Abdul El-Sayed, Politikus Muslim Kiri yang Mengguncang Politik AS

Di tengah arus politik kanan yang tengah berkuasa di Amerika Serikat, nama Abdul El-Sayed tiba-tiba menjadi pusat perhatian nasional. Dokter dan ahli epidemiologi berpandangan progresif ini berhasil merebut nominasi Partai Demokrat untuk kursi Senat Michigan.

Ia mengalahkan politikus mapan (establishment) dan anggota DPR empat periode, Haley Stevens. Tidak hanya disokong oleh pejabat tinggi dan petinggi Demokrat, kampanye Haley juga diguyur dengan pendanaan raksasa dari korporasi maupun kelompok lobi pro-Israel American Israel Public Affairs Committee (AIPAC).

Pada pemilu pendahuluan Demokrat 4 Agustus 2026, El-Sayed unggul tipis dengan 48,5 persen suara atas anggota Kongres Haley Stevens yang meraih 47,5 persen. Selisihnya hanya sekitar 15 ribu suara dari lebih dari 1,5 juta pemilih. Yang membuat kemenangan ini istimewa adalah ia berhasil mengalahkan banjir uang luar yang diperkirakan mencapai USD 60–70 juta, termasuk puluhan juta dari kelompok pro-Israel seperti AIPAC.

Siapa Abdul El-Sayed?

Lahir pada 31 Oktober 1984 di Rochester Hills, pinggiran Detroit, ia adalah putra imigran Mesir. Ayahnya, Mohamed, datang ke Amerika untuk menempuh studi teknik di Wayne State University dan kemudian menjadi insinyur serta profesor. Ibunya, Fatten El-Komy, bekerja sebagai perawat spesialis (nurse practitioner) di Missouri.

El-Sayed dibesarkan terutama oleh ayah dan ibu tiri Jacqueline, yang juga seorang insinyur. Ia tumbuh di lingkungan multikultur Detroit metropolitan, berbicara bahasa Arab sejak kecil, aktif di olahraga, bahkan menjadi kapten tim gulat, sepak bola, dan lacrosse (sauk bola) di sekolah menengah.

Perjalanan pendidikannya cemerlang. Ia lulus dari University of Michigan dengan gelar biologi dan ilmu politik. Di sana, ia memimpin misi medis mahasiswa ke Peru dan mendirikan organisasi mahasiswa yang menggalang dana serta mengoordinasikan pengabdian masyarakat untuk klinik gratis lokal. Ia kemudian meraih beasiswa Rhodes untuk menempuh doktor di bidang kesehatan masyarakat di Oxford University. Setelah itu ia menyelesaikan pendidikan kedokteran di Columbia University. Alih-alih praktik sebagai dokter klinis, El-Sayed memilih jalur kesehatan publik. Pada usia 30 tahun, ia diangkat menjadi Direktur Kesehatan Kota Detroit, yang termuda dalam sejarah kota besar AS, dan kemudian memimpin Departemen Kesehatan Wayne County. Pengalamannya menangani krisis kesehatan, termasuk dampak air Flint, membentuk pandangannya bahwa politik yang rusak adalah akar banyak penyakit sosial.

Latar politik progresif El-Sayed sudah terlihat sejak ia mencalonkan diri sebagai gubernur Michigan pada 2018. Saat itu, pada usia 32 tahun, ia kalah telak dari Gretchen Whitmer, tetapi membangun reputasi sebagai kandidat yang berani menantang status quo. Ia mendukung Medicare for All, menolak dana dari PAC korporasi, dan secara terbuka mengkritik kebijakan luar negeri AS. Ia secara terbuka mempersoalkan dukungan militer tanpa syarat dari AS kepada Israel terkait situasi di Gaza.

Baginya, politik bukan soal kompromi elite, tapi memperjuangkan kelas pekerja: menurunkan biaya hidup, mengeluarkan uang besar dari politik, dan memastikan akses kesehatan universal. Ia kerap menekankan bahwa sebagai anak imigran, ia memahami “kecelakaan sejarah” yang memberinya kesempatan di Amerika.

