Koperasi, Dari Mondragon Hingga Yogyakarta

Malam itu, Taufan mengajak saya berdiskusi. Waktu yang ditawarkannya sangat tidak ramah. Tengah malam, pukul 23.30. “Tahun ini aku gagal lagi ke Spanyol. Tapi aku pasti ke sana,” ujaran itu meluncur di pembukaan obrolan. Tekstur suaranya, seperti yang sudah saya kenal bertahun-tahun, sarat dengan semangat. Saya yang baru terjaga dari lelap, pelan-pelan mencoba membuntuti irama pembicaraan.

Benar, Taufan ingin pergi ke Spanyol. Sayangnya, walau punya kecukupan ongkos, dia tidak memiliki kelonggaran waktu. Dia ke sana bukan untuk berwisata, menonton sepak bola, atau memenuhi undangan lembaga donor. Taufan hendak melawat ke tempat di mana model ekonomi ideal versinya dijalankan. Melihat dan memperoleh penjelasan langsung tentang praktik Koperasi Pekerja Mondragon.

Tak banyak memang model usaha yang dikunjungi turis seperti yang dialami Mondragon. Tiap tahun tak kurang dari 2.000 pelancong tiba di sana. Bagaimana industri kaliber besar dikelola dalam bentuk usaha kolektif? Seperti apa pembagian hasil di antara anggotanya? Pertanyaan-pertanyaan sejenis itu mungkin yang membuat jurnalis, profesor, dan idealis tertarik datang. Juga, Taufan.

Koperasi Mondragon memang mendunia. Baik nama, cerita kesuksesan, pun skala bisnisnya. Koperasi uzur berumur lebih dari enam dasawarsa dihargai sebagai koperasi terbesar yang ada di muka bumi. Ia terdiri dari 95 koperasi otonom. Bisnis Mondragon meliputi pendidikan, jaringan ritel besar, katering, serta jasa konsultan.

Mereka juga memproduksi sepeda dalam skala besar. Membuat elevator. Penghasil mesin industri yang dipakai dalam produksi jet, roket, berikut turbin angin. Jadi Anda jangan membayangkan Koperasi Mondragon serupa kantor kecil tak menyakinkan, ditunggui oleh “bapak-bapak” yang hampir putus asa, seperti yang kerap ditemui pada badan usaha serupa di Indonesia.

Talleres Ulgor adalah koperasi industri pertama yang didirikan di kota Mondragón, wilayah Basque, Spanyol, pada tahun 1956. Perusahaan ini menjadi cikal bakal lahirnya Mondragon Corporation, salah satu jaringan korporasi koperasi terbesar di dunia

Dalam sebuah reportase panjang di The New Yorker yang saya baca sebelum menulis esai ini, Larry Summers ekonom dari Universitas Harvard menyampaikan keraguan terkait model Mondragon. “Ketika Anda menempatkan pekerja sebagai penanggung jawab perusahaan dan memberi mereka kendali besar atas perusahaan, satu hal yang tidak akan Anda dapatkan adalah ekspansi,” paparnya.

Summers kali ini bisa jadi keliru. Mondragon bukanlah toko kelontong skala lokal. Pendapatan tahunan mereka melebihi 12 milliar Euro. Tiga kali lipat anggaran pertahanan Indonesia. Koperasi mempekerjakan lebih dari 80 ribu orang―dengan 76 persen pekerja di manufaktur merupakan pemilik. Koperasi ini memiliki anak perusahaan di negara-negara seperti Tiongkok, Jerman, dan Meksiko. Mereka bersaing secara efektif di pasar internasional.

Memenangkan kontrak dari perusahaan prestisius seperti General Electric dan Blue Origin, adalah cerita besar lain dari Mondragon. Koperasi dengan 505 jenis paten ini memiliki 14 pusat penelitian dan pengembangan teknologi dengan ratusan peneliti full timer. Pendapat Larry Summers terlihat meleset untuk memahami kasus Mondragon.

