Dalam masyarakat patriakis, jangankan menjadi maju, keluar rumah dan menikmati pendidikan saja sudah sangat sulit. Di masa lalu, perempuan yang berani keluar dari rumah tangga, apalagi terjun dalam ilmu pengetahuan dan politik, akan ditolak.
Marie Curie, ilmuwan perempuan pertama yang meraih Nobel sekaligus ilmuwan pertama peraih dua Nobel dalam disiplin ilmu yang berbeda, pernah ditolak menjadi anggota French Academy of Sciences hanya karena dia perempuan.
Sekarang, di zaman modern, ketika patriarki mulai merenggang, langit-langit kaca (glass ceiling) yang menghalangi perempuan untuk maju masih ada. Namun, sejarah membuktikan bahwa tak ada yang bisa menghalangi kemajuan.
Di Indonesia, kaum perempuan Indonesia juga punya andil besar dalam mendorong kemajuan ini di berbagai bidang kehidupan. Mereka ini yang kami sebut “Sang Pemula” di bidangnya masing-masing.
Inilah sebagian dari mereka.
Rohana Kudus—Pena Pertama (1884–1972)
Jauh sebelum ada sekolah jurnalisme, ada seorang perempuan di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, yang belajar membaca secara otodidak lalu membaca keras-keras di depan rumah setiap pagi, hingga orang-orang sekitar ikut belajar bersamanya.
Rohana Kudus adalah wartawan perempuan pertama, pemimpin redaksi surat kabar perempuan pertama, dan pendiri surat kabar khusus perempuan pertama di Indonesia. Pada 10 Juli 1912, ia menerbitkan Soenting Melajoe, surat kabar perempuan pertama di Indonesia, dan dipercaya menjadi pemimpin redaksinya oleh Datuk Sutan Maharadja. Surat kabar itu tidak hanya membahas urusan domestik, tapi juga mengangkat isu politik, kejahatan, dan perlawanan terhadap praktik pergundikan perempuan oleh penjajah Belanda.

Rohana hidup sezaman dengan Kartini, tapi dalam posisi yang lebih luput dari perhatian sejarah. Ia adalah kakak tiri Sutan Sjahrir—Perdana Menteri pertama Indonesia—dan bibi dari penyair Chairil Anwar. Tapi namanya sendiri lama terkubur, sampai akhirnya pada 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Dalam sebuah forum tentang jurnalisme perempuan, Najwa Shihab pernah merefleksikan soal Rohana bahwa ia memahami sesuatu yang sangat modern— di mana literasi membuat perempuan berpikir, kemandirian ekonomi membuat perempuan kuat, dan tulisan membuat suara itu sampai.
Marie Thomas—Dokter Pertama (1896–1966)
Perempuan pribumi tidak diizinkan masuk sekolah kedokteran. Itu aturannya, sampai seorang dokter perempuan Belanda bernama Aletta Jacobs datang ke Batavia pada 18 April 1912 dan mendesak Gubernur Jenderal Hindia Belanda agar mengubah aturan itu.
Pada September 1912, Marie Thomas masuk STOVIA dan menjadi perempuan pertama Indonesia yang masuk ke sekolah kedokteran itu. Ia merupakan satu-satunya murid perempuan di antara 180 murid laki-laki.
Diskriminasi belum sepenuhnya hilang. Di kala siswa laki-laki ditanggung negara sepenuhnya, perempuan harus membiayai sendiri pendidikan dan biaya hidupnya. Beberapa perempuan Belanda di Batavia kemudian mendirikan yayasan SOVIA untuk mengumpulkan dana beasiswa. Tanpa itu Marie mungkin tidak bisa bertahan.

Marie Thomas lulus dari STOVIA pada 1922 dan menjadi perempuan Indonesia pertama yang mendapat gelar dokter. Ia kemudian menjadi spesialis ginekologi dan kebidanan pertama di Indonesia, serta terlibat dalam kebijakan kontrasepsi IUD yang saat itu masih sangat baru. Pada 1950, Marie mendirikan sekolah kebidanan pertama di Bukittinggi, Sumatera.
Perempuan asal Minahasa itu meninggal pada 1966, setelah lebih dari empat dekade mengabdikan dirinya pada dunia kesehatan—termasuk melayani pasien yang tidak mampu membayar sepeser pun.
Maria Ulfah—Menteri Pertama (1911–1988)
Tumbuh di keluarga priyayi Kuningan, Maria Ulfah menyaksikan perempuan-perempuan di sekitarnya dipulangkan oleh suami lalu diceraikan secara sepihak. Pengalaman itulah yang menggerakkan hidupnya ke arah perjuangan hukum dan politik untuk perempuan.

