Tidak ada revolusi tanpa lagu-lagu. Pada akhir 1960-an, ketika bunga revolusi sedang mekar di Chile, sejumlah anak muda terseret dalam arus perubahan itu.
Mereka mahasiswa di Universidad Técnica del Estado (UTE). Berdiri pada 1849, ini kampus tertua di Chile. Menarik, meskipun ini kampus teknik, tetapi gerakan kebudayaannya justru sangat hidup.
Di kampus ini, ada kanting bawah tanah yang mangkrak. Sejumlah anak muda sering bermain musik di kantin itu. Mereka adalah Horacio Durán (teknik kimia), Jorge Coulón (teknik elektro), Max Berrú (teknik mesin), dan Pedro Yáñez.
Di Chile masa itu, ketika lagu disko dan rock sedang mewabah, anak-anak muda ini justru menoleh ke musik lokal, musik Andean. Selain alat musik modern, mereka juga menggunakan alat musik tradisional seperti siku/zampoña (alat musik tiup), quena (sejenis seruling), charango (gitar kecil), dan bombo (gendang besar).
Masa itu, di seantero Chile sedang pasang gerakan musik kerakyatan. Salah satu yang paling terkenal, Gerakan Nueva Canción (Nyanyian Baru). Gerakan Nueva Canción berusaha menggabungkan antara seni tradisional Amerika Latin, folk, dan lirik yang mencerminkan jeritan rakyat tertindas.
Pelopornya, Violetta Parra, seorang musisi folk yang sangat populer di zamannya. Victor Jara, musisi rakyat Chile lainnya, juga menjadi bagian dari gerakan musik ini. Horacio dkk turut terseret dalam arus Nueva Canción.
Saat itu, Amerika Latin sedang dihantam gelombang pasang sayap kiri pasca kemenenangan revolusi Kuba. Di sisi lain, industrialisasi berbasis subtitusi impor menambah berlipat-lipat jumlah kelas pekerja. Namun, banyak di antara mereka dipaksa bekerja di bawah kondisi yang buruk dan diupah murah. Kondisi itu menciptakan iklim yang menguntungkan bagi menjamurnya serikat buruh.
“Ini karena perbedaan yang sangat mencolok antara segelintir yang kaya dan mayoritas yang miskin. Sebagian besar musisi menjadi politis untuk mencari perubahan,” kata salah satu pentolan Inti-Illimani, Jorge Coulón, kepada Upside Down World.
Suatu hari pada 1967, mereka mendapat kesempatan manggung di Kedutaan Besar Bolivia di Chile. Kebetulan, hari itu Bolivia sedang memperingati hari kemerdekaannya. Eulogio Dávalos, orang yang mengundang mereka, kemudian menamai grup musik tak bernama ini Inti-Illimani. Ini adalah bahasa dari suku asli terbesar di Bolivia, Aymara, yang berarti matahari dari gunung Illimani.
Grup musik ini cepat naik daun. Tahun 1968, mereka sudah mendapat undangan manggung di Argentina. Tapi panggung mereka memang belum besar.
Di perjalanan, beberapa personel keluar. Pedro Yáñez dan Luis Espinoza hengkang. Ernesto Pérez de Arce, seorang pemain jazz, bergabung.
Tahun 1969, Inti-Illimani kembali berkunjung ke Bolivia. Mereka manggung dua minggu di sana. Di sinilah mereka merekam album pertama dan kedua mereka: Si Somos Americanos dan Canciones de la Revolución Mexicana.
Kembali dari Bolivia, mereka merekam album lagi. Dinamai nama band sendiri Inti-Illimani. Di album inilah terselip lagu-lagu ngetop band ini, seperti Simón Bolívar, El Canelazo dan La fiesta de San Benito.
Di tahun ini juga, seorang sosialis maju sebagai calon presiden. Namanya Salvador Allende. Di bawah koalisi elektoral bernama Unidad Popular, Allende berhasil menghimpun semua kaum kiri, termasuk seniman. Inti-Illimani langsung menjadi bagian dari tim kampanye Unidad Popular, bersama Victor Jara, Quilapayún, musisi Nueva Canción lainnya.
Jika program politik lewat pidato atau orasi terlalu singkat waktunya dalam ingatan massa, maka tugas musisi kerakyatan untuk membuatnya mengendap lama lewat lirik-lirik lagu. Dan itulah tugas Inti-Illimani dan kawan-kawan.
Lahirlah album Canto al Programa, kumpulan lagu-lagu yang menjabarkan program perjuangan Allende dan Unidad Popular lewat syair lagu. Sebagian besar liriknya ditulis oleh Sergio Ortega, pencipta lagu El Pueblo Unido, Jamás Será Vencido.
Bersama Victor Jara, Inti-Illimani juga menyanyikan mars perjuangan Unidad Popular, Venceremos (Kami pasti menang). Inti-Illimani turun ke kampung-kampung, pabrik, ladang pertanian, hingga kawasan kumuh, untuk bernyanyi dan berkampanye.