Relawan canvassing Abdul El-Sayed, ada Muslim for Abdul dan Jews for Abdul. Mereka bergerak bersama dari pintu ke pintu menemui warga.

Kampanye politik

Strategi kampanye El-Sayed mengandalkan energi akar rumput dan pesan yang jelas. Slogan utamanya: “Money out of politics. Money in your pocket. Medicare for All”. Mudah diingat dan menyentuh keresahan sehari-hari.

”Saya ingin menghapus pengaruh uang dari politik, memasukkan uang ke dompet rakyat, dan meloloskan Medicare for All,” kata Abdul dalam wawancaranya dengan media kiri, Jacobin.

Kampanye itu menukik langsung pada persoalan yang dihadapi warga di daerah pemilihan Michigan. Hampir 40 persen warga Michigan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Sekitar 13 persen hidup di bawah garis kemiskinan, sementara lebih dari 26 persen termasuk kategori ALICE (Asset Limited, Income Constrained, Employed): mereka yang bekerja penuh waktu tetapi pendapatannya tidak cukup untuk menutup biaya hidup lokal (perumahan, makanan, transportasi, kesehatan, dan pajak).

Isu nomor satu yang dikeluhkan pemilih adalah kenaikan harga dan keterjangkauan (affordability), terutama harga bahan makanan, bensin, tagihan utilitas, sewa/rumah, dan biaya kesehatan. Survei pemilih menunjukkan “rising prices & affordability” secara konsisten menjadi kekhawatiran utama, jauh di atas isu-isu lain.

Selain itu, biaya kesehatan dan utang medis menjadi beban nyata bagi banyak keluarga. Bahkan rumah tangga berpenghasilan menengah bisa kewalahan saat menghadapi tagihan medis besar.

Namun, apa gunanya program politik yang bagus jika tidak teramplifikasi ke massa yang luas. Dan Abdul El-Sayed sangat faham itu. Ia memanfaatkan media sosial, dari Slack, WhatsApp, Signal, dan Telegram. Ia rajin tampil di siniar (podcast).

Namun, senjata utamanya adalah kampanye door to door. Relawan-relawannya bergerak ke seantero Michigan, dari pintu ke pintu, untuk menyebarkan pesan politik Abdul El-Sayed. Menariknya, selain dukungan dari sektor kiri dan serikat buruh, ia juga mendapat dukungan dari komunitas-komunitas. Ada Arab for Abdul, Women for Abdul, Jewish for Abdul, dan lain-lain.

Komunitas itulah yang menjadi tulang punggung kampanyenya. Dengan metode door to door, relawan El-Sayed tak hanya menyampaikan pesan dan menggalang orang, tetapi juga membuat pemetaan pemilih. Biasanya, usai tanya-jawab, relawan akan meminta nomor HP yang berhasil diwawancarai. Selanjutnya, nomor-nomor itu menjadi database pemilih. Kemudian, relawan akan memborbardir pemilik nomor itu dengan pesan-pesan politik.

Pendukung Abdul El-Sayed saat kampanye di Detroit.

Arus politik progresif

Kemenangan Abdul El-Sayed bukan peristiwa terisolasi. Ia merupakan bagian dari gelombang politik progresif yang semakin kuat di Amerika Serikat.

Setidaknya, sejak 2018, kelompok progresif mulai menikmari musim semi di arena elektoral. Momentum ini ditandai dengan menangnya kelompok “The Squad” seperti Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), Ilhan Omar, dan Rashida Tlaib. Sejak saat itu, jumlah kursi mereka di DPR AS terus berkembang konsisten di setiap pemilu.

Sejak itu, kaum progresif di Kongres AS terus berlipat ganda. Hingga 30 April 2026, kaukus progresif di Kongres sudah beranggotakan 95 orang. Tentu saja, spektrum politik mereka luas, dari kiri sosialis hingga moderat.

