Londo Ireng itu Bernama Thomas Sigar

Pidato Presiden Prabowo Subianto pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center, Kamis, 23 Juli 2026, memantik perbincangan luas.

Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung pihak-pihak yang menurutnya kerap mengkritik pemerintah dengan narasi pesimistis, termasuk wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat yang diduga mendapat pendanaan asing. Ia menyamakan mereka dengan “londo ireng”, sebutan untuk orang-orang bumiputera yang dulu ikut Belanda berperang melawan bangsa sendiri.

“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain,” ujarnya, sambil mempertanyakan siapa yang menggaji dan membiayai mereka.

Pernyataan itu segera menjadi sorotan, memunculkan kembali diskusi sejarah tentang siapa sebenarnya yang layak disebut londo ireng.

Istilah “londo ireng” atau “Belanda hitam” (Zwarte Hollanders) memiliki akar yang dalam di sejarah kolonial Hindia Belanda. Awalnya, sebutan ini ditujukan kepada ribuan tentara asal Afrika Barat, terutama dari Elmina di Pantai Guinea (kini Ghana), yang direkrut Belanda setelah Perang Jawa (1825–1830).

Kerugian besar di pihak kolonial mendorong perekrutan lebih dari 3.000-4.000 orang Afrika antara 1831 hingga 1872 untuk mengisi barisan KNIL. Mereka memakai seragam Eropa, mendapat perlakuan setara tentara Belanda, dan dijuluki londo ireng oleh masyarakat Jawa karena kulit gelap serta status “Eropa” yang disandang. Setibanya di Nusantara, para prajurit Afrika ini diterjunkan dalam berbagai medan pertempuran sengit, termasuk Perang Padri di Sumatera Barat dan Perang Aceh yang berlarut-larut.

Seiring waktu, makna istilah itu bergeser. Ia tak lagi terbatas pada serdadu Afrika, melainkan menjadi label peyoratif bagi pribumi yang dianggap berpihak kepada penjajah, membantu menumpas perlawanan bangsa sendiri, atau menjadi perpanjangan tangan kepentingan asing.

Salah satu sosok yang kini kerap diangkat sebagai contoh londo ireng dari kalangan pribumi adalah Benjamin Thomas Sigar, atau yang lebih dikenal dengan nama Thomas Sigar.

Ia lahir sekitar tahun 1790 di Langowan, Minahasa, Sulawesi Utara, dengan nama asli Tawalijn atau Tawajlin. Sebagai pemimpin tradisional setempat, ia tumbuh dalam lingkungan masyarakat Minahasa yang sejak lama menjalin hubungan dekat dengan pemerintah kolonial.

Pada masa Perang Jawa berkecamuk, Residen Sulawesi Utara meminta bantuan pasukan lokal. Terbentuklah Pasukan Tulungan atau Hulptroepen berjumlah sekitar 1.421 orang yang dikomandoi Mayor Tololiu Hermanus Willem Dotulong. Benjamin Thomas Sigar ditunjuk sebagai salah satu kapiten, mewakili wilayah Langowan, bersama kapten-kapten lain dari Tonsea dan Tondano. Pengangkatan itu terjadi sekitar 23 Desember 1827. Ia kemudian dibaptis pada 1841 oleh misionaris Johann Gottlieb Schwarz, lalu mengadopsi nama Benjamin Thomas.

Keterlibatannya dalam memerangi perjuangan anti-kolonial berlangsung di medan Perang Jawa. Pasukan Minahasa dikirim ke Jawa dalam gelombang kedua pada Maret 1829. Mereka terlibat dalam sejumlah pertempuran penting, termasuk di Siluk, barat Yogyakarta, pada 17 September 1829.

Sebagai hulptroepen, pasukan yang dipimpin Sigar dan rekan-rekannya berfungsi memperkuat barisan kolonial yang sedang kewalahan menghadapi perlawanan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya. Perang yang menelan ratusan ribu korban jiwa itu menjadi medan bagi pasukan londo ireng untuk memerangi sesama bangsa terjajah.

Peran mereka mencapai puncaknya dalam operasi yang berujung pada penangkapan Diponegoro. Pada Maret 1830, sehari setelah lebaran, pasukan kolonial di bawah Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock berhasil menjebak pangeran Jawa itu di Magelang dengan dalih perundingan damai. Diponegoro tiba dengan pengawalan terbatas dan ditangkap pada 28 Maret 1830.

Tradisi lisan masyarakat Minahasa, terutama di Sonder, menyebut aksi militer pasukan Tulungan selama perang Jawa, termasuk keberhasilan Dotulong menangkap Diponegoro.

”Bahkan diklaim bahwa Dotulong-lah yang menawan Diponegoro, lalu menyerahkan pangeran Jawa tersebut kepada komandan Belanda,” tulis M Schouten dalam ”Leadership and Social Mobility in a Southeast Asian Society”.

Selain itu, menurut klaim itu, Dotulong pula yang mengusulkan agar Pangerang Diponegoro dan pengikutnya, termasuk Kiai Modjo, dibuang ke Manado. Memang, pada 1830, Diponegoro dibuang ke Manado, sementara Kiai Modjo dan 62 pengikutnya di Tondano.

Namun, kata Schouten, klaim-klaim itu bertentangan dengan laporan-laporan resmi masa itu. Yang terjadi, realitas perang justru membuat Dotulong dan pengikutnya kecewa. Sehingga, pada awal-awal kedatangannya, Dotulong sempat meminta pulang ke kampung halamannya.

Pengabdian Benjamin Thomas Sigar tidak berlalu tanpa imbalan. Setelah perang usai, pemerintah kolonial menganugerahkan gelar kehormatan Majoor (Mayor) kepadanya. Ia diangkat sebagai Hukum Besar, semacam kepala distrik, di Langowan, posisi yang dipegangnya hingga sekitar 1870-an. Jabatan itu menjadikannya mediator antara administrasi kolonial dan masyarakat adat Minahasa. Ia meninggal sekitar 1879 di tanah kelahirannya. Kenaikan pangkat dan kekuasaan lokal itu merupakan bentuk penghargaan atas kesetiaan dalam membantu menumpas perlawanan anti-kolonial.

Ironisnya, Benjamin Thomas Sigar adalah leluhur langsung Presiden Prabowo Subianto dari garis ibu. Ia merupakan kakek buyut Dora Marie Sigar, ibu kandung Prabowo. Dari darah seorang kapiten pasukan bantuan kolonial yang membantu penumpasan Pangeran Diponegoro, lahir seorang pemimpin yang kini berdiri di puncak kekuasaan republik dan menggunakan istilah “londo ireng” untuk menyasar para pengkritik.

Pada akhirnya, sejarah selalu menemukan momentum untuk mengungkapkan kembali kisahnya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prev
Kaum Muda dan Revolusi Kecoa di India

Kaum Muda dan Revolusi Kecoa di India

Sang Hakim Agung yang mulai menjabat sejak 2025 itu menyebut anak muda yang

Next
Jalan Pemikiran dan Perjuangan Nawal El Saadawi

Jalan Pemikiran dan Perjuangan Nawal El Saadawi

Lima tahun telah berlalu sejak Nawal El Saadawi berpulang pada 21 Maret 2021 di

You May Also Like
Total
0
Share