Di tengah gelombang protes gen Z yang mengguncang politik India sejak awal Juni 2026, ada sosok perempuan muda berkacamata yang menarik perhatian. Namanya, Neha Bora.
Pada 10 Oktober lalu, videonya viral. Hari itu aksi yang dipimpin Neha Bora dibubarkan paksa oleh polisi. Sejumlah aktivis ditangkap, termasuk Neha. Ia diseret ke mobil tahanan. Namun, dari jendela mobil tahanan, ia menjulurkan kepala, mengepalkan tangan, dan menyerukan perlawanan.
Baru berusia 29 tahun, dan kini sedang menempuh studi doktoral (PhD) di Sekolah Seni dan Estetika, Universitas Jawaharlal Nehru (JNU), Neha tak hanya pemberani dan militan, tetapi juga berpikiran progresif dan revolusioner. Dia tipe aktivis yang cerdas, retorikanya bagus, dengan cakrawala pengetahuan luas.
Siapa Neha Bora?
Neha lahir di Khatima, Uttarakhand, sebuah kota kecil di kaki gunung Himalaya, pada 1997. Ayahnya seorang tentara di Angkatan Darat India. Sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Sebagai anak kolong, ia kerap berpindah-pindah kota sesuai daerah penugasan bapaknya.
Karena berpindah-pindah itu, ia pun menuntaskan pendidikan dasar hingga menengah dengan berpindah-pindah di banyak sekolah. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah menengah di Delhi Public School (DPS), Siliguri, Benggala Barat.
Dia kemudian mengambil jurusan sosiologi di Hindu College, Delhi University (DU). Di kampus terbesar dan paling bergengsi di India inilah ia mulai berkenalan dengan pemikiran sosial yang progresif, termasuk literatur kiri.
Sebagai anak muda yang haus pengetahuan, ia membaca karya-karya Charu Majumdar, Pablo Neruda, dan Arundhati Roy. Dia membaca kisah Naxalbari, sebuah desa di perbatasan Nepal yang memantik pemberontakan petani pada 1967 dan melahirkan gerakan revolusioner Maois, Nexalite.

Ia bergabung dengan kelompok teater Sangwari, kelompok seniman yang mengusung panji-panji seni untuk rakyat. Di teater jalanan ini, ia bertatap muka langsung dengan realitas sosial, seperti kemiskinan dan ketimpangan. Sangwari
Terpapar ide-ide kiri dan mulai terjun dalam aktivisme kiri, Neha mulai bersimpang jalan dengan bapaknya yang militer dan pendukung loyal Partai Bharatiya Janata Party (BJP), partai nasionalis ekstrem Hindu yang mengantar Narendra Modi ke kursi perdana menteri sejak 2014.
Titik balik terbesar terjadi pada 2019-2010, ketika mahasiswa dan kaum muda India tumpah ruah ke jalan-jalan untuk memprotes Undang-undang Citizenship Amendment Act (CAA). Undang-undang ini bernuansa diskriminatif, merobek prinsip sekularisme yang dianut India, dan justru menebalkan nasionalisme Hindu.
Aktivisme mahasiswa
Sebagai anak muda yang gandrung dengan pemikiran kiri dan terenyuh hatinya ketika melihat ketidakadilan, pilihan aktivismenya pun condong ke simpang kiri jalan.
Pada 2018, ia bergabung dengan pergerakan mahasiswa di bawah payung All India Students’ Association (AISA). Organisasi mahasiswa yang berdiri sejak 1990 ini terafiliasi dengan Partai Komunis India-Marxis Leninis (CPI-ML/Liberation) yang berhaluan Marxis-Leninis dan Maois.
Menariknya, meskipun sibuk dengan aktivisme mahasiswa, tetapi pendidikan Neha tak terkatung-katung. Setelah meraih gelar sarjana di Delhi University, ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Dr. B.R. Ambedkar Delhi (AUD). Ia mengambil Master of Arts (MA) dalam bidang Performance Studies (Studi Pertunjukan). Dan sekarang, Neha sedang menempuh pendidikan doktoral (PhD) di Universitas Jawaharlal Nehru (JNU).
Tahun 2025, Neha ditunjuk untuk menahkodai All India Students’ Association (AISA) sebagai presiden. Di bawah kepemimpinannya, India bergolak.