Di Koperasi Pekerja Mondragon tidak ada saham dari luar. Anggota memberikan suara pada banyak keputusan penting. Mengenai arah strategi dan kebijakan, suara semua anggota―baik manajemen senior atau pekerja kerah biru―diperhitungkan sama. One man, one vote, terdengar seperti demokrasi dijalankan di lapangan ekonomi. Terasa ada alternatif cara berbisnis yang lebih adil dan egaliter dalam kapitalisme.

*

Tetapi apakah Koperasi Mondragon sesempurna yang dikabarkan? Benarkah ekonomi yang dikelola berdasarkan “asas kekeluargaan” (meminjam istilah di konstitusi kita) mewujud tanpa cela di satu sudut Spanyol? Dalam hidup, Anda tak diizinkan menilai sesuatu dengan berat sebelah, kecuali Anda memang menyediakan diri untuk gagal. Mari kita intip bagian-bagian Mondragon yang menyisakan gugatan.

Majelis umum koperasi, yang terdiri dari seluruh anggota, memilih dewan pengurus, kemudian menunjuk direktur pelaksana. Meskipun 42 persen pemilik Mondragon merupakan perempuan, hanya 29 persen yang menjadi anggota dewan pengurus. Seperti masalah pelik partisipasi berbasis gender di banyak tempat, Koperasi Mondragon pun terseok-seok di isu tersebut.

Para pekerja Mondragon di luar negeri, yang bukan merupakan pemilik koperasi, diperkerjakan dalam status outsourcing bergaji rendah. Noam Chomsky, intelektual kondang Amerika, yang kerap melontarkan pernyataan mengagumi Mondragon, turut mengajukan kritik. Katanya, “…(Mondragon) masih mengeksploitasi pekerja di Amerika Selatan, dan mereka melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat secara keseluruhan.”

Mobil truk van ringan milik TACI, salah satu koperasi yang kelak menjadi bagian dari Mondragon.

Dalam sistem di mana bisnis harus senantiasa berburu profit agar terus bertahan, Chomsky menambahkan, “Mereka tidak punya pilihan.” Artinya Mondragon tak bisa keluar dari skema akumulasi profit. Bahwa upaya perburuan laba itu mesti memukul selapisan pekerja di belahan negeri lain. Faktanya, mereka tak punya jawaban yang berbeda.

Disparitas pendapatan merupakan problem laten dalam kapitalisme. Di Amerika, perbedaan pendapatan pekerja terendah dengan eksekutif utama amat mencolok. Menurut studi Economic Policy Institute pada tahun 2020 di perusahaan-perusahaan terbesar Amerika, rasio pendapatan antara CEO dan pekerja biasa mencapai 351 banding satu.

Mondragon jelas unggul jauh di isu disparitas upah. Tetapi tren pelebaran kesengajangan upah terlihat tak cukup menggembirakan. Rasio gaji antara eksekutif puncak Mondragon dan pekerja terendah, tiga banding satu pada tahun 1972. Lantas menjadi empat setengah banding satu. Sejak akhir tahun 1980-an hingga sekarang, angkanya menjadi enam berbanding satu.

Tahun lalu para insinyur dan manajer di koperasi Grup Fagor yang menjadi bagian dari Mondragon, mengusulkan kenaikan gaji secara signifikan. Angka yang diminta akan membantu mendekatkan gaji mereka dengan harga pasar. Gaji tersebut tidak akan melebihi rasio enam banding satu, namun mendekati batas atas, sehingga menciptakan isu kesenjangan internal. 

Beberapa pekerja yang gajinya berada di tingkat terbawah di Fagor, merespons negatif. Mereka mengadakan sidang umum luar biasa. Bagi orang-orang di Mondragon, bahkan perubahan yang dianggap lumrah bagi jamaknya kalangan luar, bisa menjadi sinyal penurunan nilai-nilai yang mereka anut. Ini soal mempertahankan prinsip-prinsip, tentang spirit yang melandasi berdirinya koperasi.

*

Apakah model Mondragon dapat direplikasi di luar wilayah indah Spanyol utara itu? Apakah problem eksploitasi dan kesenjangan bisa diatasi? Ini akan selalu menjadi pertanyaan terbuka yang sangat bisa diperdebatkan. Taufan, sahabat saya, berada di barisan yang cukup optimistik dengan kemungkinan tersebut.

