Api Kebebasan Pinochet dan Soeharto

Pada 11 September 1975, untuk memperingati dua tahun kudetanya yang sukses, Jenderal Augusto Pinochet menyalakan ”Llama de la Libertad” atau ”Api Kebebasan”.

Terletak di sebuah tempat yang disebut Altar de la Patria (Altar Tanah Air), tak begitu jauh dari Istana Kepresidenan La Moneda, Api Kebebasan menjadi simbol keberhasilan militer di bawah Pinochet menyelamatkan Chile dari ancaman komunisme.

Namun, di balik kisah Api Kebebasan itu, ada kisah kelam yang menghantui Chile selama hampir dua dekade. Api itu bukan hanya tentang mimpi yang terenggut, tetapi juga tentang sebuah masa kelam yang berdarah-darah.

Semuanya bermula pada 1970. Saat itu, Salvador Allende, seorang dokter progresif, memenangkan pemilu Chile. Selain seorang sosialis, Allende berencana menasionalisasi industri strategis yang selama ini dikangkangi oleh perusahaan-perusahaan asing, termasuk perusahaan Amerika Serikat (AS).

Foto ketika diktator Chile, Augusto Pinochet, mulai menyalakan “Llama de la Libertad” pada 11 September 1975. Kredit: IG/monumentosincomodos

Tidak itu saja, Allende menjalankan reforma agraria, mendemokratiskan lembaga pendidikan, menggratiskan kesehatan, dan membagikan susu untuk anak sekolah. Namun, yang paling spektakuler, Allende memulai proyek revolusioner bernama ”Projek Sibernetika”, yakni tata kelola ekonomi berbasis big-data.

Karena itu, sejak 1970, CIA mulai menggoyang pemerintahan Allende. Aksi sabotase dilakukan tanpa henti untuk mendestabilitasi ekonomi. Mulai dari memprovokasi 50 ribu sopir truk untuk berhenti bekerja hingga penimbunan sembako. Namun, semua cara kotor itu gagal meruntuhkan pemerintahan Allende.

Hingga, pada 1973, CIA berpaling pada jalan terakhir: memakai metode Jakarta. Di Indonesia, CIA memanfatkan Soeharto untuk menggerakan militer dalam penggulingan Sukarno. Tidak hanya itu, dalam waktu sekejap, Soeharto dan militer berhasil menghancurkan gerakan kiri lewat pembantaian massal tanpa proses hukum. Meski tak ada data resmi, diperkirakan antara 80 ribu hingga 3 juta orang dibunuh pada masa itu atas nama pembasmian PKI.

Tulisan “Ya Viene Djakarta” atau “Jakarta sudah dekat” di tembok-tembok kota Santiago, Chile, pada 1973.

Hari-hari menjelang September 1973, tulisan “Ya Viene Djakarta” atau “Jakarta Segera Datang” bertebaran di tembok-tembok seantero Kota Santiago, Ibu Kota Chile. Bahkan, tidak sedikit pesan berbau teror itu dikirimkan dalam sepucuk surat ke rumah para pimpinan Unidad Popular (UP), nama koalisi politik kiri yang mengantarkan Allende memenangi pemilu 1970.

Pada 11 September 1973, metode Jakarta dimulai. Militer di bawah Jenderal Pinochet bergerak menguasai jalanan, mematikan seluruh saluran komunikasi, lalu bergerak mengepung Istana Kepresidenan. Menjelang siang, tank, helikopter, hingga pesawat tempur menggempur Istana.

Namun, Allende tak menyerah. Ia memilih bertempur hingga tetes darah penghabisan. Detik-detik terakhir, Allende menyampaikan pidato terakhirnya: inilah kata-kata terakhirku dan aku yakin pengorbananku tidak akan sia-sia.

Tidak berhenti di situ, militer mulai menangkapi aktivis, tokoh serikat buruh, seniman, intelektual, dan siapa pun yang terafiliasi dengan partai atau organisasi kiri. Mereka dikumpulkan, digiring ke sebuah stadion, disiksa, dan dibunuh.

