8 Juli 1972, 53 tahun lalu, Ghassan Kanafani berpulang. Sebuah bom berukuran 3 kg, yang dipasang oleh agen Mossad di mobilnya, meledak dan merenggut nyawanya. Dalam kejadian pilu itu, Lamees Najim, keponakan perempuannya yang baru berusia 17 tahun, turut menjadi korban.
Agen Mossad berpikir, dengan mengakhiri hidup Kanafani, perjuangan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan Palestina akan surut. Kanafani, yang dijuluki Antonio Gramsci-nya Palestina, merupakan salah satu tokoh kunci di balik gagasan-gagasan besar dan strategi politik yang menggerakkan perjuangan PFLP.
Waktu itu Kanafani dikenal sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam gerakan pembebasan Palestina. Dia menjadi juru bicara dan anggota Politbiro dari kelompok perlawanan bernama PFLP.
Hari ini, setelah lima dekade berlalu, nama Kanafani masih dikenang sebagai salah satu inspirasi, dan pemikirannya menjadi api yang membakar semangat perjuangan bangsa Palestina.
Menjadi pejuang
Kanafani lahir di Akke, Palestina, pada 9 April 1936. Ayahnya seorang pengacara. Lantaran itu, ia bisa mengenyam pendidikan masa kecil dengan baik.
Namun, semua itu berubah total di 1948. Tahun itu Israel mulai melancarkan agresi terhadap Palestina. Sedikitnya 800 ribu rakyat Palestina, termasuk Kanafani dan keluarganya, terusir dari Tanah Air dan rumah mereka sendiri. Kejadian pilu itu dikenang bangsa Palestina sebagai “Al-Nakba”. Kanafani dan keluarganya terpaksa mengungsi ke Lebanon dan Suriah.
Di Damaskus, Suriah, Kanafani melanjutkan studi. Ia sempat belajar sastra Arab di Universitas Damaskus. Selain itu, ia menyumbangkan waktu senggangnya untuk mengajar anak-anak Palestina di kamp-kamp pengusian. Namun, belum sempat menamatkan kuliah, Kanafani dikeluarkan dari kampus.

Kanafani kemudian pindah ke Kuwait. Di sana ia bergabung dengan Gerakan Nasionalis Arab (ANM), sebuah organisasi yang didirikan oleh George Habash di tahun 1940-an. Organisasi ini memiliki pandangan politik nasionalis-kiri dan anti-imperialis. Di Kuwait, Kanafani menjadi editor koran yang berafiliasi dengan ANM, Al-Ra’I (opini). Di sini juga muncul ketertarikan Kanafani terhadap ajaran Marxisme.
Tahun 1960, ia pindah ke Beirut, Lebanon. Di sana ia makin terbenam dalam aktivitas politik bersama ANM. Dalam perkembangannya, ANM makin banyak dipengaruhi oleh ajaran sosialisme Nasserisme. Ia menjadi editor di koran yang menjadi corong propaganda Nasserisme, Al Muharrir (Pembebas).
Pejuang berpena tajam
Selain itu, dia juga dikenal sebagai pemilik pena yang tajam. Artikel-artikelnya menohok langsung kepentingan imperialisme di balik agresi Israel terhadap Palestina. Ia memimpin sejumlah media kiri yang menjadi corong perlawanan, seperti Al-Ra’I (Opini), Al Muharrir (Pembebas), dan Al-Hadaf (Sasaran).
Pada 1962, ia berhasil menyelesaikan novel yang terkenal, Men in the Sun (Rijal fi-a-shams). Novel ini bercerita getir: tiga orang pemuda Palestina hendak menyeberang ke Kuwait untuk memperbaiki nasib. Mereka menumpang mobil yang dikemudikan oleh Abul Khaizuran, seorang mantan tentara yang cacat dan impoten. Agar bisa lolos di perbatasan, tiga pemuda itu disembunyikan dalam tangki kosong. Namun, saat hendak melintas di perbatasan Irak, Abu Khaizuran diejek oleh petugas perbatasan. Merasa harga dirinya diserang, Abu Khaizuran turun dan berdebat panjang. Ironisnya, dalam debat panjang tak berguna itu, tiga pemuda yang bersembunyi di dalam tangki kosong itu kehilangan nyawanya. Novel ini terasa getir dan penuh sindiran.

