Sederet Musisi Bergelar PhD

Ada anggapan lama yang begitu sering diulang hingga terasa seperti kebenaran: musik dan akademik adalah dua dunia yang tak bersinggungan. Seolah-olah, mereka yang memilih jalur musik harus merelakan jarak dari ruang-ruang kuliah, riset, dan gelar akademik.

Namun, seperti banyak asumsi lainnya, kenyataan tak selalu sama dengan persepsi. Faktanya, ada banyak musisi, dari band-band populer, ternyata juga bergelut dengan dunia akademik dan meraih gelar PhD. Karya akademik mereka pun tidak kaleng-kaleng.

Inilah sederet musisi dengan gelar PhD.

  1. Brian May

Sebelum dunia mengenal Queen, sebelum “Bohemian Rhapsody” menjadi salah satu lagu terbesar dalam sejarah musik populer, Brian May adalah mahasiswa fisika yang ambisius di Imperial College London. Ia membangun sendiri sebuah interferometer Fabry-Pérot, sebuah instrumen optik presisi tinggi yang mampu “memperdekat” panjang gelombang sangat spesifik dari spektrum cahaya, dan membawanya ke Observatorium Teide di Tenerife, Spanyol. Tujuannya, merekam dan menganalisis cahaya zodiakal, kilap kerucut redup yang terlihat di ufuk barat setelah matahari terbenam dan di timur sebelum fajar, dan mengukur kecepatan radial awan debu antarbintang yang menjadi sumbernya. Antara 1971 dan 1972, ia mengumpulkan 250 pemindaian, data yang cukup untuk sebuah tesis.

Kemudian Queen lepas landas. Pada 1974, ketika album kedua band itu mulai mendapat perhatian internasional, May meninggalkan meja penelitiannya. Tesisnya tergeletak tidak selesai selama 33 tahun.

Pada 2006, seorang profesor di Astrophysics Group Imperial College, Michael Rowan-Robinson, satu-satunya anggota staf yang pernah meneliti debu zodiakal, membaca sebuah wawancara di mana May menyebut keinginannya untuk menyelesaikan tesis itu. Ia mengirim e-mail. May membalas dengan antusias dan segera mulai mengetik ulang penelitian lamanya.

Pada September 2007, setelah melewati viva voce—sidang terbuka di mana kandidat mempertahankan disertasinya secara lisan—tesis itu disetujui. Ia diwisuda pada 14 Mei 2008 di Royal Albert Hall. May kemudian menjadi kolaborator sains misi New Horizons NASA ke Pluto, ikut serta dalam misi OSIRIS-REx yang berhasil membawa sampel asteroid Bennu ke Bumi (2023), dan mendirikan kampanye Asteroid Day. Asteroid 52665 Brianmay dinamai mengikuti namanya.

  1. Tom Morello

Tom Morello, gitaris band politis Rage Against the Machine (RATM), menyandang gelar Bachelor of Arts dengan predikat honors dalam bidang Political Science dari Harvard University. Memang bukan gelar PhD. Namun kisahnya terlalu monumental untuk dilewatkan. Tidak banyak gitaris di dunia yang bisa mengklaim Ivy League sebagai almamater mereka, dan tidak ada yang memanfaatkan pendidikan itu seradikal Morello.

Thomas Baptiste Morello lahir di Harlem, New York, dari keluarga pejuang. Ayahnya, Ngethe Njoroge adalah diplomat Kenya yang merupakan keponakan langsung Jomo Kenyatta, presiden pertama Kenya sekaligus arsitek kemerdekaan Afrika dari cengkraman kolonialisme Inggris. Ibunya, Mary Morello, adalah seorang guru yang mendirikan organisasi antisensor Parents for Rock and Rap sebagai tandingan keras terhadap kelompok yang ingin membungkam kebebasan berekspresi dalam musik. Morello tumbuh di Libertyville, Illinois, kota kecil yang nyaris sepenuhnya berkulit putih, sebagai satu-satunya siswa keturunan Afrika di sekolahnya. Pengalaman itu membentuk kesadaran politiknya jauh sebelum jari-jarinya pertama kali menyentuh senar gitar.