Pada era 1940-an, Maria banyak berkecimpung dalam gerakan perempuan dan berperan dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia. Tahun 1946, ia menjadi menteri sosial, jabatan yang menjadikannya menteri perempuan pertama di Indonesia.
Ia juga mendirikan organisasi Isteri Indonesia, memperjuangkan kursi perempuan di parlemen, dan menjadi penentang keras poligami. Bagi Maria Ulfah, hukum adalah alat perlindungan. Dan selama perempuan belum dilindungi hukum yang adil, perjuangan belum selesai.
Herdini dan Lulu Lugiyati—Langit Bukan Milik Laki-laki (1938–/1941– )
Tahun 1961. Seorang mahasiswi tingkat akhir Fakultas Geografi UGM baru saja kehilangan tunangannya, seorang pilot P-51 Mustang yang gugur ditembak DI/TII di Garut. Kehilangan itu tidak menghancurkan semangat Herdini, justru memacunya untuk mengikuti jejak sang kekasih dan melayani bangsa dengan menjadi penerbang perempuan pertama di TNI-AU.
Tahun 1963, Herdini Suryanto bersama Lulu Lugiyati, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, termasuk dalam Wanita Angkatan Udara (Wara) TNI AU angkatan pertama. Dari 30 perempuan yang mendaftar seleksi penerbang, hanya tiga yang lolos, dan hanya dua yang akhirnya menerima Wing Penerbang: Herdini dan Lulu.

Mereka menerbangkan pesawat Piper L-4J Cub tanpa sistem navigasi modern, hanya kompas, jalur kereta api, dan penanda alam. Pada 1964, Lulu bahkan terlibat dalam misi penerbangan malam untuk menjatuhkan ribuan selebaran propaganda di atas wilayah Sabah dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia. Sandi operasi itu dinamai “Operasi Lulu”.
Keduanya kemudian pensiun lebih awal. Foto mereka kini terpajang di Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta. Dua perempuan muda yang membuktikan bahwa langit tidak pernah khusus milik laki-laki.
Sri Widoyati Wiratmo Soekito—Hukum Tanpa Kompromi (1929–1982)
Tahun 1968, Sri Widoyati Wiratmo Soekito diangkat menjadi hakim agung perempuan pertama di Indonesia, pada saat yang sama terjadi pengalihan kekuasaan dari Sukarno ke Soeharto. Ironisnya, sebuah sistem baru yang semakin patriarki justru memiliki hakim agung perempuan pertamanya.
Sri Widoyati dikenal sebagai hakim yang tidak bisa dibeli. Peneliti hukum Belanda Sebastian Pompe, dalam risetnya yang diterbitkan Cornell University, memuji reputasi integritas Sri Widoyati sebagai luar biasa kuat. Advokat senior Adnan Buyung Nasution menulis tentangnya: “Kejujurannya tidak ada tandingannya di antara para hakim.”

Hampir saja Sri Widoyati menjadi Ketua Mahkamah Agung, menggantikan Prof. R. Subekti. Tapi pencalonannya kandas secara misterius. Pompe menduga ada keterlibatan rezim militer Orde Baru yang melancarkan kampanye bisik-bisik untuk menggagalkannya.
Ia meninggal pada 1982 karena kanker. Namanya hampir tidak tercatat dalam literatur hukum Indonesia. Ini ironi pahit bagi perempuan yang hidupnya menjadi teladan tentang apa artinya menegakkan hukum dengan hati nurani.
Pratiwi Sudarmono—Menuju Antariksa (lahir 1952)
Tahun 1985, Indonesia bekerja sama dengan NASA. Dari seluruh negeri, terpilihlah seorang ahli mikrobiologi Universitas Indonesia—Pratiwi Sudarmono, satu-satunya perempuan dan orang pertama dari Indonesia yang tercatat sebagai astronot. Ia bersanding dengan astronot yang kala itu didominasi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet. Lebih dari itu, ia adalah perempuan muslimah pertama dari Asia yang terpilih untuk program luar angkasa NASA.

