Saya mulai mengenalnya pada tahun 2000-an. Saat itu, sebagai aktivis mahasiswa yang sedang mabuk teori-teori kiri, saya menemukan dua filmnya: Land and Freedom (1995) dan Carla Song (1996).
Dia adalah Ken Loach, sutradara kiri yang sudah menghabiskan enam dekade hidupnya untuk mengabadikan jejak-jejak perjuangan kelas pekerja dan kaum tertindas. Dalam rentang panjang itu, Ken Loach sudah menghasilkan 28 film layar lebar, 10 film dokumenter, dan 15 serial televisi.
Lahir dari kelas pekerja
Kenneth Charles Loach lahir pada 17 Juni 1936 di Nuneaton, Warwickshire, Inggris. Warwickshire adalah sebuah kota industri di jantung Midlands yang jauh dari gemerlapnya layar perak.
Ayahnya, John Loach, seorang pekerja pabrik dan tukang listrik, yang banyak membentuk identitas kelas pekerja Ken Loach kelak. Dari pengalaman masa kecilnya, Ken Loach memahami kelas-kelas sosial yang tampak samar.
Namun, ia memiliki kecerdasan yang jarang dimiliki banyak orang. Dengan kelebihannya itu, ia bisa bersekolah di sekolah elite King Edward VI Grammar School. Pada usia 19 tahun, ia mengikuti wajib militer di Royal Air Force.
Ia kembali ke jalur pendidikan dengan mengambil kuliah hukum di St Peter’s College, Oxford. Namun, di sana, ia tak benar-benar mendalami hukum, dan justru mengalihkan perhatiannya pada dunia teater. Pada masa kuliah ini, ia menjadi anggota Experimental Theatre Club (ETC), serta pernah menyutradarai Bartholomew Fair pada tahun 1959 untuk Shakespeare Memorial Theatre.
Melalui dunia teater, Ken Loach mulai menangkap arti penting kisah dalam menggerakkan memori dan emosi penonton. Ia bisa membuat penonton bersedih, bergembira, sangat serius, dan memantik empati.

Inspirasi dari drama keluarga
Setelah tamat, suatu hari pada 1963, Ken Loach sempat bergabung dengan BBC. Di media penyiaran publik yang didanai pemerintah Inggris itu, Ken Loach menemukan pengetahuan baru, yakni bagaimana televisi menjadi medium yang berpengaruh, yang merangsek ke ruang tamu hampir semua keluarga di Inggris pada masa itu.
Di BBC, ia memperkenalkan realisme sosial. Peran terbesarnya lahir ketika ia menyutradarai serial antologi drama terkenal BBC bernama The Wednesday Play. Di era ketika drama televisi biasanya direkam secara kaku di dalam studio, Loach membawa kru BBC keluar ke jalanan menggunakan kamera genggam 16 mm yang dinamis.
Namun, puncaknya pada 1966, ketika ia menyutradarai drama berjudul Cathy Come Home. Drama ini berkisah tentang keluarga kelas pekerja di Inggris yang ekonominya ambruk akibat buruknya tata kelola ekonomi dan sistem kesejahteraan di Inggris pada masa itu.
Film itu booming. Banyak rumah tangga Inggris, yang kehidupannya tak berjarak jauh dengan kisah film ini, benar-benar tersentuh. Film itu menyentuh dan menggerakkan amarah publik. Gara-gara film itu, perdebatan tentang penanganan tunawisma menyeruak. Ujung perdebatan itu adalah lahirnya dua badan amal, Shelter dan Crisis, yang mengadvokasi hak penyewa, tunawisma, dan orang-orang terlantar.
Kisah Caty Come Home semakin menebalkan keyakinan Ken Loach, bahwa film bisa menyadarkan, menggerakkan, dan berdampak pada kebijakan politik.
Mulai berkarya
Pada 1967, Ken Loach memulai debut untuk film-film layar lebar. Film pertamanya, Poor Cow, bercerita tentang perempuan pernama Joy yang lahir dari keluarga broken home, dan ketika beranjak dewasa jatuh ke pelukan laki-laki yang suka melakukan KDRT.
