Pada Juni 1959, sebuah majalah perempuan terbit dengan nama yang cukup menyentak: Api Kartini.
Yang dipilih bukan cahaya, sinar, fajar, atau obor, namun api. Organisasi sang empunya majalah terinspirasi dari petikan pidato Sukarno: ambil apinya, jangan abunya. ”Dari Kartini pun kita akan mengambil apinya, bukan abunya. Inilah sebabnya: Api Kartini,” tulis redaksi dalam edisi pertama majalah Api Kartini, Juni 1959.
Majalah itu adalah suara resmi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi perempuan terbesar dan paling militan pada masa itu. Dengan memakai nama Kartini sebagai panji, Gerwani sedang mengklaim satu warisan, bahwa perempuan yang ingin bebas, yang menentang feodalisme dan kolonialisme, adalah penerus langsung dari gadis bangsawan Jepara yang dua generasi sebelumnya menulis surat-surat perlawanannya dari dalam sangkar tradisi.
Siapa Gerwani?
Untuk memahami mengapa sebuah majalah perlu ada, kita harus memahami dulu siapa yang menerbitkannya. Gerwani lahir pada 4 Juni 1950 di Semarang, dari fusi enam organisasi perempuan daerah, di antaranya Rukun Putri Indonesia dari Semarang dan Isteri Sedar dari Bandung, yang melebur dalam satu wadah bernama Gerakan Wanita Sedar (Gerwis). Inisiatif pendiriannya datang dari S.K. Trimurti, seorang jurnalis perempuan sekaligus pejuang kemerdekaan 1945 dan Menteri Perburuhan pertama RI.
Dalam kongres kedua tahun 1954, Gerwis berganti nama menjadi Gerwani. Perubahan nama itu bukan sekadar administratif, melainkan perubahan orientasi. Dari organisasi berbasis kader menuju organisasi massa yang membuka pintu bagi seluruh perempuan Indonesia, tanpa memandang pendidikan, kelas, atau afiliasi politik.
Strategi ini berhasil dengan luar biasa. Pada 1955, anggotanya sudah mencapai 400 ribu orang. Pada Kongres III tahun 1957, angka itu bertumbuh menjadi 663 ribu. Pada 1963, tembus 1,5 juta. Dan pada puncaknya menjelang 1965, anggota Gerwani diperkirakan antara 1,5 hingga 3 juta orang, menjadikannya organisasi perempuan terbesar di Indonesia, bahkan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Apa yang membuat perempuan berbondong-bondong bergabung? Program Gerwani menyentuh langsung kehidupan sehari-hari: kursus membaca dan menulis untuk perempuan desa yang buta huruf, pendirian TK Melati sebagai tempat penitipan anak bagi ibu-ibu yang bekerja (hingga 1.478 cabang di seluruh Indonesia pada 1964), penyuluhan kesehatan, advokasi antipoligami, dan pendampingan dalam kasus pemerkosaan dan perceraian sewenang-wenang.
Gerwani juga menempatkan enam wakilnya di DPR, antara lain Suharti Suwarno, Salawati Daud, dan Umi Sardjono. Hal ini mencatatkan Gerwani sebagai satu-satunya organisasi perempuan yang punya kursi riil di parlemen.
Api Kartini untuk perempuan
Di antara semua instrumen gerakan yang dimiliki Gerwani, Api Kartini adalah yang paling menarik untuk ditelaah. Media ini dirancang dengan kecerdasan editorial yang melampaui zamannya.
Meskipun diterbitkan oleh organisasi perempuan kiri yang biasanya bergelut dengan bertumpuk-tumpuk teori, majalah Api Kartini justru sangat ringan, edukatif, informatif, dan lekat dengan kehidupan perempan di berbagai lapisan sosial.
Setiap edisi dibuka dengan puisi. Kemudian biasanya opini-opini politik kontemporer. Setelah itu soal parenting, masak-memasak, pengenalan budaya, kesehatan keluarga, berita internasional, tokoh, dan cerpen.
Soal parenting, tips yang disuguhkan Gerwani sudah sangat maju untuk masanya. Misalnya, pada edisi pertama, Api Kartini membahas soal anak yang rewel setelah punya adik. Rupanya, karena punya adik, ia kurang mendapat perhatian. Tipsnya sederhana: berikan perhatian yang sama pada semua anak. Selain itu, ada tips tentang perlunya mendidik anak dengan dialog. Menariknya, hampir semua tips ini disampaikan melalui dialog yang ringan dan renyah.
Dari semua edisi terbitannya, Gerwani sangat peduli dengan isu anak-anak, mulai dari soal parenting, pendidikan, hingga kesehatan anak. Untuk pendidikan, konsep pendidikan yang diusung Gerwani berpijak pada lima cinta: tanah air, orang tua/orang lain, kebenaran dan keadilan, persahabatan dan perdamaian, dan alam sekelilingnya.