Pratiwi dijadwalkan terbang ke luar angkasa dengan pesawat ulang-alik Columbia pada 24 Juni 1986. Namun nasib membuatnya batal berangkat setelah pesawat Challenger meledak, dan program pesawat ulang-alik Amerika dihentikan sementara.
Keberangkatan itu tidak pernah terjadi. Tapi nama Pratiwi tetap terukir. Ia tercatat melewati seleksi ketat NASA, menjalani latihan astronot, dan membuktikan bahwa ilmuwan perempuan Indonesia layak berdiri di antara yang terbaik dunia. Kini Pratiwi mengabdikan diri menjadi guru besar kehormatan ilmu mikrobiologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ida Loemongga Nasution—Doktor Pertama (1906–)
Tahun 1932 di Amsterdam, seorang perempuan muda asal Padang Sidempuan, Tapanuli, mempertahankan disertasi doktoralnya di bidang kedokteran dengan judul Diagnose en prognose van aangeboren hartgebreken—tentang diagnosis dan prognosis cacat jantung bawaan. Kantor berita Aneta memberitakannya. Koran Bataviaasch Nieuwsblad mencatatnya.
Ida Loemongga Haroen al Rasjid Nasution dinobatkan sebagai perempuan pribumi pertama yang meraih gelar Doktor. Ia adalah anak dari dr. Harun Al Rasjid Nasution, seorang dokter dari Padang Sidempuan yang sangat percaya pada pendidikan tinggi untuk perempuan. Di usia 18 tahun, Ida berangkat sendiri naik kapal laut ke Amsterdam—di era ketika perempuan berpendidikan tinggi masih menjadi pengecualian. Di usia 21 tahun ia sudah menyabet gelar dokter, jauh lebih cepat dari teman-temannya. Dan pada 1932, ia meraih doktor.

Ketika Ida Loemongga pulang ke Tanah Air pada 1934 dan membuka praktik di Batavia, ia tercatat sebagai satu-satunya dokter perempuan pribumi yang tiba dari Belanda. Ia juga orang keenam dalam sejarah Indonesia yang bergelar doktor—dan satu-satunya perempuan di antara mereka. Namun tidak seperti kelima doktor laki-laki sebelumnya, namanya nyaris tidak ditemukan dalam buku-buku sejarah resmi.
Siti Baroroh Baried—Profesor Pertama (1925–1999)
Pada 1 September 1964, Siti Baroroh Baried ditetapkan sebagai guru besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) pada usia 39 tahun—menjadikannya sebagai guru besar perempuan pertama di Indonesia.
Perempuan kelahiran Kauman, Yogyakarta ini adalah putri asli lingkungan Muhammadiyah—kampung tempat didirikannya organisasi Islam modern terbesar Indonesia itu. Ia belajar hingga ke Mesir, meraih gelar dari Universitas Al-Azhar Kairo, dan pulang untuk membangun ilmu filologi dan bahasa Arab di UGM. Karier Baroroh yang cukup menonjol, termasuk menjabat dekan Fakultas Sastra UGM dua kali berturut-turut.

Di luar akademi, Siti Baroroh menjadi Ketua Umum PP ‘Aisyiyah selama dua dekade penuh (1965–1985) dan membawa organisasi perempuan Islam itu ke forum-forum global: dari UNICEF hingga Harvard University. Ironisnya, ketika ia pernah menjadi promotor Bung Karno untuk gelar doktor honoris causa, Sukarno sendiri yang memintanya. Kata Bung Karno, ia menginginkan yang aneh: seorang perempuan guru besar sebagai promotornya.
Susy Susanti—Emas Pertama (lahir 1971)
Pada 4 Agustus 1992, setelah Indonesia menunggu hampir 100 tahun dalam sejarah Olimpiade, lagu Indonesia Raya akhirnya berkumandang di pentas olahraga terbesar di dunia itu. Pebulu tangkis asal Tasikmalaya, Lucia Francisca Susy Susanti Haditono, berdiri di podium tertinggi Olimpiade Barcelona. Ia terlihat menangis di sana.
Medali emas Susy Susanti adalah yang pertama bagi Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di Olimpiade, setelah 40 tahun sejak pertama kali berpartisipasi pada Olimpiade Helsinki 1952. Susy juga menjadi atlet pertama dari Asia Tenggara yang meraih medali emas Olimpiade.