Tiga tahun kemudian, Loach melahirkan karya yang oleh banyak kritikus dianggap mahakaryanya, Kes (1969), yang diadaptasi dari novel Barry Hines tentang Billy Casper, seorang bocah miskin dari Yorkshire yang menemukan tujuan hidupnya dalam melatih seekor elang alap-alap (kestrel).
Billy hidup dalam kemiskinan, diabaikan oleh ibunya, diintimidasi kakaknya, dan gagal oleh sistem pendidikan yang tidak pernah dirancang untuk menyelamatkan anak-anak seperti dirinya. Burung elang, yang identik dengan liar, bebas, dan indah, merupakan metafora tentang potensi generasi yang hancur karena kemiskinan struktural.

Institut Perfilman Inggris (BFI) menempatkan film Kes (1969) di peringkat ke-7 dalam 100 film terbaik dalam sejarah.
Setelah itu, film-film Ken Loach semakin politis. Misalnya, film Looks and Smiles (1981), tentang anak-anak muda yang terimpit situasi ekonomi yang buruk dan ledakan pengangguran di bawah rezim Margaret Thatcher. Sementara Fatherland (1986) berkisah tentang penyanyi protes dari Jerman Timur yang menyeberang ke Jerman Barat demi merasakan kebebasan berekspresi. Pahitnya, kondisi di Jerman Barat tak lebih baik, manipulatif dan marak sensor terselubung.
Film-film selanjutnya mengangkat gejala zaman yang nyaris terabaikan oleh gemerlap neoliberalisme yang tengah berjaya di Eropa, seperti Raining Stones (1993) tentang pengangguran dan Riff-Raff (1991) tentang kondisi kelas pekerja.
Pada 1995, Ken Loach meluncurkan film berjudul Land and Freedom. Ini film yang gila. David Carr, seorang anak muda di Kota Liverpool, Inggris, rela menyetorkan nyawa untuk bergabung bersama kaum Republikan untuk melawan fasis Franco.
Carr kemudian bergabung partai pekerja Marxis (PUOM). Di medan juang, ia tak hanya menemukan makna kolektivisme, solidaritas, dan persaudaraan, tetapi juga cinta. Dia jatuh cinta dengan seorang pejuang perempuan Spanyol bernama Blanca.
Setahun kemudian, Ken Loach meluncurkan film Carla Song, yang berkisah tentang pengungsi asal Nikaragua yang terdampar sendirian di Kota Glasgow, Skotlandia. George Lennox, seorang sopir bus, bersimpati kepadanya. George kemudian menemani Carla ke kampung halamannya di Nikaragua. Siapa sangka, perjalanan ini justru mempertemukan George dengan revolusi Sandinista.
Dan, puncaknya adalah The Wind That Shakes the Barley (2006) yang berkisah tentang dua bersaudara, Damien O’Donovan dan Teddy O’Donovan, yang bergabung dengan Tentara Republik Irlandia (IRA) untuk memperjuangkan kemerdekaan Irlandia dari kolonialisme Inggris. Film ini sukses besar dan mendapat penghargaan Palme d’Or di Cannes Film Festival 2006.
Kirey Majoo
Seorang aktivis sosialis
Yang menarik, Ken Loach bukan hanya pembuat film, tapi juga seorang aktivis sosialis. Sejak 1960, ia bergabung dengan Partai Buruh. Dia menjadi faksi kiri di dalam partai itu. Lantaran pendirian teguh pada kelas pekerja, seperti yang selalu ditunjukkannya lewat film-film, ia kerap ditaruh sekubu dengan kaum Trotskis.
Beberapa sumber menyebut, selain terafiliasi dengan Partai Buruh, Ken Loach juga terhimpun dengan kelompok-kelompok Trotskis, seperti Liga Buruh Sosialis (kelak bernama Partai Pekerja Revolusioner), Partai Pekerja Sosialis (SWP), dan Grup Marxis Internasional (ISG).