Dengan mayoritas seniman berbaris di belakangnya, Allende menang dalam pemilu. Dia menjadi Marxis pertama yang berhasil menjadi presiden lewat pemilu.
Setelah Allende berkuasa, Inti-Illimani terus berkarya. Banyak lagu bagus lahir di era ini. Nama Inti-Illimani makin menggaung ke luar negeri, bahkan ke Eropa.
Berkat pemerintahan Allende, mereka hadir di Festival Pemuda Internasional di Berlin, lalu melalukan tur ke sejumlah negara komunis, seperti Vietnam Utara dan Uni Soviet.
Pada 11 September 1973, mereka di Italia. Dari kabar televisi, mereka melihat kudeta telah merobohkan pemerintahan Allende. Mereka menyaksikan pesawat tempur dan tank menggempur Istana Presiden.
Bukan hanya kaget, sedih, bercampur marah, satu hal yang tak terduga sebelumnya, kudeta menghalangi mereka untuk kembali ke negerinya. Rezim hasil kudeta, Augusto Pinochet, mengejar dan membunuhi aktivis kiri, termasuk musisi.
Hidup di pengasingan tentu sebuah pengalaman pahit bagi siapapun, termasuk bagi Inti-Illimani. “Menjadi eksil sangat berat. Ini bukan obat yang baik bagi musisi dan bagi siapapun. Dan yang paling mengerikan adalah ketidakpastian. Anda tidak pernah tahu berapa lama Anda di negeri orang ataukah Anda akan mati di negeri orang,” kenang Jorge Coulon.
Meski demikian, mereka tidak bisa menghindar dari kenyataan. Karena itu, personel Inti Illimani berusaha memetik pelajaran. Bagi Coulon, menjadi eksil berarti bertemu orang-orang baru dan kenyataan baru. Dan itu berarti “sekolah baru” bagi mereka dan karya-karya mereka.
Puluhan tahun menjadi “buangan politik”, semangat Inti Illimani tidak padam. Mereka terus berkarya. Juga menggalang perlawanan dari Eropa untuk menentang rezim Pinochet.
Pada 8 September 1988, Inti-Illimani kembali ke negerinya. Ribuan rakyat Chile menyambut mereka di bandara. Mereka membuat pertunjukan darurat. Lagu pertama yang mereka nyanyikan berjudul “Vuevlo” (Aku Kembali). Ribuan orang ikut menyanyi bersama-sama. Hari itu sangat dikenang oleh anggota Inti-Illimani. Menarik, 14 tahun diasingkan oleh rezim militer, ternyata mereka masih dicintai oleh rakyat Chile.
Inti-Illimani juga ikut dalam kampanye menentang keberlanjutan kekuasaan diktator Pinochet. Kampanye tersebut disebut “Campaña por el NO” (Kampanye untuk mengatakan “Tidak” untuk delapan tahun lagi kediktatoran Pinochet). Sejarah mencatat, kampanye “No” memenangkan plebisit yang berlangsung 5 Oktober 1988.
Di bulan yang sama, Inti-Illimani mengisi pertunjukan Amnesty Internasional di Mendoza, Argentina. Di sana ia satu panggung dengan artis-artis seperti Bruce Springsteen, Sting, Tracy Chapman, Peter Gabriel, Youssou N’Dour, dan lain-lain.
Sayang, pada 2001, terjadi perpecahan di Inti-Illimani. Tiga pemain kunci, yakni José Seves, Horacio Durán and Horacio Salinas, menyatakan keluar. Belakangan tiga personel yang keluar ini membentuk Inti-Illimani Historico. Sementara Jorgen Coulon bersaudara mengubah nama menjadi Inti-Illimani Nuevo (R).
Setengah abad berlalu, Inti-Illimani tetap konsisten di musik kerakyatan. Meskipun personelnya sudah kakek-kakek, tetapi semangat mereka untuk mendukung gerakan rakyat tak surut.
Pada 2019, saat meletus demonstrasi besar-besaran di Chili menolak ketimpangan ekonomi dan menuntut konstitusi baru, Inti-Illimani turun langsung mengadakan konser gratis di atas truk dan alun-alun kota (Plaza de la Dignidad). Mereka berkolaborasi kembali dengan sesama grup legendaris, Quilapayún, merilis lagu kolektif bertajuk Chile Despertó (Chili Terbangun) guna mendukung demonstrasi rakyat.
Anggota Inti-Illimani secara terbuka mendukung kandidat-kandidat presiden dari koalisi progresif dan sayap kiri di Chili, termasuk mendukung Michelle Bachelet dan Gabriel Boric.
Di luar Chili, aktivisme mereka mencakup solidaritas internasional, seperti menyuarakan hak-hak kemerdekaan Palestina, mendukung perjuangan masyarakat adat di Amerika Latin, serta mengkritik dampak buruk kapitalisme global terhadap lingkungan.