Selain itu, angin perubahan politik itu juga mengubah konfigurasi politik di tingkat kota. Setidaknya, sejak 2018, lebih dari selusin kota di AS dipimpin oleh politisi progresif. Zohran Mamdani, anggota Demokratik Sosialis Amerika (DSA) yang terpilih sebagai wali kota New York, adalah sosok penting dalam arus itu.

Gerakan ini didorong oleh keresahan masyarakat biasa terhadap ketimpangan ekonomi, dominasi uang korporasi dalam pemilu, menguatnya pengaruh kelompok bisnis dalam keputusan politik, serta krisis biaya hidup (perumahan dan kesehatan). Ini bertaut dengan menguatnya keresahan terhadap politisi arus utama (establishment).

Kiri-kiri baru itu sering diledek sebagai sosialis selokan (sewer socialism), sesuatu yang merujuk pada ejekan terhadap Partai Sosialis di Milwaukee, Wisconsin, pada awal abad-20 karena fokus perbaikan infrastruktur dasar, seperti selokan, sanitasi, fasilitas publik, dan lain-lain. Kini, istilah itu merujuk pada praktik sosialisme yang menjawab langsung kehidupan warga sehari-hari.

Di media sosial, popularitas Zohran Mamdani kini mendunia. Bahkan muncul trend ” Mamdani, please help me” sebagai reaksi positif warga New York dan dunia atas aksi politik responsif Walikota Mamdani dalam merespons keluhan warganya, dari soal perbaikan jalan, taman bermain, transportasi publik, dan lain-lain.

Tantangan El-Sayed

Kini, El-Sayed menghadapi ujian sesungguhnya: pemilihan umum November 2026 melawan mantan anggota Kongres Republik Mike Rogers. Jika menang, ia akan menjadi senator muslim pertama dalam sejarah Amerika Serikat, sebuah pencapaian simbolik yang besar. Untuk diketahui, tidak ada kandidat dari Partai Republik yang pernah memenangkan pemilihan Senat di Michigan sejak 1994.

Namun tantangannya tidak kecil. Ia harus menyatukan Demokrat setelah primary yang penuh ketegangan, menarik pemilih moderat dan independen, serta menghadapi serangan dari lawan yang lebih mapan secara keuangan.

Trump sendiri langsung bereaksi atas kemenangan El-Sayed. Presiden yang terseret dalam kasus ”Epstein files” ini menuding El-Sayed sebagai ”komunis pecundang”, yang berusaha memecah-belah persatuan dan mimpi orang Amerika.

Namun, reaksi Trump itu menguntungkan El-Sayed. Di tengah runtuhnya dukungan warga AS terhadap Trump, El-Sayed dan barisan progresif lainnya bisa menjadi alternatif.

Jika Trump dan proyek MAGA-nya kalah dalam pemilu paruh waktu (midterm) pada November 2026 nanti, ia berpotensi berhadapan dengan pemakzulan (impeachment). Tidak hanya itu, peta politik berpotensi berubah, dengan nuansa progresif yang menguat.

Masa depan politik Abdul El-Sayed masih terbuka lebar. Kemenangan primary-nya sudah membuktikan bahwa pesan progresif yang tegas dan autentik bisa menang bahkan di tengah tekanan uang dan mesin partai. Jika berhasil di November, ia berpotensi menjadi salah satu suara paling berpengaruh di sayap kiri Demokrat.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Di Balik Kebakaran Hutan Papua

Di Balik Kebakaran Hutan Papua

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat empat kepala keluarga

Next
Ojol Indonesia Desak Polri Usut Kekerasan Pascademo 27 Agustus

Ojol Indonesia Desak Polri Usut Kekerasan Pascademo 27 Agustus

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan di Tugu Proklamasi, Jakarta, pada 29

You May Also Like
Total
0
Share