Data dari Valech Report menyebutkan, sepanjang kekuasaan Pinochet dari 1973 hingga 1990, ada 3.197 orang yang dieksekuti mati, 27.255 mengalami penyiksaan, dan 200 ribu orang terpaksa menjadi eksil untuk menghindari represi.

Selama bertahun-tahun, Api Kebebasan menjadi target simbolis bagi gerakan anti-kediktatoran. Pada 1980, sekelompok gerilyawan kiri yang disebut Movimiento de Izquierda Revolucionaria (MIR) melakukan sabotase untuk memadamkan api itu. Mereka merusak pipa gas yang menjadi sumber nyala api. Namun, gangguan kecil tak berhasil memadamkan api itu selamanya. Pinochet kemudian mengirim tentara untuk menjaganya siang dan malam.

Kemudian, pada 1988, ketika perjuangan menuntut demokratisasi semakin menguat, para aktivis pro-demokrasi seringkali menarget Api Kebebasan sebagai sasaran untuk dipadamkan. Namun, segala usaha itu juga berbuah nihil.

Namun, pada 2002, situasi politik berubah. Ricardo Lagos, seorang ekonom sekaligus tokoh partai sosialis, terpilih sebagai presiden Chile. Ia pertama mengumbar niat untuk membongkar altar sekaligus Api Kebebasan itu. Alasannya dibuat tak politis: biaya tagihan gas sebesar 7.000 dolar per tahun untuk menyalakan api tidak efisien.

Salvador Allende dan pengawalnya saat Istana Kepresidenan La Modena dibombardir oleh pesawat tempur dan dikepung tank saat kudeta 11 September 1973. Kredit: El Pais

Alasan itu awalnya ditolak. Kementerian Pertahanan bersedia menanggung pembiayannya. Namun, pada 2004, menjelang peringatan 200 tahun kemerdekaan Chile, Presiden Lagos memerintahkan agar Altar de la Patria dibongkar. Nyala Llama de la Libertad berhasil dipadamkan. Altar de la Patria kemudian diubah menjadi ”Plaza de la Ciudadanía” (Plaza Kewargaan).

Begitulah, dua dekade silam, api yang menjadi simbol kediktatoran di Chile berhasil dipadamkan. Setahun kemudian, gelar ”senator seumur hidup” untuk Pinochet juga dihapus. Pada 2020, Konstitusi 1980 warisan Pinochet juga dibatalkan.

Ironisnya, dalam hitungan hari ke depan, diktator yang menginspirasi Pinochet dan militer Chile untuk melancarkan kudeta berdarah akan dianugerahi gelar ”Pahlawan Nasional”. Ya, Soeharto masuk dalam daftar 40 tokoh yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dalam waktu dekat ini.

Soeharto dituding bertanggung-jawab atas setidaknya 10 kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia, dengan jumlah korban mencapai jutaan jiwa. Selain itu, penguasa yang dijuluki ”diktator terkorup” di dunia itu mewariskan utang luar negeri sebesar Rp 551,4 triliun (setara 57,7 persen PDB saat itu). Darinya kita terpapar penyakit buruk yang terus menggerogoti bangsa ini hingga kini: mental asal bapak senang (ABS), kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Bangsa kita memang berbeda dengan bangsa Chile: kita bangsa pemaaf. Dan seperti kata penulis Spanyol, George Santayana: Mereka yang tak mengingat masa lalu dikutuk untuk mengulanginya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Otonomi Khusus Papua Bukan Jalan Emansipasi Masyarakat Adat

Otonomi Khusus Papua Bukan Jalan Emansipasi Masyarakat Adat

Kabupaten Fakfak, yang terletak di ujung Semenanjung Onin, Papua Barat, adalah

Next
Taylor Swift yang Makin Politis

Taylor Swift yang Makin Politis

Di balik gemerlap panggung dan tepuk tangan yang menggema di setiap konsernya,

You May Also Like
Total
0
Share