Pada awal Juni 2026, kemarahan atas kebocoran soal ujian National Eligibility cum Entrance Test (NEET) untuk Fakultas Kedokteran memicu lahirnya gerakan Partai Rakyat Kecoa (Cockroach Janta Party/CJP). Namun, kebocoran soal ujian hanya pemicu untuk menyingkap persoalan-persoalan lebih besar: pengangguran yang mengintai kaum muda, termasuk yang terpelajar.

Di atas kertas, angka pengangguran cukup rendah, hanya 5,5 persen. Namun, mayoritas orang yang disebut bekerja itu bertumpuk-tumpuk di sektor informal. Bayangkan, sektor informal hampir menyerap 90 persen angkatan kerja. Padahal, sektor ini sangat rentan: tidak ada upah minimum, tak ada jaminan sosial, tidak ada kepastian kerja, dan diimpit kondisi kerja yang kerap sangat buruk.
Neha menjadi salah satu tokoh kunci di balik pasang gerakan kaum muda itu. Itu turut melakukan aksi mogok makan selama 23 hari di Jantar Mantar, New Delhi, sejak 28 Juni 2026. Bersamaan dengan itu, di kota New Delhi saja, ada 150 ribu massa turun ke jalan menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India, Dharmendra Pradhan, serta menuntut reformasi pendidikan.
Gerakan protes itu mendunia. Semua mata tertuju ke India. Pemerintah yang awalnya meremehkan, lalu berusaha merepresi protes itu ketika membesar, juga menuding gerakan protes itu digerakkan anarko dan didanai oleh asing, akhirnya kelabakan. Pemerintahan Modi pun melunak. Selain membuka ruang dialog dengan aktivis mahasiswa, pemerintahan Modi juga memaksa Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan, untuk mengundurkan diri.
Di tengah arus gerakan itu, Neha menjadi salah satu ikonnya. Bukan saja karena parasnya, ia dikenal sebagai orator yang memukau. Sebagai anak teater, ia pandai merangkai kata-kata dan memilih gestur yang tepat. Saat berorasi, massa akan merapat untuk mendengar suaranya kata demi kata.
Belum selesai isu pendidikan, gelombang berikutnya datang. Cockroach Janta Party (CJP), gerakan satir politik yang lahir dari kampanye online, memobilisasi massa menentang revisi khusus daftar pemilih (Special Intensive Revision) oleh Komisi Pemilihan Umum. Mereka menuntut pengunduran diri Chief Election Commissioner (KPU India), Gyanesh Kumar, karena dugaan penghapusan jutaan nama pemilih.
Neha kembali berada di garis depan. Ia berbicara di Jantar Mantar, situs sejarah astronomi yang menjadi ikon tempat protes, untuk mengkritik represi polisi, dan menghubungkan isu pendidikan dengan hak demokratis yang lebih luas. Ketika polisi menahan ribuan pengunjuk rasa, Neha menjadi target berulang. Dalam seminggu ia ditahan berkali-kali, kadang lebih dari sekali dalam sehari. Media menyebutnya “Sherni” (singa betina).
Namun, penangkapan tak membuatnya jera. Malahan, melalui akun X-nya, ia mengirim pesan. “Sebuah gerakan tidak bisa dihentikan begitu saja hanya dengan menahan orang-orang yang memimpinnya. Jika satu demonstran dihentikan, demonstran lainnya harus meneruskan perjuangan tersebut, karena gerakan ini milik semua orang yang terlibat di dalamnya,” tulisnya.
Suara kaum muda
Kemarahan Neha dan kaum muda India bersumber dari krisis struktural yang melilit India sejak Partai Bharatiya Janata (BJP) berkuasa pada 2014.
Meskipun India berstatus sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, pertumbuhan ini tidak diiringi dengan penciptaan lapangan kerja formal yang memadai (jobless growth).
Ironisnya, pengangguran tak hanya menyasar yang berketerampilan minim, tetapi juga kaum terdidik. Laporan International Labour Organization (ILO) dan data nasional menunjukkan bahwa angka pengangguran di kalangan lulusan sarjana mencapai 29,1 persen. Artinya, tiga dari 10 sarjana di India dipastikan menganggur.

