Rekomendasi Wisata: Menyusuri Jejak Minke di Museum Kebangkitan Nasional

Minggu siang di Jakarta, kota tersibuk di Indonesia, di tengah raungan kendaraan dan bunyi klakson yang bersahut-sahutan, saya berjalan kaki dari Pasar Buku Kwitang menuju ke sebuah gedung di Jalan Abdul Rahman Saleh Senen.

Ya, hari itu saya mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional. Dibangun pada 1899 dan baru selesai pada 1901, gedung ini diperuntukkan untuk School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera. STOVIA resmi dibuka pada 1 Maret 1902.

Menengok sejarahnya, sebelum menjadi STOVIA, ada Sekolah Dokter Djawa. Sekolah ini berdiri pada 1851 dan kampusnya terletak di Rumah Sakit Militer Weltevreden (sekarang RSPAD Gatot Soebroto). Jadi, gedung STOVIA, atau Museum Kebangkitan Nasional, adalah kampus ke-II dari Sekolah Kedokteran Belanda zaman itu.

Rumah Sakit Tentara (RSPAD), STOVIA (Museum Kebangkitan Nasional), dan Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (RSCM) masih satu kompleks. Kredit: Wikipedia

Pada 1919, Belanda mendirikan rumah sakit tak jauh dari gedung STOVIA. Namanya, Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting (CBZ). Rumah sakit ini diperuntukkan sebagai tempat praktik kedokteran oleh para mahasiswa STOVIA. Sekarang, CBZ berganti nama menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Jadi, kawan-kawan, Rumah Sakit Tentara (RSPAD Gatot Soebroto), Gedung STOVIA (Kebangkitan Nasional, dan CBZ (RSCM), dulunya adalah satu kompleks sebagai pusat pendidikan kedokteran. Makanya, jalan di daerah itu disebut Hospitaalweg.

Itu sekilas sejarah gedung STOVIA, agar kita tak kebingungan.

Berdiri di depan STOVIA, sebagai pembaca novel tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, ingatan saya langsung terlempar ke awal abad ke-20. Pada 1902, seorang pemuda berotak cemerlang dari pedalaman Jawa, dengan membawa kopor, tas, dan sebuah lukisan yang terbungkus, melangkah masuk ke gedung ini.

Ruang penjajar/Dosen STOVIA

Anak muda itu adalah Minke. Tokoh fiksi dalam novel tetralogi Pulau Buru itu, konon merujuk pada tokoh nyata: Raden Mas Djokomono Tirto Adhie Soerjo. Ia adalah simbol dari sebuah zaman yang sedang menggeliat.

Begitu kaki melangkah masuk, memasuki lobi, para pengunjung akan dipertemukan dengan dua sisi dari kompleks museum ini: sisi kanan dan sisi kiri. Dan, di depan terhampar taman yang dibelah oleh selasar yang menuju aula (dulu merupakan ruang rekreasi).

Saya memilih ke kanan terlebih dulu. Barisan kanan ini terdiri dari ruangan-ruangan yang terkait STOVIA. Ruang pertama adalah ruangan para pengajar. Di dalam ruangan ini, ada replika Direktur STOVIA, Hermanus Frederik Roll, berdiskusi dengan guru-guru dengan perwakilan Gubernur Jenderal. Mereka mempersoalkan aktivitas Boedi Oetomo di kampus itu.

Saya membayangkan, begitu Minke menginjakkan kaki di kampus ini, ia pertama sekali masuk di ruangan ini. Di STOVIA, setiap elève (sebutan untuk mahasiswa) harus berpakaian sesuai adat daerah masing-masing. Hari itu, Minke lupa membawa destar, sehingga ia terpaksa keluar sebentar ke Pasar Senen untuk membeli perlengkapan.

Ruang Direktur STOVIA

Kemudian ada ruangan Direktur STOVIA. Di ruangan inilah Tuan H.F. Roll berkantor dan menerima tamu. Saya membayangkan, pada hari pertama Minke di kampus ini, Tuan Roll menerima tamu luar biasa: Tuan Kommer, sahabat diskusi Minke, seorang liberal progresif. Tuan Kommer ini yang mengajak Minke ke Kamar Bola Harmoni (Societeit Harmonie), tempat berkumpul dan berpesta para elite Belanda, untuk bertemu Van Kollewijn (seorang reformis Belanda) dan Van Heutsz (Gubernur Jenderal Belanda kala itu).

Ruangan selanjutnya adalah ruangan praktik anatomi. Di dalam ada replika tubuh manusia yang terbaring di atas meja dengan dada terbelah. Juga tengkorak manusia yang ditaruh di dalam lemari kaca.

