Pada malam 3 Desember 1976, sekitar pukul 20.30 waktu setempat, Bob bersama personel The Wailers menikmati waktu istirahat usai latihan di rumahnya yang berada di 56 Hope Road, Kingston, Jamaika.
Tiba-tiba, dalam balutan gelap, kawanan pria bersenjata merangsek masuk ke dalam kediaman Bob menggunakan mobil Toyota. Para penyerang, yang berjumlah tujuh orang, langsung memuntahkan peluru dari senjata otomatis.
Rita Marley, yang berada di dalam mobil di halaman rumahnya, menjadi sasaran pertama. Ia terserempet peluru di bagian kepala, tetapi berhasil selamat.
Don Taylor, sang manajer, tertembak lima peluru di punggungnya. Beruntung, ia cepat dilarikan ke rumah sakit, sehingga nyawanya tertolong. Louis Griffiths, sang asisten band, juga terkena luka tembak dalam kejadiaan nahas itu.
Bob sendiri tak luput dari tembakan. Ia tertembak di bagian dada bawah dan lengan kirinya. Peluru yang bersarang di lengan kirinya tidak pernah dikeluarkan hingga Bob Marley meninggal karena risiko medis.
Saksi mata di lokasi menyebut para penyerang menembak secara membabi-buta. Beberapa penyerang sempat masuk ke ruang dapur dan tempat latihan. Usai penyerangan itu, dinding rumah dipenuhi lubang peluru. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam serangan brutal itu.

//
Dua hari pascaserangan itu, 5 Desember 1976, konser musik besar bertajuk “Smile Jamaica” digelar. Acara ini dihelat untuk mengirim pesan perdamaian ke seantero Jamaika yang sedang dibakar oleh pertikaian politik. Dua partai yang bersaing menjelang pemilu, Partai Rakyat Nasional (PNP), yang dipimpin Michael Manley dan Partai Buruh Jamaica (JLP) dipimpin Edward Seaga, tak hanya beradu suara kampanye dan mobilisasi massa, tetapi beradu senjata dan kekerasan di jalanan.
Meski kondisi masih mencekam dan masih terluka, Bob tetap menghadiri konser. Dalam gelap, ia tiba bersama iring-iringan polisi pengawal dan rastaman. Rita Marley datang dengan pakaian rumah sakit dan perban yang melilit kepalanya. Di lokasi konser, National Heroes Park, lebih dari 80 ribu penonton sudah menunggu.
Luar biasanya, dalam kondisi mencekam, Bob tetap tampil 90 menit. Namun, karena peluru masih bersarang di tangannya, ia tidak bisa memainkan gitar. Di akhir pertunjukan, ia membuka bajunya di depan penonton, lalu menunjukkan luka bekas tembakan, sebagai simbol perlawanan terhadap teror.
“Orang-orang yang mencoba membuat dunia ini menjadi lebih buruk tidak pernah mengambil hari libur. Bagaimana mungkin aku bisa libur, ketika aku sedang mencoba membuatnya menjadi lebih baik? Terangilah kegelapan,” teriak Bob dari atas panggung.

//
Pada Desember 1976, Jamaika menggelar pemilu ketiga setelah meraih kemerdekaan penuh dari Inggris. Namun, suasana pemilu itu memanas akibat persaingan dua partai politik.
Partai Rakyat Nasional (PNP), dipimpin oleh petahana Michael Manley, menjadi partai berkuasa. Partai ini fi antaranya didirikan oleh perdana menteri pertama Jamaika, Norman Manley.
Pada pemilu 1972, PNP memenangi pemilu sekaligus mengantarkan Michael Manley, anak Norman Manley, menjadi perdana menteri. Di bawah pemerintahannya, Jamaika dikelola secara sosialis-demokratik.
Penantangnya adalah Partai Buruh Jamaika (JLP). Berdiri pada 1943, meskipun memakai label buruh, partai ini berhaluan nasionalis dan konservatif. Secara ekonomi, mereka pro-bisnis dan mendukung liberalisasi ekonomi.
Pemimpin JLP kala itu adalah Edward Seaga, seorang produser rekaman dan promotor musik. Dilahirkan di Boston, AS, lalu sempat mengenyam pendidikan di Harvard, Seaga sangat pro-barat dan neoliberalisme.
Menjelang pemilu 1976, politik Jamaika sangat terpolarisasi antara PNP versus JLP. Tidak ada kekuatan ketiga maupun penyeimbang. Polarisasi politik itu tak jarang berubah menjadi konflik bersenjata di jalanan. Tak sedikit orang tak berdosa menjadi korban pertikaian politik jalanan.
Edward Seaga, sering dijuluki “Don”, punya kendali atas kelompok-kelompok kriminal, salah satunya, Lester Lloyd Coke (Jim Brown), ayah dari gembong narkoba internasional Christopher “Dudus” Coke.
Pada Juni 1976, Perdana Menteri Michael Manley sempat mendeklarasikan status darurat nasional, akibat kekerasan bersenjata yang semakin tak terkendali.
Berhadap-hadapan dengan polarisasi politik yang sangat tajam dan destruktif itu, posisi Bob sebetulnya netral. Ia tak memihak salah satu kubu. Namun, sebagai seorang Jamaika dan seorang rastafari, ia tak bisa diam melihat bangsanya dikoyak konflik.

