UpScrolled, Platform Buatan Palestina untuk Melawan Sensor

Di era digital saat ini, media sosial tak hanya menjadi arena utama untuk mengekspresikan diri, tetapi juga menyebarkan informasi dan ekspresi politik. Namun dalam banyak kasus, dua hal ini sering berhadap-hadapan dengan isu sensor dan manipulasi algoritma.

Munculnya UpScrolled, sebuah platform media sosial buatan seorang pengembang aplikasi Palestina, menjadi angin segar bagi mereka yang merasa suaranya dibungkam oleh raksasa teknologi. Platform ini tidak hanya menawarkan fitur mirip TikTok dan Instagram, seperti video pendek, posting gambar, dan interaksi komunitas, tetapi juga menjanjikan kebebasan berbicara tanpa bayang-bayang sensor.

Diluncurkan pada pertengahan 2025, UpScrolled dengan cepat menarik perhatian global, terutama di kalangan aktivis pro-Palestina dan para pengguna yang frustrasi dengan platform mainstream.

UpScrolled lahir dari gejolak politik dan teknologi yang intens. Platform ini resmi diluncurkan pada Juli 2025, tepat di tengah kekhawatiran atas penjualan TikTok di Amerika Serikat yang dipimpin oleh investor seperti Larry Ellison, pendiri Oracle. Banyak pengguna khawatir bahwa akuisisi ini akan memperburuk sensor terhadap konten pro-Palestina, mengingat Ellison dikenal sebagai pendukung Israel. UpScrolled muncul sebagai respons langsung terhadap hal ini, menawarkan pengalaman “transparan” tanpa shadowban atau manipulasi algoritma.

Pendirinya, Issam Hijazi, seorang pengembang Palestina-Jordan-Australia, memutuskan untuk meninggalkan kariernya di perusahaan Big Tech seperti Oracle, IBM, dan Hitachi untuk membangun platform ini. Didukung oleh Tech for Palestine, sebuah inisiatif advokasi yang mendanai proyek teknologi pro-Palestina, UpScrolled berkembang pesat. Dalam waktu singkat, dari hanya 40 ribu pengguna, platform ini melonjak ke lebih dari 1 juta unduhan, bahkan menduduki peringkat teratas di App Store Apple pada Januari 2026.

Kehadirannya juga didorong oleh peristiwa global, seperti apa yang disebut sebagai genosida di Gaza oleh Komisi Penyelidikan PBB, yang membuat Hijazi melihat bagaimana cerita penting hilang dari feed, sementara misinformasi menyebar luas.

Siapa sebenarnya Issam Hijazi? Pria berusia sekitar 40-an ini memiliki latar belakang teknis yang kuat, dengan pengalaman puluhan tahun di industri teknologi. Lahir dari keluarga Palestina-Jordan, Hijazi besar di Australia dan pernah kehilangan 60 anggota keluarganya dalam konflik di Gaza.

Dalam wawancara dengan Rest of World, ia menyatakan terinspirasi untuk menciptakan UpScrolled setelah melihat bagaimana platform besar seperti TikTok, Instagram, dan X (sebelumnya Twitter) secara diam-diam menyensor konten yang mendukung Palestina. Hijazi menuduh Big Tech komplisit dalam genosida, karena mereka mengontrol narasi global melalui akuisisi data dan sensor.

Di Web Summit Qatar 2026, ia menegaskan bahwa perusahaan teknologi besar tidak peduli etika dan telah membungkam suara pro-Palestina selama bertahun-tahun.

Dengan dukungan Tech for Palestine, Hijazi berhasil membangun tim kecil yang fokus pada transparansi, termasuk versi desktop yang sedang dikembangkan. Alasan utama penciptaan UpScrolled adalah untuk melawan sensor yang merajalela di platform mainstream.

Hijazi menyaksikan bagaimana postingan tentang Palestina seringkali di-shadowban, artinya tidak muncul di feed pengguna lain meskipun tidak melanggar aturan. Platform ini dirancang “unfiltered by design”, artinya setiap posting memiliki kesempatan yang adil untuk dilihat tanpa bias algoritma.

Moderasi hanya dilakukan untuk konten ilegal, seperti penjualan obat terlarang, tetapi tidak untuk opini politik atau isu sensitif. Ini kontras dengan TikTok yang sering dituduh membatasi konten pro-Palestina. Hal ini juga yang dirasakan pengguna Twitter setelah diambilalih oleh Elon Musk dan mengubahnya menjadi X: banyak postingan kritis dibungkam, tapi misinformasi, rasisme, dan propaganda MAGA berkembang biak.

UpScrolled ingin membuktikan bahwa media sosial bisa adil, imparsial terhadap agenda politik, konflik, atau pandangan tidak adil. Pendiri melihat ini sebagai cara untuk memberdayakan kreator, komunitas, dan bisnis kecil tanpa ketakutan dibungkam.

Respons publik terhadap UpScrolled sangat positif, terutama di kalangan pengguna yang kecewa dengan sensor. Di App Store, ulasan seperti “better than TikTok, no censored content from Palestine” dari Pável Antequera, atau “You don’t get censored like on TikTok for speaking about Palestine” mencerminkan kepuasan pengguna.

Namun, tidak semua respons positif. The Jerusalem Post menyebutnya sebagai “antisemitic app” yang menjadi surga aktivisme Palestina, menunjukkan polarisasi.

Di YouTube dan Facebook, video tentang UpScrolled dilihat jutaan kali, dengan pengguna menyebutnya sebagai alternatif bebas sensor. Popularitasnya meledak pada akhir Januari 2026, di tengah outage TikTok beberapa hari lalu dan kekhawatiran pada sensor.

Sebagai platform alternatif tanpa sensor, peluang UpScrolled cukup menjanjikan. Dengan janji “no shadowbans” dan algoritma fair, ia bisa menarik lebih banyak pengguna yang muak dengan manipulasi Big Tech. Dukungan dari Tech for Palestine memberikan fondasi kuat, dan pertumbuhannya yang cepat menunjukkan permintaan akan platform netral.

Namun, tantangan tetap ada, mulai regulasi pemerintah, persaingan dari raksasa seperti Meta dan ByteDance, serta potensi kontroversi atas konten bebas yang bisa menimbulkan misinformasi atau kebencian. Meski begitu, dalam konteks konflik global, UpScrolled bisa menjadi model baru untuk media sosial yang benar-benar demokratis.

Di masa depan, jika terus berkembang, ia berpotensi mengubah lanskap digital, memberi suara bagi yang termarjinalkan. Secara keseluruhan, UpScrolled bukan hanya aplikasi, tapi simbol perlawanan terhadap sensor.

Dibangun oleh Issam Hijazi di tengah tragedi pribadi dan global, platform ini membuktikan bahwa teknologi bisa digunakan untuk keadilan. Dengan respons publik yang antusias dan peluang besar sebagai alternatif, UpScrolled siap menjadi pemain utama di dunia media sosial.

Apakah ia akan bertahan? Waktu yang akan menjawab, tapi satu hal pasti: suara yang dibungkam kini punya tempat untuk bergema.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Epstein Files: Skandal Terbesar dan Memalukan dalam Politik AS

Epstein Files: Skandal Terbesar dan Memalukan dalam Politik AS

Skandal Jeffrey Epstein telah menjadi salah satu noda paling gelap dan paling

Next
Gentengisasi: Abai Sejarah, Arsitektur Vernakular dan Mitigasi Bencana

Gentengisasi: Abai Sejarah, Arsitektur Vernakular dan Mitigasi Bencana

Pada awal Februari 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang

You May Also Like
Total
0
Share