Ketika mendaftar ke Harvard University pada 1982 sebagai mahasiswa ilmu politik, ia membawa dua obsesi yang tampak tak terdamaikan: memahami secara mendalam bagaimana kekuasaan bekerja dan siapa yang mengendalikannya, serta menguasai instrumen yang bisa mengguncang kekuasaan itu hingga ke akar-akarnya. Di Harvard, Morello menjalani rutinitas yang tidak lazim untuk mahasiswa Ivy League mana pun. Ia belajar teori politik di siang hari, berlatih gitar empat jam setiap hari tanpa kecuali, dan tampil di pesta kegger kampus pada malam harinya. Bandnya, Bored of Education, bahkan memenangkan Ivy League Battle of the Bands pada 1986, dengan pemain keyboard bernama Carolyn Bertozzi, yang 36 tahun kemudian memenangkan penghargaan Nobel Ilmu Kimia 2022.

Ia lulus pada 1986 dengan predikat cum laude. Setelah lulus, bukannya langsung masuk industri musik, Morello bekerja sebagai staf di kantor senator AS di Washington D.C., dan mengalami sendiri bagaimana mesin politik AS berputar dari dalam. Pengalaman itu bukan sekadar pelajaran; ia menjadi api yang akan terus membakar lirik-lirik Rage Against the Machine bertahun-tahun kemudian. Ketika ia pada akhirnya mendirikan Rage bersama Zack de la Rocha, yang terbentuk bukan sekadar band, melainkan aktivisme politik dan penerjemahkan pemikiran dalam lirik-lirik musik dan genjrengan gitar.

Suatu ketika ada warganet yang mempertanyakan legitimasinya berbicara soal politik, Morello dengan tenang menjawab: “Tidak harus menjadi lulusan honors ilmu politik dari Harvard untuk mengenali ketidakadilan. Tapi kebetulan, saya memang lulusan honors ilmu politik dari Harvard, jadi saya bisa mengonfirmasi itu untuk Anda.” Seperti menembak ikan di dalam ember, katanya kemudian.

  1. Dexter Holland

Sejak remaja di California, Bryan Keith Holland, dikenal dunia sebagai Dexter Holland, merupakan murid paling brilian dalam matematika di sekolahnya. Ia adalah valedictorian di angkatannya—murid dengan nilai tertinggi, sebelum kemudian mendirikan The Offspring bersama kawan-kawannya pada 1984.

Yang menarik adalah ia tidak melihat kecintaan pada sains sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan dari dunia punk. Menurutnya, mencintai matematika di usia SMA justru sama pemberontakannya dengan mencintai punk rock. Keduanya melawan arus, keduanya menantang asumsi mayoritas.

Holland mendaftar ke program pascasarjana di University of Southern California, memulai penelitian biologi molekuler yang serius di Keck School of Medicine, dengan meneliti mekanisme replikasi virus HIV dan potensi terapi molekuler untuk melawannya, penelitian yang secara harfiah bisa menyelamatkan jutaan nyawa. Lalu album Smash dirilis pada 1994, meledak di tangga lagu Amerika tanpa dukungan label major mana pun, dan mengubah segalanya. Holland yang terpaksa menghentikan program doktoralnya, membuat ibunya kecewa. Profesor pembimbingnya lebih kecewa lagi.

Namun Holland tidak pernah benar-benar pergi dari sains. Selama dua dekade lebih, ia terus bolak-balik antara studio rekaman dan laboratorium, antara tur dunia dan meja penelitian. Akhirnya, dengan tekad yang tidak pernah padam, ia kembali ke USC dan menyelesaikan disertasinya. Gelar PhD di bidang biologi molekuler resmi ia raih setelah perjalanan akademik yang mungkin paling rock ‘n’ roll dalam sejarah sains. Ia kini juga merupakan pilot berlisensi dan pilot aerobatik, seolah dua gelar kehormatan tidak cukup untuk mendefinisikan seorang Dexter Holland.