Ruangan selanjutnya adalah ruangan Dokter Djawa, yang menggambarkan perjalanan Sekolah Dokter Djawa hingga menjadi STOVIA. Di dalam ruangan ini juga tersimpan peralatan kedokteran di masa lampau.

Ruang memorial Boedi Oetomo

Kemudian ada ruangan lulusan, yang memperlihatkan daftar alumni STOVIA dari 1902 hingga 1928. Nama-nama lulusan terpampang di sebuah papan tulis raksasa.

Di sini juga ada ruang pengobatan tradisional, yang memperlihatkan bentuk pengobatan di Nusantara dan tanaman yang bisa menjadi obat. Juga soal Franz Wilhelm Junghuhn dan budidaya kina di Nusantara.

Kemudian ada ruang memorial Boedi Oetomo. Ruangan ini yang menjadi saksi pelajar-pelajar STOVIA, seperti Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Mohammad Soelaiman, termasuk Minke (Tirto Adhi Soerjo). Mereka inilah yang meluapkan keresahan dengan diskusi-diskusi politik yang kelak melahirkan Boedi Oetomo. Di dalamnya, ada replika rapat pembentukan Boedi Oetomo. Jumlah papan tulis yang berisi tulisan nama-nama calon pengurus Boedi Oetomo.

Ruang selanjutnya adalah asrama STOVIA. Sebuah ruangan besar dan panjang, dengan tempat tidur mahasiswa yang berderet di kiri dan kanan. Setiap tempat tidur berbentuk ranjang besi, dengan kasur dibalut seprei putih, dilengkapi satu bantal dan gulingan, dan lemari.

Diorama kelas/pembelajaran STOVIA

Memasuki ruangan itu, ingatan saya melesat jauh ke masa ketika Minke pertama sekali memasuki area ini. Berjalan ditemani seorang pesuruh sekolah, menuju ke salah satu ranjang, menaruh koper cokelatnya di bawah ranjang dan meletakkan bingkai foto yang terbungkus di atas kasur.

Saya membayangkan, suasana dalam ruangan saat itu tiba-tiba menjadi panas, ketika Minke didatangi seorang pemuda berbadan besar dan peranakan Eropa (Indo), yang mengejeknya sebagai “anak dusun busuk dengan koper busuk”.

“Tanpa kuduga-duga sepatunya yang berat menendang koperku. Rasa-rasanya harga diri dan kebanggan dan diri sendiri yang terkena tendang. Koper itu bergeser,” tutur Minke, dalam “Jejak Langkah”.

Hari itu, ketika pertama kali Minke menginjakkan kaki di STOVIA dan memasuki ruangan asrama itu, terjadi perkelahian tak seimbang. Minke seorang diri melawan si anak muda Indo dan kawan-kawannya. Minke terjerembab di lantai, kedua kakinya dipegangi banyak orang, pakaiannya dilucuti hingga tersisa destar dan ikat pinggang kulit.

Pertarungan belum selesai. Dalam kondisi semi-bugil, Minke masih diganggu, hingga terjadi perkelahian lebih lanjut. Seorang pemuda Indo, yang mencoba menarik tangan Minke yang menutupi kelaminnya, terkena tendangan Minke. Giginya copot dan gusinya berdarah. Dalam kondisi bugil, dengan gaya kuda-kuda siap bertarung, Minke menantang kerumunan. Namun, tak seorang pun maju.

Asrama STOVIA

Minke memakai kembali pakaiannya, membereskan barang-barang dan menaruhnya di lemari, tetapi seseorang dari anak muda itu tiba-tiba mengambil lukisan “Bunga Akhir Abad” dan mengaraknya ke tengah ruangan. Amarah Minke meledak, darahnya mendidih, dan mengambil belati yang menjadi senjata terakhirnya.

“Aku hitung sampai tiga. Kalau tak ada yang mengembalikan baik-baik, belati ini akan melayang dan mengenai siapa saja,” ancam Minke.

Perpeloncoan hari itu berakhir. Dan seorang siswa berbadan kecil, namanya Partotenojo, menjadi kawan pertama Minke di sekolah itu. Keduanya berdampingan tempat tidur.

Oiya, ruangan ini tak hanya berisi ranjang dan lemari yang tertata rapi, juga replika mahasiswa STOVIA yang sedang berdiskusi. Ruang inilah, pada 1902 hingga pertengahan 1920-an, menjadi saksi bagaimana keresahan anak muda akan Tanah Airnya berubah menjadi diskusi-diskusi kecil, debat, hingga menjadi tulisan-tulisan untuk surat kabar. Di ruang asrama inilah cikal bakal Boedi Oetomo muncul dari pikiran-pikiran anak muda yang resah melihat zaman yang menggeliat.