Optimisme itu membuatnya mulai menggeser orientasi bisnis yang dilakoninya. Perusahaan miliknya diubah dari startup teknologi, secara bertahap menjadi koperasi. Bila dahulu, perusahaan mengidam-idamkan IPO atau setidaknya akuisisi besar, sekarang dia berbicara dengan nada lain. Di titik ini, saya merasa perlu memberi Taufan hormat. Dia bisa kaya duluan, tapi memilih berbagi.

Pak CEO ini sekarang tinggal di rumah yang berukuran sama dengan pekerja lainnya. Dia membangun koperasi di lahan seluas 4.000 meter persegi. Pada sebuah kawasan di Yogyakarta gagasan yang banyak diinspirasi Mondragon mulai diupayakan. Para pekerja direkrut lewat screening latar belakang kelas sosial. Hanya mereka yang datang dari keluarga berpenghasilan di bawah Rp 5 juta yang akan diterima.

Pelan-pelan ingatan saya mengembara ke masa silam. Saat kami masih muda. Berbulan-bulan hidup bersama, berjalan kaki menelusuri satu desa ke desa lain. Menunaikan tugas organisasi yang “kejam”. Saya selalu mengingatnya sebagai putra pasangan guru yang mendiami kawasan miskin kota di Surabaya. Berotak bagus, cepat belajar, dan susah bangun pagi.

Kunjungan Presiden Kuba, Fidel Castro, ke pabrik koperasi Arrasate, jaringan Mondragon, di Tripoli, Libya, pada 1972.

Sekarang Taufan sudah di pengujung 30-an tahun. Wajahnya terlihat awet muda, setidaknya yang saya tangkap di layar Zoom. Walau besar kemungkinan penglihatan saya tak akurat, sebab mengantuk hebat. Perhatian Taufan kini tertanam kuat di tema koperasi. Dia percaya dapat melakukan sesuatu. Ingin Indonesia memberi tempat luas ke badan usaha yang disebut Bung Hatta sebagai “senjata persekutuan si lemah untuk mempertahankan hidupnya.”

“Apakah Partai Buruh benar-benar mendukung koperasi?”. Saat itu saya masih menjadi bagian dari partai tersebut, sehingga pertanyaan tadi wajar diluncurkan.

Jam menunjuk pukul 01.30 ketika pertanyaan itu dia ucapkan. Saya tahu itu bukan jenis pertanyaan yang cukup dijawab sambil lalu, seperti: “Ya benar. Kami mendukung koperasi”. Sebab, di panggung politik, narasi sering kali hanya perhiasan pidato—bukan cetak biru untuk bekerja. Kini, ketika publik berbicara koperasi, ada satu proyek raksasa yang mendominasi pembicaraan: Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP. Ia adalah koperasi yang dibangun secara laju, meluas hingga ke perbukitan, areal persawahan dan muka kuburan.

KDMP lebih tampak sebagai mesin birokrasi yang gemuk, dikejar-kejar target, dan nafsu perburuan rente. Sementara Taufan sedang bertaruh di Jogja membuktikan gagasannya. Beda Taufan dan (kapitalis) birokrasi itu cuma satu: yang satu menjadikan koperasi sebagai cara hidup, yang lain menjadikannya sekadar cara berburu rente. Dan malam itu, di ujung telepon pukul 02.00 pagi, saya tahu siapa yang bersungguh-sungguh dan siapa yang cuma menunggangi nama rakyat.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Ojol Jadi UMKM Langgar Prinsip Perlindungan Pekerja

Ojol Jadi UMKM Langgar Prinsip Perlindungan Pekerja

Tuntutan tersebut disampaikan SPAI menyusul adanya klaim dari Menteri Usaha

Next
Prabowo dan Politik “Love It or Leave It”

Prabowo dan Politik “Love It or Leave It”

“Terus kita dibikin apalagi, Indonesia gelap

You May Also Like
Total
0
Share