Kemenangan itu tidak mudah. Di final, Susy menghadapi rival terberatnya, Bang Soo-hyun dari Korea Selatan, dan kalah di gim pertama 5-11. Malam sebelumnya ia tidak bisa tidur, tidak nafsu makan—hanya menelan nasi dengan abon dan ikan asin. Tapi di gim kedua dan ketiga ia bangkit, menang 11-5 dan 11-3. Ketika Indonesia Raya berkumandang, ia tidak bisa menahan air mata. “Rasanya beban saya, tanggung jawab saya, lepas semua,” kata Susy bertahun-tahun kemudian.
Bukan hanya emas. Susy kemudian meraih gelar Juara Dunia 1993, empat kali menjuarai All England (1990, 1991, 1993, 1994), dan medali perunggu Olimpiade Atlanta 1996. Perpaduan Susy Susanti dan Alan Budikusuma—yang meraih emas di tunggal putra hari yang sama—dijuluki “Pasangan Emas Olimpiade” dan disambut parade besar di Jakarta.
Megawati Soekarnoputri—Presiden Pertama (lahir 1947)
Megawati Soekarnoputri bukan hanya presiden ke-5 Republik Indonesia, tetapi juga presiden perempuan pertama dan hingga kini satu-satunya yang pernah memimpin negeri ini.
Jalan Megawati ke puncak kekuasaan tidak lurus. Putri sulung Sukarno ini masuk dunia politik pada 1987—dan langsung dianggap remeh. Ia menjadi figur yang mengancam bagi Orde Baru justru karena ia mewakili legitimasi historis yang tidak bisa dibeli: nama Sukarno. Pada 1996, kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro diserang dan direbut secara paksa. Pendukung Megawati berdarah. Ia tidak menyerah.

Setelah Orde Baru runtuh pada 1998, partainya, PDIP memenangkan Pemilu 1999 dengan suara terbesar. Tapi melalui sidang MPR, Abdurrahman Wahid yang terpilih jadi presiden—dan Megawati jadi wakilnya. Ketika Gus Dur dilengserkan pada Juli 2001, Megawati dilantik sebagai presiden. Warisan terbesar Megawati adalah menghancurkan mitos bahwa perempuan tak boleh dan tak layak menjadi pemimpin, apalagi menjadi presiden.
Pertentangan atas kepemimpinan perempuan tidak kecil. Menjelang pemilu 1999, suara-suara dari sebagian kelompok Islam menentang keras perempuan sebagai presiden dengan mengutip hadis. Tapi Megawati tidak membutuhkan persetujuan itu—ia memimpin, dan Indonesia berjalan.
Daftar ini belum lengkap. Ada nama-nama lain yang kiprahnya juga tak bisa diabaikan. Ada S.K. Trimurti, Menteri Perburuhan perempuan pertama yang juga jurnalis pejuang. Ada nama-nama lain yang bahkan lebih sunyi seperti Sri Widoyati , yang datang pertama tapi tidak pernah tercatat.
Yang menyatukan semua cerita ini bukan hanya keberanian individual. Mereka semua menghadapi struktur yang sama: sistem yang menganggap perempuan tidak layak masuk ke ruang-ruang tertentu, bahwa ada pintu yang memang tidak diperuntukkan bagi mereka.
Marie Thomas harus membayar sendiri biaya kuliahnya sementara teman laki-lakinya ditanggung negara. Ida Loemongga meraih doktor tapi namanya nyaris tidak ditemukan dalam buku sejarah resmi. Sri Widoyati digagalkan bukan karena kompetensinya, tapi karena kekuatan politik yang tidak nyaman dengan perempuan di puncak. Herdini dan Lulu menjadi “angkatan percobaan untuk membuktikan perempuan bisa menerbangkan pesawat atau tidak”—frasa yang sendirinya menggambarkan betapa rendahnya ekspektasi zaman itu. Megawati harus menembus tuduhan tidak layak dan hadis-hadis yang dikutip untuk menghalanginya.
Para pemula itu membuka pintu. Tugas kita adalah memastikan pintu itu tidak menutup kembali.