Di bagian kanan bangunan Museum Kebangkitan Nasional adalah ruangan-ruangan yang menunjukkan sejarah Indonesia, dari zaman kejayaan Nusantara, kedatangan bangsa-bangsa Eropa, gemuruh perlawanan rakyat, dan bangkitnya kesadaran berorganisasi dan pers sebagai ujung tombaknya.

Di sini kita akan ketemu replika suasana perkuliahan di masa STOVIA. Siswa-siswa STOVIA berpakaian adat sesuai daerahnya duduk di bangku masing-masing. Dan guru Eropa berpakaian Eropa sebagai pengajar mereka.

Diorama kebangkitan pendidikan Bumiputera

Ada ruangan yang disebut “Indonesia Kaya”, yang memperlihatkan kekayaan Nusantara di masa lampau, terutama rempah-rempah. Kemudian ada ruangan ekspedisi rempah Eropa, yang memperlihatkan pelayaran bangsa Eropa mencari rempah-rempah. Ada replika kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan lambang mereka.

Juga ada ruang bangkitnya pendidikan Bumiputera, yang memperlihatkan replika Kartini sedang memberi pelajaran kepada anak-anak perempuan.

Kemudian ruang pelopor kebangkitan nasional, yang memperlihatkan sejarah Boedi Oetomo, lambang organisasi, vandel-vandel, dan tokoh-tokoh pendiri Boedi Oetomo.

Jadi, kalau kalian pembaca Merdika, ingin meresapi sejarah kebangkitan nasional, bagaimana kesadaran bangsa terjajah itu muncul dan menghasilkan sebuah organisasi, mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional ini merupakan jawaban paling tepat.

Atau, jika kalian mahasiswa kedokteran atau orang yang tertarik dengan sejarah kedokteran, museum ini juga tempat tujuan yang paling tepat untuk mendapatkan pengetahuan. Kalian bisa memahami sistem pendidikan kedokteran di masa kolonial, bahkan sistem pembelajaran dan perlengkapan pembelajarannya.

Ketika saya melangkahkan kaki keluar, ingatan saya masih tertuju pada jejak Minke di kawasan itu. Benak saya bertanya: di mana letak rumah Ibu Badrun di Kwitang, tempat Minke menghabiskan waktu saat liburan sekolah.

Di rumah Ibu Badrun ini juga Minke menumpahkan keresahan-keresahannya, juga kisah cintanya bersama Ang San Mei, gadis asal Tiongkok yang manis, cerdas, dan aktivis politik. Di rumah itu, pasangan Minke dan Ang San Mei tinggal cukup lama, tak hanya menjahit kisah cinta yang romantis, tapi juga diskusi-diskusi politik yang memperkaya pemikiran politik Minke.

Tirto Adhie Soerjo (tokoh nyata yang menjadi rujukan tokoh fiksi Minke)

Tips mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional

Berkunjung ke Museum Nasional cukup mudah, letaknya di pusat kota, tepatnya di Jalan Abdul Rahman Saleh No.26, Senen, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

Transportasi menuju museum ini juga beragam: TransJakarta, komuter, hingga transportasi online. Kalau memakai motor atau kendaraan pribadi, museum ini punya tempat parkir, kok.

Harga tiket masuknya juga cukup murah: dewasa Rp 5.000, anak-anak (3-12 tahun) Rp 3.000, dan WNA dikenai Rp 25.000. Oiya, pembayaran untuk tiket hanya menerima transaksi non-tunai: QRIS, dompet digital, atau alat pembayaran digital lainnya.

Museum ini buka hari Selasa hingga Minggu, dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Ingat, guys, museum ini selalu tutup pada hari Senin dan hari libur (tanggal merah).

Kalau butuh guide atau pemandu, biasanya ada juga kok. Mereka bisa menjelaskan setiap ruangan dan isinya kepada pengunjung. Museum ini juga menyediakan wisata virtual dan pemandu virtual, loh.

Begitu ya, guys. Jangan lupa, kalau berkunjung ke sana, bawa kamera dan buku novel Jejak Langkah. Pasti jadi pengalaman berwisata yang menyenangkan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Urgensi Aksi Politik Pengesahan RUU PPRT

Urgensi Aksi Politik Pengesahan RUU PPRT

Di Batam, kota impiannya mengubah nasib, ia bekerja sebagai pekerja rumah tangga

Next
Ghassan Kanafani, Sang Begawan Revolusi Palestina

Ghassan Kanafani, Sang Begawan Revolusi Palestina

Agen Mossad berpikir, dengan mengakhiri hidup Kanafani, perjuangan Front Rakyat

You May Also Like
Total
0
Share