Bersamaan dengan itu, terjadi ledakan kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training). Mereka tidak bekerja, tidak sekolah, dan juga tidak sedang menjalani pelatihan. Jumlahnya 25 persen dari populasi muda India atau sekitar 92 juta anak muda.
Ditambah lagi, mereka yang bekerja kebanyakan terjerembap dalam sektor informal yang bergaji rendah, tak ada jaminan sosial, dan tak memiliki kepastian kerja. Untuk diketahui, sektor informal (atau sektor unorganized) mencakup sekitar 82 persen hingga 90 persen dari total angkatan kerja di India.
Di sisi lain, India sedang mengalami bonus demografi, yang diperkirakan akan berlangsung dari 2020 hingga 2050. Lebih dari 40 persen penduduk India berusia di bawah 25 tahun, dan sekitar 47 persen adalah kaum muda. Karena kurangnya lapangan kerja domestik yang memadai bagi jutaan pencari kerja baru, sekitar 18,5 juta warga India merantau dan bekerja di luar negeri pada 2024 (meningkat tiga kali lipat dari tahun 1990).
India menjadi contoh buruk ketika sebuah negara gagal mengantisipasi dan memanfaatkan momentum bonus demografi. Akibatnya, lonjakan tenaga produktif itu justru menjadi benih kekacauan sosial. Sisanya, bonus demografi yang melimpah itu diekspor ke luar negeri.
Di sisi lain, sistem politik India semakin keropos oleh korupsi dan inkompetensi. Kebocoran soal ujian masuk kedokteran (NEET) hanya seuntai kecil dari mega korupsi yang melilit Negeri Bollywood itu. India dan Indonesia hanya selisih tipis soal korupsi.
Bersamaan dengan berbagai persoalan struktural yang tumpuk-menumpuk itu, pemerintahan BJP di bawah Narendra Modi justru semakin mempersempit ruang demokrasi.
“Mereka (Partai BJP) mengubah batas-batas demokrasi, mengubah batas akuntabilitas, dan mendefinisikan ulang arti perbedaan pendapat. Tetapi ingatlah, demokrasi di India tidak pernah dan tidak akan pernah tunduk kepada BJP atau RSS,” kata Neha kepada The New Indian Express.
Mirip dengan situasi politik di sebuah negeri di kawasan Asia Tenggara, India juga mengalami erosi nilai-nilai substantif demokrasi. Mekanisme check and balance, yang menjadi piranti penting untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan otoritarianisme, sudah diamputasi.
“Institusi seperti parlemen (Lok Sabha dan Rajya Sabha), Komisi Pemilihan Umum, Mahkamah Agung, bahkan media massa, hanya menjadi perpanjangan tangan bagi kekuasaan BJP dan RSS,” katanya dalam wawancara dengan Ullekh NP.
Karena itu, Neha bersama dengan AISA dan JCP berada di garis depan memprotes penghapusan daftar pemilih atau Special Intensive Revision (SIR) oleh Komisi Pemilihan Umum India. Untuk diketahui, ada 130 juta pemilih India yang tiba-tiba dihapus dari daftar pemilih oleh KPU India. Alasannya, KPU hanya membersihkan data ganda dan pemilih yang sudah meninggal. Faktanya, ada banyak pemilih tak bermasalah turut dihapus.
Bagi Neha dan kawan-kawannya, penghapusan itu hanya taktik BJP dan RSS yang sudah mengontrol KPU India untuk memastikan Narendra Modi berkuasa kembali.
“Kita sedang membicarakan satu musuh bersama, satu musuh bagi rakyat negeri ini, satu musuh bagi demokrasi India, satu musuh bagi konstitusi, dan nama musuh itu adalah BJP,” jelasnya dalam sebuah konferensi pers.
Perjuangan Neha Bora masih panjang. Perlawanan gen Z India masih berlangsung dan sepertinya juga akan panjang. Di hadapan mereka berdiri tembok tebal yang memadukan konservatisme agama dan chauvinisme berbaju BJP.
Namun, satu hal yang pasti, kebangkitan kaum muda India jelas sedang membunyikan sangkala bagi berakhirnya politik tua yang diwakili oleh BJP dan kekuatan politik tradisional sejenisnya.









