Sukarno dan Clara Zetkin memang tidak pernah bertemu secara fisik. Pada 1933, ketika pencetus Hari Perempuan Sedunia itu meninggal, Sukarno sedang memimpin perjuangan kemerdekaan di Tanah Air hingga ditangkap pada Agustus 1933. Selain itu, berbeda dengan generasi aktivis di masanya, Sukarno tidak mengambil studi di luar negeri.
Namun, dalam dunia pemikiran, Sukarno sudah mengenal Clara Zetkin sejak belia. Untuk memahami mengapa Sukarno mengenal Clara Zetkin, kita perlu kembali ke Surabaya pada pertengahan tahun 1910-an. Di sana, seorang remaja bernama Koesno—yang kelak mengganti namanya menjadi Sukarno—tinggal di rumah Tjokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam. Rumah itu adalah semacam persimpangan dunia: aktivis datang dan pergi, buku-buku berserak, diskusi-diskusi berlangsung hingga larut malam.
Sukarno muda membaca dengan lahap. Ia tidak pilih-pilih aliran. Pemikir nasionalis, liberal, Islam, maupun Marxis, semuanya ia telan. Ia membaca Jean Jaurès dari Prancis, Pieter Troelstra dari Belanda, Karl Kautsky dan Rosa Luxemburg dari Jerman, hingga Lenin dan Trotsky dari Rusia. Di antara nama-nama itu ada pula Clara Zetkin—sosialis Jerman yang pemikirannya tentang perempuan dan kelas buruh beredar luas di kalangan gerakan kiri internasional awal abad ke-20.
Sukarno tidak sekadar membaca untuk mengetahui. Ia membaca untuk membangun sebuah sintesis—sebuah paham besar yang bisa menjawab pertanyaan tentang kemerdekaan, keadilan sosial, dan nasib perempuan di Hindia Belanda. Dalam proyek intelektual itulah Zetkin masuk ke dalam pikirannya.
Siapa Clara Zetkin?
Clara Josephine Eissner lahir pada 5 Juli 1857 di Wiederau, sebuah desa pertanian di Saxony, Jerman Timur. Ayahnya, Gottfried Eissner, adalah seorang kepala sekolah sekaligus pengajar agama Protestan yang dihormati. Ibunya, Josephine Vitale, berasal dari kalangan terdidik di Leipzig. Keluarga itu tidak kaya, tapi tidak miskin—hingga sang ayah meninggal dan meninggalkan mereka dalam kesulitan.
Pengalaman jatuh miskin itu membekas dalam. Ia merasakan langsung bagaimana kondisi ekonomi menentukan nasib seseorang—dan terutama, nasib seorang perempuan. Kesadaran itu menjadi bahan bakar seluruh hidupnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah guru di Leipzig, Clara bertemu dengan Ossip Zetkin, seorang aktivis Marxis dari Rusia yang tengah diasingkan. Dari diskusi-diskusi panjang bersamanya, Clara mengenal lebih dalam gerakan buruh dan gerakan perempuan internasional. Mereka menjalin hubungan, menikah, dan memiliki dua anak. Clara mengambil nama marga suaminya—dan dengan nama Clara Zetkin itulah ia kemudian masuk ke dalam pusaran sejarah.
Namun sebelum sejarah itu terukir, ada perburuan yang harus dihadapi. Pada 1878, Kanselir Bismarck melarang seluruh aktivitas kaum sosialis di Jerman. Zetkin, Ossip, dan sejumlah kawan seperjuangan diburu. Mereka melarikan diri ke Zürich, lalu ke Paris. Di kota-kota pengasingan itu, Clara bekerja sebagai guru sambil terus mendalami gerakan sosialis internasional. Dia juga bertemu para aktivis dari Spanyol, Italia, Austria, dan Inggris, mengasah kemampuan berbahasa, dan memperluas jaringan perlawanannya.
Pada Januari 1889, Ossip meninggal karena tuberkulosis, meninggalkan Clara seorang diri dengan dua anak kecil di Paris. Kehilangan itu tidak melumpuhkannya. Delapan bulan kemudian, ia berdiri di mimbar Kongres Pendirian Internasional Kedua, dan berpidato tentang perempuan buruh. Itulah momen pertama nama Clara Zetkin bergema di panggung internasional.
Pembebasan perempuan hanya mungkin lewat sosialisme
Zetkin adalah seorang pemikir yang tidak mau setengah-setengah. Ia mengajukan sebuah pertanyaan yang tampak sederhana namun secara politis sangat tajam: mengapa perempuan tertindas? Dan jawabannya tidak ia cari dalam kodrat biologis atau tradisi budaya semata, melainkan dalam struktur ekonomi kapitalisme.
Bagi Zetkin, penindasan terhadap perempuan tidak bisa dipisahkan dari penindasan kelas. Kapitalisme, ia argumentasikan, tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja buruh laki-laki, namun juga mengeksploitasi perempuan dalam dua lapis sekaligus: sebagai tenaga upahan di pabrik dan sebagai fungsi reproduksi yang tidak dibayar di rumah tangga. Selama sistem kapitalisme berdiri, selama itu pula perempuan akan tertindas.
Karena itulah Zetkin berseberangan keras dengan apa yang ia sebut “feminisme borjuis”—gerakan perempuan kelas atas yang memperjuangkan hak pilih dan kesetaraan hukum, namun tidak mempertanyakan tatanan ekonomi yang mendasarinya. Bagi Zetkin, perjuangan seperti itu hanyalah memindahkan kursi di atas kapal yang sedang tenggelam. Dalam pidatonya yang terkenal di Kongres Gotha 1896, ia berkata: “Kita tidak boleh membiarkan diri kita dibodohi oleh tren sosialis dalam gerakan perempuan borjuis yang hanya berlangsung selama perempuan borjuis merasa tertindas.”

