melawan penindasan dan ketidakadilan.