Tahun 1990-an, karena berseberangan dengan Tony Blair dengan proyek Jalan Ketiganya, Ken Loach meninggalkan Partai Buruh setelah 30 tahun menjadi anggota. Ia menyebut Tony Blair dan proyek “New Labour”-nya sebagai kiri palsu.
Tidak menjadi anggota partai, Ken Loach tak berhenti dari aktivisme politik. Dia menjadi penentang invasi Amerika Serikat (AS) yang didukung Inggris ke Irak pada 2003. Ia berbaris bersama demonstran anti-perang yang tergabung dalam koalisi Stop the War Coalition.
Pada 2004, ia turun gelanggang dan bergabung dengan RESPECT, koalisi kiri anti-perang yang dimotori oleh politisi kondang George Galloway. Namun, kiprah RESPECT di panggung elektoral kurang moncer. Partai ini resmi bubar pada 2016.

Tahun 2013, Ken Loach berseru agar ada partai kiri baru di luar partai Buruh. Seruannya bersambut. Lahirlah Left Unity atau Persatuan Kiri. Meskipun berdiri di atas platform politik yang lebar, tetapi dukungan terhadap partai ini tidak signifikan.
Tahun 2015, di luar dugaan, Jeremy Corbyn, seorang anggota parlemen dari Islington North, terpilih sebagai ketua Partai Buruh. Kemenangannya mengguncang politik Inggris. Seorang politisi underdog, dengan pikiran yang radikal, menjadi pimpinan Partai Buruh. Ken Loach terpukau. Berharap Corbyn bisa menggeser Partai Buruh kembali ke kiri, Ken Loach kembali bergabung. Ia bahkan membantu kampanye Corbyn. Sayang, Corbyn gagal membawa Partai Buruh memenangi pemilu. Ia kalah dua kali berturut-turut. Dalam keadaan terpojok, kepemimpinan Corbyn berakhir pasca kekalahan pemilu 2019.
Pada Agustus 2021, Ken Loach menjadi korban pembersihan faksi kiri oleh pimpinan baru Partai Buruh Keir Starmer. Menjadi aktivis tanpa partai, Ken Loach tak berhenti berjuang. Ia terus hadir dalam merespons isu-isu yang berkembang.
Ken Loach selalu bersolidaritas untuk Palestina. Ia mendukung gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS), yang menyerukan boikot ekonomi, budaya, dan akademik terhadap Israel. Ia juga menarik film-filmnya dari festival yang didanai oleh pemerintah Israel. Karena sikapnya, Ken Loach kerap secara serampangan dituding anti-semit.
Ia menandatangani manifesto DiEM25, gerakan demokratisasi Eropa yang diprakarsai ekonom Marxis dari Yunani, Yanis Varoufakis. Ia berbicara di demonstrasi anti-perang, kampanye anti-austerity, dan gerakan anti-brexit.
Kini, di usianya yang sudah sangat sepuh, 89 tahun, Ken Loach masih menaruh harapan pada gerakan kiri. Ia sangat bersemangat menyambut berdirinya partai kiri baru, Your Party, yang didirikan oleh dua pentolan Partai Buruh, Jeremy Corbyn dan Sarah Sultana. Sayang, meskipun partai ini disambut dengan antusiasme besar dengan 800 ribu orang mendaftar secara online, konflik internal justru membunuhnya sebelum berkembang.
“Ada harapan besar ketika Jeremy Corbyn dan Sarah Sultana bergabung. (Tercatat) 800 ribu orang menyatakan ketertarikannya, itu tiga kali lipat dari ukuran sebuah partai politik. Namun sayangnya, beberapa perilaku di dalamnya sangat buruk dan mereka kehilangan kesempatan bersejarah,” kata Ken Loach dengan penuh kekecewaan, seperti dikutip Guardian.
Namun, semangat juang sutradara kiri itu pantang surut. Meski usianya sudah sangat senja, sutradara peraih dua Palme d’Or di festival Cannes itu terus bersuara menentang ketidakadilan, mengutuk kapitalisme, dan berharap lahirnya politik progresif yang lebih segar.