  1. Greg Graffin

Sedikit sekali manusia di muka bumi ini yang bisa mengklaim dua hal sekaligus: mendirikan salah satu band punk paling berpengaruh sepanjang masa pada usia 15 tahun, dan meraih gelar doktoral dari salah satu universitas riset terkemuka di Amerika.

Greg Graffin adalah salah satunya. Ia mendirikan Bad Religion di Los Angeles pada 1979, ketika teman-teman sebayanya masih sibuk belajar mengendarai sepeda. Sementara band itu tumbuh menjadi legenda, Graffin tumbuh menjadi sosok yang bahkan lebih langka: seorang intelektual sejati dalam baju punk.

Graffin meraih gelar sarjana dalam bidang antropologi dan geologi dari UCLA, kemudian melanjutkan ke Cornell University untuk mengejar gelar master dan akhirnya doktoral. Disertasinya memilih tema yang paling sesuai dengan jiwa Bad Religion itu sendiri: evolusi, naturalisme, dan ateisme, sebuah pertarungan ide-ide besar yang sudah lama ia nyanyikan di atas panggung, kini dirumuskannya dalam bahasa akademik yang ketat. Ia menjadi dosen di UCLA pada 2008, mengajar mata kuliah evolusi, dan menjadi dosen tamu di Cornell sejak 2011. Murid-muridnya mungkin tidak menyadari bahwa orang yang berdiri di podium itu juga pernah berdiri di atas panggung dengan ribuan orang meneriakkan lirik-liriknya.

Yang membuat Graffin paling unik bukan sekadar gelarnya, tetapi bagaimana ia membiarkan dua dunia itu saling menyuburkan secara organik. Lirik-lirik Bad Religion adalah filsafat alam yang dipadatkan dalam tiga menit. Disertasinya adalah lirik Bad Religion yang diberi catatan kaki dan daftar pustaka.

  1. Milo Aukerman

Ketika sebuah band punk memutuskan untuk memberi judul album perdana mereka berdasarkan kenyataan bahwa vokalis mereka pergi kuliah, itu bukan sekadar humor, tapi sebuah pesan bahwa band mereka intelek.

Album Milo Goes to College (1982) adalah pengumuman resmi kepada dunia: ya, vokalis kami benar-benar pergi kuliah, dan kami bangga dengan itu. Milo Aukerman tidak sekadar pergi kuliah, tetapi kemudian menjadi peneliti di perusahaan Fortune 500.

Aukerman meraih gelar PhD di bidang biokimia dari University of California San Diego pada 1992, kemudian melanjutkan dengan riset post-doktoral di University of Wisconsin-Madison. Lebih dari satu dekade ia menjabat sebagai kepala peneliti di perusahaan kimia besar DuPont dan mengajar sebagai dosen di University of Delaware, semua itu sambil sesekali kembali ke studio dan panggung bersama Descendents. Ia mengakui bahwa ketika laboratorium terasa seperti beban yang terlalu berat, musik selalu menjadi pelariannya. Dan, ketika musik terasa seperti dunia yang cukup, sains menariknya kembali.

Kedua orangtuanya mengharapkan ia menjadi akademisi sejati. Tetapi ia juga butuh ruang untuk menjadi dirinya sendiri: si vokalis berkacamata yang berteriak tentang frustrasi hidup di atas panggung punk. Kini, setelah karier sains yang gemilang, Aukerman memilih kembali penuh ke musik, membuktikan bahwa prioritas hidup bisa berubah, dan tidak ada yang salah dengan itu.