Maka, melalui konser musik, ia berusaha merajut persatuan. Ia berharap, pendukung kedua kubu, maupun yang netral, bisa berjoget dan bergembira bersama dalam alunan musik tanpa permusuhan. Dalam konser itu, tak ada bendera partai politik.
Namun, harapan itu meleset. Meskipun sepenuhnya inisiatif Bob, tetapi konser itu didukung oleh Kementerian Kebudayaan Jamaika. Begitu jadwal konser sudah diputuskan, Perdana Menteri Michael Manley memajukan jadwal pemilu menjadi 15 Desember 1976, hanya 10 hari pascakonser.
Pihak oposisi, dalam hal ini JLP dan Edward Seaga, menuding konser itu terkait dukungan politik pada PNP dan Manley.
Presedennya memang ada. Menjelang pemilu 1972, PNP dan Michael Manley membangun basis dukungan dari dua gerakan yang tengah mekar di Jamaika: black power dan rastafari. Selain itu, kampanye PNP sangat dekat dengan reggae. Slogan mereka, Better Must Come (Hari Esok Harus Lebih Baik), diambil dari judul lagu milik artis reggae Delroy Wilson. Selain itu, musik reggae mewarnai kampanye-kampanye mereka. Bahkan, pada saat kampanye pemilu 1972, Marley dan The Wailers memang sempat mengisi beberapa kampanye PNP dan Manley.
//
Tahun 1972, ketika Manley dan PNP memenangkan pemilu, ada harapan besar agar Jamaika semakin merdeka dan warga kulit hitam benar-benar bisa merasakan makna kemerdekaan.
Ketika mulai berkuasa, Manley meluncurkan banyak kebijakan progresif. Ia menggratiskan pendidikan dasar dan menengah. Ia juga menaikkan upah buruh. Bahkan, ketika dunia belum peduli dengan isu keadilan gender, pemerintahan Manley sudah menerapkan kesetaraan upah tanpa memandang gender.
Tidak hanya itu, ia juga memberlakukan cuti haid dan membangun perumahan untuk buruh dan kaum miskin, perluasan daycare untuk mendukung pekerja perempuan, layanan kesehatan gratis, program pemberantasan buta huruf, dan menjalankan reforma agraria.
Yang agak mengusik kolonial adalah rencana Manley mengubah Jamaika menjadi republik. Untuk diketahui, meskipun sudah merdeka, Jamaika tetap negara monarki konstitusional di bawah kendali kerajaan Inggris. Kepala negara Jamaika adalah raja/ratu di Inggris. Dan mereka punya perpanjangan tangan di Jamaika yang disebut gubernur jenderal. Meskipun itu disebut simbolik, tetapi fakta bahwa Jamaika masih di bawah bayang-bayang kolonialisme Inggris tak terbantahkan.