Perempuan proletar, menurut Zetkin, harus berjalan bersama gerakan kelas pekerja—bukan berjalan di belakangnya, dan bukan pula berjalan di bawah payung perempuan borjuis. Jalan menuju pembebasan perempuan adalah jalan menuju sosialisme. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Zetkin mewujudkan keyakinan ini dalam tindakan nyata. Ia mendirikan dan mengedit surat kabar perempuan Die Gleichheit (Kesetaraan) sejak 1891, yang dalam dua dekade tumbuh 40 kali lipat jumlah pembacanya. Ia mengorganisir buruh perempuan di serikat-serikat pekerja di Stuttgart ketika perempuan masih dilarang oleh pemerintah untuk menjadi anggota serikat. Ia terpilih menjadi kepala “Kantor Perempuan” Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) pada 1907. Dan bersama kawan seperjuangannya, Rosa Luxemburg, ia menjadi suara paling keras menentang perang imperialistik ketika Perang Dunia I meletus.
Pemikiran Zetkin soal pembebasan perempuan lewat sosialisme sangat mempengaruhi Sukarno ketika menulis materi untuk Kursus politik perempuan pada (sering disebut Kursus Wanita) pada 1947. Kumpulan materi kursus itulah yang diterbitkan menjadi buku berjudul “Sarinah: kewadjiban wanita dalam perdjoangan Republik Indonesia” yang terbit pada tahun itu juga.
8 Maret 1910: Usul yang mengubah kalender dunia
Pada 1910, sebuah Konferensi Buruh Perempuan Internasional diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark. Lebih dari 100 perempuan dari 17 negara hadir, mewakili serikat-serikat buruh dan partai-partai sosialis. Di sanalah Zetkin mengusulkan sesuatu yang terdengar sederhana namun bersejarah: sebuah hari internasional yang didedikasikan khusus bagi perempuan—sehari dalam setahun untuk menegaskan perjuangan mereka di hadapan dunia.
Usulan itu diterima dengan bulat. Awalnya tidak ada tanggal yang ditetapkan. Tanggal 8 Maret baru menjadi tanggal resmi setelah demonstrasi besar-besaran kaum perempuan di Rusia pada 8 Maret 1917. Kala itu mereka turun ke jalan menuntut dihentikannya Perang Dunia I, dan aksi itu menjadi salah satu percikan awal Revolusi Rusia.

Zetkin terus bergerak. Ketika usianya sudah senja dan tubuhnya mulai lemah, ia masih mendatangi pabrik-pabrik dan daerah-daerah pertanian untuk berpidato. Ia bergabung dengan Liga Spartakis bersama Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht, kemudian mendirikan Partai Komunis Jerman (KPD) setelah kegagalan Revolusi Jerman 1919. Luxemburg dan Liebknecht dibunuh oleh pasukan paramiliter sayap kanan. Zetkin selamat, tapi kehilangan kawan-kawan terbaiknya.
Di tahun-tahun terakhir hidupnya, Zetkin menjadi anggota Reichstag—parlemen Jerman—mewakili Partai Komunis dari 1920 hingga 1933. Ketika terpilih kembali pada 1932 di usia 74 tahun, ia menjadi anggota tertua parlemen. Pada sidang 30 Agustus 1932, ia naik ke podium dengan tubuh yang sudah sangat lemah, dan dengan suara yang masih berapi-api, ia mengecam kebangkitan fasisme serta menyerukan persatuan kaum pekerja untuk menghentikan Adolf Hitler.
Setahun kemudian, Clara Zetkin meninggal di Arkhangelskoye, dekat Moskow, pada 20 Juni 1933, tiga bulan setelah Hitler mengambil kekuasaan dan membubarkan partainya.
Sukarno dan warisan Clarat Zetkin di Indonesia
Nama Clara Zetkin memasuki Indonesia terutama melalui mulut Sukarno. Ia berkali-kali menyebutnya dalam pidato-pidatonya—dan bukan sekadar sebagai referensi akademis, melainkan sebagai penanda keyakinan. Dalam buku Sarinah (1947), karya Sukarno tentang gerakan perempuan Indonesia yang ditulisnya saat dalam pembuangan di Ende, Flores, pengaruh Zetkin terasa dalam cara ia membingkai persoalan perempuan sebagai persoalan kelas sekaligus persoalan kemanusiaan.
Sulami, Wakil Sekretaris Jenderal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi perempuan terbesar yang dekat dengan PKI, mengaku terinspirasi untuk membaca karya-karya Zetkin justru karena mendengar namanya disebut-sebut oleh Sukarno. Tulisan-tulisan Zetkin kemudian menjadi bahan bacaan para pemimpin Gerwani dan materi dalam kursus-kursus kader mereka.
Pada 8 Maret 1966, pada Hari Perempuan Internasional, Sukarno berdiri di Istora Senayan, Jakarta dalam kondisi politik yang kian terjepit pasca-Gerakan 30 September 1965. Ia menyebut Clara Zetkin dengan pengucapan yang agak keliru, “Clara Chetkin,” lalu mengoreksi dirinya sendiri. Kemudian ia berkata kepada hadirin: “Clara Chetkin itu orang apa? Pemimpin kaum buruh… Orang sosialis… Orang komunis, komunis, komunis. Nah, kita sebagai Pancasilais sejati, jangan kita takut pada perkataan komunis itu.”
Itu adalah salah satu pidato terakhir Sukarno sebagai pemimpin yang masih berkuasa. Kurang dari setahun kemudian, kekuasaan Sukarno berakhir.