Selain itu, hampir semua edisi Api Kartini menyelipkan soal tips memasak, dekorasi rumah, fashion, hingga perawatan tubuh bagi perempuan/ibu-ibu rumah tangga. Pada edisi ke-4 1960, Gerwani berbagi tips bagaimana memiliki tubuh yang ramping, yakni senam disertai dengan gambar petunjuk gerakan. Bayangkan, di masa itu, sudah ada organisasi yang sangat kalcer begini.
Tahun 1960-an, mulai ada rubrik ”Mak Ompreng”, yang digawangi oleh SK Trimurti. Rubrik ini biasanya berisi sindiran dan kritik terhadap peristiwa-peristiwa aktual. Pada edisi ke-5 1960, Mak Ompreng menyindir kelakuan istri-istri pejabat yang membonceng karier suaminya, tetapi meremehkan perempuan kelas bawah.
Namun, di antara rubrik-rubrik ringan dan renyah itu, terselip artikel-artikel politik, berita gerakan perempuan internasional, dan sikap politik Gerwani merespons situasi ekonomi dan politik dalam negeri maupun internasional.
Dengan rubrik yang kaya, informatif, dan berkelindan langsung dengan rupa-warna kehidupan perempuan dan rumah tangga, majalah Api Kartini berhasil memikat perempuan dari berbagai lapisan sosial, termasuk kelas pekerja dan kaum tani.
”Banyak terbitan, khususnya majalah, yang hidupnya seumur jagung. Terbit sekali, dua kali, dan seterusnya mati. Sebabnya tidak lain, karena majalah itu, walaupun dekat di mata kita karena dapat dibaca, tapi tidak dekat di hati pembacanya,” tulis pengantar redaksi edisi pertama Api Kartini, Juni 1959.
Yang menarik, sejak edisi pertama hingga terakhir, Api Kartini membuka ruang untuk iklan. Tarifnya tergantung ruang dan jumlah pemuatan. Namun, meskipun ruang iklan dibuka sejak edisi pertama, tetapi majalah ini baru mendapat iklan komersial pada edisi pertama 1960.
Kartini versi Gerwani: Bukan ibu, tapi pejuang
Pilihan nama Kartini untuk majalah ini bukan sekadar romantisme sejarah. Sesungguhnya, Gerwani hendak memberi tafsir kepada Kartini sebagai seorang pejuang.
”Kartini bukan hanya pejuang emansipasi wanita, tetapi juga pejuang kemerdekaan nasional, demokrasi, dan perdamaian,” sebut percikan Api Kartini edisi 3 tahun 1960.

Pada setiap edisi, terutama edisi pertama 1959 dan hampir semua edisi pada 1960 dan seterusnya, ada rubrik khusus: Percikan Api Kartini. Isinya refleksi pendek tentang Kartini.
Pramoedya Ananta Toer, pada edisi ke-2 1959, mengajak Gerwani menerbitkan karya-karyanya, seperti kumpulan surat Habis Gelap Terbitlah Terang, surat-surat Kartini yang tercecer di luar negeri, dan biografi sang pejuang. Dalam edisi ke-6 1960, redaksi Api Kartini mengapresiasi artikel berseri dari Pram soal Kartini di majalah Bintang Timoer.
Kartini adalah “Perintis djalan ke kemadjuan dan kebebasan bagi kaum wanita Indonesia,” seru Api Kartini (No 4 Th 2, 1960).
Jangkauan internasional
Api Kartini tidak hanya bicara soal dapur dan desa. Ia juga menjadi jendela keluar bagi pembacanya: menampilkan wajah gerakan perempuan internasional yang sedang bergolak di era Perang Dingin.

Pada edisi ke-3 1959, majalah Api Kartini mengajak pembacanya bertamasya ke komune rakyat ”Sze Tji Tsing” di Tiongkok. Artikel itu ditulis oleh Nj Suharti Suwarto, anggota DPR yang diusung oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada edisi ke-5, ada perkenalan terhadap Ketua Gerakan Wanita Demokratis Sedunia (GWDS): Eugunie Cotton. Pada edisi ke-3 1960 ada perkenalan tokoh perempuan sosialis, Clara Zetkin.
Selain mengulas tokoh-tokoh perempuan sosialis internasional dan aktivitas GWDS, Api Kartini juga aktif mengabarkan situasi gerakan rakyat di berbagai negara, seperti revolusi Kuba, pasang fasisme di Albania, kelanjutan Konferensi Asia Afrika, hingga kampanye penolakan senjata nuklir.