Empat tahun kemudian, karyanya yang lain juga lahir, All That’s Left to You (Ma Tabaqqah Lakum). Novel ini berkisah tentang dua saudara, laki-laki dan perempuan, yang menjadi yatim-piatu pasca kejadian Nakba 1948. Jalan hidup mereka dramatis.
Pada 1970, Kanafani kembali melahirkan novelnya yang terkenal, Return to Haifa (A’id ila Hayfa). Novel ini berkisah tentang pasangan suami-istri yang tinggal di Ramallah pascatragedi Nakba 1948. Ketika suasana mulai relatif tenang, mereka kembali ke kampung halamannya di Haifa, demi mencari anaknya yang terpisah. Sungguh malang, ketika mereka tiba, rumahnya sudah dihuni pasangan Yahudi, sementara sang anak dibesarkan oleh keluarga Yahudi itu dan diberi nama Yahudi.
Lewat karya sastra, Kanafani berusaha berbisik kepada bangsa Palestina untuk ingat dengan akar sejarah dan peristiwa Nakba yang memisahkan mereka dengan Tanah Airnya.
Bergabung dengan PFLP
Pada 1967, George Habbash, seorang Kristen Palestina yang menganut Marxisme, mendirikan organisasi perlawanan bernama Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Organisasi ini menganut Marxisme-Leninisme dan meletakkan perjuangan bersenjata sebagai jalan revolusinya.
Kanafani segera menjadi bagian dari alat perlawanan baru ini. Dia ditunjuk sebagai salah satu juru bicaranya. Selain itu, Kanafani juga menjadi pemimpin redaksi koran resmi PFLP, Al-Hadaf (Sasaran).
Sebagai seorang Marxis, Kanafani selalu memihak kepada kelas tertindas, terutama kaum buruh dan tani. Karena itu, sebagai intelektual dan novelis, karya-karyanya pun terang-terangan memihak kepada kelas-kelas sosial yang diperjuangkannya. Ia juga terang-terangan bilang bahwa koran yang dipimpinnya, Al Hadaf, adalah kawan perjuangan dari kaum tertindas.

Dalam sastra, Kanafani juga tegas. Menurutnya, sastra Palestina tidak hanya dituntut berbicara tentang keadaan negeri dan rakyatnya di bawah pendudukan Israel. Lebih penting dari itu, sastra Palestina harus mengabdi kepada revolusi dan pembebasan Palestina.
Dalam melihat persoalan rakyat Palestina, Kanafani memakai pisatu analisa ekonomi-politik Marxis. Ia menjadi sadar, agresi Israel ke Palestina bukanlah karena motif agama atau rasial, melainkan didorong oleh motif ekonomi-politik, yakni imperialisme.
Karena itu, dengan jernih dia bilang, perjuangan pembebasan Palestina bukan hanya tugas rakyat Palestina, melainkan tugas kaum revolusioner di manapun mereka berada. “Karena perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan massa yang dihisap dan ditindas di zaman kita,” tulisnya.
Ia juga melihat, kontradiksi pokok yang dialami Palestina dan negara-negara Arab, juga bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin, adalah imperialisme. Karena itu, ia menyerukan perlawanan berskala internasional terhadap imperialisme.
“Imperialisme telah membaringkan tubuhnya di seluruh dunia, kepalanya di Asia Timur, jantungnya di Timur Tengah, urat nadinya mencapai Afrika dan Amerika Latin. Di manapun kau menyerangnya, kau merusaknya, dan kau sudah mengabdi pada revolusi dunia,” katanya.
Perjuangan bersenjata
Dalam konsep strategi perjuangan, PFLP banyak dipengaruhi oleh revolusi Tiongkok dan Vietnam. Kanafani sangat memeluk teguh pandangan itu. Menurut Kanafani, perjuangan bersenjata merupakan metode yang paling tepat untuk membebaskan rakyat Palestina dan bangsa-bangsa tertindas dari kolonialisme dan imperialisme.
Menjelang tahun 1970-an, PFLP berusaha menarik perhatian dunia agar mau menengok nasib bangsa Palestina. Caranya, melakukan aksi pembajakan pesawat yang terkait Israel. Aksi yang terkenal adalah pembajakan pesawat Trans World Airlines (TWA) pada Agustus 1969 dan pesawat milik Isral El Ai pada September 1970. Keduanya dilakukan oleh seorang pejuang perempuan anggota PFLP, Laila Khalid.

Aksi-aksi PFLP ini membuat Israel geram. Puncaknya, pada 1970, dua anggota tentara merah Jepang menyerang sejumlah penumpang di Bandara Lod di Tel Aviv. PFLP, yang memang berkawan dengan tentara merah Jepang, dituding bertanggungjawab atas serangan itu.
Sebagai balasannya, Israel menggerakkan agen Mossad untuk membunuh satu per satu pimpinan atau tokoh kunci PFLP.
Pada 8 Juli 1972, sekitar pukul 10.30 pagi, di Beirut, agen Mossad memasang bom di bawah kursi mobil yang dikendarai Kanafani dan keponakannya. Meski gugur akibat serangan bom itu, namun jejak perjuangan Kanafani dan pemikirannya masih hidup. Ia terus menyala, menginspirasi perjuangan hingga saat ini.