  1. Dr. Mikannibal

Nama panggungnya sudah mengandung gelar—dan bukan sekadar gimmick teatrikal. Dr. di depan nama Mikannibal adalah gelar yang sungguh-sungguh diraih melalui penelitian bertahun-tahun di salah satu universitas paling kompetitif di Asia. Mika Kawashima, perempuan Jepang yang dikenal sebagai Dr. Mikannibal, adalah6 saksofonis dan vokalis band experimental black metal Sigh, band yang sudah lama beroperasi di batas antara avant-garde, metal, dan chaos terorganisir.

Di balik penampilan panggung yang ekstrem, penuh darah teatrikal, dan energi yang mencekam, Dr. Mikannibal adalah seorang fisikawan lulusan University of Tokyo—institusi akademik yang masuk jajaran top 10 universitas terbaik di Asia dan selalu bersaing di papan atas global. Fisika bukan bidang untuk jiwa yang lemah. Ia menuntut presisi matematis, kesabaran eksperimental, dan kemampuan untuk duduk berjam-jam dengan data yang tidak mau berperilaku sebagaimana mestinya. Semua itu dimiliki oleh perempuan yang di atas panggung metal tampak seperti entitas dari dimensi lain.

Kontradiksi yang ia perankan adalah yang paling dramatis. Di siang hari, ia adalah ilmuwan yang memecahkan persamaan fisika paling rumit; di malam hari, ia adalah musisi yang memimpin ritual sonic yang membakar batas antara musik dan teater ekstrem. Bagi banyak orang, ini adalah bukti paling memukau bahwa identitas manusia jauh lebih luas, jauh lebih kaya, dan jauh lebih tidak terduga dari kotak-kotak yang kita gunakan untuk mendefinisikannya.

  1. Rizki Syarif

Tidak banyak kisah dalam sejarah musik Indonesia yang sepedih dan seindah milik Rizki Syarif. Ia adalah gitaris band pop rock Alexa yang melejit di era 2000-an. Tetapi di balik rambut gondrong dan gitar elektriknya, ada sebuah pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ada hal lain yang ingin ia capai dalam hidup ini?

Rizki meraih gelar sarjana fisika dari University of Sydney, Australia, kemudian dengan keberanian yang tidak mudah ia lanjutkan ke program doktoral di Brown University, Amerika Serikat, dalam bidang fisika partikel eksperimental, cabang ilmu yang menyelidiki blok-blok bangunan terkecil dari segala sesuatu yang pernah ada. Setelah meraih PhD dan menyelesaikan program post-doktoral, nama Rizki Syarif kini tercatat sebagai ilmuwan yang bekerja di CERN (European Organization for Nuclear Research), laboratorium fisika partikel terbesar dan paling bergengsi di dunia, rumah bagi penemuan Higgs boson yang mengubah pemahaman manusia tentang materi.

  1. Don Anderson

Di ranah black metal yang terkenal gelap, misterius, dan kerap memposisikan diri di luar arus utama peradaban, Don Anderson membawa nuansa yang berbeda dan tidak terduga: intelektualitas sastra. Gitaris Agalloch ini meraih PhD di bidang Sastra Inggris dari University of Washington. Dan tidak hanya berhenti di sana. Ia kemudian menjadi pengajar literatur Inggris di SUNY Westchester Community College, Valhalla, New York, mengajarkan karya-karya sastra besar kepada mahasiswa yang mungkin tidak menyadari bahwa instruktur mereka juga memainkan riff-riff atmosferik yang mendalam di bawah bulan purnama musim gugur.

Sastra memberi kedalaman pada lirik dan atmosfer Agalloch; musik memberi keberanian pada cara ia mengajar dan menulis. Sejak 1995, ia telah menjaga keseimbangan rapuh namun indah itu tanpa harus mengorbankan satu pun dari keduanya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Transisi Energi Hijau dan Tantangannya

Transisi Energi Hijau dan Tantangannya

Ada dua narasi yang berlomba mendominasi percakapan global tentang energi

Next
Demagogi Anti-Asing

Demagogi Anti-Asing

Pada 1971, setelah kudeta militer yang dibantu CIA dan Belgia, Jenderal Mobutu

You May Also Like
Total
0
Share