Mengapa Sebuah Negara Gagal?

Daron Acemoglu, profesor ekonomi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan James A. Robinson, ilmuwan politik sekaligus profesor di Harvard University, melalui kolaborasi riset selama lebih dari 15 tahun berhasil melahirkan Why Nations Fail. Buku ini bukan sekadar menghadirkan narasi sejarah, tetapi juga menawarkan sebuah teori baru mengenai akar kemiskinan dan kemakmuran suatu bangsa.

Bagi para aktivis era 1990-an, gagasan yang ditawarkan Acemoglu dan Robinson mengingatkan pada Dependency Theory yang dicetuskan ekonom Argentina, Raul Prebisch, kemudian dikembangkan oleh Andre Gunder Frank, Samir Amin, dan Fernando Henrique Cardoso. Teori dependensia menjelaskan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan negara-negara Dunia Ketiga (periferi) merupakan konsekuensi dari struktur ekonomi global yang eksploitatif. Negara-negara maju (pusat) memperoleh keuntungan dengan menjadikan negara-negara periferi sebagai sumber akumulasi modal dan eksploitasi.

Namun, Acemoglu dan Robinson mengambil posisi yang berbeda. Jika teori dependensia menitikberatkan faktor eksternal sebagai akar kemiskinan dan kesenjangan, Why Nations Fail justru menempatkan faktor internal sebagai penjelasan utama. Menurut keduanya, kemiskinan, keterbelakangan, hingga kesenjangan lebih banyak ditentukan oleh kualitas institusi politik dan ekonomi yang dibangun di dalam suatu negara.

Keterangan buku

Buku ini juga meruntuhkan mitos determinisme sejarah, yaitu pandangan bahwa kemiskinan dan kemakmuran suatu bangsa semata-mata merupakan warisan masa lalu yang tidak dapat diubah. Acemoglu dan Robinson menunjukkan bahwa sejarah memang berpengaruh, tetapi bukan takdir.

Mereka mencontohkan Botswana. “Pada awal kemerdekaan, Botswana merupakan salah satu negara termiskin di muka bumi…. Namun dalam rentang waktu 45 tahun, Botswana berhasil membuktikan dirinya sebagai negara dengan angka pertumbuhan paling pesat di dunia. Dewasa ini Botswana memiliki pendapatan per kapita tertinggi di seluruh kawasan Sub-Sahara Afrika, dan prestasinya setara dengan negara-negara Eropa Timur” (hlm. 476).

Contoh tersebut menunjukkan bahwa warisan sejarah bukanlah faktor penentu kemakmuran. Acemoglu dan Robinson bahkan mengingatkan bahwa ketika masyarakat Inggris masih berada pada tahap awal perkembangan peradaban, masyarakat Timur Tengah telah mengenal kehidupan perkotaan, sistem tulisan, serta teknologi pembuatan tembikar (hlm. 194). Namun, perjalanan sejarah akhirnya membawa kedua kawasan itu ke arah yang berbeda.

Menurut Acemoglu dan Robinson, pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran selalu berakar pada institusi politik dan ekonomi yang inklusif, sedangkan institusi yang bersifat ekstraktif cenderung melahirkan stagnasi dan kemiskinan (hlm. 97).

Institusi inklusif, menurut Acemoglu, melindungi hak milik warga negara, menciptakan persaingan yang adil, mendorong investasi pada teknologi baru, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Seluruh prasyarat tersebut menciptakan iklim yang jauh lebih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dibandingkan institusi ekstraktif yang dibangun demi mempertahankan kepentingan segelintir elite (hlm. 500).

Mereka juga memperkenalkan konsep creative destruction atau “penghancuran kreatif”. Ketakutan elite terhadap perubahan dan inovasi, menurut mereka, menjadi salah satu faktor utama yang menghambat peningkatan taraf hidup masyarakat sejak Revolusi Neolitik hingga Revolusi Industri. Bahkan, penolakan terhadap berbagai inovasi dapat ditelusuri sejak awal Revolusi Industri di Inggris (hlm. 205).

Lantas, mengapa Revolusi Industri justru lahir di Inggris, bukan di Afrika atau kawasan lain yang saat itu memiliki peradaban lebih maju? Acemoglu dan Robinson menjelaskan bahwa jawabannya terletak pada perubahan institusi politik. Setelah Glorious Revolution berhasil menggulingkan Raja James II yang absolut, Inggris membangun fondasi institusi yang lebih inklusif. Perubahan inilah yang kemudian memungkinkan inovasi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi berkembang pesat hingga melahirkan Revolusi Industri (hlm. 246).

Dengan membentangkan sejarah sejak Yunani dan Romawi Kuno, kemudian melintasi Revolusi Industri di Inggris hingga Revolusi Prancis, Acemoglu dan Robinson merangkai benang merah yang menunjukkan bahwa kemakmuran suatu bangsa bukanlah hasil kebetulan. Ia merupakan konsekuensi dari pilihan politik, kualitas institusi, dan kemampuan sebuah negara memanfaatkan momentum sejarah untuk menciptakan tatanan yang lebih inklusif bagi seluruh warganya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Jejak Oligarki dalam Hilirisasi hingga Penyitaan Aset

Jejak Oligarki dalam Hilirisasi hingga Penyitaan Aset

Pemetaan itu mencakup tiga pilar ekonomi: nikel, kelapa sawit-biodiesel, dan

Next
AJI dkk Kecam Prabowo Sebut Jurnalis Londo Ireng

AJI dkk Kecam Prabowo Sebut Jurnalis Londo Ireng

Dalam pernyataan bersama yang dirilis Sabtu (25/7), enam organisasi pers menilai

You May Also Like
Total
0
Share