Puncaknya, politik luar negeri membengkok ke kiri. Ia membangun hubungan dengan Julius Nyerere (Tanzania), Olof Palme (Swedia), dan Fidel Castro (Kuba). Dari semua perkawanan ini, kedekatan Manley dan Fidel Castro yang paling mengusik.
Kuba, negeri kecil yang melakukan revolusi pada 1959, sangat berani memunggungi AS. Sejak revolusi Kuba, AS langsung melancarkan permusuhan. Tidak hanya invasi yang berulangkali dan gagal, tetapi embargo ekonomi.
Presiden AS saat itu, Richard Nixon, sudah mewanti-wanti Manley agar meninggalkan Castro dan Kuba. Namun, Manley bergeming.
Situasi berubah cepat pada 1974. Angola, negeri kaya minyak di pantai barat Afrika Selatan, meraih kemerdekaannya. Negara-negara imperialis tak senang. Afrika Selatan, yang saat itu masih di bawah rezim apartheid, langsung menginvasi Angola. Barat juga menggelontorkan dana dan senjata untuk faksi-faksi bersenjata yang menentang Gerakan Pembebasan Rakyat Angola (MPLA).
Ketika rakyat Angola terjepit, Castro datang memberi bantuan. Tak hanya mengirim bantuan kemanusiaan, tapi juga senjata dan tentara. Jamaika di bawah Manley menyediakan stasiun pengisian bahan bakar bagi pesawat-pesawat militer Kuba. Tanpa bantuan Jamaika dan Manley, pesawat-pesawat Kuba tidak akan sampai ke Angola.
Presiden Richard Nixon, lewat Henry Kissinger, mengancam Manley agar menghentikan dukungan terhadap Kuba. Namun, Manley lagi-lagi bergeming. Baginya, mendukung Kuba dalam membela kemerdekaan Angola bukan hanya tentang anti-kolonialisme, tetapi juga wujud dari semangat “black power”.
//
Sejak 1974, ketika Manley menolak tunduk pada kehendak Nixon dan Kissinger, AS memulai cara lain: jatuhkan pemerintahan Manley.
Sejak 1974 hingga mendekati pemilu 1976, kekerasan bersenjata meningkat di Jamaika. Awalnya, kekerasan itu digerakkan oleh geng-geng kriminal yang berada di bawah kendali JLP dan Edward Seaga.
Edward Seaga, kelahiran Boston dan lulusan Harvard, sangat pro-AS dan Barat. Ia juga mengusung platform ekonomi yang neoliberal dan ramah pada investor barat. AS mendukung Seaga habis-habisan, dari logistik, uang, hingga senjata untuk geng jalanan.
Menurut mantan CIA, Philip Agee, CIA menyuplai senjata kepada geng-geng jalanan dan pendukung garis keras JLP. Tujuannya adalah menciptakan kerusuhan dan kekerasan jalanan, yang akan mendestabilisasi pemerintahan Manley. Dampak kekerasan ini mengerikan. Ratusan orang meninggal setiap tahunnya.

CIA juga membayar media-media lokal untuk menyebarkan pesan “red-scare” atau “bahaya merah”, bahwa pemerintahan Manley akan membawa Jamaika menjadi negara komunis seperti Kuba, yang miskin, terisolir, dan tak ada sembako.
Brian Meek, akademisi Karibia yang hadir dalam konser One Peace 1978 dan mengabadikan gambar Bob Marley menyatukan tangan Manley dan Seaga, mengatakan bahwa pelaku penyerangan ke rumah Bob Marley pada 3 Desember 1976 sangat terkait dengan kelompok pendukung Seaga.
Memang belum ada bukti bahwa CIA berada di balik penyerangan bersenjata ke rumah Bob Marley. Namun, tak bisa dipungkiri, bahwa para penyerang, bahkan mungkin senjatanya, terkait dengan bantuan CIA dalam kerangka mendestabilisasi Jamaika.
Dalam lagu “Rat Race”, yang ada dalam album “Rastaman Vibration” dan rilis pada April 1976, ada lirik: The mice will play/ Political violence fill ya city, ye-ah!/ Don’t involve Rasta in your say say/ Rasta don’t work for no C.I.A
Bob memang selalu menegaskan netralitasnya. Ia tidak memihak salah satu kubu atau partai dalam pemilu Jamaika. Namun, tak bisa dipungkiri, banyak basis pendukung PNP adalah rastafari karena ada kemiripan retorika: anti-kolonialisme, black-power, emansipasi warga kulit hitam, dan lain-lain.
//
Meski ada destabilisasi dan kekacauan ekonomi yang didorong oleh CIA, PNP dan Manley tetap memenangi pemilu 1976.
Meskipun pemilu sudah usai, kekerasan politik tidak mereda. Dan Bob Marley tetap pada usahanya untuk mendatangkan perdamaian bagi Jamaika. Sebab, tanpa kedamaian, tak ada kehidupan.

Karena itu, lagi-lagi lewat musik, Bob menginisiasi konser bertajuk “One Love Peace” pada 22 April 1978 di stadion nasional di Kingston. Konser itu mengundang pendukung dan pemimpin dari dua kubu politik yang bertikai. Pada akhir konser, Bob Marley memanggil Michael Manley (PNP) dan Edward Seaga (JLP) naik di atas panggung. Ia kemudian meraih tangan kedua tokoh itu untuk berpegangan, lalu mengangkatnya sebagai simbol persatuan.










